
“Jika aku memintamu untuk menungguku, apakah kamu mau?”
Bab 14 : Ben Kecelakaan
Kainya baru saja membantingkan tubuhnya ke kasur di mana ia juga masih mengenakan pakaian kerja, ketika nomor baru menjadi penelepon di ponselnya.
“Siapa?” pikir Kainya ragu untuk menjawab. Namun, sejauh ini hanya orang-orang penting yang mengetahui nomornya. Terlebih, setelah panggilan itu berakhir tanpa ia jawab, tak berselang lama, ia juga mendapat pesan WhatsApp dari nomor tersebut.
Kainya, ini Tante Shena. Kalau boleh tahu, Ben masih sering menghubungi kamu, enggak? Sudah seminggu ini, Ben nggak pulang. Dia juga nggak kasih kabar meski nomornya masih aktif. Kalau bisa, tolong, ya, bantu Tante buat dapat kabar Ben. Tante nggak tahu harus minta bantuan ke siapa, sedangkan selama ini, Ben lebih sering menghabiskan waktunya bersama kamu.
Kainya terdiam bingung. “Ben? Jebakkan apa lagi yang akan pria itu lakukan setelah satu minggu lebih menghilang? Bahkan dia sempat janji menemaniku datang ke pernikahan Rara dan Kimo, tetapi nyatanya nihil!” rutuknya.
Kainya sudah telanjur kecewa kepada Ben maupun Gio. Selain sama-sama tidak ada yang datang ke pernikahan Rara dan Kimo, kedua orang itu juga memiliki kekurangan yang sangat tidak bisa Kainya terima.
Mengenai Ben yang begitu terobsesi dengan bisnis dan akan menghalalkan segala cara termasuk memanfaatkan Kainya dan tak segan menindas. Juga, Gio si pria bimbang kepastian yang lebih sering menghilang. Bersama pria seperti mereka, Kainya yakin masa depannya akan menjadi suram.
Setidaknya, meski tidak ada lagi pria yang bisa mencintai dengan sempurna layaknya Yuan pada Keinya, paling tidak Kainya harus mendapatkan pria seperti Kimo yang tegas dan berani mengambil risiko. Terlebih bagi Kainya, kalau bisa, ia hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya. Jadi, mencari suami pun tidak boleh sembarangan.
Tanpa memikirkan pesan dari Shena yang ia yakini hanya bagian dari jebakan Ben, Kainya memutuskan untuk tidur dengan keadaan tubuhnya yang berangsur meringkuk memunggungi ponsel.
Belum lama terpejam, ponsel Kainya kembali berdering dan membuat Kainya merasa depresi. Pekerjaan di kantor saja sudah menguras habis tenaga sekaligus otaknya, jadi ia tidak mau membuat dirinya semakin stres dengan mengurus hal yang tidak ada sangkut-pautnya dengannya.
Demi meredam rasa depresinya, Kainya memilih untuk mandi dan sengaja berendam dalam bak. Meski ketika ia keluar kiranya satu jam kemudian, ia dibuat terkejut ketika memastikan pemberitahuan ponselnya. Di salah satu pesan WhatsApp di sana yang berasal dari Ben, ada foto pria itu terkapar dengan wajah berikut kepala pria itu yang berlumur darah dan menyandar pada setir.
“Ini beneran, atau jebakan?” pikir Kainya ragu. Atas dasar apa, Ben mengiriminya foto sedang seperti itu? Bukankah keadaan tersebut membutuhkan orang lain dalam mengambil fotonya? Dengan kata lain, Ben juga masih menjebaknya, kan? Tapi jika melihat mobil Ben yang bagian kaca depan berikut pintu juga pecah, kemungkinan keadaan itu benar, juga tetap ada. Ben, benar-benar kecelakaan?
Tak lama kemudian, ada pesan WhatsApp yang dikirimkan oleh Ben.
Bu Kainya, ini saya Doni, sekretaris Pak Ben. Saya hanya ingin mengabarkan, kondisi Pak Ben saat ini. Karena selama tiga bulan terakhir, Pak Ben selalu berpesan kepada saya, untuk segera menghubungi Ibu Kainya jika suatu hal menimpa Pak Ben.
