Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 72 : Pertemuan Tak Terduga di Bioskop


__ADS_3

“Ketenangan adalah satu-satunya hal yang selalu ingin kudapatkan. Dan bersama Steven, aku tidak hanya merasa tenang, melainkan damai. Dan semua itu tetap kurasakan meski Ben ada di dekatku,”


Bab 72 : Pertemuan Tak Terduga di Bioskop


Ben nyaris tak kuasa menahan kemarahannya. Mengenai Itzy yang tiba-tiba bersikap posesif. Wanita yang telah membuangnya dan bahkan belum genap dua puluh empat jam itu, bertindak memiliki sekaligus mengatur penuh kehidupan Ben. Jadilah, diam sekaligus mendiamkan Itzy menjadi pilihan Ben. Pun meski Ben sengaja membenarkan semua kemauan Itzy, itu karena pria itu telanjur marah.


Itzy masih menyita ponsel Ben. Ia memeriksa semua jejak komunikasi Ben, khususnya komunikasi pria itu dengan Yura. Pun dengan pesan suara yang baru Yura kirimkan. Itzy benar-benar memeriksa semuanya sambil sesekali melirik curiga sang pemilik ponsel yang tetap saja diam. Ben fokus mengemudi kendati dari wajahnya, pria itu terlihat sangat marah.


“Katakan pada Yura, aku tidak bisa menemuinya malam ini. Tolong katakan begitu karena aku tidak mau membuatnya menunggu,” ucap Ben tak lama kemudian tanpa sedikit pun melirik Itzy.


“Kenapa kalian harus bertemu malam-malam? Dan kenapa juga, Kakak begitu peduli kepadanya?!” balas Itzy yang masih marah-marah. Ia sampai berteriak hanya untuk mengatakannya.


“Hubunganku dan Yura hanya untuk kerja sama, dan itu untuk perusahaanmu! Yura memintaku melanjutkan kerja sama, karena dia tidak bisa menjalankan kerja sama dengan perusahaanku yang lama!” ucap Ben penuh penekanan sambil sesekali menatap tak habis pikir Itzy yang masih memasang wajah judes.


Itzy hanya diam sambil sesekali melirik Ben. Ia masih marah pada Ben. Itzy tak menepis jika keadaannya kini karena cemburu.


Sesaat setelah menghela napas berat, Ben berkata, “maaf ... tapi tolong, kamu jangan membuat Yura kesal. Tolong, jaga perasaannya baik-baik!” Ben benar-benar memohon.


“Kenapa Kakak jauh lebih peduli kepadanya ketimbang kepadaku?!” protes Itzy.


“Kalau aku enggak menghargai bahkan peduli kepadamu, aku enggak mungkin ngizinin kamu ada di sini!” Ben nyaris depresi hanya karena menghadapi Itzy. “Sekarang kalau masih mau marah-marah, lebih baik kamu keluar dari sini. Terus setelah itu, kamu tanya sama orang tua kamu, siapa Yura!”


Pernyataan Ben yang masih saja mengistimewakan Yura, membuat Itzy semakin penasaran. “Memangnya Yura itu siapa, sih? Bahkan sepertinya, Yura juga istimewa untuk papa dan mama?” pikirnya.


“Masih mau ke bioskop, atau mau terus marah-marah?” lanjut Ben lantaran Itzy hanya diam, tetapi masih dengan ekspresi yang dikuasai amarah.


Itzy tidak menjawab. Wanita itu menghela napas pelan sambil menyelonjorkan kakinya dan membuatnya terlihat mengambil posisi lebih nyaman. Ben yang memastikannya melalui lirikan mendapati itu. Ben yakin, meski mulai mau menerima, tetapi Itzy tidak sepenuhnya akan berhenti curiga terhadap hubungannya dan Yura, bahkan mungkin semua wanita dalam hidup Ben.


“Ingat ucapanku, ... jangan macam-macam kepada Yura,” ucap Ben dengan nada suara yang terdengar jauh lebih tenang.


