
Selama hidupnya, Pelangi selalu mendapatkan kebahagiaan melimpah dari keluarganya. Kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dialami Kim Jinnan. Dan memikirkan semua itu, tiba-tiba saja Kim Jinnan menjadi takut. Apakah ia yang bahkan tidak pernah merasakan kebahagiaan dari sentuhan keluarga, bisa membahagiakan istri berikut anak-anaknya?
Bab 48 : Kisah Pengantin Baru
Pelangi keluar dari kamar mandi mengenakan setelan panjang berwarna cokelat muda. Dan bersamaan dengan itu, semerbak aroma bunga langsung menyeruak dari kamar mandi. Sampai-sampai, Kim Jinnan yang terduduk menunggu di tepi kasur menghadap kedatangan Pelangi, menjadi terheran-heran.
Kim Jinnan mengendus dalam, aroma bunga yang tercium begitu kuat. Bahkan, tanpa harus ia mengendus, aroma itu sudah memenuhi indra penciuman bahkan hatinya. Dan menyadari apa yang Kim Jinnan lakukan jelas sedang mencium udara sesaat setelah kedatangannya, Pelangi yang mengetahui itu pun langsung mencebik.
Pelangi menatap aneh tingkah Kim Jinnan sambil memijat-mijat kepalanya yang masih terbungkus handuk. “Dasar aneh! Jangan-jangan dia sudah berpikir mesum?!” umpat Pelangi dalam hati. Karena biar bagaimanapun, Pelangi masih dendam karena siang tadi, Kim Jinnan menakutnakutinya dengan cecak.
Karena jika saja Pelangi tidak memikirkan kemarahan Philips dan Khatrin, tentu Pelangi belum mau dijemput apalagi tinggal satu kamar dengan Kim Jinnan.
“Kenapa?” tanya Pelangi terdengar mengomel. Ia menatap sebal Kim Jinnan dengan bibir yang sampai cemberut. Ekspresi yang selama ini ia berikan kepada Kim Jinnan di setiap kesempatan lantaran pria itu selalu membuatnya sebal.
“Kamu mandi habis sabun berapa botol? Jadi terkesan asrama cewek gini auranya.” Kim Jinnan hanya tersenyum. Senyum lembut khas orang jatuh cinta. Ia segera bangkit sambil terus menatap Pelangi. Kemudian, dengan segenap cinta, ia mengulurkan kedua tangannya kepada Pelangi.
Pelangi menghela napas dalam seiring tatapannya kepada Kim Jinnan yang menjadi dipenuhi banyak rasa curiga. “Asrama cewek? Pengalaman, ya?” Dan Pelangi sengaja menyindir pria yang jelas-jelas sudah menjadi suaminya.
Kim Jinnan menjadi celingusan dan menggaruk sekitar lehernya yang sebenarnya tidak gatal.
“Pasti tempat nongkrong langganan, kan?!” omel Pelangi yang sampai berkecak pinggang.
Kali ini, Kim Jinnan yang sampai menunduk pasrah, menjadi menahan tawa geli. Dan kenyataan tersebut membuat Pelangi ingin memasukan suaminya ke dalam botol yang kemudian ia lempar ke tengah-tengah lautan agar lenyap terbawa ombak.
Padahal, sebelum sekarang, tujuan Pelangi menikah dengan Kim Jinnan lantaran gadis itu tidak mau membiarkan Kim Jinnan kesepian. Lantaran Pelangi tidak mau ada wanita lain yang lebih istimewa untuk Kim Jinnan. Juga, semua alasan yang Pelangi harap, dirinya akan selalu menjadi wanita terbaik yang juga selalu dicintai Kim Jinnan.
Namun jika mengingat jejak masa lalu Kim Jinnan yang nyatanya play boy bahkan mesum, yang ada Pelangi menjadi ingin mengamuk lantaran pada kenyataannya, dirinya bukan yang pertama seperti Kim Jinnan dalam hidupnya. Dan andai saja ada mesin atau alat yang bisa membersihkan masa lalu, Pelangi akan menyewa bahkan membelinya untuk membersihkan Kim Jinnan.
“Aku minta maaf,” ucap Kim Jinnan yang masih mengulurkan kedua tangannya. Ia kembali menatap Pelangi.
Pelangi menepis tatapan Kim Jinnan sembari menghela napas pelan. “Lain kali jangan mengucapkan kata maaf lagi.”
Kim Jinnan mengerutkan dahi lantaran merasa tidak mengerti dengan balasan Pelangi. “Kenapa begitu?”
