
“Jika aku tidak memiliki rasa lebih kepadanya, kenapa aku harus semarah ini? Kenapa aku merasa secemburu ini melihatnya bersama pria lain yang terlihat jelas memberikan perhatian?”
Bab 90 : Bertemu Daniel Asli
“Kamu sudah pulang? Tadi, ... Itzy ke sini, tapi cuma sebentar,” ujar Shena ketika Ben datang ke dapur.
Ben mengambil gelas yang keberadaannya ada di lemari sebelah kompor keberadaan Shena. Dan tanpa memberikan reaksi berarti, Ben berkata, “ya, ... tadi aku lihat di depan.” Ia membuka lemari di sebelahnya selaku tempat penyimpanan dispenser dan mengisi gelasnya dengan air dari sana.
Shena menatap heran Ben yang masih saja cuek, padahal baginya, Itzy sudah banyak berubah. Itzy sudah tidak kekanak-kanakan layaknya sebelumnya. Selain itu, Itzy juga tak lagi menuntut ini-itu termasuk membatasi gerak Ben.
“Kamu tahu, kalau Itzy lagi kurang enak badan? Terus tadi, dia bawa masker sama hand sanitizer,” lanjut Shena.
Ben hanya menanggapinya dengan bergumam sebelum akhirnya berlalu menuju rak piring sesaat setelah meletakkan gelas yang masih berisi seperempat air, di meja. Ben mengambil piring kemudian mengisinya dengan nasi dari rice cooker. Dan setelah mengisi sebagian ruang piringnya dengan nasi, Ben segera balik badan dan mengambil lauk yang keberadaannya ada di meja keberadaan gelasnya. Rendang daging dan telur yang ditemani dengan cap cay mengisi ruang piring yang masih tersisa.
“Ben, ... hubungi Itzy. Kasih dia perhatian, karena biar bagaimanapun, sebentar lagi pernikahan kalian akan diurus. Cepat atau lambat kalian pasti akan menikah, dan membahagiakan Itzy akan menjadi kewajibanmu.” Shena mulai kesal dengan Ben yang masih saja cuek.
Semenjak perceraian orang tuanya, Ben memang menjadi abai perihal cinta. Bahkan pada Kainya yang sudah ada buktinya berupa foto dan video yang hingga kini masih Ben simpan. Ben yang sampai amnesia sebagian, benar-benar tidak mau menanggapi lebih. Shena sadar itu. Ben menjadi menutup diri semenjak Oskar mencampakkan mereka. Ben seolah tidak percaya bahkan trauma pada cinta berikut ketulusan.
“Atau jangan-jangan, ... sebenarnya Ben masih berharap kepada Kainya, tetapi sekarang, Kainya justru sudah dengan Steven?” batin Shena menatap cemas Ben yang sedang makan. Anaknya itu terlihat tidak bersemangat. Bahkan sekalipun sedanf makan, tatapannya terlihat begitu menahan banyak luka.
“Kalau Itzy sampai sama pria lain, ... nanti kamu menyesal, lho. Itzy yang sekarang terlihat jelas tulus sama kamu, Ben. Kasih dia lima menit saja dalam sehari, pasti dia sudah seneng banget.” Shena berusaha merayu Ben.
Mendengar itu, Ben refleks memelankan kunyahannya. “Kalau dia memang bahagia sama yang lain, ... ya sudah.”
Shena yang berdiri di sebelah Ben, menghela napas dalam lantaran merasa tak habis pikir. “Nanti ke rumah Itzy. Kamu tolong antar rendang, ya?” bujuknya lagi masih berusaha agar Ben mau membuka hati untuk Itzy.
Sambil terus mengunyah, Ben berkata, “pekerjaanku lagi banyak banget, Ma. Besok saja. Besok dia pasti juga datang lagi.” Karena hampir setiap hari, Itzy memang datang dan ada saja alasannya. Jadi, Ben yakin, tanpa harus repot-repot mengunjungi Itzy ke rumah wanita itu hanya untuk mengantar rendang, lebih baik memberikannya ketika besok Itzy datang. Toh, ... kesibukan yang menjerat Ben juga untuk kepentingan keluarga Itzy. Keluarga Itzy yang paling diuntungkan untuk kerja kerasnya.
***
Sudah nyaris dini hari, tepatnya pukul satu lewat enam menit, Itzy yang terjaga menyanding ponsel dan memastikan nyaris setiap dua menit sekali, sama sekali tidak mendapatkan kabar dari Ben, terlepas dari Itzy sendiri yang sengaja menahan diri untuk tidak mengabari pria itu lebih dulu.
