
“Dosa apa, Papa, sampai punya anak seperti kamu?!”
Bab 34 : Pengakuan Palsu
Entah sudah untuk yang ke berapa kalinya, Steffy merutuk kesal dalam hati. Beberapa saat lalu, ia baru saja meninggalkan rumah sakit. Tentu kapergiannya beralasan apalagi selain diusir secara sengaja oleh Yuan, kemungkinan ia mendapatkan Kimo kembali juga di luar perkiraan. Karena bukannya semakin besar dengan segala jaminan berikut amnesia dan dukungan Kiara, posisinya juga semakin terpojok.
Mengenai kasus kecelakaan Kimo dan Rara, Steffy yakin polisi akan segera menemukannya jika ia tidak bergerak cepat. Namun, apa yang harus ia lakukkan? Menyelinap dan mendapatkan rekaman CCTV di bandara? Apakah itu memugkinkan, sedangkan Yuan sudah turun tangan ditambah ia yang
sekarang tidak punya uang apalagi fasilitas mewah?
Di bangku penumpang taksi dan sudah membuat sopir yang mengemudikannya kebingungan, Steffy juga kerap meninju bahkan mengacak-acak susunan rambutnya yang terkadang juga sampai perempuan itu jambak.
Steffy sadar, sopir taksinya sudah menunjukkan rasa tidak nyaman atas ulahnya, melalui ekspresi wajah. Belum lagi, pria berkepala plontos itu juga kerap ia ketahu mengamatinya diam-diam melalui kaca spion di atasnya. Namun kenyataan itu sama sekali tidak ia pikirkan, apalagi memikirkan tanggapan si sopir juga tidak mungkin membuat masalahnya terselesaikan, atau sekadar membuatnya baik-baik saja.
Melihat sopir yang kiranya nyaris seusia sang papa, tiba-tiba saja Steffy mendapatkan ide. Ide yang boleh dibilang gila lantaran lagi-lagi, ia menemukan cara melenyapkan orang yang telah melukainya.
Bagi Steffy, tidak apa-apa, kali ini usahanya mendapatkan bahkan mendekati Kimo gagal. Asal dia memiliki kesempatan, hal semacam merebut bahkan menghancurkan, masih bisa dia lakukan di lain waktu.
***
Yuan baru saja akan membukakan pintu penumpang di mobilnya untuk Keinya, ketika telepon masuk mengusik ponselnya. Terlebih dulu, ia membukakan pintu untuk Keinya, dan segera menjawab telepon dikarenakan telepon masuk tersebut dari salah seorang polisi yang menangani kasus kecelakaan Kimo dan Rara. Dan karena hujan sedang mengguyur deras, ia merapatkan tubuhnya pada Keinya yang kemudian ia rangkul, sesaat sebelum menuntunnya dengan tergesa demi menghindari guyuran hujan yang sampai disertai angin kencang.
“Iya, selamat malam?”
Keinya kerap menengadah dan menyimak obrolan suaminya. Tentunya, ia juga terus menyeimbangkan langkah mereka, agar sopir yang memayungi mereka juga bekerja dengan lebih muda.
Mereka baru saja pulang dari rumah sakit setelah memastikan Kimo dan Rara dalam keadaan aman, tanpa gangguan Steffy bahkan Kiara yang mama kandung Kimo sendiri. Selain itu, kehamilan Rara yang menginjak usia lima minggu dari dua bulan keduanya menikah juga menjadi kabar bahagia tersendiri untuk mereka tanpa terkecuali Kimo yang langsung menunjukkan rona wajah berbeda.
“Pengakuan?” Yuan refleks mengernyit seiring langkahnya yang menjadi memelan. Kabar yang baru saja ia dengar cukup membuatnya terkejut sekaligus tidak percaya.
Mendapati itu, berikut keberadaan mereka yang sudah berada di depan pintu dan tak lagi dipayungi, Keinya memilih lebih dulu masuk saesaat setelah menatap lama Yuan yang membuatnya menerka-nerka.
Tak lama kemudian, ketika Keinya kembali dengan handuk lebar yang menghiasi tangannya, Yuan justru terdiam dengan dahi dipenuhi kerut. Yuan terlihat sedang berpikir keras, tetapi cenderung tidak yakin. Mendapati itu, Keinya yang sempat meghentikan langkahnya demi mengamati Yuan, segera memastikan tubuh Yuan yang sempat ia dapati basah.
Ketika Keinya sudah semakin dekat, Yuan segera menghela napas berat kemudian duduk di sofa yang ada di belakangnya.
“Ada masalah, Yu? Bagaimana? Bukankah tadi, itu kabar dari kepolisian?” tanya Keinya basa-basi kemudian membantu Yuan melepas jas hitam yang dikenakan dikarenakan sebagian jas itu basah.