“Jika kata maaf bisa menyelesaikan masalah, kenapa ada polisi bahkan hukum?” Pelangi melirik Kim Jinnan penuh kepastian. Ia melakukan hal tersebut lantaran ia masih kecewa bahkan marah. Bahkan, bukannya membalas uluran tangan Kim Jinnan, ia justru bersedekap.
Kim Jinnan mengalah. Ia mengangguk-angguk dan kemudian menatap Pelangi dengan banyak ketulusan. “Ya. Mulai sekarang, kamu akan selalu benar.”
Pelangi hanya melirik tajam Kim Jinnan. Dan ketika kedua tangan pria itu nyaris meraih kedua tangannya yang masih bersedekap, ia segera mundur.
Dahi Kim Jinnan kembali berkerut tipis. Ia kembali menatap tak mengerti sang istri. Namun, ia yakin, masih ada hal yang belum ia penuhi dan membuat Pelangi benar-benar sepenuh hati kepadanya.
“Kamu tahu artinya kata maaf?” balas Pelangi dengan nada suara yang masih terdengar menahan banyak rasa kesal.
Kim Jinnan hanya menatap Pelangi jauh lebih serius tanpa berani berkomentar lantaran ia yakin, sekalipun ia berkomentar, di mata Pelangi ia pasti akan kembali salah.
“Kata maaf sama saja kita enggak bisa kasih yang terbaik. Dan kamu tahu, apa artinya kata maaf dalam hubungan?” ucap Pelangi.
Kim Jinnan yang masih menatap serius Pelangi masih tidak berkomentar. Akan tetapi, sebelah tangannya meraih sebelah lengan gadis itu, seiring ia yang langsung mendekap tubuh Pelangi dengan erat.
__ADS_1
Apa yang Kim Jinnan lakukan membuat Pelangi merasa jika kehidupannya menjadi berputar lebih lambat.
“Jin-nan?” lirih Pelangi yang mendadak diserbu banyak rasa tegang. Ya, apa yang Kim Jinnan lakukan sukses membuatnya menjadi sangat tegang.
Jantung Pelangi berdentum tidak wajar. Dan Kim Jinnan sampai bisa mendengarnya. Namun, kendati Kim Jinnan hanya diam bahkan tatapannya sampai kosong, sebenarnya Kim Jinnan sedang berpikir keras. Kim Jinnan sedang memikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa membahagiakan Pelangi? Agar dirinya bisa memberikan yang terbaik bahkan bila bisa sempurna kepada Pelangi yang telah resmi menjadi istrinya?
Selama hidupnya, Pelangi selalu mendapatkan kebahagiaan melimpah dari keluarganya. Kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dialami Kim Jinnan. Dan memikirkan semua itu, tiba-tiba saja Kim Jinnan menjadi takut. Apakah ia yang bahkan tidak pernah merasakan kebahagiaan dari sentuhan keluarga, bisa membahagiakan istri berikut anak-anaknya?
Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dada Kim Jinnan. Bahkan tak lama setelah itu, Kim Jinnan menyadari ada yang mengalir dari kedua matanya yang nyatanya sampai sudah basah. Kenyataan tersebut pula yang membuat pria itu buru-buru menengadah, dengan harapan, air matanya tidak akan bisa berlinang.
Namun sial, air mata Kim Jinnan tetap mengalir dan sampai membasahi pipi. Itu juga yang membuat Kim Jinnan buru-buru mengakhiri pelukannya. Kim Jinnan berjalan tergesa memasuki kamar mandi. Dan apa yang menimpa Kim Jinnan, sukses membuat hati Pelangi menjadi terasa sakit.
Pelangi merasa ada yang aneh dengan tingkah Kim Jinnan yang bahkan sampai tidak mau menatapnya. “Apakah aku salah? Aku telah menyakitinya?”
Pelangi yakin, tadi Kim Jinnan kembali dengan kesedihannya. Kim Jinnan kembali bersedih dan mungkin itu karena Pelangi?
Pelangi berjalan tergesa menyusul Kim Jinnan. “Jinnan ... kamu menangis?” lirih Pelangi dari sela pintu yang sebenarnya terkunci rapat.
“Enggak!” seru Kim Jinnan dari dalam.
Namun di telinga Pelangi, tadi suara Kim Jinnan terdengar sengau. “Cepat keluar, aku ingin melihatmu,” pinta Pelangi masih merengek.
“Bentar ....”
