
“Untuk apa lagi aku membantu terlebih memberimu kesempatan, jika pada akhirnya kamu lebih mengutamakan Steffy?!”
Bab 57 : Kamu di Mana?
Senja telah menyelimuti kehidupan dengan semburat warna jingga yang begitu kental, ketika Kimo keluar dari taksi. Kimo turun di depan gerbang rumah bersamanya dan Rara.
Dengan keadaan lemas tak bersemangat, Kimo langsung mengeluarkan kunci dari saku jas abu-abu yang dikenakan. Ia membuka gembok gerbang rumahnya tanpa memerlukan banyak waktu.
Dari Rara, Kimo memang memiliki semua kunci serep rumah, meski tentu, efek amnesia juga membuatnya lupa perihal rumah berikut semua yang berhubungan dengan Rara, tanpa terkecuali mengenai kunci rumah mereka. Ketika berhasil masuk rumah, suasana yang sepi membuatnya mengerutkan dahi, seiring benaknya yang juga mulai bertanya-tanya; apakah Rara tidak di rumah? Kenapa rumah begitu sepi? Lampu pun belum ada yang menyala? Masa iya, Rara masih tidur? Atau mungkin, karena Rara masih marah dan wanita itu sengaja membiarkan rumah gelap gulita?
Hal terakhir yang Kimo ketahui mengenai Rara, wanitanya itu sedang tidur, setalah mereka sempat berdebat. Kimo mengakui dirinya salah karena sampai membahas bahkan dengan bodohnya meminta izin menemui Steffy, sampai-sampai, hubungannya dan Rara yang awalnya mulai berjalan dengan baik, menjadi terusik. Hanya saja, karena suatu hal, hari ini Kimo juga terpaksa meninggalkan Rara di rumah sendirian dan hanya pamit melalui secarik memo yang ia letakkan di kasur, dikarenakan ketika akan pamit, wanitanya itu sedang tidur. Kimo tiak mau mengganggu Rara, apalagi alasannya pergi juga menjadi salah satu hal yang bisa mengancam kesehatan Rara.
Setelah menyalakan semua lampu setiap ruangan di lantai bawah tanpa terkecuali dapur yang bahkan tidak ada tanda-tanda bekas disentuh Rara, tujuan lanjutan Kimo adalah kamar Rara. Kimo berpikir, mungkin saja Rara meninggalkan pesan layaknya apa yang ia lakukan sebelum pergi, pagi ini.
Kamar Rara juga sepi dan gelap gulita lantaran gorden tebal masih menutup rapat setiap jendela. Karenanya, Kimo sengaja menyalakan lampu paling terang di kamar itu. Ia menekan sakelar lampu yang keberadaannya tak jauh dari keberadaan pintu tempatnya berdiri.
Sepintas, Kimo tidak menemukan hal-hal mencurigakan kecuali bekas Rara meringkuk yang tidak serapi susunan selimut sebelah. Hanya saja, bekas noda merah kehitaman yang mengering di sana, terbilang luas dan Kimo tafsir seukuran pantat Rara, berhasil mengusik pria itu.
Kimo berjalan cepat sambil menatap noda itu dengan mengernyit. Noda yang dirasanya mirip darah kotor yang mengering. “Rara baik-baik saja, kan? Itu memang bukan darah, apalagi darah Rara, kan?” batinnya harap-harap cemas.
Namun, ketakutan Kimo justru terbukti. Karena semakin dekat, noda itu memang nyata darah yang mengering. Bahkan tanpa mengendus lebih dalam, Kimo bisa menangkap bau sedikit anyir. Celaka, apakah itu benar-benar darah Rara?
Jantung Kimo seolah melesak. Sakit. Benar-benar sakit. Setelah sempat menggeragap--tak tahu harus berbuat apa dalam waktu cukup lama karena saking bingungnya--yang ada di pikirannya hanyalah segera menghubungi Rara.
“Tapi sebentar. Ponselku di mana? Tadi aku lupa sampai enggak bawa ponsel!” racau Kimo panik sekaligus masih kebingungan.
Tak lama berselang, Kimo kalang kabut dan berusaha mengingat terakhir kali dirinya menaruh ponsel. Sebab tadi pagi, saking buru-burunya ia sampai lupa membawa ponsel. Kimo keluar dari kamar Rara dan segera memasuki kamarnya. Setelah mencari-cari di kamarnya, ia mendapati ponselnya ada di nakas.
