
“Tapi, masa iya, aku harus menyerah pada Daniel? Ini tidak lucu. Aku delapan tahun lebih tua darinya, dan sampai kapan pun, dia adikku walau di antara kami memang tidak ada ikatan darah!”
Bab 26 : Daniel
Kainya melangkah keluar dari bandara dengan santai. Sebuah koper kecil menemani langkahnya dan ia tarik menggunakan sebelah tangan. Tak lama berselang, ketika ia sampai di crub selaku bagian di mana penumpang akan naik dan turun dari kendaran menuju atau meniggalkan bandara, seseorang menyenggolnya dari belakang.
“Maaf ...,” ucap pria itu yang sampai membungkuk dan menatap Kainya walau hanya sekilas.
Tiba-tiba saja Kainya sampai lupa bernapas. Tak percaya dengan apa yang baru ia alami. Tak percaya dengan apa yang baru saja meninggalkannya. Pria tadi, dan kini terlihat buru-buru sambil menarik koper kecil. Mereka semakin jauh. Sedangkan si pria yang sibuk dengan panggilan di ponsel menjadi mondar-mandir. Si pria tampak begitu serius.
“Tunggu saya satu jam lagi. Saya baru saja tiba di bandara, tetapi sopir saya sedang terjebak macet. Mohon pengertiannya.”
Si pria berangsur melepas kacamata hitam tebalnya. Tatapannya menyisir sekitar di antara kegelisahan yang menyelimuti. Si pria kerap memastikan sumber kedatangan kendaraan. Memastikan, dan terus begitu. Seolah-olah, sebentar saja ia tidak memastikan, apa yang ia tunggu benar-benar tidak datang.
Di belakang si pria, Kainya justru membatu. Mengamati si pria dengan perasaan hampa. Tatapan yang jelas menuangkan rasa tidak percaya juga masih sarat di tatapannya untuk si pria.
“Dia benar-benar amnesia dan tidak mengingatku?” pikir Kainya. Kainya mengenali pria itu. Pria itu kembali mengenakan kemeja lengan panjang warna hitam seperti awal pertemuan mereka, dulu. Ya, dulu. Ketika seorang Ben salah kira, dan menahannya sebagai Keinya. Bahkan tanpa membuat Ben melepas kacamata, Kainya tetap bisa mengenali pria itu. Ben dengan parfum maskulin yang tidak berubah, juga warna hitam yang masih menjadi warna favorit pria itu untuk setiap sandang berikut aksesori yang dikenakan. Bedanya, Ben yang sekarang amnesia dan sampai membuat Kainya hilang dari kehidupan pria itu.
Ada yang bilang, amnesia sama saja mati. Sebab kehilangan ingatan akan membuat orang tersebut memulai semuanya dari awal dengan segala sesuatu yang menjadi terasa berbeda. Dan sekarang, Kainya membuktikannya sendiri. Pria pertama yang mengungkapkan cinta kepadanya meski lewat video dan benar-benar menganggapnya sebagai Kainya, bukan Keinya, justru amnesia. Dengan kata lain, di dunia ini sudah tidak ada lagi yang mencintainya?
Memikirkan semua itu, Kainya menjadi bersedih. Namun ia yang sekarang jauh lebih berpikir luas. Karena baginya, Tuhan pasti memiliki rencana besar, kenapa Ben amnesia dan sampai melupakannya? Karena mungkin saja, mereka memang lebih baik tidak bersama.
Tiga hari lalu, pengemudi truk yang menabrak lari Piera, sudah ditemukan dan siap mengikuti prosedur hukuman. Kainya mendapatkan kabar itu dari orang suruhannya. Dengan kata lain, polisi baru bisa menangkap pelaku setelah dua minggu kematian Piera. Sedangkan mengenai Roy, polisi justru berhasil meringkusnya setelah satu minggu kematian Piera. Pria itu ditangkap ketika akan menjalani penerbangan ke Singapura. Meski pada saat itu Roy sudah melakukan penyamaran bahkan sampai memakai rambut palsu berikut kacamata, serta mengenakan pakaian kedodoran hingga tampilannya sangat berbeda dari biasanya, tetapi status Roy yang sudah menjadi buronan, setelah sempat melarikan diri saat penangkapan pertama, membuat polisi lebih berjaga dalam menangani kasusnya. Pun dengan Kainya yang sebenarnya baru pulang jalan-jalan. Kainya sengaja liburan ke luar negeri untuk menghilangkan rasa tertekan akibat kasus Ben yang sampaimelibatkannya. Malahan, orang yang nyaris membuatnya depresi justru amnesia, meski pria itu terlihat baik-baik saja.
