
“Bagaimana mungkin kau meninggalkanku, sedangkan aku hanya memilikimu?”
Bab 40 : Kabar Duka
Ada yang berbeda dan Pelangi merasakannya. Hanya saja, Pelangi tidak mengerti perihal apa yang dirasa? Tentang rasa nyaman yang tiba-tiba menyelimuti hati berikut kehidupannya. Juga, perihal kebahagiaan yang tak hentinya membuat gadis itu berbunga-bunga.
“Kok rasanya sebahagia ini? Apa ini, ... yang dinamakan jatuh cinta?” pikir Pelangi di tengah dadanya yang tak hentinya berdebar-debar. Dan bersamaan dengan itu, Pelangi kerap melirik Kim Jinnan yang mengemudi di sebelahnya.
“Kalau aku numpang makan lagi di tempatmu, boleh enggak?” tanya Kim Jinnan yang masih serius mengemudi.
“Kok kamu enggak tahu malu banget, sih?” batin Pelangi yang menjadi cemberut sembari menghela napas pelan. Sesekali, ia melirik Kim Jinnan yang hingga detik ini masih fokus mengemudi.
Kim Jinnan belum menatap atau sekadar melirik Pelangi. Mungkin karena suasana jalanan yang mereka lalui sedang sangat ramai.
“Kamu tidur?” ujar Kim Jinnan lantaran Pelangi hanya diam. Kali ini, ia sampai menoleh dan menatap gadis itu.
“Enggak. Aku hanya sedang meditasi, makanya aku diem,” balas Pelangi di tengah kenyataannya yang menjadi cemberut.
Kim Jinnan menertawakan balasan sekaligus ekspresi Pelangi. Ekspresi kesal yang membuat gadis itu cemberut tetapi cukup manja. “Tadi enggak begini, sekarang kok mendadak begini?” ucapnya di sela tawa.
“Gara-gara aku minta makan?” lanjut Kim Jinnan menerka-nerka di tengah tawanya yang berangsur reda.
Dan pertanyaan Kim Jinnan sukses membuat Pelangi kebingungan. “Aku marah kenapa, sih? Aku saja bingung. Bukan karena Jinnan minta makan, bukan ... tapi karena Jinnan terlalu fokus menyetir dan sama sekali enggak mau lihat aku! Loh ..? Aku cemburu sama setir?!” batin Pelangi yang sampai menjadi gugup sendiri.
“Pelangi pelit ya. Sudah pelit senyum ... pelit makanan juga,” sindir Kim Jinnan di tengah kenyataannya yang menjadi semakin ceria. Karena setidaknya, ada satu hal yang membuatnya begitu merasa sempurna. Ya, hubungannya dengan Pelangi sudah semakin erat. Bahkan mereka sudah jadian, kan?
“Sembarangan kamu kalau ngomong. Sudah, nanti wajan sama penanak nasinya sekalian kamu telan. Biar enggak asal omong lagi. Bahkan kalau aku pelit, harusnya aku enggak kirim-kirim makanan, ke kamu, kan?” cibir Pelangi.
“Iya ... iya, Ibu Negara ... gitu saja ngegas.” Kim Jinnan masih saja menggoda Pelangi. Bahkan ia tak segan merangkul kepala gadis itu meski pada akhirnya selalu ditepis oleh yang bersangkutan.
“Fokus ke kemudi,” omel Pelangi yang sebenarnya hanya pura-pura.
“Ya enggak apa-apa. Ini aku juga fokus kok,” balas Kim Jinnan yang tetap merangkul sekaligus membelai-belai kepala Pelangi.
“Mungkin ini yang dinamakan mau tapi gengsi,” batin Pelangi yang akhirnya diam dan membiarkan Kim Jinnan membelai kepalanya.
“Untung Kim Jinnan orangnya keras kepala dan enggak mudah menyerah. Jadi dia tetap belai-belai kepalaku. Gengsi, kan, kalau aku bilang minta diperhatikan lebih? Lagian kan, ... Jinnan juga yang ngajak jadian!” Pelangi masih sibuk berbicara dalam hatinya.
***
__ADS_1
Seasampainya di rumah, orang pertama yang langsung heboh adalah Zean. Bocah itu sampai berlari ketika menuruni anak tangga guna sampai ke lantai bawah selaku kebersamaan Kim Jinnan. Ya, Kim Jinnan, sosok yang begitu disukai Zean.
Mereka masih di ruang keluarga. Tak jauj dari anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas selaku lantai keberadaan kamar Pelangi dan adik-adiknya. Terlepaa dari itu, di sana juga tidak ada siapa-siapa. Baik Yuan atau pun Keinya tak menghabiskan waktu tunggu sambil menonton televisi di ruangan itu layaknya biasa.
