
“Tak peduli apa yang terjadi di masa lalu bahkan semua yang terjadi di luar kita, mulai sekarang, mari kita sama-sama menjalani segala sesuatunya.”
Bab 55 : Syukuran Pernikahan Kim Jinnan dan Pelangi
Bersama Orang tua mereka, Elia yang tak hentinya tersenyum pada Rafaro, memasuki kediaman Yuan. Sedangkan Mofaro yang telanjur kesal pada Elia, memutuskan untuk melangkah di barisan paling belakang, tepat di belakang Kimo dan Rara. Mofaro berdampingan dengan Elena.
“Kamu kok beda banget sama kakak kamu? Diam begitu. Sariawan apa bagaimana?” tanya Mofaro pada Elena yang memang pendiam.
Elena melirik Mofaro dan kemudian menggeleng.
“Ya ampun ... kayak ngomong sama tembok. Lagian aneh banget sih. Yang satu berisik kayak petasan. Yang satunya diem kayak tugu pahlawan!” batin Mofaro yang pada ahirnya kapok mengajak Elena berkomunikasi. Terlebih, Elena lebih parah dari Rafaro yang sudah terbilang pendiam.
Lain halnya dengan Elena yang hanya diam, Elia justru sengaja mendekati Rafaro. Elia bahkan tak segan mengajak Rafaro terus berkomunikasi. Padahal yang diajak komunikasi hanya menjawab ala kadarnya bahkan kadang hanya sebatas mengedipkan mata.
***
Bersama Yuan dan Keinya, Kim Jinnan dan Pelangi tengah asyik mengobrol dengan Khatrin dan Philips, ketika keluarga Kimo dan Steven datang. Dan suasana yang awalnya sudah cukup ramai, menjadi semakin ramai setelah kedatangan keluarga Kimo dan Steven. Bahkan bagi Mofaro, suasana riuh di sana tak beda dengan suasana pasar.
“Wah ... serius Kim Jinnan keren badai! Pantas Ngi-ngie sampai mau nikah muda!” ujar Elia yang sampai menghentikan langkahnya lantaran terperangah menatap Kim Jinnan yang duduk bersebelahan dengan Pelangi, di sofa ruang keluarga.
“Keren badai? Enggak sekalian tsunami?” cibir Mofaro dan sampai terdengar oleh Elena yang berdiri di sebelahnya.
Ketika menoleh ke sampingnya selaku keberadaan Elena, Mofaro mendapati Elena yang ia sebut tidak beda dengan tugu, justru sedang tersenyum nyaris tertawa.
“Eh ... si Elena bisa senyum juga?” batin Mofaro bingung sekaligus tak percaya. Dan tak lama setelah itu, Mofaro menelan ludah sembari menepis tatapannya dari Elena. “Syukurlah. Dengan kata lain, si Elena bukan manusia kloningan. Dia asli manusia yang masih punya perasaan karena nyatanya, dia bisa tersenyum juga!” batin Mofaro lagi.
Elia dan Elena segera menghampiri Pelangi. Penuh keceriaan kendati Elena tak sampai seheboh Elia, keduanya berangsur memeluk Pelangi silih berganti. Tak lupa, bingkisan yang sedari awal mereka bawa juga langsung mereka berikan kepada yang bersangkutan. Di mana, Elia dan Elena juga menyapa Kim Jinnan tak kalah ramah.
Kendati kebersamaan di sana begitu kental dengan kebahagiaan, tetapi tidak untuk Rafaro dan Mofaro yang cenderung diam. Bahkan Rafaro dan Mofaro justru memilih bergabung dengan Dean yang belum terlihat dalam kebersamaan. Keduanya mencari Dean ke lantai atas. Dan di kamarnya, Dean masih sibuk di depan laptop.
“Aku pikir kalian enggak bakalan datang?” ujar Dean yang sampai balik badan kendati ia masih duduk di kursi belajar sekaligus kerjanya.
