
“Jadi, wanita ini, … siapanya Yuan?”
Bab 47 : Wanita Ini Siapa?
****
Kainya terdiam lesu di kursi rodanya. Tatapannya yang kosong terarah pada pintu ruang rawat Yuan yang ada di hadapannya. Lebih tepatnya, bekas ruang rawat Yuan karena si pasien telah meninggalkannya. Belum lama. Belum ada satu jam, kamar itu ditinggalkan penghuninya. Membuat Kainya merasakan kekecewaan untuk ke sekian kalinya. Karena lagi-lagi, Yuan meninggalkannya. Termasuk mengenai penutupan kasus kecelakaan yang menyeret Kainya.
Pihak Yuan tak berniat mempermasalahkan kecelakaan tersebut. Pihak kepolisian telah mendapatkan laporan itu dan menyampaikannya kepada Kainya sekeluarga. Alasan itu juga yang membuat Khatrin begitu bersemangat menemui pasien bahkan kalau bisa keluarga pasien juga. Karena setidaknya, itu akan menebus rasa bersalah Khatrin atas kecelakaan yang menimpa Kainya.
“Ya sudah. Nanti Mami cari alamat pasiennya,” bujuk Khatrin yang dengan sabar selalu berupaya memenuhi keinginan Kainya.
Khatrin yang masih di balik punggung Kainya sambil mencengkeram pegangan kursi rodanya, segera memutari Kainya dan berdiri di hadapan Kainya. Ia jongkok bahkan bersimpuh demi menyeimbangi sang putri. Ditatapnya wajah sang putri yang masih saja datar menyembunyikan banyak kesedihan.
Kainya masih bergeming. Ia tahu Khatrin ada di hadapannya bahkan sampai bersimpuh. Namun perginya Yuan telanjur membuatnya kesal.
“Mereka orang baik. Kalau Mami sudah menemukan alamat mereka, kita bisa menjalin silaturahmi.”
Merasa lelah dengan penolakan yang selalu didapatkan dari Yuan, Kainya pun menatap Khatrin. “Aku capek, Mi. Tangan kanan dan kaki kiriku ....”
Tangan kanan dan kaki kiri Kainya memang terluka parah. Bahkan mungkin bekas serpihan kaca mobil yang mengenai punggung kedua tangan termasuk tiga gores di wajahnya akan membuat tampilannya yang selalu sempurna, menjadi cacat.
Menyadari itu, Khatrin langsung berpikir keras. “Ayo kita ke luar negeri. Singapura atau Korea. Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja seperti sediakala. Bekas lukamu juga tidak akan pernah ada.”
Kainya menatap sedih sang mama dengan kemanjaan yang menyertai. “Ayo kita pergi. Aku harus cepat sembuh untuk bisa melanjutkan pertempuran ini. Aku tidak akan membiarkan Keinya dan Yuan bahagia apalagi sampai menikah. Lagi pula, aku juga belum siap kalau Mami sampai bertemu Keinya!” batinnya.
“Sudah, enggak apa-apa ....” Khatrin mengelus lembut pucuk kepala Kainya. Kepala yang sampai diperban tipis karena serpihan kaca berikut hantaman keras yang membuat kepala Kainya mengalami pendarahan setelah sampai terjadi keretakan cukup dalam. Beruntung tidak sampai menimbulkan luka fatal yang menyerang otak Kainya. Kalau itu sampai terjadi, Khatrin benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya. Cukup Keinya saja yang begitu cepat dipanggil Sang Pemilik Kehidupan. Tidak Kainya yang ia harapkan selalu bersamanya. Khatrin ingin Kainya hidup bahagia dan sampai memberinya banyak anak. Apalqgi, hidup dikelilingi banyak cucu dari anak-anaknya merupakan impian terbesar Khatrin setelah Kainya kembali, meski Kainya juga sempat mengalami pembatalan pernikahan.
Tunggu dulu. Mengenai pembatalan pernikahan, kenyataan tersebut langsung menyulut emosi Khatrin. Sekali lagi ia bergumam, mengulang kata pembatalan pernikahan yang membuatnya teringat Yuan. Pria kurang ajar yang telah mempermainkan Kainya. Khatrin bahkan selalu bersumpah untuk kehancuran Yuan sekeluarga yang telah mempermainkan sekaligus menghancurkan Kainya. Apalagi sampai sekarang Kainya masih merasakan dampaknya meski dua tahun telah berlalu semenjak kejadian itu.