Yuan berdeham dengan ekspresi tak bersemangat. “Polisi bilang, Steffy baru saja datang dan memberikan pengakuan, kalau sebenarnya, yang membuat Kimo dan Rara kecelakaan itu papanya.”
Meski pengakuan untuk kasus kecelakaan Rara dan Kimo sangat mereka harapkan, tetapi yang Keinya rasakan juga tidak beda dengan Yuan. Mereka meragukan pengakuan Steffy yang terbilang tiba-tiba. Bagaimana tidak? Bukankah mereka belum lama bertemu, bahkan Yuan saja juga mengusir wanita itu ketika di rumah sakit?
“Memang ada bukti menguatkan yang bikin Om Wiranto bisa menjadi tersangka kecelakaan Kimo dan Rara, selain pengakuan Steffy?” tanya Keinya.
“Mobil. Dan memang ada di rekaman CCTV.” Yuan mengatakan itu tanpa menatap Keinya dan memang karena masih menerka-nerka.
Keinya mengerutkan bibir dan mulai mengeringkan wajah Yuan menggunakan kedua tangannya. “Memangnya, di CCTV Om Wirantonya kelihatan jelas? Kalau sekadar mobil kan kita nggak tahu siapa pengemudinya?”
Balasan Keinya, apalagi posisi wanita itu sekarang yang begitu dekat dengan Yuan, membuat pria itu menunduk, menatap istrinya.
“Mengenai itu masih diselidiki. Sedanglan mengenai alasannya, menurut keterangan dari Steffy, Om Wiranto melakukannya karena Om Wiranto sakit hati, Kimo menolak Steffy dan justru menikahi Rara.”
Keinya mengakhiri kesibukannya dan justru meringkuk, menyandar ke dada suaminya. Sesaat setelah Yuan mendekapnya, Keinya yang sempat menerka sekaligus berpikir keras pun berkata, “menurutku, ini sangat aneh bahkan tiba-tiba. Kenapa Steffy harus tiba-tiba membuat pengakuan, sedangkan dia belum lama bertemu kita?”
__ADS_1
“Kita ikuti saja permainannya,” balas Yuan tak mau ambil pusing yang kemudian mencium gemas sebelah pipi Keinya. “Aku lapar. Tapi aku mau mandi dulu sebelum melihat Pelangi.”
Keinya mengembuskan napas lega. Bahkan ia lupa jika selama dua hari terakhir menjaga Rara, Pelangi dijaga Angela di rumah. Sedangkan mengenai ASi, Pelangi terpaksa meminum ASIP dari Keinya yang disimpan di kulkas.
“Kalau begitu, aku akan menyiapkan makan malam.” Keinya bergegas meninggalkan Yuan dan berjalan menuju dapur yang keberadaannya ada di lorong belakang kebersamaan mereka.
***
Di kediaman Steffy, Wiranto yang baru pulang kerja dan baru akan memasuki kamarnya, dikejutkan oleh kedatangan polisi. Menurut laporan dari salah seorang asisten rumah tangganya, beberapa polisi datang bersama Steffy dan sampai ada yang memeriksa koleksi mobil Wiranto di garasi bawah.
“Memang yang punya masalah dengan polisi itu siapa? Kenapa Nona Steffy sampai dikawal polisi? Terus, bukannya Nona Steffy enggak boleh keluar rumah?” ujar Wiranto tak habis pikir dan mulai tersulut emosi.
Intan sang istri yang baru keluar dari kamar mandi, juga tak kalah tak habis pikir. “Ada apa, sih, Pa? Baru pulang sudah ribut?” ucapnya sembari menepuk-nepuk kepalanya yang masih dilit handuk.
Ketika asisten rumah tangga mereka menunduk, Wiranto justru langsung balik badan dengan cepat dan melampiaskan kekesalannya kepada sang istri, meski baru dari tatapan.
“Yang aneh itu, Mama. Kenapa Mama sampai kasih Steffy pergi dan sekarang justru pulang dikawal polisi?!”
Meski sempat kesal dengan omelan sang suami, tetapi mendengar Steffy yang sampai keluar rumah dan pulang dikawal polisi, Intan langsung waswas.
“Memangnya Steffy kenapa, Pa? Dia kepergok mencuri gara-gara semua kartu kredit dan fasilitas mewahnya disita? Itu kan gara-gara Papa!” ucap Intan balik menyalahkan suaminya.
“Sudah kita lihat saja. Asih bilang, polisi sampai mengecek koleksi mobil Papa. Aneh.” Wiranto berlalu diikuti pula oleh asisten rumah tangganya. Tak habis pikir olehnya kenapa Steffy selalu saja membuat masalah.