“Jinnan, katanya kakekmu sakit? Kamu pasti sedih banget, ya? Andai aku boleh ke rumah sakit ... tapi usiaku belum dua belas tahun, jadinya aku enggak bisa ikut ke rumah sakit.” Zean tak hentinya menengadah dan menatap sedih Kim Jinnan yang sebelumnya sampai ia dekap erat.
“Jinnan, aku mau nyiapin makan dulu,” ujar Pelangi sebelum berlalu meninggalkan kebersamaan.
“Ngi-ngie ... seharusnya kamu jangan pulang. Seharusnya kamu temenin Jinnan jaga kakeknya di rumah sakit,” sela Zean sambil menatap Pelangi penuh sesal sekaligus memohon.
“Apaan sih kamu Zean?” lirih Pelangi sambil cemberut.
Pelangi memilih berlalu lantaran baginya, berurusan dengan Zean akan membuatnya berada dalam keadaan rumit sekaligus sulit. “Enggak kebayang kalau Zean dewasa. Mau jaadi kayak apa dia? Sok tahu, posesif, duh ... ngeri ...,” batin Pelangi sembari terus melangkah sesaat setelah sampai melepas tasnya dan meletakannya asal di sofa.
Namun sebelumnya, Pelangi berniat mengabarkan kepulangannya kepada orang tuanya. Juga, perihal hubungannya dengan Kim Jinnan yang akan terbebas dari tuntutan menikah cepat.
“Jinnan, katanya kamu sama Ngi-ngie akan menikah? Nanti kalau kalian menikah, kamu tidurnya sama aku saja, ya? Aku buatkan tenda kemah yang jauh lebih besar di kamarku. Kan seru!” lanjut Zean makin antusias.
Ketika Pelangi yang nyaris melalui pintu ruang keluarga dan sempat mendengar permintaan Zean menjadi terkikik, berbeda dengan Kim Jinnan yang langsung tersenyum masam sambil merangkul kemudian membelai kepala Zean penuh ketulusan. Dan Kim Jinnan, tidak mungkin menjelaskan apa yang seharusnya terjadi setelah pernikahan, kepada Zean. Bisa menjadi urusan panjang jika itu sampai terjadi. Zean yang selalu ingin tahu pasti akan semakin menjadi-jadi.
***
Di ruang rawatnya, kakek Jungsu tersenyum lepas. Senyum lepas yang membuatnya terlihat sangat bahagia. Pria tua itu menatap langit-langit di atasnya di antara kelegaan yang menyertai.
“Jinnan akan segera menikah ....”
“Meski awalnya berniat pura-pura sakit, tetapi Tuhan benar-benar membuatku sakit, ... namun kejadian ini membuat hati Pelangi luluh.”
“Pelangi, benar-benar gadis yang baik, bukan, Jo?”
Meski kakek Jungsu terus berbicara, kakek itu ta hentinya menuangkan kebahagiaannya, ... tetapi pak Jo hanya membalasnya dengan senyum sekaligus anggukan kepala yang membuatnya terlihat sangat sopan.
Balasan pak Jo sukses membuat kakek Jungsu semakin merasa tenang. Dan ia yang kali ini menatap pria yang usianya hanya lima tahun lebih muda darinya pun berkata, “kalaupun aku harus mati sekarang juga, aku tidak akan mati sia-sia. Kegagalanku menjaga Jinan akan sedikit terobati dengan kehadiran Pelangi.”
Mendengar itu, pak Jo sengaja membungkuk sopan dengan kedua tangannya yang masih ia tipat di depan perutnya yang buncit. “Tuan ... jangan berkata seperti itu. Tuan akan berumur panjang. Tuan akan sibuk bermain dengan anak-anak Tuan Muda Jinnan. Itu jauh lebih membahagiakan, Tuan. Jadi, aku mohon ... mari kita sama-sama berjuang!”
Kim Jungsu berangsur menghela napas pelan. Ia mengalihkan tatapannya dari orang kepercayaannya yang sudah mengabdi semenjak pak Jo berusia lima belas tahun, sedangkan kini, usia pria itu nyaris genap enam puluh tahun.
“Benar katamu ... bermain dengan anak-anak Jinnan pasti akan jauh lebih membahagiakan ... aku harus berjuang ....”
__ADS_1
Meski terlihat masih sangat lemah, tetapi keinginan kakek Jungsu untuk bermain dengan anak-anak Kim Jinnan membuat pria tua itu terlihat jauh lebih bersemangat.
“Pak Jo ...,” lanjut Kim Jungsu yang kembali menatap pak Jo.
“Iya, ... Tuan?” balas pak Jo yang langsung siaga.