“Pesan yang aku tulis sudah enggak ada. Berarti Rara tahu, aku pergi tanpa bawa ponsel,” gumam Kimo yang kemudian langsung membuka menu di ponselnya. Begitu banyak pemberitahuan pesan masuk berikut panggilan tak terjawab di ponselnya, sampai-sampai, ketakutannya semakin tak terelakan. Semua panggilan tak terjawab yang jumlahnya ada dua puluh tujuh itu berasal dari kontak Yuan. Sedangkan sepuluh pesan dari dua belas pesan yang ada, masih dari orang yang sama. Sisanya, dua pesan yang memiliki waktu kirim lebih pagi dan memang ada di bawah pesan Yuan, merupakan pesan dari Rara.
Rara sempat mengiriminya pesan setelah mereka terlibat perdebatan? Pikir Kimo yang memang tidak sempat melihat pemberitahuan ponselnya sebelum ia pergi meninggalkan rumah. Hanya saja, apa maksud Yuan begitu sibuk menghubunginya?
Pertama-tama, meski dibuat penasaran dengan panggilan tak terjawab dari Yuan berikut pesan WA dari sahabatnya dan jumlahnya terbilang sangat banyak, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya, yang Kimo lakulan adalah menghubungi nomor Rara. Hanya saja, sepanjang ia menunggu sambil mondar-mandir di depan tempat tidurnya yang bahkan masih berantakan, panggilan telepon yang ia lakukan tidak mendapat jawaban. Jadilah, Kimo memilih untuk membaca pesan dari Rara sebelum menghubungi Yuan.
Istriku : Sekalipun aku bukan manusia yang sempurna. Aku juga tidak bisa mencintaimu dengan sempurna. Namun aku selalu memberikan semua yang aku punya ... aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk hubungan kita apalagi untukmu. Semua yang berhubungan denganmu, bagiku selalu nomor satu.
__ADS_1
Istriku : Namun, jika kamu sampai pergi dan menemui Steffy, dengan kata lain kamu memilihnya. Jadi setelah ini, jangan pernah lagi ada dalam hidupku apalagi menemuiku! Maaf, aku bukan wanita baik hati yang rela berbagi cinta apalagi kalau harus berbagi suami!
Kimo refleks menelan ludah. “Ya ampun, aku baru tahu kalau Rara sampai kirim pesan kayak gini. Jangan-jangan, karena ini juga, Rara pendarahan? Ya Tuhan!” Saking bingung sekaligus takutnya, Kimo sampai gemetaran.
“Kamu ke mana? Ayo angkat. Kamu baik-baik saja, kan?” Kimo nyaris menangis dan tak hentinya mindar-mandir sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.
Sambil terus mencoba menelepon Rara, Kimo berlari dan memasuki kamar Rara. Ia pastikan setiap nakas berikut tempat tidur Rara, dan berusaha menemukan jejak--pesan pamit dari wanita itu. Akan tetapi, selain tidak menemukan pesan tertulis, untuk ke sekian kalinya, teleponnya juga kembali tidak mendapatkan balasan. Justru, panggilan masuk dari Yuan yang akhirnya mengagetkannya lantaran panggilan tersebut berlangsung tepat setelah Kimo baru saja menempelkan ponsel ke sebelah telinga.
Kimo baru saja menghela napas untuk memastikan suaranya yang pastinya akan terdengar tidak jelas lantaran ia sudah telanjur menangis, tetapi dari seberang, Yuan langsung berkata, “ya ampun, Kimo, seharian ini kamu ke mana saja?! Kamu ini benar-benar! Cukup otakmu saja yang rusak, tidak dengan hati dan nalurimu!”
Kimo tidak mempermasalahkan teguran keras dari Yuan yang jelas-jelas sangat marah kepadanya. Pun meski hal tersebut juga baru pertama kali Kimo dapatkan dari sahabatnya itu. “Yu ... aku kehilangan Rara. Dan aku lihat ada darah. Tapi aku yakin, Rara hanya salah paham!” rajuknya.
“Salah paham kepalamu!” bentak Yuan dari seberang dan terdengar geram.
Untuk beberapa saat, Kimo terdiam. “T-tunggu ... ini maksudnya, kamu tahu, sekarang Rara ada di mana?”
Yuan tidak menjawab atau malah meledak-ledak lagi. Hanya saja, dari seberang terdengar helaan napas berat dan menandakan Yuan sudah sangat jengkel.
“Aku mohon, Yu. Aku akui, aku salah ... tapi tolong,” sergah Kimo sangat memohon. Ia masih mondar-mandir dan memang tidak bisa tenang sebelum mendapatkan kejelasan kabar Rara.
Balasan Yuan membuat hati Kimo semakin perih. “Yu, aku mohon!” rengeknya dengan air mata yang semakin berlinang.
“Untuk apa lagi aku membantu terlebih memberimu kesempatan, jika pada akhirnya kamu lebih mengutamakan Steffy?!”