Membayangkan Yuan berikut apa yang pria itu lakukan kepada Kainya, kedua tangan Khatrin refleks mengepal kencang.
__ADS_1
****
Keinya meninggalkan Pelangi dalam boks bermain yang ia taruh di depan pintu dapur. Ia menyuguhkan mainan kerincingan berikut mainan gigit. Tak lupa, ia juga menekan tombol mainan musik menyerupai piano besar yang melekat di boks keberadaan Pelangi.
Setelah Pelangi sibuk memencet tombol musik sambil sesekali menggigiti mainan gigitnya, Keinya berangsur meninggalkannya memasuki dapur.
Keinya akan memasak untuk Yuan dan membawanya ke rumah sakit. Ia melakukannya dengan buru-buru dan serba cepat dikarenakan Pelangi juga sudah tidak mau ditinggal lama-lama. Pelangi sudah tidak mau kalau ditinggal sendiri tanpa ada yang menemani. Bahkan belum lama Keinya tinggal, Pelangi sudah menangis. Kenyataan yang membuat Keinya memasak sambil menggendong Pelangi. Belum lagi ketika Pelangi juga menangis karena kurang nyaman dengan kesibukan Keinya.
Keinya mulai merasa kewalahan. Memasak sekaligus mengurus rumah sambil memomong anak yang terus menangis dan ada kalanya membuat Keinya melakukan banyak hal demi meredakan tangis Pelangi, bukanlah perkara mudah. Sayangnya, tidak semua orang menghargai pekerjaan tersebut yang juga cenderung dipandang sebelah mata bahkan oleh kaum wanita yang pernah mengalaminya.
“Ibu rumah tangga kan enggak kerja. Mengurus anak saja enggak becus, nangis terus! Apa susahnya jadi ibu rumah tangga? Cuma beres-beres rumah, kan? Paling banter beres-beres sama masak. Kecil kalau begitu. Yang berat itu jadi wanita karier, punya banyak pekerjaan di kantor.”
Jika Keinya sampai mendengar pernyataan itu lagi, Keinya akan meminta yang bersangkutan untuk bertukar posisi mengerjakan pekerjaan rumah tangga termasuk melakukan rutinitas sampingan agar tetap bisa mendapatkan pundi-pundi penghasilan, layaknya dirinya.
Setelah semua masakannya beres, menyusunnya dalam rantang berikut mandi dan membawa semua perlengkapan Pelangi, Keinya bergegas menuju rumah sakit dikawal oleh dua pria bersetelan jas hitam yang merangkap menjadi sopirnya. Pria tersebut dan tak lain orang utusan Yuan, tak segan membawakan barang-barang yang Keinya bawa.
Sesampainya di ruang rawat Yuan, pemandangan sepasang paruh baya berikut seorang wanita bergaya modis justru menyurutkan semangat Keinya. Keinya kebingungan di tengah tubuhnya yang tiba-tiba saja menjadi kaku dan teramat sulit digerakan. Apalagi, selain ketiga sosok tersebut langsung menatapnya—mengamati dari ujung kepala hingga kaki berikut kepada Pelangi, Yuan justru sedang tidur. Tidak ada yang bisa Keinya andalkan jika Yuan satu-satunya sosok yang Keinya andalkan, justru sedang tidur.
Keinya mengenali wanita paruh baya bermata biru kehijauan yang langsung tersenyum hangat kepadanya. Bahkan wanita bertubuh tinggi itu bergegas menghampirinya sambil sesekali menatap tak percaya Pelangi penuh binar kebahagiaan.
“Masih enggak percaya ini Keinya? Ini Pelangi? Oh my god!” Agela—mama Yuan tak dapat mengendalikan kebahagiaan yang seolah nyaris membuatnya melayang. Ia langsung mendekap hangat Keinya, wanita bertubuh kurus berpenampilan sederhana dan langsung mencuri perhatiannya. Keinya terlihat jelas malu bahkan gugup kepadanya.
“Apa kabar, Tante?” sapa Keinya terdengar ragu sambil membalas pelukan Angela.
Tiba-tiba saja Angela mengakhiri pelukannya. Ia menatap Keinya penuh peringatan. “Mama! Panggil Mama atau Mami!”
Keinya tersenyum canggung. Setelah tertegun agak lama, ia segera mengangguk.
“Coba apa?” tagih Angela.
Keinya masih ragu.
__ADS_1
“Mami ...?” tuntun Angela.