Itzy yang melirik Ben, refleks menelan ludah. Tanpa membalas seiring rasa penasarannya yang semakin besar terhadap sosok Yura, ia pun mengirim pesan WA kepada Olivia.


Itzy : Ma, Yura itu siapa?


Olivia : Yura yang mana?


Balasan Olivia sukses menohok Itzy. Ia melirik kesal Ben yang masih mengemudi. “Kok mama enggak tahu? Seharusnya, mama kenal Yura, kan, kalau hubungan Yura dan Kak Ben, sebatas pekerjaan?” batinnya. Namun, tiba-tiba saja ada pesan susulan dari Olivia.


Olivia : Oh ... Yura dari Fahreza Grup?


Sayang, kamu sudah minta maaf ke Ben, kan? Kamu jangan macam-macam sama Ben, ya! Ben itu aset berharha kita!


Olivia : Hari ini, kita baru dapat proyek besar karena Ben.


Olivia : Kamu tahu Fahreza Grup? Ben telah membuat kita mendapatkan jalan kerja sama, dengan mereka!


Membaca itu, kali ini Itzy melirik Ben dengan kemarahan yang berangsur berkurang. Kemudian ia mengetik balasan pesan untuk Olivia.


Itzy : Apakah Kak Ben memang sehebat itu? Tapi, rasanya aku enggak rela kalau Kak Ben sampai suka wanita lain selain aku. Aku enggak rela, Ma!


Olivia : Iya ... iya, Mama tahu. Makanya jaga sikap kamu. Jangan menyinggung apalagi menyakiti Ben lagi. Kamu juga harus care sama mama Ben! Itu kunci mendapatkan Ben!

__ADS_1


Kali ini Itzy menghela napas pelan sekaligus dalam. “Baiklah!” batinnya tanpa membalas pesan Olivia lagi.


Dan ketika turun dari mobil, di mana Ben sampai membukakan pintu untuknya, dengan emosi yang jauh lebih tenang, pun meski Ben sama sekali tidak menatapnya, Itzy langsung menahan sebelah tangan Ben dan mendekapnya dengan mesra.


Ben melirik heran Itzy. “Sebenarnya kamu ini kenapa?” keluhnya.


Itzy langsung memasang wajah kecewa.


“Jangan mendekapku seerat itu. Nanti aku susah jalan,” ucap Ben lagi masih mengeluh.


Itzy mendengkus kesal. “Aku kan enggak gendut, Kak! Lagian, tubuh Kakak juga enggak ....”


“Enggak apa? Turunin tanganmu. Jangan setinggi itu. Biasa saja. Aku enggak akan lari apalagi ninggalin kamu!” tegas Ben penuh peringatan.


Tanpa menatap Ben, Itzy yang awalnya sampai mendekap erat sebelah bahu Ben, berangsur menurunkan dekapannya. Ia hanya sebatas mendekap tangan Ben.


Tak lama setelah itu, Ben mulai melangkah. Ia memimpin langkah mereka. “Dasar bocah! Enggak pernah dikarantina buat jadi orang mandiri, jadi begini,” batinnya. Ben yakin, Itzy yang gampang emosional sekaligus ceroboh, tak lain karena didikan orang tua wanita itu yang terlalu memanjakan Itzy.


***


Di depan bioskop yang keberadaannya ada di dalam salah satu mal, tanpa direncanakan, Kainya dan Steven, Kimi dan Gio, juga Ben dan Itzy, tak sengaja bertemu dari arah yang berbeda. Mereka refleks mengamati satu sama lain dengan pandangan heran. Namun dari semuanya, meski tidak sampai bersentuhan bahkan sekadar bergandengan tangan layaknya Itzy terhadap Ben, Kainya dan Steven terlihat paling romantis. Tak hanya karena warna pakaian yang dikenakan keduanya, sebab gelagat Kainya dan Steven yang terlihat begitu santai sekaligus dipenuhi kebahagiaan juga akan membuat yang melihatnya membenarkan kebahagiaan keduanya. Sedangkan Gio dan Kimi, keduanya termenung menatap murung kebersamaan Kainya dan Steven yang persis di hadapan mereka.