“Kamu kebangetan. Di bawah lagi rame-rame, kamu malah di sini?” cibir Mofaro yang kemudian langsung membanting tubuhnya ke tengah-tengah kasur Dean.
“Memangnya Kishi enggak ke sini?” tanya Rafaro yang kemudian duduk di sofa yang ada di seberang Dean.
Dean berdeham dan kemudian menghela napas pelan. Membuatnya merasa jauh lebih santai dari sebelumnya. “Masih di perjalanan sih. Nanti kalau sudah dekat juga pasti ngabarin,” ucapnya santai yang kemudian memperhatikan Mofaro dan Rafaro, silih berganti.
“Daripada suntuk, mending main PS apa bagaimana?” lanjut Dean yang memang prihatin pada Rafaro dan Mofaro yang sedang patah hati .
Momaro mengulet, sedangkan Rafaro berangsur menyandarkan punggungnya pada sofa tempatnya duduk.
“Jangan berisik, ya. Aku mau meditasi biar pikiranku lebih tenang,” ucap Rafaro yang kemudian memejamkan matanya.
“De!” seru suara seorang gadis dari luar dan langsung dikenali ketiganya sebagai suara Elia.
“Astaga si molotof ke sini!” keluh Mofaro yang kemudian meraih sebuah bantal dan kemudian meletakkannya di atas wajahnya.
Awalnya, Elia nyaris kembali berteriak. Namun karena Dean langsung meletakkan telunjuk kanannya di tengah-tengah bibir sambil menatap Elia penuh peringatan, Elia yang awalnya sampai berlari, menjadi berhenti. Elia juga segera mengikuti tuntunan Dean perihal keberadaan Rafaro yang sedang bermeditasi, sedangkan Mofaro sedang istirahat di atas kasur. Dan dari semuanya, tatapan Elia langsung kembali tertuju pada Rafaro.
__ADS_1
“Serius ... si Rafa ganteng banget apalagi kalau lagi tiduran kayak gini. Maulah duduk di sebelah Rafa,” batin Elia.
Di tengah kenyataannya yang menjadi semakin ceria, Elia meraih ponselnya dari dalam tas selempang kecil berwarna putih yang dikenakan. Tas selempang yang juga berwarna senada dengan dress selutut tak berlengan yang kali ini menyertai penampilannya. Dan melalui ponselnya, Elia menggunakan aplikasi kamera untuk mengabadikan sosok Rafaro yang begitu istimewa untuknya.
Dean yang mendapati ulah saudarinya, hanya berkecap sambil menggeleng geli. Dean membiarkan Elia begitu saja, mengingat ia tahu, sejak kelas sembilan, Elia sudah menyukai Rafaro. Namun kendati demikian, Elia yang bawel justru tidak akur dengan Mofaro.
“Sip!” batin Elia yang akhirnya mendapat banyak foto Rafaro dan bahkan dalam pose yang begitu elegan sekaligus mempesona.
Elia baru saja menyimpan ponselnya ke dalamntas, ketika Elena juga datang ke kamar Dean.
“De ... ditunggu. Acara syukurannya sudah mau mulai!” bisik Elena dari depan pintu.
Elena menatap Dean penuh penegasan dan kemudian mengangguk, menuntun agar pemuda itu mengerti. Dan Dean segera mengulas senyum sambil mengangguk dalam membalasnya.
“Bentar lagi,” ucap Dean.
Tanpa banyak kata, Elena yang semakin menambah senyumnya segera mengangguk, sesaat sebelum berlalu dari kebersamaan. Dan tak lama setelah kepergian Elena, tiba-tiba saja Mofaro beranjak dan menyingkirkan bantal dari wajahnya. Mofaro meletakan bantalnya asal di sebelahnya.
“Itu tadi si Elena, ya?” ujar Mofaro sambil menatap penasaran Dean.
Meski merasa bingung, tetapi Dean segera mengangguk. “Kenapa gitu?” tanyanya penasaran.