“Baiklah. Jika sampai pukul tujuh ... ah, tidak ... terlalu cepat. Sampai jam makan siang saja. Iya, jika sampai jam makan siang, Kak Ben tetap abai dan enggak mau kasih kabar duluan, ... berarti hubungan kami sebatas rekan kerja,” ujar Itzy yang sudah meringkuk di bawah selimut. Hampir sekujur tubuhnya kecuali sebagian wajahnya yang menatap ponsel, tertutup selimut. Di bawah remang suasana kamar yang hanya menjadikan lampu meja di sebelah sebagai penerang, Itzy memutuskan untuk tidur sesaat setelah meletakkan ponsel yang sedari kepulangannya dari rumah Ben, ia tatap dengan serius.
Itzy sangat berharap Ben mengabarinya, bahkan bila perlu secepatnya. Namun nyatanya, pria itu sama sekali tidak mengabarinya. Seperti sebelumnya, dan sudah biasa. Kendati demikian, kendati sudah terbiasa mendapat pengabaian dari Ben, tetapi rasa sakit atas kenyataan tersebut juga selalu Itzy rasa.
***
Jam makan siang baru saja habis, sedangkan Ben tak juga mengabari Itzy. Itzy yang terdiam di kursi kerjanya menatap pasrah ponselnya dengan dada yang terasa semakin sesak. Dan demi menghalau semua itu, Itzy sengaja mengempaskan tubuhnya pada sandaran kursi tempatnya duduk. Ia tertunduk dengan sebelah tangan memijat pelipis dan berharap segera mendapat prnawar atas kenyataan sekarang.
Sebenarnya, Itzy tidak mau menangis lagi. Ia yang telanjur lelah, ingin mengakhiri hubungannya dan Ben tanpa tangis. Namun, Itzy tak kuasa menahan kesedihannya. Jadilah, ketika ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya dari luar, Itzy menjadi kalang kabut.
__ADS_1
Itzy buru-buru menyeka air matanya seiring keyakinan perihal kemungkinan, yang datang mengetuk pintu di luar sana merupakan Ben. Karenanya, Itzy sampai merapikan asal susunan rambutnya, menyisirnya menggunakan jemari, termasuk membenarkan tampilan kemeja berikut jasnya yang sebenarnya baik-baik saja. Itzy benar-benar gugup dibuatnya. Karena kendati sudah lewat dari penantiannya, akhirnya Ben datang juga
“Masuk!” seru Itzy akhirnya sambil memasang senyum selebar mungkin dan Itzy yakin, kali ini ia sudah terlihat sangat manis.
Dira, sekretaris Itzy memasang senyum paling manis ketika menghadap Itzy. Dengan kata lain, yang mengetuk pintu dan sampai membuat Itzy gugup termasuk berbenah diri, juga wanita bermata sipit di hadapannya. Dira sekretarisnya, bukan Ben yang dari kemarin malam sudah Itzy tunggu. Kenyataan tersebut pula yang membuat senyum manis Itzy berangsur menepi. Senyum di wajah Itzy menjadi kaku bahkan masam.
“Ibu Itzy, ... perwakilan dari Philips Grup baru saja datang,” ucap Dira dengan sangat sopan di antara senyum ramah yang selalu menghiasi wajah cantiknya
Itzy yang sebenarnya kecewa karena justru Dira yang datang, berangsur berdeham. “Baiklah. Saya akan segera menemuinya. Atur seperti rencana awal dan buat perwakilan itu senyaman mungkin.” Beruntung, Itzy masih bisa bersikap tenang tanpa terbawa situasi hatinya yang sedang sangat kacau.
Philips Grup berarti perusahaan orang tua Kainya. Mereka memang sedang bekerja sama berkat keberadaan Ben di perusahaan Itzy. Bahkan karena kerja sama tersebut, hubungan perusahaan mereka terbilang semakin baik. Tak menutup kemungkinan, kali ini Itzy juga akan bertemu Kainya sebagai utusan dari perusahaan Philips Grup
Itzy meninggalkan ruang kerjanya sambil menenteng seberkas map mika berwarna merah muda. Ia melangkah tegas dengan tatapan lurus ke depan termasuk ketika ia melewati ruang kerja Ben yang masih tertutup rapat. Namun, melalui pintu kerja Ben yang bagian tengahnya merupakan kaca transparan, Itzy mendapati bayangan Ben di dalam sana. Ben sedang duduk serius menghadap layar monitor, di meja kerja pria tersebut.
Ketika Itzy baru saja berlalu, Ben langsung melirik ke arah kepergian wanita itu. “Tumben, belum heboh? Bahkan dari kemarin? Pesan pun enggak ... aneh?” pikirnya sambil menatap ponselnya yang tetap berlayar gelap dan benar-benar sepi.
