Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 64 : Kimo vs Kiara


__ADS_3

“Yes! Satu kamar lagi!”


Season 2 Bab 64 : Kimo vs Kiara


Kimo melongok dari pintu ruang tamu selaku keberadaan pintu masuk utama di rumahnya. Beberapa saat lalu, bel rumah terdengar bunyi. Itu bertanda seseorang datang dan menekan belnya dari luar. Ketika ia memastikan dengan celemek warna cokelat yang masih melekat di tubuh bidangnya, di pintu, Rara berdiri tanpa perubahan berarti. Rara yang ia ketahui baru saja yoga di mana punggung kaus cokelat yang dikenakan istrinya itu juga masih basah, menandakan Rara belum lama selesai yoga.


Lantaran Rara hanya diam, Kimo pun menghampiri, melongok dari sebelah pundak Rara untuk memastikan siapa yang ada di depan gerbang. “Siapa yang datang? Kok didiemin?” tanyanya pelan, tetapi Rara justru terkesiap refleks menoleh padanya.


“Kimo, kebiasaan ngagetin!” protes Rara sambil mengelus-elus dadanya menggunakan sebelah tangan, sedangkan sebelahnya lagi menahan perut.


“Aku enggak ngagetin. Kamu saja yang melamun. Memangnya lihat apa, sih?” Kimo yang merasa bersalah mengusap-usap punggung Rara yang berangsur ia rangkul.


Ketika Kimo memastikan siapa di depan gerbang, Kimo juga dibuat tak percaya atas sosok yang terjaga di balik gerbang rumah mereka.


Sambil melirik Rara, Kimo berkata, “aku enggak salah lihat, kan?”


“Penglihatanmu enggak rusak. Yang rusak cuma otakmu,” balas Rara sambil menatap serius Kiara. Kiara yang tak hentinya memasang senyum lepas hingga gigi-gigi rajin mertuanya itu terlihat.


“Aku suamimu,” balas Kimo terdengar sebal.


Ketika Rara mendongak menatap Kimo, ia mendapati wajah suaminya itu tak bersemangat. Bahkan, bibir tebal Kimo sampai manyun. “Aku istrimu!” cibirnya. “Tapi aku suka, lho, kalau panggil kamu Otak Rusak. Itu panggilan sayang!” lanjutnya merengek manja.


“Hm ... kita suami istri.” Kimo mengangguk-angguk pasrah dan masih tidak bersemangat.


“Tapi katanya kamu mau jadi asistenku?” sergah Rara tiba-tiba.


Lantaran Kimo tak lagi menyaut, Rara kembali mendongak, di mana tak lama setelah itu, tatapan datar Kimo balas menatapnya.


“Aku kurang apa lagi, sih, Ra? Aku sudah jadi suami siaga sekaligus bapak rumah tangga yang baik, lho! Bangun pagi-pagi, langsung beres-beres rumah. Pel-pel lantai sampai kinclong! Cuci-cuci dan sekarang masak!” omelnya sambil mencubit gemas hidung Rara.


“Salah siapa aku enggak boleh ngapa-ngapain?” balas Rara dengan santainya sambil bersandar manja di dada Kimo.


Kimo mengacak pelan pucuk kepala Rara yang kali ini menyanggul rambutnya, sambil menghela napas santai. Kimo merasa sangat bangga lantaran keputusannya menjadi suami siaga sekaligus bapak rumah tangga yang baik, sukses membuat Rara bahagia.


“Eh, Kimo! Itu mamamu datang, kok malah begini?” ucap Rara kemudian. Bisa-bisa, Kiara yang memang berwatak galak, murka lantaran bukannya membukakan gerbang, ia dan Kimo justru baper—terbawa suasana yang tiba-tiba saja menjadi romantis.


Kimo menghela napas dalam. “Biar aku yang buka gerbangnya.”


Rara memberikan kunci gembok gerbangnya, kepada Kimo. “Tapi, ... sebenarnya aku masih trauma sama mama, lho. Terus, kenapa mama sampai bawa banyak sayur sama buah begitu? Eh, lihat ... mama bahkan bawa ransel? Maksudnya mau nginep? Mau pakai kamar mana?”