“Apakah gagal menikah dua kali belum cukup? Masih saja membuat masalah padahal sebelum dengan Gio, semuanya baik-baik saja!” gerutu Wiranto kemudian.
Tina segera menyusul kepergian suaminya, setelah terlebih dulu mengeringkan kepalanya secara asal. Tentunya, ia juga menyisir rambutnya lebih dulu agar orang lain yang melihatnya tidak takut atau sekadar merasa risi.
***
“Ini sebenarnya ada apa, Pak? Kenapa Bapak-bapak, datang bersama anak saya bahkan sampai melihat koleksi mobil saya? Apakah anak saya sudah melakukan kesalahan dan berhubungan dengan koleksi mobil saya?” tanya Wiranto waswas.
Steffy yang berdiri di belakang polisi menjadi bergidik tegang. Selain kerap menunduk, kedua matanya yang bergerak liar, kadang akan menatap Wiranto diam-diam dan terlihat tengah memastikan.
“Begini, Pak Wiranto. Setelah mendapat informasi dari ibu Steffy berikut memastikan TKP, semuanya memang benar. Pak Wiranto, kami tangkap atas dakwaan pembunuhan berencana kepada saudara Kimo dan istrinya.”
“Termasuk mengenai mobil Pajero Sport milik Pak Wiranto yang akan kami amankan demi pemeriksaan lebih lanjut.”
Penegasan polisi yang ada di hadapan Wiranto, dan menjadi satu-satunya polisi yang menjabat tangan Wiranto, bak tamparan panas yang tidak pernah Wiranto apalagi Intan, duga.
“Apa-apaan, ini? Suami saya tidak tahu apa-apa. Bahkan kami baru saja pulang dari Surabaya! Jelaskan kepada saya, jelaskan sejelas-jelasnya!” tegas Intan meledak-ledak sembari melangkah cepat menghampiri kebersamaan. “Pa. Papa juga ngomong, dong, jangan diam saja! Papa nggak bersalah!”
Sedangkan yang terjadi pada Wiranto, pria itu memang menjadi diam seribu bahasa. Tetapi tidak dengan pandangan sekaligus pemikirannya yang terus terfokus kepada Steffy.
“Baik. Kami akan menjelaskan semuanya, tetapi sekarang Pak Wiranto harus ikut kami, demi pemeriksaan lebih lanjut.”
Dua orang polisi di belakang polisi yang berhadapan dengan Wiranto, segera meringkus Wiranto berikut membrogolnya.
“Apa yang kalian lakukan?! Suami saya tidak bersalah! Jangan asal membrogol begitu!” Intan menangis histeris dan berusaha menyingkirkan kedua polisi yang menggiring suaminya.
Ketika melewati Steffy, tiba-tiba Wiranto berhenti melangkah. “Dosa apa, Papa, sampai punya anak seperti kamu?!” lirihnya dengan mata berkaca-kaca menemani rahangnya yang mengeras.
Steffy menepis tatapan tajam yang dipenuni penyesalan dari Wiranto, seiring kedua tangannya yang semakin subuk mencengkeram di depan perut. Pun dengan tubuh wanita muda itu yang sudah gemetaran hebat.
__ADS_1
Yang membuat Intan heran, kenapa Steffy hanya diam dan cenderung sengaja mengumpankan Wiranto kepada polisi? Bahkan ketika ia menarik Steffy untuk ikut menghentikan polisi agar tidak membawa Wiranto, Steffy justru menepisnya dan bergegas, berlari menuju lantai atas selaku lantai keberadaan kamar anak itu.
“Steffy?!” jerit Intan nyaris depresi melepas kepergian Steffy yang makin sulit dimengerti. Tak mau kecolongan, ia segera masuk ke kamar dan menghubungi pengacaranya sambil menyusul kepergian Wiranto dengan langkah tergesa.
***
Kabar ditangkapnya Wiranto yang dicurigai menjadi tersangka tunggal kecelakaan yang menimpa Kimo dan Rara, telah sampai di telinga Franki. Franki benar-benar tidak percaya. Ia yang awalnya ingin melihat Rara setelah mendengar kabar kehamilan menantunya itu, jadi lemas seketika.
“Papa kenapa, sih?” tanya Kiara terdengar judes.
Tiga puluh menit lalu, Kiara baru saja mengambil keputusan besar. Ia akan menutup mata dan merelakan hubungan Kimo dan Rara, demi keutuhan rumah tangganya. Agar Franki tidak menceraikannya dan membuatnya menjadi janda. Hanya saja, menerima Rara bukan perkara mudah untuknya. Jadi, meski sudah ada di depan pintu ruang rawat yang juga ada Kimo di dalamnya, Kiara lebih memilih untuk menemani sekaligus menjaga Kimi. Namun ketika hampir mengatakannya, Franki lebih dulu berbicara.