Ben terlihat sangat sehat. Meski Kainya mendapati beberapa bekas luka sayat di kening pria itu yang kebetulan selalu membiarkan bagian keningnya terbebas dari poni rambut. Mengenakan gaya rambut rapi berikut ponibyang dijabrikkan cukup menyamping, sebenarnya membuat pria itu tidak terlalu buruk, bahkan bida dibilang, Ben memiliki paras tampan khas orang dari Negara Timur Tengah. Sayangnya, hingga detik ini, Kainya merasa biasa-biasa saja kepada pria itu. Jadi, setelah menganati keadaan fisik Ben dari kejauhan yang terlihat jelas baik-baik saja, berikut menapak tilas kasus pria itu, Kainya memutuskan untuk berlalu dan melanjutkan langkahnya, meski tujuannya juga ke arah Ben.
Tak lama setelah Kainya melangkah di mana terkadang wanita itu juga akan mengamati Ben, sebuah sedan putih berhenti di depan sana. Kainya menjadikan pintu pengemudi dari sedan itu, di mana tak lama kemudian, seorang pria muda keluar dan langsung menyambutnya dengan tatapan berikut senyum nakal.
“Halo my sweet wife?!”
Kainya menelan ludah dan meresponsnya dengan ekspresi datar. Ekspresi marah karena menahan kesal sambil terus melangkah mendekati sedan tersebut.
Ben yang awalnya kebingungan dan mengira si pria muda sedang berkomunikasi kepadanya, mengingat mobil tersebut terparkir nyaris persis di hadapannya, merasa cujup lega ketika mendapati Kainya sebagai tujuan si pria muda. Si pria muda yang terbilang genit itu langsung menghampiri si wanita yang sempat tidak sengaja ia tabrak, dengan setengah berlari.
Ben terus mengamati, karena entah kenapa, kelanjutan mengenai apa yang akan dilakukan wanita cantik berparas dingin yang sempat ia tabrak, begitu membuatnya tertarik.
Si pria muda langsung membentangkan kedua tangannya dan mendekap Kainya yang kemudian langsung ia cium keningnya.
“Daniel, sekali lagi kamu berulah, Kakak patahlan semua tulang dalam tubuhmu!” tegas Kainya lirih setelah Daniel menyudahi ciumannya.
Daniel tidak menghiraukan peringatan Kainya seperti apa yang ia katakan. “Aku tidak peduli. Yang penting, aku sangat merindukanmu dan kamu terlihat semakin cantik setelah liburan. Lihatlah, kulitmu jadi tambah putih dan tambah lembut kayak kulit bayi!” pujinya yang kemudian mengambil alih koper Kainya.
“Jadi selama ini, di mata kamu, kakak ini bulukan, begitu?!” cibir Kainya sambil mengikuti Daniel. Adik semata wayangnya dari Khatrin dan Philips itu memang sangat senang kalau sudah menyangkut menggoda wanita apalagi kepadanya. Bahkan tak jarang, saking dekatnya hubungan mereka, mereka yang terlihat seumur karena Daniel memiliki tubuh bongsor, kerap mengelabuhi lawan jenis khususnya orang yang tidak mereka suka. Karena tak jarang, Daniel dan Kainya akan mengaku sebagai pasangan ketika mereka menghindari orang yang mengejar cinta mereka.
__ADS_1
Ketika Daniel menutup bagasi sedannya, ia mendapati Ben tengah memperhatikan Kainya. Pria itu terlihat penasaran, tetapi dengan gurat ekspresi tidak mengerti. Dahi bahkan wajah Ben sampai berkerut tipis. Bahkan meski di sekitar mereka terbilang ramai lalu-lalang orang yang akan naik sekaligus turun dari kendaraan, yang menjadi fokus Ben hanya Kainya.
“Kak! Itu si Ben, kan? Dia natapnya sampai begitu banget ke Kakak!” bisik Daniel tepat di sebelah Kainya setetah sampai mendekap mesra Kainya yang tingginya hanya setelinganya. “Aku bakalan jagain Kakak dari orang-orang yang bisa membahayakan Kakak. Aku nggak mau Kakak sampai sakit lagi!” bisik Daniel kemudian sungguh-sunggu, sarat kesedihan.