Lantaran penasaran, Ben memastikannya sekali lagi. Dan semuanya masih sama. Tidak ada pesan apalagi panggilan tak terjawab dari Itzy di ponselnya. Tidak ada pemberitahuan terbaru dari kontak Rese yang merupakan nama kontak untuk Itzy. Padahal biasanya, wanita itu selalu heboh dan sibuk mengiriminya pesan cinta. Namun dari sore kemarin, wanita itu belum mengabarinya. Apakah Itzy sedang mengujinya? Atau, ... Itzy justru marah? Namun atas dasar apa Itzy marah, sedangkan biasanya, Ben juga sudah cuek bahkan galak?
***
Daniel merupakan perwakilan dari Philips Grup. Benar-benar Daniel tanpa orang lain termasuk Kainya. Dan Itzy dibuat gugup karenanya, terlebih biar bagaimanapun, Itzy sempat salah taksir dan mengira Yuan bernama Daniel. Jadi, semua hadiah yang Itzy kirimkan kepada Yuan juga bertujuan dengan nama Daniel. Namun jauh di lubuk hatinya, Itzy sangat berharap Daniel tidak mengetahui hal tersebut. Dan kalaupun ternyata Daniel mengetahui, Itzy berharap Daniel tidak sampai mengenalinya. Bahkan ketika mereka berjabat tangan sambil bertatap wajah serius layaknya sekarang, Itzy berusaha sesantai mungkin, seolah-olah, mereka memang tidak memiliki ikatan lain selain untuk pekerjaan.
Sepanjang kebersamaan yang nyaris berlangsung satu jam, semuanya berjalan dengan semestinya dan terbilang lancar. Kalaupun ada perbedaan pendapat, baik Daniel maupun Itzy sama-sama merundingkannya hingga terjadi kesepakatan. Pun meski diam-diam sepanjang kebersamaan tersebut, sebenarnya Daniel memperhatikan wajah Itzy dengan cukup serius.
Itzy dan Daniel berjabat tangan untuk kedua kalinya. Namun, ketika Itzy hendak mengakhiri jabat tangan mereka, Daniel justru menahannya. Dan di waktu yang sama, Ben yang melintas di luar juga sengaja berhenti di depan ruang tersebut
“Ini ruang pertemuan si Rese sama perwakilan perusahaannya papa Kainya, kan?” pikir Ben yang akhirnya menoleh ke kaca transparan di tengah-tengah bagian atas pintu dan membuatnya bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Di sana, ia mendapati Daniel menahan tangan Itzy dengan keadaan keduanya yang sedang berjabat tangan. Dan melihat itu, melihat kebersamaan Itzy dengan pria lain bahkan Daneil sampai menahan tangan Itzy, Ben merasa sangat marah. Emosi Ben benar-benar membuncah detik itu juga.
“Kamu yang tetangganya Kak Kei, kan?” tuding Daniel yakin.
Itzy tersenyum masam. “K-kak, Kei, siapa, ... ya? Aku enggak kenal ....” Dan ia terus berusaha menepis tetapan Daniel yang begitu terlihat ingin tahu lebih jauh perihal fakta yang pria itu utarakan.
“Kak Kei, ... Keinya. Istrinya Yuan Fahreza,” jelas Daniel masih berusaha meyakinkan. Daniel yakin, ia tidak salah orang terlebih ia juga pernah melihat Itzy beberapa kali ketika ia ke rumah Keinya, sedangkan kebetulan, saat itu Itzy sedang bermain basket di depan garasi rumah wanita itu.
“Tapi tolong, lepaskan tanganku dulu. Takut ada yang salah sangka, apalagi pintu setiap ruangan di sini, tengahnya kaca transparan. Dari luar, siapa pun yang ingin lihat, bisa melihat kita,” pinta Itzy.
“Ah, iya! Maaf ... maaf. Tanganku, ... nempel,” balas Daniel sambil tersenyum basa-basi. Ia melepaskan tangan Itzy dan membuat acara jabat tangan mereka berakhir.
Itzy turut tersenyum masam sambil terus menunduk lantaran menahan malu akibat ulahnya di masa lalu yang ternyata sudah tersebar luas.
“Bagaimana perasaanmu setelah bertemu aku? Kak Kei bilang, ah ... semua itu. Semua yang kamu kirimkan sudah sampai padaku,” sergah Daniel sambil tersenyum semringah.
__ADS_1
“Hah?” Itzy benar-benar terkejut dibuatnya tanpa bisa menyembunyikannya. Bahkan Itzy yakin, tampangnya kali ini terlihat sangat bodoh. “Apakah semua orang termasuk Daniel, berpikir jika semua hadiah itu benar-benar untuk Daniel? Tapi kan, Keinya sama Yuan tahu kalau itu untuk Yuan?” pikir Itzy ketar-ketir.
“Terima kasih. Tapi jangan segugup itu,” ucap Daniel kemudian dengan jauh lebih santai demi meredam ketegangan yang terpancar jelas menyelimuti Itzy.