Pelangi mendengar suara air dari keran bersamaan dengan seruan balasan dari Kim Jinnan. Dan kali ini, tiba-tiba saja Pelangi merasa gelisah. Ia tertunduk resah, takut jika apa yang ia lakukan justru melukai Kim Jinnan.
Tepat setelah Pelangi berbicara di dalam hati, pintu kamar mandi terbuka disusul Kim Jinnan yang menjadi memenuhi pandangannya. Dan sekali lagi, Pelangi merasa kehidupannya mendadak berputar lebih lambat, hanya karena ia sedang bersama Kim Jinnan dalam keadaan yang begitu sepi layaknya sekarang. Namun tidak, ... Pelangi buru-buru mengoreksi anggapannya lantaran pada kenyataannya, kali ini dunia Pelangi justru berhenti berputar.
“Kim Jinnan, ... apa yang dia lakukan? Dia mencium ... bibirku?” batin Pelangi kebingungan dan sampai lupa bernapas.
Kim Jinnan, mengunci bibir Pelangi dengan sangat lembut.
“Apakah dia sadar dengan apa yang dia lakukan? Namun, sampai kapan dia membuatku sebodoh ini?” batin Pelangi yang memilih mendorong dada Kim Jinnan lantaran gadis itu yakin, dirinya akan menjadi semakin bodoh jika terus membalas ciuman Kim Jinnan.
Pelangi yang kadung malu bahkan kebingungan dengan apa yang harus dilakukan, buru-buru kabur meninggalkan Kim Jinnan.
“Ngie ...,” panggil Kim Jinnan lirih.
Pelangi yang sampai setengah berlari berangsur menghentikan langkahnya.
“Jangan khawatir, ... aku pasti bisa membahagiakanmu. Aku akan memberikan yang terbaik untuk keluarga kita.” Kim Jinnan sangat serius dengan ucapannya. Belum pernah Kim Jinnan seserius sekarang. “Benar-benar yang terbaik!” tambahnya.
Apa yang Kim Jinnan tegaskan sampai membuat Pelangi merinding. Seperti ada embusan angin dingin yang cukup mistis dan detik itu juga langsung menghantui Pelangi. Apalagi, ketika Kim Jinnan juga sampai mendekap tubuh Pelangi dari belakang, dengan sangat hati-hati. Pelangi benar-benar bingung harus bagaimana? Haruskah ia menolak, mengakhiri apa yang tengah terjadi? Atau, ... membiarkan semuanya berjalan dengan sendirinya, terlebih ia juga menginginkannya?”
“Kim Jinnan adalah orang paling kesepian. Sedangkan Pelangi, adalah orang yang memiliki banyak cinta. Ibarat timbangan, kita akan berat sebelah jika kita tetap memilih melangkah bersama.”
Kata-kata yang baru saja Kim Jinnan ucapkan, benar-benar mengandung bawang dan membuat Pelangi yang mengakui dirinya cengeng, menjadi berkaca-kaca. Pelangi nyaris kembali menangis.
“Namun, masa iya, orang paling kesepian tidak bisa membahagiakan orang lain apalagi orang yang paling disayang?” lanjut Kim Jinnan.
__ADS_1
“Kim Jinnan ... jangan begini. Kamu bikin aku tambah parno. Kamu juga jangan mikir macam-macam. Sudah, pikirkan saja masa sekarang dan masa depan. Jangan sedih-sedih lagi.” Pelangi berangsur mengakhiri dekapan Kim Jinnan.
Pelangi melepaskan dekapan kedua tangan Kim Jinnan yang mengunci perutnya. Kemudian ia berangsur balik badan di mana tangan kanannya juga menepuk kening Kim Jinnan dengan tenaga cukup.
Kim Jinnan yang refleks terpejam, merasakan panas sekaligus pedas di bekas tepukan tangan Pelangi.
“Jangan cengeng!” tegas Pelangi.
“Ngie ... seburuk-buruknya aku, sekarang aku sudah jadi suami kamu!” keluh Kim Jinnan.
“Ibaratnya, itu peringatan biar kamu enggak bikin suasana jadi ‘melow’ terus. Ya sudah ... aku mau siap-siap ikut yasinan di luar.” Pelangi nyaris meninggalkan Kim Jinnan, tetapi ia kembali balik badan dan menatap serius pria itu.
“Satu lagi, jangan menyentuh apalagi menciumku sembarangan, sebelum kita bersama selama tiga tahun. Kamu enggak lupa dengan janji kita, kan? Tiga tahun lagi?” lanjut Pelangi.
