
“Kalau kami sibuk mikirin orang lain, kami bisa enggak ada waktu buat mikirin diri sendiri, kan, Mom? Bayangkan, Mom ... aku masih sakit hati dan aku harus ketawa pura-pura bahagia? Gila kan namanya?”
Bab 54 : Pertemuan Si Kembar
Mofaro tak hentinya menelan ludah, sampai-sampai, bukannya merasa lebih baik, tenggorokannya justru menjadi terasa semakin kering. Sedangkan di sebelahnya, Rafaro yang jauh lebih bisa bersikap tenang, justru Mofaro dapati dalam kenyataan yang jauh lebih mengenaskan.
Wajah Rafaro sampai pucat sekaligus berkeringat. Boleh dibilang, Rafaro yang selalu bisa menyikapi keadaan dengan tenang, justru lebih tegang bahkan kacau, melebihi Mofaro.
“Mom ... balik sajalah. Aku enggak ikut. Ngapain juga, kumpul-kumpul, kayak mau bagi-bagi sembako bahkan tawuran?” keluh Mofaro yang masih duduk di motor gedenya.
Kemudian Mofaro menyikut Rafaro. “Kamu juga ngapain cuma diem kayak kura-kura, sih? Ayo, mending kita pulang saja!” tegurnya. “Atau kalau enggak kita motoran ke luar kota?”
Rafaro belum berkomentar. Masih menunduk dan bertahan dengan kenyataannya yang tidak baik-baik saja. Gugup bahkan tegang masih sangat menyiksanya. Akan tetapi, Mofaro juga masih berjuang dan sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya. Pun meski jika ia bertahan, ia akan kembali melihat kemesraan Pelangi dan Kim Jinnan.
Rara menghela napas pelan. Menatap tak habis pikir kedua anaknya yang sudah mulai tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan. Remaja yang juga sudah dipusingkan dengan polemik gejolak cinta.
“Memangnya menghindari acara ini bisa bikin kalian sembuh dari patah hati?” tanya Rara.
“Enggak juga, sih.” Mofaro tertunduk pasrah. “Tapi ya seenggaknya, hatiku enggak nyut-nyutan, Mom!” tambahnya tiba-tiba.
“Ini saja sudah kayak ada yang nyengat-nyengat di dalam sana. Nyut-nyut ngilu gitu, Mom!” Mofaro sampai mengelus-ngelus dadanya yang juga ia katakan sangat ngilu kepada sang mama, hanya karena membayangkan kemesraan Pelangi dengan pria lain.
Boleh dibilang, Mofaro hanya berbeda tipis dengan Zean yang selalu ingin tahu sekaligus selalu ingin menjadi yang paling sempurna. Seperti Kimo.
Rara menggeleng tak habis pikir dan kemudian menghela napas pelan. “Kalian beneran sayang Ngi-ngir enggak, sih?” tanyanya memastikan. “Pikirkan juga perasaan om Yuan dan tante Keinya. Mereka sudah seperti orang tua kalian, kan?” tambahnya.
“Kalau kami sibuk mikirin orang lain, kami bisa enggak ada waktu buat mikirin diri sendiri, kan, Mom? Bayangkan, Mom ... aku masih sakit hati dan aku harus ketawa pura-pura bahagia? Gila kan namanya?” Mofaro tertawa miris meratapi nasibnya yang masih dalam suasana berkabung karena patah hati.
“Aissh! Raf, ngomong dong! Enggak usah takut karena menuangkan pendapat itu hak asasi manusia!” omel Mofaro yang sampai menoyor kepala bagian belakang, kembarannya.
Rafaro hanya mendesah pelan seiring wajah tampannya yang menjadi cemberut. Meski sudah terbiasa dengan sikap rese Mofaro, tetapi Rafaro tetap merasa risih.
__ADS_1
Lantaran hanya Mofaro yang menjawab, Rara pun mengalihkan tatapannya pada Rafaro yang masih tertunduk diam.
“Kalau Rafa, bagaimana?” tanya Rara meminta pendapat yang bersangkutan.
“Ambyar, Mom! Kemarin aku sempat bertemu mereka saat aku pulang mengantar Zean. Dan sepertinya, Pelangi juga lebih nyaman kalau aku, maupun Mo, enggak ada di acara,” jawab Rafaro yang masih menjaga kesantunannya.
Dan akhirnya, Rafaro berkeluh kesah juga. Kenyataan yang sukses membuat Mofaro cekikikan menertawakannya.
Kimo yang ada di seberang keberadaan Rara--mereka masih di sekitar mobil yang terparkir di luar kediaman kekuarga Yuan, hanya menjelma menjadi penyimak yang baik sambil sesekali membenarkan kacamata min-nya. Karena semenjak satu tahun terakhir, penglihatan Kimo menjadi bermasalah. Hanya ketika melihat Rara saja, penglihatan pria itu selalu akan baik-baik saja bahkan jelas.
“Sudah jadi istri orang, juga ... kenapa harus segugup bahkan setegang itu?” tegur Kimo akhirnya.
“Justru kalau sudah jadi istri orang, biasanya tambah menarik, Pap! Lebih greget gitu!” balas Mofaro cepat dan sukses membuat Kimo maupun Rara tidak bisa berkata-kata.