__ADS_1


Tatapan Kimo dan Rara bertemu setelah memastikan apa yang Rara ucapkan. Kiara yang tak hanya membawa sayur dan buah dalam jumlah banyak di kantong, melainkan ransel yang dibawa Pak Seno selaku sopir pribadi Kiara. Yang Rara bingungkan, Kiara akan menginap di kamar mana? Sedangkan dua kamar di rumah mereka, terpakai semua mengingat ia dan Kimo masih tidur di kamar terpisah, kecuali jika Rara tidak bisa tidur dan akan minta ditemani Kimo. Baik Kimo yang ia undang untuk terjaga di kamarnya, atau Rara yang menumpang tidur di kamar Kimo. Hal tersebut mereka lakukan lantaran mereka sama-sama menghargai. Jadi, hubungan mereka yang kembali dimulai benar-benar seperti pasangan yang baru pacaran.


Sebenarnya di rumah mereka ada tujuh kamar termasuk yang ada di lantai atas. Hanya saja, karena mereka membeli rumah berikut isinya menggunakan tabungan pribadi, jadi masih banyak barang yang belum terbeli. Ruang tamu mereka saja masih kosong tanpa sofa tanpa meja.


“Ya sudah nanti mama tidur di kamar aku saja,” ucap Kimo sebelum berlalu.


“Lha ... terus, kamu tidur di mana?” sergah Rara merengek.


Kimo balik badan dan menatap memelas Rara. “Masa aku tidur di lantai apalagi di rumah tetangga? Kamu rela, aku tidur di rumah Author apalagi pembaca Selepas Perceraian? Aku sih oke-oke saja, asal kamu juga ikut. Nah, mama bagaimana? Tidur di sini sendiri?”


Rara tertunduk dan pura-pura murung. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia sudah bersorak riang. “Yes! Satu kamar lagi!”


Semenjak hamil, banyak gejolak batin yang Rara rasakan. Mengenai ia yang semakin sensitif. Kadang, ia begitu selalu ingin bersama Kimo. Ia yang akan sebal kalau pria itu melakukan hal lain bahkan meski itu mengerjakan pekerjaan kantor dan itu masih terjaga di sebelahnya. Namun tak jarang, Rara juga akan merasa sangat sebal bahkan muak hanya karena melihat Kimo atau sekadar mendengar suara pria itu.


Demi menunjukkan rasa hormatnya, Rara menyusul. Ia melangkah tenang sambil sesekali menahan pangkal perutnya. Tak lupa, ia juga mengulas senyum demi menyambut Kiara. Kiara yang sudah berubah dan meyakinkan semuanya perihal obat aborsi yang ternyata ulah Steffy. Hanya saja, jika melihat masa lalu Kiara yang begitu menentang hubungan Rara dan Kimo, Rara masih parno bahkan trauma.


Rara sampai di sebelah Kimo bertepatan dengan suaminya itu yang berhasil membuka gembok gerbang rumah.


“Aku pikir, rumah Mama enggak jadi korban banjir?” ucap Kimo sengaja meledek.


Kiara merengut. “Kamu ini paling jago kalau meledek!” Namun, senyum lepas kembali menguasainya ketika ia menatap Rara.


“Sayang lagi ngapain di dalam?” sapa Kiara gemas sambil mengelus perut Rara. Kiara benar-benar tidak bisa menutupi kebahagiaannya.


Ketika Rara tampak tegang karena belum terbiasa mendapatkan perlakuan istimewa dari Kiara, Kimo justru berkata, “lagi nyiptain alat biar Jakarta enggak banjir terus, Oma ....” Kimo sampai menirukan suara anak kecil dan itu sukses membuat Rara tersenyum lepas menertawakannya.


“Karena seminggu ke depan papa dinas ke luar negeri, sedangkan Kimi lagi gilir di rumah yang satunya, jadi, daripada kesepian, Mama mau menginap di sini saja!” tutur Kiara dengan santainya.


Kimo dan Rara sama-sama mengerling sabil mengangguk. “Wah ... seminggu? Lumayan! Enggak perlu pusing pura-pura lagi!” batin keduanya bahagia. Karena dengan kata lain, mereka akan sekamar selama itu juga.


“Ya sudah, ayo kita masuk!” sergah Kiara bersemangat.


“Lho, seharusnya kan kami yang bilang begitu? Kan ini rumah kami?” balas Kimo pura-pura heran. Ia masih berusaha melucu demi mencairkan suasana agar Rara yang ia ketahui masih takut pada Kiara, merasa jauh lebih nyaman. Lihat saja, kali ini ulahnya kembali sukses membuat Rara menahan tawa. Meski tak lama setelah itu, cubitan gemas Kiara justru mendarat di bibirnya.