“Kamu enggak janjian sama mereka, kan?” tanya Kimi dengan suara lirih kepada Gio sambil menunduk.


“Enggak. Aku enggak tahu kalau mereka juga akan ada di sini,” balas Gio sambil menunduk juga.


“Ya sudah, kita enggak usah menonton bioskop saja,” balas Kimi yang masih menunduk.


“Menurutmu seperti itu? Terus, kita mau ngapain? Kita mau ke mana?” balas Gio.


Steven yang menyikapi apa yang Kainya lakukan dengan senyum hangat, berangsur mendekati Ben. “Kok bisa kompak begini?” ucapnya ramah. Kemudian tatapannya teralih pada Itzy.


“Itu Kainya, bukan Keinya istri Yuan. Mereka kembar,” bisik Ben tepat di sebelah telinga Itzy. Ia sengaja pura-pura memasang senyum bahagia sebagai balasannya kepada Steven. “Unik, ya?” balasnya kepada Steven.


Ben dan Steven kompak tertawa, meski diam-diam, mata Ben sibuk mengamati Kainya.


“Kainya cantik banget!” batin Ben sambil menelan ludah dan tiba-tiba saja terasa sangat kasar. “Pantas saja dulu kami dekat. Kainya ...?” batinnya lagi yang memang terpesona kepada Kainya.


Andai, Itzy tidak tiba-tiba berbisik, “apa maksud Kakak bilang Keinya istri Yuan?” Tentu Ben masih menatap Kainya yang sukses mengalihkan dunianya.


Ben tersenyum palsu sambil menatap Itzy. “Mamamu menceritakan semuanya. Kegilaan sekaligus kenekatanmu kepada Yuan, aku tahu semuanya!” lirihnya sambil tersenyum.


Itzy benar-benar tak menyangka, Olivia tega membongkar rahasianya kepada Ben. Ben yang kali ini berjabat tangan dengan Steven, di mana kemudian, keduanya saling menepuk bahu.


“Kak Ben, kenapa Kakak enggak mengenalkan aku ke teman Kakak?” ucap Itzy sok akrab dengan cerianya sambil menyikut sebelah lengan Ben.


Sontak, apa yang Itzy lakukan membuat wanita muda itu menjadi fokus perhatian Steven maupun Ben sendiri.


“Wah! Siapa ini?” ujar Steven penasaran.


Dan dengan cerianya, Itzy membalas, “calon istrinya Kak Ben!” Ia mengatakannya dengan tegas sekaligus lantang.

__ADS_1


Itzy yang begitu ceria dan sedikit posesif, begitu menunjukkan emosional usianya yang masih muda. Dan pengakuan Itzy sukses mengusik perhatian Kainya yang sampai menoleh.


Steven mengangguk-angguk menanggapi balasan Itzy dengan santai. “Kalau begitu, jangan lupa untuk mengundang kami!” Steven mengatakan itu sambil menahan senyum. “Oh, iya. Aku Steven. Sahabat Ben!” ucapnya tanpa mengangsurkan tangan kanannya. Kedua tangannya masih tersimpan santai dalam kedua kantong sisi celana panjang warna hitam yang dikenakan.


Itzy mengangguk-angguk ceria, sedangkan Kainya yang melihatnya kembali fokus berbincang dengan Gio dan Kimi.


“Salam kenal, Kak Steven!” ucap Itzy.


“Kok kamu sok kenal banget?!” lirih Ben mencibir tepat di sebelah telinga Itzy.


“Biarin!” balas Itzy dengan santainya.


Steven menahan tawa atas kenyataan tersebut, tetapi kemudian fokusnya teralih pada Kainya. “Ayo, kita gabung dengan yang lain. Kalian mau menonton bioskop juga, kan?” ucapnya sambil menatap Ben dan Itzy silih berganti sebelum melangkah santai menghampiri Kainya.


