
“Jika diharuskan memilih antara hidup dengan orang yang tidak mencintaimu, tetapi kamu sangat mencintainya, dengan orang yang tidak kamu cintai, tetapi dia justru selalu membuatmu merasa nyaman, kamu akan memilih yang mana?”
Bab 16 : Di Balkon Kamar Kishi
Di kamarnya, Dean yang baru saja menutup laptopnya segera meraih ponselnya. Dean langsung menghubungi nomor Kishi. Sayagnya, nomor ponsel gadis itu tak lagi aktif.
“Kok, ... enggak aktif? Kehabisan daya betre, atau ... sengaja?” gumam Dean. Dan karena masih penasaran, ia kembali mencoba menghubungi Kishi, meski hasilnya masih sama. Nomor ponsel Kishi benar-benar sudah tidak aktif.
“Dia baik-baik saja, kan?” Dean menjadi gelisah karena mengkhawatirkan keadaan Kishi.
***
Rafaro yang masih jongkok berangsur berdeham.
“Pura-puralah tidak melihatku!” rengek Kishi dari balik selimutnya.
“Kenapa begitu?” balas Rafaro tidak mengerti.
“Aku malu!” rengek Kishi lagi.
Rafaro menjadi mesem. Senyuman yang menbuat wajah berkarismanya menjadi terlihat semakin ramah. Terlebih, sebuah lesung pipit di pipi kanannya yang membuatnya juga tampak manis.
“Kalau memang belum bisa tidur, jalan-jalan saja, yuk?” ajak Rafaro kemudian.
Perlahan, tangis Kishi berangsur berhenti. Dan gadis itu juga berangsur membuka selimut dari wajahnya. Kishi menatap Rafaro dengan emosi yang jauh lebih stabil berikut tangisnya yang tak lagi pecah.
***
Tak lama setelah itu, di balkon kamar yang Kish tempati, Kishi yang duduk menghadap hamparan bangunan rumah di antara nuansa malam yang temaram, dikejutkan oleh kehadiran sebuah mug berisi cokelat panas. Itu Rafaro. Kishi yang kali ini sampai mengenakan sweater langsung mendongak menatap Rafaro yang juga berangsur duduk di sebelahnya.
“Kita seperti sedang berkencan malam-malam,” ujar Kishi sembari menerima satu mug cokelat panas yang Rafaro suguhkan, sedangkan pemuda itu juga memegang satu untuk dirinya sendiri.
Rafaro menggelang santai sambil menatap Kishi. “Enggak apa-apa. Minumlah sedikit demi sedikit.”
Kishi berangsur mendekatkan mugnya pada mulut, kemudian ia meniup-niup mug tersebut. “Memangnya enggak boleh, kalau aku langsung habisin?” tanyanya.
Rafaro yang juga sedang meniup-niup cokelat miliknya, menjadi tertawa. “Itu masih panas, Kishi. Ya terserah kamu, kalau kamu kuat,” balasnya santai.
Kishi merengut manja kemudian merapatkan jarak duduknya pada Rafaro. Di mana, ia juga tak segan menyandar pada pahu pemuda itu.
“Kishi ... Kishi, ... lihat, itu rumah siapa?” ucap Rafaro kemudian sambil menunjuk sebuah rumah berukuran paling tinggi yang juga memiliki penerangan paling terang dari semua rumah yang ada.
“Ya Dean, lah ... siapa lagi?” balas Kishi terdengar sewot.
Rafaro kembali tertawa. Lain halnya dengan Kishi yang semakin merengut kendati Kishi memang jauh lebih nyaman bersandar pada bahu Rafaro layaknya sekarang.
“Hubungan kalian benar-benar enggak baik?” ucap Rafaro tak lama setelah itu sambil sesekali menyesap cokelat di mugnya.
“Aku enggak tahu ...,” balas Kishi tidak bersemangat.
Rafaro berdeham. “Omong-omong, apa yang sedang sangat kamu inginkan?”