Lebih tepatnya, Daniel ingin menegaskan bahwa karena kasus Ben, Kainya sampai harus mengalami tekanan batin yang luar biasa, dan harus dibawa ke Singapura untuk menjalani pengobatan. Sebenarnya, ia dan orang tua mereka juga sempat menemani, tetapi karena suatu hal di mana ada pekerjaan yang tidak bisa Khatrin tinggalkan sedangkan Philips juga masih ada urusan di Singapura, jadilah mereka berbagi tugas. Daniel menemani Khatrin kembali ke Indonesia, sedangkan sambil menyelesaikan urusannya, Philips juga akan menyempatkan waktu untuk mengurus Kainya.
Dan sekarang, setelah Kainya ada di depan mata, Daniel sengaja menjauhkan kakaknya itu dari pria yang ia ketahu sempat ingin menghancurkan keluarganya lewat Kainya.
Daniel segera menuntun Kainya menuju pintu seberang kemudi. Ia membukakan pintu dan menuntun Kainya untuk segera masuk. Setelah menutup pintu mobil, Daniel segera memutari mobil dan segera bersiap di balik kemudi.
Setelah menutup pintu berikut memasang sabuk pengaman, Daniel berkata sambil menatap Kainya, “Kakak mau aku antar pulang, atau ikut ke rumah Kak Kei karena mami mau menginap di sana?”
Kainya mengernyit, menatap tidak mengerti pada Daniel. “Ada masalah apa, mami sampai menginap?” tanggapnya serius.
Daniel mulai menyalakan mesin mobil, kemudian mengemudi dengan pelan lantaran di sekitar mereka sedang cukup ramai lalu lalang kendaraan yang menepi atau meninggalkan lokasi seperti mereka.
“Kak Kei bilang, ada wanita mencurigakan yang sampai mengintai rumahnya. Kak Kei takut, wanita itu bermaksud jahat bahkan parahnya psikopat apalagi wanita itu sempat goda-goda Pelangi!”
Mendengar cerita dari Daniel, Kainya menghela napas pelan sambil melepas blazer cokelat muda yang dikenakan. “Wanita itu tidak berniat jahat kepada Pelangi. Pasti karena Yuan ....” Kainya berkilah enteng dan segera menyalakan mesin musik di depannya.
Daniel mengerutkan dahi. “Maksud Kakak?” Ia menatap Kainya penasaran.
Kainya masih menekan tombol yang membuat musik berganti. Lagu Beautiful in White, milik Westlife mrnjadi pilihannya. Sambil terpejam dan menjatuhkan tubuhnya pada jok tempatnya duduk, Kainya berkata. “Tidak ada yang mempu menolak pesona Yuan bahkan meski wanita itu sudah tahu status Yuan.”
Ekspresi Daniel menjadi berubah drastis. Diamnya ia yang sekarang karena menahan sakit. Ia yang fokus mengemudi juga akan tetap menatap Kainya. Di antara lagu yang terputar lirih, ia pun bertanya, “apakah kamu belum bisa melupakan Yuan?”
Kainya hanya diam.
“Kakak tidur apa menghindar?” sambung Daniel penasaran.
Karena Kainya tetap diam, tetap dengan kondisinya dan bagi Daniel hanya pura-pura, Daniel memilih fokus dengan kemudinya meski tangan kirinya juga menggenggam hangat sebelah tangan Kainya yang tertumpuk di perut.
Apa yang Daniel lakukan, mulai membuat Kainya tidak nyaman. Genggaman yang kadang dielus, bahkan ditarik di mana Daniel juga akan mencium tangan Kainya. Ini memang bukan pertama kalinya. Namun jika melihat kesungguhan Daniel yang terus meyakinkannya, mengenai status mereka yang hanya saudara angkat lantaran Daniel hanya sebatas bocah menggemaskan yang dulu berhasil menarik perhatian Philips berikut Khatrin, rasanya, semuanya seolah akan berubah.