Kainya merasa jenuh dihadapkan dengan Ben. “Kenapa harus menghubungiku? Atas dasar apa, sedangkan aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia!” gerutunya sebal. Namun tiba-tiba, ia berubah pikiran, “tapi dipikir-pikir kasihan juga. Nggak kebayang, sedihnya Tante Shena, apalagi Ben anak tunggal dan ....”
Kainya yang sempat terdiam, tidak punya pilihan lain kecuali menghubungi Ben. Ia sengaja menelepon Ben dan menanyakan kabar pria itu pada Doni yang menjawabnya, secara langsung.
***
“Ini bukan kecelakaan, Ibu Kainya. Kalau ini kecelakaan, mana mungkin Pak Ben sampai menitipkan wasiat, kan?” kata-kata Doni tersebut terus menggema di benak Kainya yang kali ini terjaga di depan UGD bersama kedua orang tuanya.
Di dalam ruang UGD, Ben sedang berjuang. Sedangkan saat perjalanan menuju rumah sakit, Kainya sudah menghubungi Shena perihal kecelakaan yang menimpa Ben. Dan mengenai Doni yang sempatsatu mobil dengan Ben juga terluka, tetapi tidak separah Ben, pria itu juga terjaga bersama Kainya.
Luka Ben mungkin parah. Kainya berpikir begitu lantaran selain memakan waktu lama untuk penanganannya di UGD, Shena sampai pingsan setelah mendapat penjelasan dari dokter mengenai keadaan Ben.
Pemandangan tersebut membuat Kainya bingung. Ia menatap Philips dan Khatrin yang masih menemaninya. Mereka duduk di kursi tunggu. Sedangkan tak lama setelah pingsan, Shena juga langsung mendapatkan perawatan terlebih keadaan wanita itu juga mengkhawatirkan. Mungkin karena terlalu mengkhawatirkan kesehatan Ben, Shena sampai lupa dengan kesehatannya, sampai-sampai, wanita itu terkena tifus. Yang mereka tanyakan, ke mana perginya sosok Oskar? Kenapa Shena hanya datang seorang diri?
“Mi, Pi ...?” panggil Kainya sembari menatap wajah orang tuanya silih berganti.
Khatrin dan Philips refleks menatap Kainya. Mereka mendapati putri mereka yang terlihat jelas ketakutan sekaligus tertekan.
“Mi, Pi, Menurut Doni, Ben nggak kecelakaan, karena sebelum ini, Ben sudah sampai menulis wasiat?”
__ADS_1
Meski Khatrin dan Philips sampai terdiam merenungi pengakuan Kainya, tetapi keduanya meminta Kainya untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Terlebih, mereka juga tidak memiliki hubungan yang spesifik. Apalagi sejauh ini, yang mereka tahu, Kainya sangat membenci Ben.
“Kalau memang sudah nggak ada urusan, lebih baik kita pulang?” usul Philips.
Khatrin mengangguk setuju. Tetapi Kainya justru terlihat ragu.
“Tapi Tante Shena sama Ben kasihan, Mi, Pi ... apalagi dari tadi, aku juga nggak lihat Om Oskar?” ucap Kainya.
Khatrin dan Philips kompak diam. Biar bagaimanapun, apa yang Kainya katakan memang benar. Belum lagi, kenapa sekretaris Ben, justru memberikan barang-barang Ben kepada Kainya?
“Pak Ben bilang, saya harus memberikan ponsel tersebut kepada ibu Kainya. Sedangkan untuk semua barang-barang Pak Ben termasuk ponsel pribadi di dalam mobil, beberapa menit lalu sudah disita oleh polisi guna penyelidikan lebih lanjut,” ucap Doni yang kemudian pamit pergi.
Sekarang memang sudah hampir pukul sebelas malam, pantas Doni pamit pulang. Sedangkan seperginya pria itu, Kainya dan orang tuanya menatap bingung ponsel yang diberikan kepada Kainya.
Merasa ada yang janggal, Philips turun tangan. Ia mengambil alih ponselnya dan menghidupkan dayanya. Ketika semua proses sudah dilalui, pemandangan foto Kainya yang menjadi wallpaper di sana cukup membuat Kainya gugup.
“Kenapa harus fotoku? Coba, Pi. Kayaknya cukup pribadi,” ujar Kainya yang kemudian mengambil alih ponselnya.
Kainya terdiam sejenak. Bingung dengan apa yang harus dilakukan. “Maksud Ben kasih aku ponsel apa, sih?” pikir Kainya.