Mofaro refleks menelan ludah dan kemudian menepis tatapan Dean yang baginya sangat berlebihan. “Cuma nanya, kali, De!” rutuknya.
“Ya sudah kalau tujuanmu cuma nanya, sekalian aku kasih tahu. Elena sudah pacar. Dan pacarnya seorang pilot. Ganteng, lho. Keren!” ujar Dean.
Awalnya, Mofaro refleks menatap sedih Dean. Mofaro menyayangkan apa yang Dean tuturkan perihal Elena. Sebab, entah kenapa, kenyataan tersebut cukup membuat hati Mofaro menjadi sakit. Namun, lantaran Dean menanggapi dengan serius, Mofaro buru-buru menepisnya dan segera beranjak dari tempat tidur. Belum lagi, diam-diam Elia yang masih di sana juga sibuk cekikikan menertawakan Mofaro.
Namun, lantaran Mofaro yang menyadari Elia sedang kembali berusaha mendekati Rafaro, Mofaro pun memutuskan untuk kembali dan membangunkan Rafaro. Dan tak sampai di situ, sebab Mofaro juga sampai membawa paksa Rafaro untuk mengikutinya agar tidak diganggu Elia.
“Jiahh ...!” desis Elia yang sampai cemberut.
Elia bersedekap dan menatap sebal Mofaro yang membawa paksa Rafaro. Dan kenyataan tersebut sukses membuat Dean menahan tawa. Dean segera beranjak dari tempat duduknya dan kemudian menghampiri Elia.
“Sabar ... salah siapa kamu bikin gara-gara ke Mo. Ya ... akhirnya jadi begini,” ujar Dean sembari merangkul pundak Elia.
“Tapi kan kamu tahu sendiri, Mo itu super nyebelin banget! Orang yang awalnya bahagia, lihat wajah Mo pasti bawaannya langsung emosi!” balas Elia yang sampai mengomel.
Lagi-lagi Dean menahan tawa. “Tapi menurutku kalian sama saja,” ucapnya dan langsung membuat Elia mengamuk.
Dean memutuskan untuk kabur sebelum Elia membuatnya babak belur.
“Sembarangan kamu, De! Nyama-nyamain aku sama Mo! Ya beda, lah!” omel Elia.
“Ampun, El!” Kendati tertawa, tetapi Dean juga takut pada Elia yang galaknya melebihi Pelangi.
***
Acara syukuran pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan yang baru bisa dilaksanakan, berlangsung dengan kusyu. Dan setelah sampai melangsung doa bersama, rantai air mata kembali mengikat kebersamaan Kim Jinnan berikut Pelangi yang sengaja menyebunyikannya dari yang lain. Keduanya kompak menunduk sembari menyeka air mata satu sama lain.
__ADS_1
“Tak peduli apa yang terjadi di masa lalu bahkan semua yang terjadi di luar kita, mulai sekarang, mari kita sama-sama menjalani segala sesuatunya.” Kim Jinnan, mengatakannya dengan suara yang sangat lirih.
Kim Jinnan memang terus saja tersenyum menanggapi setiap sapaan sekaligus cerita orang-orang di sana, tetapi tidak dengan hati berikut pikirannya yang hanya sibuk meyakinkan Pelangi.
Pelangi yang masih berdiri di sebelah Kim Jinnan dan sesekali akan memberitahu perihal siapa saja yang datang di acara syukutan mereka. Terlebih, Kim Jinnan sadar, baik dirinya maupun Pelangi sama-sama masih terlalu dini. Pelangi dan Kim Jinnan sama-sama belum memiliki banyak pengalaman untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
“Tapikan aku serius! Aku serius dengan pernikahan kita meski mengenai anak, baru akan aku seriusin setelah aku beres kuliah!” tegas Pelangi dengan suara lirih di tengah wajahnya yang menjadi merengut dan jelas menahan kesal.
“Aku juga sangat-sangat serius, Ngie! Masa iya, masih ragu?!” balas Kim Jinnan tak kalah serius.
