Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 69 : Aneh


__ADS_3

“Kok sakit, ya, didiemin begini?”


Bab 69 : Aneh


Ben masih bekerja layaknya biasa. Masih menjadi manajer di kantor orang tua Itzy, di bawah naungan Itzy, hingga keduanya kerap bertemu bahkan menghabiskan waktu bersama. Namun, berbeda dari kebersamaan-kebersamaan sebelumnya, hari ini Ben bersikap sangat formal kepada Itzy. Bahkan ketika rapat yang mereka jalani usai dan membuat mereka hanya berdua, Ben benar-benar hanya membahas pekerjaan.


Perubahan Ben yang dengan mudah bersikap biasa dan bahkan seperti tidak menganggapnya, membuat Itzy menjadi tidak baik-baik saja. Itzy merasa ada yang kurang. Seolah ada yang hilang dari hidupnya, dan Itzy merasa sangat kehilangan.


Seperti kini, setelah selesai membereskan dokumen, pulpen, berikut laptop yang segera dijinjing, Ben juga langsung pergi tanpa pamit apalagi mengajak Itzy. Padahal sebelumnya, Ben selalu bersikap ramah dan begitu peduli kepada Itzy. Termasuk menyiapkan minuman atua makanan. Itzy yang kemudian sengaja menunggu di ruangannya, menunggu kiriman jatah makan siang dari Ben yang biasanya selalu datang, justru nyaris pingsan karena kelaparan. Ben ... pria itu berubah sangat drastis.


Saking penasarannya dengan perubahan Ben, Itzy memastikan, mendatangi ruang kerja pria itu. Ia mengintip melalui pintu ruang kerja Ben yang sedikit ia buka. Di ruang kerjanya, Ben sedang sibuk mengetik di laptop. Pria berberewok tipis yang kali ini mengenakan kacamata min itu, menatap saksama layar laptop.


“Kok sakit, ya, didiemin begini?” batin Itzy yang menjadi lemas. Perubahan Ben sampai membuatnya tidak bersemangat. Dan anehnya, ia yang meminta Ben untuk berhenti, ia juga yang merasa kehilangan.


Itzy masih berdiri di depan pintu ruang kerja Ben. Masih mengamati Ben diam-diam dari sana. Kali ini, ponsel Ben berdering. Setelah menatap kilat layar ponsel, pria itu langsung meraih dan menempelkan ponselnya di sebelah telinga.


Ben mengempaskan punggungnya yang terasa sangat pegal setelah seharian penuh, nyaris tidak berhenti bekerja. Bahkan saking sibuknya, makan pun Ben lakukan sambil terus bekerja di ruangannya. Di mana, bekas tempat makannya saja masih berada di sebelah tangan kanannya. Sebuah kotak bekal berwarna putih transparan berikut sendok plastik ada di sana bersanding dengan sebotol air mineral berukuran 1,5 liter.


“Halo? Iya, ini aku, Ben. Maaf, ini dengan siapa, ya?”


“Aku Yura. Serius, kamu enggak ingat aku? Aku dapat nomormu dari orang kantor. Kamu ganti nomor, kan?”


“Yura? Yura siapa? Orang kantor mana?”


“Serius, kamu benar-benar amnesia? Aku pikir hanya pura-pura?”


“Iya, ... aku amnesia. Mengenai kejadian dua tahun terakhir, aku benar-benar enggak ingat.”

__ADS_1


“Lalu, bagaimana dengan kerja sama kita?”


“Kerja, sama?”


“Iya. Kerja sama kita. Kamu mewakili perusahaanmu dan saat itu kita sudah setuju,”


“Maaf, aku sudah enggak di sana, selain aku yang memang lupa,” ucap Ben serius.


Perbincangan Ben dengan lawan bicara yang tidak bisa Itzy dengar, membuat wanita itu penasaran. “Yura itu siapa? Kalau bahas kerja sama, berarti dia punya posisi penting! ... apakah, apakah dia juga cantik?”


“Bertemu bagaimana?” saut Ben kemudian.


“Iya. Kita harus bertemu bersama yang lainnya. Ada Kainya, Gio, ... eh, omong-omong, kamu juga lupa sama Kainya?”


Mendengar nama Kainya disebut dari seberang, Ben menjadi kurang berkosentrasi. “Ya. Kami sudah membahas ini dan menyelesaikan hubungan kami.” Yang Ben tahu dari mamanya, Kainya merupakan orang pertama yang mengabari Shena, ketika Ben kecelakaan. Dan masih menurut Shena, Kainya berikut orang tua wanita itu juga kerap ikut terjaga untuknya selama Ben koma. Hanya saja, hingga detik ini Ben belum bisa mengingat Kainya. Pun meski ia sudah mengetahui mengenai rekaman video perihal pengakuan cintanya kepada Kainy, berikut sederet foto wanita itu yang menjadi isi ponselnya. Namun karena tidak bisa ingat juga, Ben memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Di mana, kini Kainya ia ketahui dekat dengan Steven.