Melihat Kainya yang hanya termangu menatap layar ponsel yang berangsur meredup, Philips menekan tombol galeri di layar tersebut. Tak lama setelah itu, deretan foto Kainya terpampang di sana. Bisa dipastikan itu Kainya bukan Keinya bila dilihat dari cara pakaian juga rias wajahnya.
“Ben aneh!” gerutu Kainya yang memilih menekan tombol kunci hingga ponselnya menjadi redup.
Di samping Kainya, Philipa dan Khatrin kompak berkode mata perihal foto-foto Kainya di dalam ponsel pemberian Ben.
“Sebenarnya apa maksud Ben mengirimuku ponsel yang justru berisi koleksi foto pribadiku?!” batin Kainya bertanya-tanya dalam hati.
Kainya menjadi gugup. “A-atas dasar apa?”
“Pipimu memerah,” tegur Philips.
“P-papih! Atas dasar apa Papi malah meledek aku? Hanya karena ponsel ini? Kalau iya, nggak beralasan banget!” tegas Kainya dengan cukup berteriak. “Ya sudah, kalau begitu, ayo kita pulang!” sergahnya sembaru bangkit dari duduknya.
Khatrin dan Philips kompak berkode mata kemudian menatap heran Kainya. Kainya sudah sampai melangkah menggebu meninggalkan mereka. Anak gadis mereka itu terlihat jelas tersinggung tetapi juga merasa gengsi untuk mengakui bila sebenarnya, Kainya langsung tersentuh dengan ponsel pemberian Ben. Bahkan semua itu berlanjut sepanjang perjalanan mereka pulang. Sebab Kainya yang duduk di kursi penumpang bersama Khatrin, terus saja diam dengan sorot mata tajam yang terus menjadi pemandangan di wajahnya yang juga menjadi cemberut.
***
Ketika Kainya baru masuk dan menutup pintu kamarnya, ia menjadi antusias dan menggeledah ponsel titipan Ben.
“Pasti ada alasan kenapa Ben kasih ini ke aku! Nggak hanya wasiat dan kecelakaan yang menimpa, melainkan kenapa Ben sampai mengoleksi fotoku! Sebentar, ada video atau rekaman suara, nggak?”
Kainya menjadikan menu video di galeri sebagai tujuannya. Benar, ada tiga video di sana dan menampakkan sosok Ben sebagai sampulnya. Kainya sengaja memilih video dengan tanggal paling lama. Video tersebut direkam sekitar tiga bulan yang lalu.
Di detik-detik awal, Ben hanya tertunduk diam. Kadang mengerling, kadang menunduk.Video itu diambil di dalam mobil seperti di balik kemudi.
“Ni orang cacingan apa bagaimana? Kok nggak ngomong-ngomong!” cibir Kainya. Beruntung, di detik 47 video itu terputar, Ben berdeham.
“Apakah kamu sudah semakin membenciku? Aku yakin begitu. Syukurlah ....” Mata Ben menjadi berkaca-kaca.
__ADS_1
Kainya mengerutkan dahi. “Apa maksud Ben berkata seperti itu?” Dan anehnya, video juga berakhir.
Jadi, Kainya yang tidak mau mati penasaran segera memutar video selanjutnya. Video itu direkam 9 hari yang lalu. Kali ini vidio juga diambil di dalam mobil. Suasana yang masih sama. Cukup gelap tanpa ada suara lain
“Kamu belum menyadarinya? Bukankah kamu sudah mengatakannya, bahwa bisa karena terbiasa?” ucap Ben di awal video terputar. Kainya ingat, itu di tanggal ketika mereka bertemu Piera, dan ia sempat menegur Ben.
“Ben, terbiasa berpura-pura bisa membuat kita benar-benar bisa tanpa berpura-pura.” Mungkin kata-kata itu yang dimaksud Ben.
“Sebelum kamu mengatakan itu, aku juga sudah menyadarinya. Dan karena itu juga, aku sibuk mengganggumu. Seperti ada yang kurang kalau sehari saja aku tidak melihatmu. Bahkan meski pertemuan kita hanya untuk pertengkaran dan prasangka buruk yang terus kamu pikirkan kepadaku.” Ben berangsur menunduk. “Tapi aku yakin, kamu sulit percaya ini, karena selama ini, yang kamu tahu, aku hanya ingin mempermainkan bahkan menindasmu,” tambahnya sesaat setelah kembali menatap kamera.