Itzy terpaku menatap setiap ulah Steven yang dipenuhi kelembutan sekaligus cinta kepada Kainya, bahkan meski hanya dari cara pria itu menatap dan mengajak Kainya berkomunikasi.


“Kak, Ben! Begitu, lho! Aku mau Kak Ben juga kayak Kak Steven, romantis begitu!” keluh Itzy. Ya, ia ingin Ben seperti Steven, pria yang mengingatkannya kepada Yuan selaku cinta pertamanya.


Ben yang sempat menatap Itzy dengan sorot mata tajam di mana Itzy juga balas menatapnya dengan wajah yang masih menyisakan keluh-kesah, berangsur menghela napas lantaran merasa tak habis pikir. “Kalau kamu memang lebih memilih Yuan atau Steven, ya silakan. Toh, kamu yang maksa aku buat di sini, kan?”


“Oh, ternyata kalian, sudah kenal?” tanya Steven yang berdiri sedikit di belakang Kainya.


Sambil menatap Steven dan tersenyum, Kimi berkata, “kami hanya kebetulan ke sini, Kak.”


Steven mengangguk-angguk santai. Namun, kemudian Seteven meninggalkan kebersamaan untuk membeli camilan dan minuman yang letaknya tidak jauh dari keberadaan mereka. Dan pria berparas tenang itu kembali ke Kainya dengan dua karton besar berisi camilan dan minuman.


“Ayo, kalian mau menonton bioskop juga, kan?” ajak Steven kemudian sambil menatap serius Kimi dan Gio.


Kimi dan Gio saling lirik menuangkan ketidakyakinan mereka. Dari wajah mereka seolah dihiasi pertanyaan, “haruskah kita gabung? Bukankah lebih baik kita pergi terpisah dari mereka saja?”


Sayangnya, Kainya telanjur merangkul Kimi untuk masuk. Perlakuan Kainya kepada Kimi sungguh sarat perhatian sekaligus ketulusan. Jadilah Kimi tidak bisa menghindar apalagi menolak kendati ia dan Gio awalnya sepakat untuk tidak bergabung dengan Kainya dan Steven


Ketiga pasang itu kompak masuk bioskop. Bahkan tanpa direncanakan, ketiganya duduk di bangku sebaris. Dari paling ujung; Ben, Itzy, Kainya, Steven, Kimi, juga Gio. Hanya saja, dari semuanya termasuk kebersamaan ketiga pasang tersebut, Kainya dan Steven sukses membuat kedua pasangan yang ada di sisi mereka iri. Pun meski apa yang Steven dan Kainya lakukan hanya sebatas mengobrol lirih atau saling tatap.


“Kimi, kenapa kamu terlihat enggak nyaman begitu?” bisik Gio tepat di sebelah telinga Kimi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar bioskop.


Kimi menghela napas dalam. Tanpa melirik apalagi menatap Gio, ia yang masih menatap lurus ke depan berkata, “kamu yang bikin aku enggak nyaman!”


Gio mengerutkan dahi dan kemudian menatap Kimi dengan tatapan tak mengerti. “Why?” lirihnya penuh penekanan.


“Tanganmu!” ucap Kimi sambil balas menatap Gio, bahkan ia sampai mendelik ke pria itu.


Gio langsung salah tingkah ketika mendapati sebelah tangannya justru menggenggam sebelah tangan Kimi. “Maaf ... maaf! Aku enggak sengaja!” ucapnya sambil menunduk-nunduk.


“Ketenangan adalah satu-satunya hal yang selalu ingin kudapatkan. Dan bersama Steven, aku tidak hanya merasa tenang, melainkan damai. Dan semua itu tetap kurasakan meski Ben ada di dekatku,” batin Kainya sambil diam-diam menatap Steven.


Bersambung ....


Hhmmm, kalian merasa tenang juga, enggak? ^^


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa ^^

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2