***


“Kamu mau cari yang kayak apa lagi? Mau ngemis jadi istri ke dua bahkan wanita simpanan Yuan lagi? Kamu jangan malu-maluin, dong, Zy! Mama enggak mau, ya ... kamu sampai jadi enggak punya harga diri hanya karena cinta!” omel Olivia kemarin malam yang langsung mendatanginya ke kamar, tak lama setelah kepergian Ben. “Lagian, kamu juga enggak pinter urus perusahaan, sedangkan sekarang, Mama sama papa sangat bergantung pada Ben. Bahkan Mama sama papa bersyukur, akhirnya Ben mau gabung. Lihat, apa yang terjadi dengan perusahaan dady-nya Ben yang ditinggalkan Ben? Keteteran kan, mereka?”


Kini, untuk yang terakhir kalinya sebelum kembali ke ruang kerjanya, Itzy menatap Ben jauh lebih lama. Pria itu kembali sibuk bekerja. “Sebenernya aku kenapa, sih? Aneh banget!” gumamnya makin tidak mengerti.


***


Bagi Rara, ada yang berbeda dengan Kimi. Hari ini, di jam makan siang, iparnya itu menyempatkan datang ke restoran Keinya, setelah mengabari kangen dan ingin bertemu. Namun, Kimi terlihat tidak bahagia. Dan Rara rasa, ada maksud dari pertemuan yang Kimi minta.


“Kalau kamu mau, nanti malam, kamu menginap di rumah Kakak saja. Lagian, belum apa-apa sudah harus balik kerja, kan?” ucap Rara ketika Kimi tiba-tiba pamit lantaran ada rapat mendadak yang harus Kimi jalani.

__ADS_1


Belum lama dari Kimi duduk, gabung dengan Rara dan Kiara, bahkan minuman saja baru diantar, Kimi sudah mendapat telepon dan diminta untuk kembali ke kantor.


Kiara bangkit sesaat setelah meraih segelas jus melin pesanan Kimi, dan memang sudah menjadi kesukaan anaknya itu. Ia mengaduknya cepat menggunakan sedotan yang sudah terpasang di sana. “Minum dulu. Sambil duduk.”


Kimi yang awalnya sudah berdiri dan nyaris meninggalkan kursinya, menjadi kembali duduk lantaran permintaan Kiara. Ia menerima uluran sedotannya dari Kiara yang masih memegangkan gelasnya.


“Bawa juga bekal Mama. Makan di kantor karena kamu nyetir sendiri,” ucap Kiara.


Kimi hanya mengangguk dan terlihat pasrah. “Makasi, Ma. Kak. Nanti kalau jadi menginap, aku pasti kasih kabar.” Kimi mengulas senyum untuk kedua wanita di hadapannya.


Rara menyambutnya dengan senyum tulus. “Hati-hati, ya,” ucapnya.


Kimi mengangguk kemudian memeluk dan melakukan cipika-cipiki dengan Kiara berikut Rara, sesaat sebelum pergi meninggalkan restoran Keinya yang sedang ramai-ramainya. Keinya sendiri Kimi ketahui baru pergi bersama Pelangi, dan kebetulan sempat berpapasan dengannya di pintu masuk restoran.


“Jika cinta hanya membuatku lemah, rasanya lebih baik aku enggak pernah jatuh cinta lagi saja,” batin Kimi yang baru saja meninggalkan pintu masuk utama restoran. Namun ketika ia mengangkat tatapannya, pandangannya justru dipenuhi wajah Gio.


Kimi yang sempat terdiam, berangsur mengerutkan dahi. “Kenapa Gio ke sini?” pikirnya yang kemudian memilih berlalu. Ia bahkan sengaja melipir demi menghindari Gio kendati mobilnya terparkir searah dengan keberadaan pria itu.


“K-kimi, ... Kimi?” sergah Gio yang sampai berjalan cepat demi menghampiri Kimi.


Kimi yang refleks memelankan langkahnya, kembali mengerutkan dahi. “Gio manggil aku? Enggak salah?” pikirnya. Kimi merasa aneh dengan apa yang dialaminya kini. Bertemu dengan orang yang sempat mencampakkannya, tetapi orang itu menjadi bersikap manis meski terlihat sangat kaku bahkan dipaksakan.


Bersambung ....


Hari ini ada dua episode. Jadi masih ada satu episode. Bentar, yaa ^^ yang sudah baca, jangan pelit like sama komen ^^


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2