Karena suatu hal, semenjak hamil pertama dalam pernikahannya dengan Philips dan justru keguguran, semenjak itu, Khatrin memang tidak bisa memiliki anak lagi. Namun ketika mereka mengunjungi panti asuhan, sosok Daniel yang memiliki mata biru layaknya Philips dan saat itu baru berusia satu bulan seolah menjadi jawaban dari doa Khatrin dan Philips. Karena setelah itu, mereka langsung mengadopsi Daniel dan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. Namun tepat Daniel berusia dua puluh tahun, semenjak dua bulan lalu. Daniel yang sering jail ke Kainya justru menjadi getol meyakinkan cintanya kepada Kainya.
“Tapi, masa iya, aku harus menyerah pada Daniel? Ini tidak lucu. Aku delapan tahun lebih tua darinya, dan sampai kapan pun, dia adikku walau di antara kami memang tidak ada ikatan darah!” batin Kainya.
***
Satpam suruhan Itzy datang tepat ketika Daniel dan Kainya tiba di rumah Keinya. Meski sore sudah diaambut dengan kegelapan dengan sisa gerimis, tetapi melihat sosok Daniel yang begitu mempesona di usianya, satpan Itzy pun menanyakan sosok Daniel kepada satpam rumah Keinya.
Tadi, sebelum ke rumah Keinya, Daniel dan Kainya memang memilih pulang lebih dulu layaknya permintaan Kainya. Dan kini, setelah gandengan tangannya ditolak Kainya, Daniel justru aktif menepuk-nepuk pucuk kepala Kainya, sambil menunggu seseorang membukakan pintu untuk mereka.
__ADS_1
“Maksudmu, pria yang itu?” pak Jukri menunjuk Daniel yang memunggungi keberadaan mereka.
Satpam Itzy yang ada di luar gerbang pun membenarkan sambil mengangguk mantap. “Iya, pria itu namanya siapa?”
Di bawah payung yang ia kenakan, pak Jukri berujar, “itu namanya Mas Daneil. Adik Ibu Keinya.”
“Oh, Mas Daniel, ya, namanya?” ulang satpam Itzy yang mengenakan mantel demi berlindung dari gerimis.
Pak Jukri mengangguk. “Iya, Mas Daniel.”
“Oh, oke. Namanya Mas Daniel! Makasih, ya!”
Satpam Itzy yang Pak Jukri kenal bernama Paimun itu nyaris berlalu, tetapi Pak Jukri yang merasa kurang beres, segera berkata, “eh ... Paimun ... Paimun, namanya cuma Daniel, lho, ya!”
Suara berlogat ngedok Pak Jukri menghentikan langkah Pak Paimun. “Kamu ini bagaimana, tadi oatanya, nama pria itu Mas Daniel? Kok sekarang jadi cuma Daniel?!” semprotnya kesal.
“Si Paimun *p*e’ak bener?” batin Pak Jukri sambil menatap Pak Paimun, tak habis pikir. “Ya sudahlah, terserah kamu!”
“Lah, tadi katamu Mas Daniel, kok langsung berubah jadi Cuma Daniel? Jangan sembarangan mengubah nama orang, lho, kalau nggak bantu bikin tumpeng buat syukuran!” keluh Pak Paimun.
Pak Jukri mulai terpancing emosi. “Lho, kok kamu malah nyolot? Ya sudah terserah kamu, ... yang waras ngalah. Sudah pergi sana nggak usah komentar lagi!” racaunya sembari berlalu dan masuk ke ruang satpam. “Lagian, ngapain tuh, si Paimun nanya-nanya tentang Mas Daniel?” pikirnya kemudian sembari menepikan payungnya.
“Kok Jukri malah marah ke aku, sih? Jelas-jelas dia yang salah!” pikir Pak Paimun yang meninggalkan gerbang rumah Keinya dengan perasaan dongkol akibat ulah Pak Jukri yang baginya tidak konsisten dalam memberikan informasil. “Untung tips dari Non Itzy gede. Kalau enggak, ogah aku kalau disuruh cari informasi lagi ke si Jukri!” gerutunya sambil terus berjaga.
Bersambung ....
Ada yang penasaran dengan sosok Daniel? Mas Daniel, atau itu Cuma Daniel? wkwkwk
Author bayanginnya sih si Kang Daniel yang jadi pacarnya Johyo Twice. Mereka belum putus, kan ya? Apa sudah? Takut salah sebut status mereka, wkwkwk
Katanya tadi Mas Daniel, Thor?
Eh, Cuma Daniel?
Kok sekarang jadi Kang Daniel?
Terserah kalean mau jadi tim Jukri atau Paimun, dah ... :v
Tetap dukung ceritanya, ya!
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1