“Kalau aku bilang pengin pesawat sungguhan, memang kamu mau kasih?” Kishi semakin sering menyesap cokelat di mugnya kendati pandangannya terus tertuju pada hamparan rumah Dean.
Dan apa yang Kishi katakan, kembali sukses membuat Rafaro tertawa.
“Si Om, ... lagi ngapain? Kok enggak kelihatan lagi, dia?” lanjut Kishi.
“Mofaro kan menginap di rumah opa ....”
“Oh, gitu ....” Kishi mengangguk-angguk.
__ADS_1
“Kishi, apakah kamu ingin cepat-cepat dewasa juga?” ujar Mofaro.
Kishi langsung mengangguk-angguk. “Iya ... aku capek jadi anak kecil. Mau langsung dewasa saja. Menikah, punya keluarga bahagia!”
Kishi benar-benar bersemangat jika sudah membahas masa depan. Dan Rafaro juga langsung mesem dalam menanggapinya.
“Kamu masih perlu sepuluh tahun lagi untuk menjadi dewasa dan cukup umur menjalani pernikahan,” ujar Rafaro kemudian.
“Oh, iya, ya? Duh, lamanya ....” Kishi menghela napas di antara rasa pasrah yang tiba-tiba menyelimuti. “Bahkan sampai kapan pun, rasanya aku akan selalu menjadi bayi di mata orang tuaku.”
“Di mataku juga!” Rafaro membenarkan sambil mengangguk-anggak.
Kishi langsung menatap Rafaro kemudian menertawakannya.
“Mana ponselmu? Mari kita berfoto, setelah itu, kita kenang di sepuluh tahun yang akan datang,” lanjut Rafaro kemudian yang menjadi sangat bersemangat.
“Ah, iya!” Kishi buru-buru meletakkan mugnya. Ia berjalan tergesa masuk ke kamarnya untuk meraih ponsel yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya. Dan karena tadi sempat Kishi matikan, sambil kembali menghampiri Rafaro, ia pun mengaktifkannya.
Tak lama setelah itu, sambil sama-sama memegang mug, keduanya bersiap. Namun lantaran Kishi jauh lebih kecil dari Rafaro dan tidak memungkinkan untuk mengambil foto, Rafaro pun mengambil alih. Rafaro bersiap mengambil foto dari sudut sisinya menggunakan ponsel Kishi. Keduanya tersenyum hangat sambil menyodorkan mug masing-masing ke arah kamera.
“Aku pasti terlihat sangat manis!” ucap Kishi bersemangat dan langsung melihat hasil foto mereka.
Rafaro benar-benar tak kuasa mengendalikan tawanya.
“Benar, kan? Rafa ... kamu juga terlihat sangat tampan jika di tempat yang gelap-gelap!” lanjut Kishi.
“Kesannya aku ini pangeran kegelapan,” balas Rafaro sengaja melucu.
Dan kembali, Kishi menertawakannya sambil mengamati lebih teliti foto mereka. “Kenapa hanya satu? Ayo, lagi!” lanjutnya kembali antusias. “Pakai aplikasi yang bisa nuain wajah otomatis, ya!”
Rafaro mengangguk setuju dengan gayanya yang santai.
Setelah membuka aplikasi yang dimaksud, Kishi segera memberikan ponselnya pada Rafaro dan mereka kembali mengambil foto dalam berbagai sisi.
Kishi langsung diam, dengan raut wajahnya yang mendadak kehilangan ekspresi. Senyum yang sedari awal menghiasi wajah cantiknya juga berangsur menepi. Kishi, mendadak kembali dirundung banyak kesedihan.
“Kenapa itu seperti kisahku?” keluh Kishi sembari menghela napas demi meredam sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
“Aku hanya bertanya ....” Rafaro masih berusaha meyakinkan dengan nada suara berikut tatapannya yang sarat perhatian kepada Kishi.