“Nah, gitu. Dan mengenai anak, kalian enggak usah pusing-pusing. Kan ada aku. Justru, kalau kalian langsung punya anak, bisa-bisa kalian enggak urusin aku lagi!” ucap Zean yang tiba-tiba saja ada di depan Kim Jinnan dan Pelangi.
Seperti biasa, Zean tersenyum dengan sangat ceria dan terlihat sangat tidak berdosa. Kemudian, setelah sampai membuat Kim Jinnan dan Pelangi kikuk, Zean langsung berlari menghampiri Aurora yang sedang duduk di sebelah Kimo dan Rara.
“Jinnan. Lain kalai kalau ada Zean, mending kalau mau bahas yang cukup sensitif, kita lewat chat saja,” lirih Pelangi.
“Seribet ini, ya, hidup kita? Ini baru satu Zean. Bayangkan kalau kita punya tiga saja yang kayak Zean,” balas Kim Jinnan yang cukup uring-uringan.
Dan Pelangi menjadi tertawa. Pelangi sengaja menekap mulutnya dan kemudian pamit pada Kim Jinnan, untuk bergabung dengan Elia, Elena, dan Kishi yang sedang asyik mengobrol dengan Dean. Tampak juga Mofaro dan Rafaro yang turut duduk di sebelah Dean. Keenamnya terbagi menjadi kedua kubu dengan Kishi dan Dean yang ada di tengah.
“Ya mending aku ikut kamu, lah. Masa kamu minta aku buat gabung sama bapak-bapak?” keluh Kim Jinnan yang kemudian menyusul Pelangi.
Di sofa ruang keluarga, di sana kebersamaan yang Pelangi tuju. Sedangkan para orang tua berikut balita, ada di bangku teras depan yang menghadap taman berikut kolam ikan.
“Jadi, kamu mau lanjut kuliah di mana?” tanya Rafaro berusaha sesantai mungkin. Ia menatap Pelangi yang duduk bersebelahan dengan Kim Jinnan.
“Raf, menurutmu, aku harus kuliah di mana?” sergah Elia yang justru membuat fokus di sana menjadi buyar.
“Kalau kamu sih, di warteg saja, biar kenyang!” celetuk Mofaro yang sengaja menyibukkan diri dengan bermain game di ponselnya.
“Kok warteg, sih?” protes Elia yang langsung menatap Mofaro kesal, kendati yang lain menjadi menekap mulut lantaran menahan tawa.
“Kan kamu makannya banyak! Ya mending di warteg saja biar kenyang!" balas Mofaro dengan santainya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
Ketika yang lain semakin cekikikan kecuali Elia dan Mofaro, Zean yang diam-diam menyimak justru berseru, “ciee ... Mo perhatian sama Elia. Uhuy!”
Sadar Mofaro yang murka nyaris mengejarnya, Zean langsung loncat ke pangkuan Kim Jinnan yang juga langsung sigap menangkap tubuh Zean.
Sungguh, apa yang Zean ledekkan kepada Mofaro, sukses membuat tawa yang awalnya ditahan-tahan, menjadi pecah.
“Si Zean beneran berbahaya! Dasar siluman berwujud bocah!” batin Mofaro sambil menggeleng tak habis pikir.
Namun di balik kekesalan sekaligus kenyataannya yang menjadi bahan tertawaan, tiba-tiba saja hati Mofaro menjadi berdesir, hanya karena pemuda itu melihat Elena sibuk menahan tawa. Seperti ada gelora hangat yang menjadi menyelimuti hati Mofaro, hanya karena kebahagiaan yang tampak begitu jelas di wajah seorang Elena.
“Si Elena kalau lagi senyum kayak gitu, manis juga, ya?” batin Mofaro.
Bersambung .....
Selamat beristirahat, yaa 😍♥️♥️🌟
__ADS_1
Nantinya, cinta si kembar juga bakalan Author ceritakan, yaa 🙏♥️