“K-kenapa kamu malah menyalahkan Steffy?” sergah Kimo memotong penjelasan Yuan yang masih marah-marah.
“Apa maksudmu, dan kenapa kamu begitu membela Steffy?! Demi Tuhan, Kimo. Mulai sekarang, tolong lupakan Rara. Aku benar-benar muak sama kamu!”
Tak ada penjelasan lebih dari Yuan yang seketika itu mengakhiri sambungan telepon mereka.
“Yu! Yu ...?!” Tak mau menyerah, Kimo pun berusaha menghubungi Yuan. Hanya saja, setiap panggilan yang dilakukan juga selalu ditolak. Bisa jadi, Yuan juga sudah memblokir nomor Kimo.
“Kenapa Yuan begitu marah kepadaku bahkan Steffy? Kepalaku benar-benar pusing!” Kimo nyaris depresi dan mengacak-acak susunan rambutnya hingga menjadi sangat berantakan. Di tengah keadaannya yang putus asa itu, pandangannya tak sengaja mendapati pigura berisi foto pernikahannya dengan Rara. Dan karena itu pula, air matanya yang sempat berhenti mengalir, menjadi rebas.
“Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan?” batinnya sambil meratapi foto Rara dari depan ranjang tidur Rara. Ranjang tidur yang menjadi tempat terakhirnya melihat keberadaan Rara.
__ADS_1
Yang terakhir Kimo ingat, Rara tidur meringkuk membelakangi pintu. Rara meringkuk tanpa mengenakan selimut. Sebelum pergi, ia memang sempat mengintip dari pintu yang hanya sedkit ia buka.
***
Beberapa menit kemudian, Kimo keluar dari rumah dengan berlari. Lari yang terbilang cepat di mana pria keras kepala itu juga masih berusaha menghubungi Rara. Kendati demikian, Kimo tak lupa mengunci gerbang rumahnya, sebelum pergi meninggalkan rumah.
Kimo terus berlari menelusuri jalan kompleks rumahnya yang sepi, menuju rumah Yuan.
Gerimis mulai menemani gelapnya malam ketika Kimo memilih menghubungi nomor kontak Keinya yang kebetulan ada di ponselnya. Sambil terus berlari, ia yang sudah mulai kuyup, akhirnya sampai di depan gerbang mewah rumah Yuan. Di mana, telepon yang ia lakukan ke nomor Keinya juga mendapat jawaban.
“Kei ...,” sergah Kimo yang langsung mengembuskan napas lega.
Kimo sangat berharap pada Keinya yang akhirnya menjawab dan dengan kata lain, memberinya kesempatan untuk menemukan Rara.
“Kamu di mana?” balas Keinya dari seberang dan terdengar sangat dingin.
Pun meski balasan Keinya juga terdengar lebih dingin dari Yuan. Kimo benar-benar masih sangat berharap kepada istri sahabatnya itu.
“Aku di depan gerbang rumah kamu. Aku ingin bertemu Rara. Aku mohon, Kei!” Kimo menelan ludah. Ia membasuh wajahnya yang sudah basah, kendati setelah itu, guyuran air hujan yang semakin deras juga membuat wajah berikut tubuhnya kian basah.
Tak lama setelah itu, Keinya langsung mengakhiri panggilan.
Dari depan gerbang rumah Yuan, Kimo mencoba menelisik apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah sahabatnya. Kedua tangannya mencengkeram gerbang rumah kuat-kuat, terlebih entah atas dasar apa, satpam yang berjaga hanya mendiamkannya tanpa membukakan gerbang. Namun Kimo yakin, Rara ada di dalam rumah Yuan, apalagi tak lama setelah ia menjelaskan keberadaannya, Keinya membuka pintu masuk utama rumah tanpa kawalan apalagi bantuan pekerja.
Dari depan sana, dengan jarak hampir dua puluh lima meter, Kimo mendapati Keinya yang menatapnya penuh kebencian.
“Rara pasti di dalam!” batin Kimo.
Bersambung ....
Bakal ada badai besar buat Kimo. Sabar, ya, permisahh ^^
Yuk, ditunggu like sama komentar kalian. Terus dukung ceritanya, ya ^^. Eh, yang belum baca cerita Author yang judulnya : Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) boleh banget, loh, karena setelah Selepas Perceraian tamat, Author akan fokus di sana. Termasuk kedua naskah lainnya yang belum tamat yaitu ; Menjadi Istri Idaman. Dan romance fantasy : CEO Mengejar Tuan Putri, yang mendadak Author lupakan gara-gara nuntasin naskah Selepas Perceraian. Hahaha ...
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.