Keinya kembali mengangguk. “Iya, Mi. Makasih.” Kali ini, senyum di wajah Keinya menjadi jauh lebih hangat. Senyum kebahagiaan dengan sedikit rasa tegang.
Angela tersenyum puas dan menatap Keinya penuh kebahagiaan.
“Akhirnya ....” Angela kembali heboh. Kali ini perhatiannya langsung teralih pada Pelangi. Bocah menggemaskan yang mewarisi kecantikan Keinya. Apalagi, mata besar Pelangi juga menatapnya dengan begitu polos. “Kei, Mami mau gendong! Ih lucu banget. Cantik banget ini. Dari dulu Mami sudah pengin yang lucu-lucu kayak gini. Nanti setelah kamu sama Yuan menikah, jangan nunda-nunda, Ya. Biar Pelangi ada teman juga!”
Angela tidak membutuhkan persetujuan Keinya yang masih saja gugup sekaligus canggung kepadanya. Ia langsung memamerkan Pelangi pada pria paruh baya bermata sipit yang awalnya tengah berjalan ke arahnya.
“Gemukan aslinya daripada yang di video kiriman Yuan. Hahaha lucu banget. Sini, Haraboji … ah, manggilnya apa, ya?” Kim Yeon Seok—ayah Yuan, kebingungan sendiri dengan panggilan untuk Pelangi.
“Opa saja.” Angela mengoreksi, membiarkan sang suami mengambil alih Pelangi, meski ia tidak sepenuhnya mau berbagi.
“Oppa itu panggilan sayang kamu, sewaktu kita baru pacaran.” Kim Yeon Seok menatap Angela penuh cinta.
Keinya yang masih terdiam di tempat begitu menikmati pemandangan hangat di hadapannya. Kini ia tahu, alasan yang membuat Yuan begitu hangat kepadanya. Kenapa Yuan selalu memperlakukannya penuh cinta dan hanya akan marah ketika Keinya melakukan hal yang bisa melukai diri Keinya. Ya, pemandangan di hadapannya sudah cukup memberikan jawaban. Karena Yuan terlahir di tengah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. Di mana semua itu Yuan dapatkan dari orang tuanya.
Keinya merasa sangat beruntung, kesan pertama yang ia dapatkan dari keluarga Yuan begitu luar biasa. Padahal awalnya ia berpikir, ia akan mati gaya terjebak dalam ketegangan karena dihadapkan pada keluarga Yuan, apalagi Yuan juga sedang tidur. Namun ternyata, pertemuan pertama mereka seperti pertemuan yang sudah sering terjadi dan teramat dipenuhi kehangatan. Selain itu, Keinya juga baru tahu kalau diam-diam Yuan sering mengirimkan foto berikut video Pelangi pada orang tuanya.
Ketika tatapan Keinya teralih pada wanita yang hanya diam menatapnya, tiba-tiba saja rasa tegang itu datang. Wanita yang duduk persis di sofa kecil sebelah wajah Yuan itu berangsur meninggalkan sofa dan berjalan ke arah Keinya dengan ekspresi yang terlampau serius. Bahkan kehadiran dua orang pria yang mengantar Keinya, dan menghalangi pandangannya terhadap Keinya ketika kedua pria itu meletakan rantang berikut barang bawaan Keinya, tidak mengusik fokus wanita itu yang terus saja menatap Keinya.
“Kenapa tatapan wanita ini enggak enak banget? Tunggu ... kok dia nggak mirip Yuan, atau orang tuanya? Jadi, … wanita ini, siapanya Yuan?” batin Keinya mulai bertanya-tanya. Rasa tidak nyaman langsung membersamai Keinya atas tatapan tidak nyaman yang terus wanita di hadapannya lakukan.
“Kamu pasti bingung aku siapa?” Wanita itu bertutur dengan suara yang kurang enak didengar. Nadanya terdengar angkuh tak kalah dari gayanya. Bahkan karenanya, kebahagiaan yang menyelimuti Angela dan Kim Yeon Seok, juga terusik.
Angela dan Kim Yeok Seok menatap tidak nyaman si wanita yang kiranya seusia Keinya.
Ketika Keinya memastikan raut wajah orang tua Yuan, lama-lama mereka juga menatap cemas Keinya. Kenyataan tersebut membuat Keinya harap-harap cemas. Dan Keinya hanya bisa memanjatkan doa, semoga, wanita di hadapannya tidak akan memberi efek buruk pada hubungannya dan Yuan!
*****
__ADS_1