Itzy segera menggeleng. “T-tapi, sebenarnya itu hanya salah paham. Serius, itu ....”
“Its oke ... santai saja. Aku orangnya santai, kok. Oh, iya ... kapan-kapan, kayaknya seru kalau kita tanding basket. Permainan basketmu keren, lho. Bahkan aku masih enggak nyangka, wanita seperti kamu yang punya jiwa olahraga tinggi, bisa menulis surat semanis itu,” tambah Daniel yang memang sengaja memuji.
Itzy tertunduk pasrah saking malunya. “Ya Tuhan, ... aku kapok asal mengungkapkan cinta. Enggak lagi-lagi!” batin Itzy penuh penyesalan.
Daniel yang sedari awal memperhatikan Itzy, menjadi tersenyum geli, karena baginya, dengan keadaan layaknya sekarang, Itzy terlihat sangat lucu bahkan menggemaskan, terlepas dari Itzy yang baginya memiliki paket komplit. Itzy yang tak hanya romantis dan sporty, melainkan memiliki wajah yang baginya sangat manis.
“Ya sudah, ... aku masih banyak urusan. Ini, kartu namaku. Kita bisa saling sharing dan jangan segan buat kontek aku, ya!” lanjut Daniel yang sampai mengeluarkan kotak kartu nama dari saku dalam jasnya dan memberikan satu kepada Itzy.
Dengan keadaan yang masih belum bak-baik saja, Itzy terpaksa menerima kartu nama pemberian Daniel. Pria itu, ... memperlakukannya dengan hangat bahkan manis. “Tapi serius, sebenarnya yang terjadi hanya salah sangka. Salah sasaran,” ujarnya berusaha meyakinkan.
“Sudah, enggak usah setegang itu. Aku orangnya santai, kok. Kita pasti cocok!” balas Daniel masih santai layaknya apa yang ia yakinkan kepada lawan bicaranya.
Itzy menatap kartu nama berdominan putih bertinta emas di tangan kanannya. Nama lengkap Daniel tertera di sana dilengkapi dengan email sekaligus nomor telepon.
“Jika aku tidak memiliki rasa lebih kepadanya, kenapa aku harus semarah ini? Kenapa aku merasa secemburu ini melihatnya bersama pria lain yang terlihat jelas memberikan perhatian?” batin Ben terheran-heran. Ia sampai menghela napas pelan demi menghalau sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Ben melipir, mundur meninggalkan pintu ruang kebersamaan Itzy dan Daniel, sebab ia yakin, keduanya akan segera keluar dari ruang tersebut. Ben bersembunyi di balik pertigaan lorong menuju lorong ruang kebersamaan Itzy dan Daniel. Tampak keduanya yang akhirnya keluar dari ruangan, dengan Daniel yang tak hentinya tersenyum sekaligus mengendalikan obrolan. Sedangkan yang terjadi pada Itzy, ... selain cenderung menunduk dan terkesan menyembunyikan wajah, wanita itu terlihat menahan malu bahkan tersipu.
“Bertemu Daniel yang asli ternyata asyik. Apalagi Daniel orangnya rame begini! Kami cepat akrab! Andai, Kak Ben juga begini! Huh!” batin Itzy.
Itzy mengantar Daniel hingga keluar dari pintu masuk. Sampai Daniel yang ternyata mengemudi sendiri, benar-benar meninggalkan perusahaannya. Dan ketika Itzy balik badan untuk kembali masuk ke perusahaan, di balik pintu kaca tersebut, Ben menatapnya dengan sangat tajam melebihi biasanya.
“Kak Ben, kenapa ...?” batin Itzy yang memberanikan diri untuk berlalu melewati Ben. “Kamu menghalangi jalanku,” ucapnya sambil melongok dari balik pintu yang sedikit ia buka lantaran Ben masih saja menghalangi langkahnya.
Ben tetap berdiri di balik pintu dan membuat Itzy tidak memungkinkan membuka pintu. Mungkin sekitar dua menit kemuduan, Ben yang bagi Itzy terlihat sedang marah, berangsur mundur bahkan berlalu. Ben melangkah memasuki lorong keberadaan ruang kerja pria itu.
Ketika Itzy bertanya-tanya perihal keadaan Ben, Ben justru sampai memelankan langkah bahkan menoleh ke belakang, sengaja menunggu Itzy mengejar layaknya biasa. Anehnya, kali ini Itzy tidak mengejar Ben. Wanita itu justru berlalu begitu saja melewati Ben dan langsung masuk ruang kerjanya sendiri.
Bersambung ....
Hari ini, akan ada 2 episode. Selamat menjalankan aktivitas dan tetap jaga kesehatan, meski kalian enggak bisa stay di rumah karena tuntutan pekerjaan
Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.