Kishi kembali menghela napas dengan kenyataannya yang masih tidak bersemangat. Karenanya, Rafaro sengaja merangkul punggung gadis itu sambil menepuk-nepuk pelan punggung Kishi.
“Lain kali jangan menangis lagi, ya? Daripada menangis, lebih baik kamu mengambil keputusan saja. Akhiri dan jangan mengulangi, atau tetap bertahan tanpa menyesali!”
Kishi kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Rafaro. “Rafaro ... bagaimana jika di masa depan, aku menikah denganmu saja?” ucapnya pasrah tetapi serius.
Sambil mengelus-elus sebelah bahu Kishi yang masih ia rangkul, Rafaro mengangguk. “Boleh ... biarkan aku menjadi pria dewasa yang sukses dulu, agar aku bisa semakin membahagiakanmu.”
Kishi mengangguk setuju. “Baiklah. Mari kita sama-sama berjanji,” ucapnya sembari mengulurkan jari kelingking kanannya kepada Rafaro.
Rafaro mesem memperhatikan jari kelingkikng Kishi yang di matanya sangat kecil. “Jari kelingkingmu kecil sekali?”
“Jangan begitu ... itu namanya body shaming ... toh, usiaku masih lima belas tahun!” protes Kishi.
Rafaro mesem kemudian menautkan kelingkingnya pada kelingking Kishi. Dan ketika kelingking mereka saling bertautan, seolah ada ikatan yang seketika itu juga mengikat mereka. Iya, ada yang mendadak berdebar-debar, dan itu dari dada mereka.
“Ini konyol. Tapi aku senang!” ucap Kishi sambil tersenyum masam.
Rafaro yang masih menatap Kishi berangsur mengangguk setuju. “Hidup ini terlalu kejam jika hanya dipenuhi kesulitan, kan? Apalagi jika kesulitan yang ada justru karena kita sendiri yang membuatnya?”
Kishi menghela napas pelan seiring kebahagiaan yang meletup-letup di dalam dadanya. Kemudian, ia kembali menyandar pada bahu Rafaro, tetapi kali ini, ia sampai mendekap lengan pemuda itu.
__ADS_1
Rafaro sendiri santai-santai saja. Masih tersenyum tulus sambil sesekali menyesap cokelat hangatnya di mug. “Habiskan cokelatnya,” tegurnya pada Kishi lantaran Kishi meletakkan mug berisi cokelat jatah gadis itu di ujung bangku bersebelahan dengan ponsel.
“Aku lupa ... maaf!” Kishi segera meraihnya kemudian menikmatinya.
“Kira-kira, adikmu cewek apa cowok?” tanya Rafaro kemudian yang semakin menghangatkan kebersamaan mereka melalui setiap obrolan yang menyertai.
“Cowok!” balas Kishi bersemangat. “Aku ingin punya adik laku-laki secerdas Zean!”
Sambil terus menatap lurus kedepan, juga menikmati cokelatnya, Rafaro berkata, “hubungan kalian sangat dekat, ya?”
Kishi segera mengangguk. “Seperti hubunganmu dan Om!”
Rafaro terdiam sejenak kemudian menoleh dan menatap Kishi sambil mengerutkan bibirnya. “Hubunganmu dan Mofaro juga sangat dekat. Bahkan kamu memiliki panggilan khusus untuknya?” Tiba-tiba saja, Rafaro merasa kesal untuk pertama kalinya kepada Kishi.
“Masa, sih? Aku rasa biasa saja? Mungkin karena Om sering menggodaku. Sehari saja, dia bisa telepon lebih dari tiga kali. Mungkin karena itu, kan?” balas Kishi yang mengakhirinya sambil memanyunkan bibir.
“Masa iya, aku harus rutin menggodamu juga, agar aku juga punya panggilan khusus darimu?” sanggah Rafaro sambil merengut dan melirik sebal Kishi.
Kishi langsung terkikik dan nyaris tersedak, lantaran ia sedang meminum cokelatnya.