Wajah Ben sarat kesedihan. “Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tetapi ke depannya aku akan membiasakan diri untuk tidak terus mengganggumu.”
Kali ini Ben tiba-tiba saja tersenyum meski kedua matanya sudah berkaca-kaca. “Jangan khawatir. Aku tidak bermaksud lari dari tanggung jawab. Karena beberapa menit lalu, aku baru saja menemui Gio dan mengatakan bila kamu masih mencintainya.”
Ben terdiam sejenak. Ia membuang pandangan ke samping kemudian menghela napas. Tampangnya kali ini terlihat menahan sesak luar biasa. “Maaf, ya. Karena aku juga nggak bisa menepati janjiku yang terakhir, menemanimu ke pernikahan Rara dan Kimo. Ya ... meski aku tahu kamu lebih bahagia tanpa kehadiranku. Tetapi biar bagaimanapun, aku merasa berhutang kepadamu karena aku sudah berjanji.”
“Sebenarnya Ben kenapa? Apakah dia sedang menjebakku? Tetapi, kenapa dia sampai menangis?”
Setelah terdiam sejenak, Kainya berangsur memutar video yang satunya lagi. Suasana di video kali ini berbeda. Di ruang kerja yang terbilang megah dan Kainya yakini merupakan ruang kerja Ben. Video itu direkam hari kemarin.
“Jika aku memintamu untuk menungguku, apakah kamu mau?” ucap Ben serius sekaligus berharap. Kemudian ia menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. “Satu minggu tidak bertemu, apakah kamu tidak merindukanku?”
“Katakan padaku, apa yang bisa membuatmu percaya, bahwa aku benar-benar mencintaimu?”
“Aku serius, Kai ... setelah ini, jika kamu sudah melihat video ini dan bersedia memberiku kesempatan, tolong hubungi aku.”
“Kamu tahu, satu minggu terakhir, aku merasa sangat tertekan. Wanita bernama Piera itu ... dia mengubah segalanya. Jika sesuatu terjadi padaku, kamu menemuinya untukku?”
Yang membuat Kainya bingung, kenapa Ben sampai membahas Piera di videonya? Dan, benarkah Ben tulus mencintainya? Tetapi, kenapa Kainya tidak merasakan perasaan berbeda setelah mengetahui kenyataan tersebut?
***
Rara tengah berkutat di depan laptopnya, sedangkan di sebelahnya, Kimo juga sedang melakukan hal serupa, ketika seseorang menekan bel apartemennya.
Kimo dan Rara refleks terdiam kemudian saling melirik.
“Kamu ada janji sama orang?” tanya Kimo.
Rara segera menggeleng.
“Masa iya, Athan datang lagi? Sudah seminggu lewat, kan? Tapi masa Athan masih saja datang, nggak tahu diri banget? Ini sudah malam, lho. Pukul sebelas malam, tuh!” Kimo terheran-heran.
“Jangan-jangan, keluarga kamu? Mamamu atau Kimi?” tebak Rara.
“Ya sudah, biar aku yang lihat.” Kimo bergegas meninggalkan kesibukannya. Ia melangkah malas menuju pintu.
Ketika Kimo memastikan di CCTV sebelah pintu, di luar sana, Piera yang dalam keadaan berantakan berikut tubuhnya yang kuyup, tanpa disertai ajudan layaknya biasa, menunggu ketakutan sembari menunduk, sedangkan kedua tangannya mendekap erat tubuh.
Keadaan tersebut menegaskan Piera tidak dalam keadaan baik. Justru, Piera terkesan sangat tertekan.
__ADS_1
Mendapati Kimo hanya diam mengamati CCTV sebelah pintu, Rara yang menyusul menjadi penasaran. Namun ketika ia memastikannya sendiri, ia menjadi terkesiap bahkan refleks mundur di tengah tatapannya yang menatap tidak percaya sesosok dalam CCTV.
Piera, apa maksud wanita itu datang malam-malam, dan bahkan dalam keadaan yang terlihat begitu menyedihkan? Piera terlihat begitu ketakutan dan kerap menoleh ke sekitar seperti sengaja berjaga, terlepas dari Piera sendiri yang kerap menekan bel--terkesan tidak sabar.