Rara menatap resah suaminya lantaran takut, anak-anaknya serius lebih tertarik pada wanita yang sudah bersuami. Dan mendapati tatapan cemas Rara yang jelas kode keras, Kimo langsung menghela napas.
“Apa maksudmu berkata seperti itu?” tegas Kimo yang kali ini sampai mengomel.
Lanjutan Mofaro jelas tudingan. Kimo yang merasa dihakimi oleh anaknya sendiri, tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Dan Kimo merasa harus segera meluruskannya. “Kalaupun Papa pernah muda, tetapi Papa bukan cowok seperti itu. Memang Papa pria apaan!"
“Kalian jangan pernah jadi duri di hubungan orang lain! Kalau masih pacaran apa tunangan boleh. Tapi kalau sudah nikah, jangan!” lanjut Kimo lagi.
“Ih ... Papa apaan, sih? Jangan jadi duri ya, di semua hubungan. Pacaran sama tunangan pun masih termasuk!” tegur Rara meluruskan.
“Jodoh kan rahasia, Pap ... Mom ... pacaran atau tunangan sama siapa, nikahnya sama saya kan enggak ada yang menyangka?” ujar Mofaro yang masih saja betah meladeni orang tuanya. Dan tak lama setelah itu, ia sampai tertawa lepas.
Rara tersenyum geli mendengar balasan Mofaro yang terkesan sudah sangat berpengalaman. Persis ketika Kimo masih muda. Lain halnya dengan Rafaro yang cenderung diam tetapi lebih serius dalam berpikir, persis seperti Rara sewaktu masih muda.
“Mo, kalau cara pikir kamu masih begitu, Papa beneran jodohin kamu sama nenek-nenek, ya!” ancam Kimo yang sampai menunjuk-nunjuk Mofaro.
“Jiah Papa ... modusnya pakai ancaman melulu.” Mofaro tertunduk sedih. “Ya sudah, Raf ... ayo kita Otw, daripada hati kita tambah ambyar!” lanjutnya.
__ADS_1
Awalnya, Rafaro sudah sampai membonceng motor Mofaro. Namun, tak berselang lama setelah itu, sebuah mobil Alphard menepi di hadapan mereka. Itu merupakan mobil keluarga Kainya dan Steven.
“Jiah ... ciwi-ciwi bawel juga datang. Enggak kebayang bakalan banyak molotof yang pecah di udara kalau mereka sudah ngomong,” cibir Mofaro. “Wajib enggak ikut kalau kayak gini. Beneran deh, daripada telingaku gosong dengerin suara si Elia!”
“Kabur, sebelum mereka lihat kita. Mereka itu, fans garis kerasku!” pinta Rafaro.
Apa yang Mofaro dan Rafaro bincangkan sukses membuat Rara tersipu. Anak-anak mereka anti pada anak-anak Kainya dan Steven yang juga kembar? Lucu sekali! Pikir Rara yang sampai menjadi penasaran perihal apa yang akan terjadi jika keempatnya bertemu.
Mofaro segera menyalakan mesin motornya. “Kalau gini caranya, aku bakalan nikung Kishi saja dari Dean! Enggak ada yang lebih baik dari Kishi sama Ngi-ngie, kan?” ujarnya meminta pendapat.
“Kalau itu yang akan kamu lakukan, Dean bakalan ngamuk dan tercetuslah perang dunia ke empat!” balas Rafaro.
Mofaro tertawa lepas dan segera mengemudi. Dengan kecepatan cukup, Mofaro putar balik.
Sial, Elia yang memiliki tubuh tinggi semampai justru sudah membentangkan tangan dan menghadang laju motor Mofaro.
“Mo, kamu mau ke mana? Berhenti!” ucap Elia yang tersenyum girang.
Elia terlihat sangat ceria. Kendati demikian, kenyataan tersebut tak lantas membuat Mofaro yang sampai terpaksa menghentikan laju motor, memberikan balasan yang baik atau setidaknya tersenyum untuk basa-basi.
“Si Elia mah kebiasaan. Dia sengaja begini di depan orang tuanya biar aku enggak kabur apalagi balas dia!” batin Mofaro meradang. Dan kekesalan Mofaro, sukses membuat wajah tampannya kembali menjadi judes.
Meski Kimo sempat dibuat penasaran perihal kelanjutan yang akan terjadi pada Mofaro yang dihadang Elia, tetapi lantaran Steven sudah keluar dari mobil bersama Kainya dan Elena, Kimo pun segera menyapa kedatangan keluarga itu bersama Rara.
Steven menggendong Shean, jagoan kecilnya, sedangkan Kainya bergandengan dengan Elena. Elena yang merupakan adik sekaligus kembaran Elia. Dan kendati keduanya kembar, tetapi Elena memiliki paras lebih kalem sekaligus pendiam dari Elia. Lihatlah, ketika Elena hanya mengulas senyum ramah, di belakang sana, Elia sudah bawel dan sukses membuat Mofaro melempem.
Kimo dan Rara sampai berpikir, hanya Elia yang bisa membuat Mofaro diam. Mofaro benar-benar menjelma menjadi kura-kura yang bersembunyi di tempurungnya hanya karena berhadapan dengan Elia.
Bersambung ....
Biar enggak menunggu terlalu lama, Author sengaja nyicil, yaa 💓. Otw ngetik lanjutannya. 🌟🙏
__ADS_1