Kali ini, Kim Jinnan menjadi tersenyum bahkan tersipu. Apa yang Pelangi tegaskan sukses membuatnya teringat pada janji mereka. Kendati demikian, untuk kali ini Kim Jinnan benar-benar ingin menjadi pecundang yang tidak akan pernah menepati jani. Terlebih, hubungannya dan Pelangi sudah resmi. Mereka sudah menikah, apa lagi yang harus dibatasi?
Sambil berkecak pinggang, Kim Jinnan pun kembali menatap Pelangi. “Tiga tahu, ya ...?” tanyanya.
Pelangi yang bingung dan sempat terdiam cukup lama karena memikirkan maksud pertanyaan Kim Jinnan pun segera mengangguk. “Tentu!” ucapnya mantap.
“Baiklah,” balas Kim Jinnan yang kali ini sampai meraih handuk yang membungkus kepala Pelangi.
Kim Jinnan mengeringkan kepala Pelangi menggunakan handuk yang sempat membungkus kepala gadis itu. “Kita lihat saja apa yang terjadi, ya? Tiga tahun ... benar-benar tiga tahun!”
Apa yang Kim Jinnan tuturkan membuat Pelangi bertanya-tanya sekaligus curiga. Adakah yang direncanakan pria itu, sampai-sampai, Kim Jinnan menjadi senyum-senyum seperti itu? Pelangi benar-benar curiga sekaligus waspada.
***
Tak lama setelah itu, Kim Jinnan dan Pelangi bergabung dengan orang-orang yang sedang mendoakan Kim Jungsu. Seperti dugaan Pelangi, mereka telat. Kenyataan yang terjadi lantaran gadis itu menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk mandi. Belum lagi drama setelah Pelangi keluar dari kamar mandi.
Dan dengan buru-buru, Pelangi langsung duduk di sebelah Dean yang bersebelahan dengan Yuan, Khatrin, berikut Philips. Sedangkan Kim Jinnan yang menuntun Pelangi untuk duduk lebih dulu, segera mengambil duduk di sebelahnya. Mereka duduk di urutan paling depan. Dan di hamparan karpet yang tergelar keberadaan mereka, aneka makanan lengkap dengan air mineral kemasan gelas telah tersaji.
“Semua orang menyayangimu, Kek,” batin Kim Jinnan yang diam-diam mengamati kekusyuan semua orang di sana dalam membaca doa, melafalkan ayat-ayat suci yang membuat hatinya menjadi terasa sangat damai.
“Meski aku masih sangat mengharapkan kehadiran kakek, tetapi jika ini sudah menjadi jalanmu, aku akan belajar untuk ikhlas,” batin Kim Jinnan lagi yang berangsur menunduk sembari memejamkan kedua matanya. Kemudian, ketika ia menoleh ke samping kanannya, di sana ada wajah Pelangi yang langsung memenuhi pandangannya.
Melihat Pelangi menutupi kepalanya dengan pasima berwarna senada dengan terusan panjang yang dikenakan, membuat hati Kim Jinnan menjadi semakin damai. Dan bersamaan dengan itu, baru Kim Jinnan sadari jika dalam keadaan seperti itu, Pelangi terlihat semakin cantik.
Tepat di hadapan Kim Jinnan, pak Jo yang tidak sengaja menoleh pada Kim Jinnan, juga ikut tersenyum. Pak Jo turut bahagia dengan kebahagiaan yang menimpa tuan mudanya. Tuan mudanya yang terlihat jelas begitu bahagia bersanding dengan Pelangi.
“Tidak disangka, jika satu-satunya hal yang bisa membuat Tuan Muda bahagia justru gadis yang sangat dia cintai,” batin pak Jo. “Semoga, ... secepatnya rumah ini akan segera diramaikan oleh tangis bayi!” pintanya dalam hati, dengan segenap harapan yang kemudian ia kuatkan melalui uantaian doa.
Bersambung ...
Ada yang belum tidur juga? Sama dong 😂😂😂
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa. Awas, ada tangis bayi tanpa penampakan 😂😂😂🙏
Semoga sehat selalu. Author mau nulis Keandra di lapak sebelah 😂😂. Bocorannya, Keandra akan menjalani program yang mengharuskannya menikahi anti-fansnya. Dan Keandra milih Fina. Habislah dilempar molotof sama Rafael 🤣🤣🤣
__ADS_1