Setelah mencubit gemas bibir Kimo, Kiara langsung menggiring masuk Rara. Sungguh, kebersamaan hangat kali ini merupakan kebersamaan yang sangat Rara idamkan sejak lama. Hidup rukun bersama keluarga Kimo khususnya Kiara yang semenjak awal menentang hubungan mereka.


“Kok kamu keringetan begini? Kamu kan enggak boleh capek-capek?” sergah Kiara mencemaskan Rara yang masih berkeringat. Kemudian ia menoleh dan menatap Kimo yang memang ada di belakangnya tanpa menghentikan langkahnya. “Kimo, kamu bilang, kamu bakal jadi suami siaga sekaligus bapak rumah tangga yang baik?” tagihnya.


Kimo merengut bingung. “Kok aku disalahkan lagi?”

__ADS_1


“Ma ... ini aku habis yoga biar ada rutinitas dan tubuhku enggak terlalu kaku,” jelas Rara.


“Ya ampun, Kimo! Kamu menuntut Rara buat tetap langsing sedangkan istrimu sedang hamil?” sergah Kiara tak habis pikir.


“Aku salah lagi? Sekali lagi aku salah, kayaknya aku bakalan dimasukin ke perut lagi, deh!” gumam Kimo pasrah dan memang sengaja tidak berkomentar. Ia tetap melangkah di belakang Kiara dan Rara.


“Aku sengaja yoga biar aku sama anakku sehat, Ma. Dan mengenai Kimo, dia sudah jadi yang terbaik buat kami!” jelas Rara.


Kimo sengaja berdeham keras sambil mengangkat dagunya, sengaja membanggakan dirinya sendiri.


“Ah, jadi yang terbaik kan sudah kewajiban Kimo. Dia kan suamimu, ya memang harus bertanggung jawab, apalagi hamil kan banyak enggaknya. Harus dimanja-manja terus!” elak Kiara.


Kimo tersenyum pasrah mengasihi dirinya sendiri. “Baiklah. Ibu-ibu memang selalu menang!”


Kiara tersenyum bahagia pada Rara setelah mendengar balasan Kimo. “Mama bakal sering-sering ke sini biar Kimo makin perhatian sama kamu!” Jauh di lubuk hati Kiara, sebenarnya ia masih canggung bahkan malu pada Rara atas semua yang ia lakukan di masa lalu kepada menantunya itu.


“Enggak apa-apalah, aku dijadikan tumbal sama mama. Yang penting Rara nyaman,” batin Kimo yang lagi-lagi mendapat teguran dari Kiara.


“Ya ampun ... Kimo, rumah kalian masih kosong begini? Kalau ada tamu mau duduk di mana? Di genteng?”


Kiara menatap heran rumah kunjungannya yang benar-benar kosong hingga.


“Kami kan memang sengaja enggak menerima tamu, Ma. Cuma kami lupa, belum kasih pengumuman di depan biar enggak ada yang bertamu!” Kimo masih menanggapi dengan santai, setiap teguran sang mama.


Kiara menggeleng tak habis pikir menatap Kimo. Sedangkan Kimo meminta sopirnya untuk meletakkan ransel jinjing milik Kiara di ruang tamu sebelum pergi ke dapur menaruh sayuran berikut buah bawaan Kiara.


“Ya sudah kalau begitu, nanti kita pilih-pilih perabotan, ya. Kamu yang pilih, biar Mama yang urus. Anggap saja hadiah pernikahan kalian dari Mama,” ucap Kiara kemudian sambil menatap prihatin pada Rara yang masih ada di hadapannya.


“Pilih yang paling bagus dan paling mahal, Ra ...!” seru Kimo dari belakang sana.


Rara tersipu atas ulah Kimo yang langsung membuat Kiara menggeleng tak habis pikir, mengingat Kimo sudah tidak bersama mereka, dan seharusnya hampir sampai dapur. Dan jauh di lubuk hatinya, Rara sangat berharap, semoga, ... Kiara benar-benar sudah berubah, Kiara menerimanya dengan tulus, agar kebersamaan hangat layaknya kini, selalu menjadi warna hubungan mereka.


Bersambung ....


Wahh ... Selamat bulan Maret, semuanya! Sesuai janji Author, hari ini update 5 episode ~


Ada yang kangen Athan dan Ryunana? Hm ... oke, mereka kebagian jatah juga. Buat yang sudah baca, Author tunggu jejak kalian, ya. Like dan komentarnya. Vote juga >,<


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi


__ADS_2