“Hati-hati,” ucap Rafaro kemudian yang kembali mencemaskan Kishi.
Kali ini, Rafaro-lah yang merangkul Kishi. Rafaro bahkan sengaja menyandarkan kepala Kishi pada bahunya.
“Rafaro memang selalu membuat semua orang nyaman. Andai bisa terus seperti ini. Namun aku tahu, dia hanya sedang berusaha menghiburku,” batin Kishi.
Satu mug cokelat panas telah mereka tuntaskan. Mereka yang masih betah berlama-lama duduk di bangku balkon yang ada di depan kamar Kishi, sambil menikmati suasana malam yang semakin temaram di antara kesunyian.
“Apakah kamu belum mengantuk?” tanya Rafaro tanpa menatap Kishi.
“Memangnya kenapa?” Kishi menoleh sambil mendongak dan menatap Rafaro.
“Aku akan menemanimu sampai kamu tidur,” balas Rafaro yang kemudian menatap Kishi sambil mengulas senyum. Senyum yang akan membuat setiap yang melihatnya merasa sangat tenang layaknya apa yang Kishi rasakan.
Kishi balas mengulas senyum sambil mengangguk. Kemudian ia menyemayamkan kepalanya di bahu Rafaro seiring kedua matanya yang menjadi terpejam. “Raf, ... apakah terlihar kembar menyenangkan, atau sebaliknya?”
“Biasa saja. Semuanya benar-benar tidak seperti yang kebanyakan orang pikirkan. Karena meski kami kembar, tetapi kami tetap memiliki kehidupan yang berbeda. Aku yang tidak mungkin bisa menjadi Mo, ... juga Mo yang tidak mungkin bisa menjadi aku. Bukankah aku dan Mo tetap memiliki sifat sekaligus kepribadian yang berbeda?” Rafaro menoleh dan kembali menatap Kishi untuk memastikannya.
Kishi mengangguk-angguk setuju.
“Segera tidur kamu sudah terlihat sangat mengantuk,” pinta Rafaro kemudian.
“Mmm ... selamat tidur Rafaro ....” Kishi berangsur bangkit sambil menguap. “Aku benar-benar ngantuk. Bisa tolong tutup pintu dan titip mugnya? Aku akan langsung gosok gigi kemudian pergi tidur,” pintanya.
Rafaro yang sampai mendongak demi menatap Kishi segera mengangguk sambil mengulas senyum. “Dengan senang hati!”
Kishi yang kembali menguap pun kembali mengucapkan terima kasih. Namun kali ini, sebelum gadis itu pergi, sebelah tangan Kishi sampai mengacak susunan rambut Rafaro.
Rafaro mesem mendapati semua itu. Namun, belum lama dari kepergian Kishi yang baru saja masuk kamar mandi untuk menggosok gigi, ponsel milik Kishi yang sampai tertinggal dan mungkin ketinggalan justru berdering.
Itu merupakan dering tanda panggilan masuk. Panggilan masuk dari Dean, tepatnya. Di mana, kenyataan tersebut membuat rahang Rafaro langsung menjadi tegang. Terlihat begitu banyak kemarahan yang menghiasi wajah tenang Rafaro yang juga langsung meraih, menjawab telepon masuk dari Dean.
“Membahagiakannya cukup dengan hal-hal yang sangat sederhana. Namun, kenapa kamu selalu membuatnya terluka?” tegas Rafaro dengan kekesalan yang sampai membuat dadanya terasa cukup sesak.
Bersambung ....
Yaaaaaah! Kalian pilih siapa?
Dean?
Apa, Rafaro saja? 😂😂😂
__ADS_1
Sok bayangkan visual mereka. Terus share di grup chat, yaa 😍 Langsung fotonya 😆
Terus ikuti dan tolong dukung ceritanya, ya. Ribuan pembaca yang like sama komen seuprit banget 😟😬🤐