“Tolong jaga Jinnan, seperti kamu menjaga anak-anakmu,” pinta Kim Jungsu dengan mata yang menjadi berkaca-kaca.
Mendapatkan tatapan yang begitu menyedihkan itu, hati pak Jo terbesit. Pak Jo merasa begitu sakit, seolah, ada banyak benda tajam yang menghunjam dadanya detik itu juga. Apa maksud Kim Jungsu berkata seperti itu bahkan kini, berangsur tersenyum seiring matanya yang menjadi terpejam?
“T-tuan ... Tuan, bertahanlah!” pak Jo kalang kabut dan tak kuasa menahan air matanya untuk tidak terjatuh lagi. Ia segera menekan tombol untuk memanggil perawat yang ada di hadapannya sebelum akhirnya sibuk mencoba membangunkan kakek Jungsu.
“Jangan tidur dulu, Tuan ... masih banyak hal yang harus Tuan lakukan. Anak-anak Tuan muda, dan kami semua sangat membutuhkan Tuan!” Pak Jo benar-benar memohon sambil berderai air mata. Akan tetapi, yang dibangunkan juga terlalu terlelap.
Kim Jungsu tetap menutup matanya di antara wajahnya yang masih dalam keadaan tersenyum. Wajah pucat yang seketika menjadi tak ubahnya kafan, terlihat sangat bahagia.
“Damailah engkau di sisi-Nya, Tuan. Semoga amal dan ibadahmu selama ini, membuatmu menempati posisi terbaik di sisi Tuhan!” batin pak Jo sambil mendekap erat tubuh Kim Jungsu yang masih terbaring.
Tak ada lagi dentuman-dentuman yang menghiasi dada Kim Jungsu, meski hanya dentuman lemah. Semuanya mendadak senyap, dan sepertinya memang sudah tak ada lagi yang menghuni. Dan raga yang yang selalu berjuang tegar menghadapi semua rasa sakit itu, berangsur menjadi terasa dingin. Benar-benar dingin dan Pak Jo masih berusaha menyadarkannya.
***
Kabar duka itu akhirnya sampai ke telinga Kim Jinnan. Kim Jinnan menerimanya dari telepon masuk pak Jo. Mengenai keadaan kakek Jungsu yang menjadi memburuk dan Kim Jinnan diminta untuk segera datang ke rumah sakit.
“Kau bilang hanya memburuk, tetapi kenapa kau terus menangis, Pak, Jo?!” balas Kim Jinnan yang masih mengemudi.
Kim Jinnan yakin, sesuatu yang buruk telah menimpa kakeknya. “Pak, Jo ... kirimi aku video kakek, sekarang juga! Aku memang sedang di perjalanan, tetapi aku juga ingin melihat keadaan kakek sekarang juga!” pintanya.
Kabar keadaan kakeknya benar-benar membuat Kim Jinnan terguncang. Pria muda itu menjadi tidak baik-baik saja. Pria muda itu tak kuasa mengontrol emosinya. Juga, perihal air matanya yang menjadi tak hentinya berlinang.
Kim Jinnan hilang arah. Matanya yang basah membuat pandangannya terbatas, sedangkan keseimbangan tubuhnya juga terganggu lantaran kepalanya mendadak pening. Dan tak lama setelah itu, Kim Jinnan yang menundukkan kepalanya demi menghalau rasa pening yang menyerang semakin kuat juga terjatuh.
Mobil Kim Jinnan mengemudi dengan sendirinya sebelum akhirnya menghantam trotoar dan terbalik, membuat kendaraan di sekitarnya juga mendapatkan dampaknya.
“Tuan Muda, jawab saya ... Tuan Muda tolong jawab saya, Tuan Muda ....” Suara Pak Jo masih terdengar dengan jelas dari ponsel Kim Jinnan yang juga terkapar tak jauh dari pemiliknya.
“Bagaimana mungkin kau meninggalkanku, sedangkan aku hanya memilikimu?” batin Kim Jinnan dengan kedua mata yang bergerak-gerak, kendati sudah nyaris mengatup sempurna. “Aku mohon, jangan meninggalkanku ... aku masih sangat membutuhkanmu!”
Kim Jinnan yang wajahnya sampai berlumur darah dan sepertinya mengalir dari kepalanya, masih bisa melihat sedikit cahaya. Namun benar-benar hanya sedikit, karena setelah itu, semuanya menjadi sangat gelap di tengah riuh klakson berikut sirine ambulans, yang sampai ikut hilang dari pendengarannya.
__ADS_1
Bersambung ....
Penginnya hari ini, meski malam-malam, Author up lagi. Semoga bisa, ya. Soalnya belum nulis buat lanjutan cerita Fina sama Rafael juga 🙏🙏😂