“Pak Wiranto pelakunya, Ma. Eggak nyangka banget, ya?”
Kiara memelotot tak percaya. “P-pak, Wiranto ... papanya Steffy? Mantan calon besan kita itu? Atas dasar apa?!”
Franki menghela napas dan terlihat sangat lelah. “Kata polisi, motifnya sih, karena sakit hati, Kimo menolak Steffy dan lebih memilih Rara. Barusan, polisi sudah meringkus Pak Wiranto.”
Kiara menggeragap dan tidak bisa berkata-kata.
“Tapi yang lebih aneh, polisi justru mendapat pengakuan dari Steffy. Sore tadi, Steffy datang ke kantor polisi sekitar pukul enam. Berarti setelah Steffy pulang dari sini?” tambah Franki.
“Wah ... Nak Steffy baik banget! Jujur dia!”
Franki menggeleng tak habis pikir sambil menatap Kiara. “Ma ... Rara jauh lebih baik dari Steffy. Apalagi selain sudah jadi menantu, Rara juga akan memberi kita cucu!”
“....”
“Mama juga harus ingat, sebelumnya, Steffy sudah menghancurkan keluarga kita. Dia mengkhianati Kimo bahkan Kimi dalam waktu yang sama. Sedangkan Rara? Meski ibunya bukan wanita baik-baik, tetapi Rara sangat berbeda dari ibunya. Justru, Rara membuat Kimo keluar dari kehancuran. Mama lupa, Kimo sempat trauma gara-gara pengkhianatan Steffy?”
Terlepas dari perdebatan Franki dan Kiara, di dalam ruang rawat, Kimo yang tidak bisa tidur, berangsur membuka matanya. Kimo berangsur menoleh pada Rara. Di tengah suasana yang sepi, ia yakin wanita itu sudah tidur. Itu sebabnya, ia berani membuka mata. Dan ketika memastikannya, Rara memang sudah terlelap dengan kedua tangan yang sampai tertutup selimut.
“Dia istriku ... wanita ini istriku. Rasanya masih sangat aneh. Tapi ... aku merasa sangat bahagia karena dia sedang mengandung anakku. Di perutnya, ada anakku ...,” batin Kimo dengan hati terenyuh. Bahkan ia sampai menitikkan air mata.
Tak peduli dengan keadaannya, termasuk perasaannya kepada Rara, tetapi fakta Rara yang sedang hamil mengubah semua cara pikir Kimo. Karena kini, yang terpenting untuknya adalah kesehatan anak yang sedang dikandung Rara. Bahkan karenanya, Kimo sampai mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk mengelus perut Rara. Ia ingin lebih dekat dengan anaknya. Sesederhana kebahagiaannya saat ini. Sekadar mengelus perut Rara yang jelas-jelas masih rata saja, membuatnya tidak merasakan sakit sama sekali. Meski air mata tak hentinya berlinang, juga hatinya yang tak hentinya berdesir dan menyisakan rasa linu yang luar biasa, tetapi Kimo ingin terus memastikan keadaan anaknya agar selalu baik-baik saja.
Ketika seseorang membuka pintu ruang rawat dari luar, Kimo menjadi kebingungan. Pun meski yang datang adalah Franki dan Kiara, orang tuanya sendiri. Kimo segera menyudahi elusan tangannya di perut Rara, kemudian menyeka cepat air matanya.
“Kenapa kalian tiba-tiba datang? Ini kan, sudah malam?!” protes Kimo sesaat setelah menyeka air matanya tanpa berani menatap orang tuanya yang masih berdiri di ambang pintu.
Franki dan Kiara celingukan. Putra mereka sudah bisa mengeluh bahkan melayangkan protes, seperti sebelum kecelakaan. Tentu, kenyataan ini juga bagian kabar baik yang harus mereka syukuri selain kabar ditangkapnya Wiranto sebagai dalang dari kecelakaan Kimo dan Rara.
Franki menyeringai geli. “Kamu mau Papa sama Mama di sini, apa enggak usah? Tapi Papa juga pengin lihat cucu Papa ....”
Franki menerobos masuk dan membuat Kimo menghela napas karena merasa tak habis pikir.
Bersambung ....
Selamat siang dan selamat menjalankan aktivitas. Jangan lupa buat terus mengikuti ceritanya, dan pastinya meninggalkan jejak, walau hanya like, ya ^^ Dari sekian ribu pembaca tiap harinya, masa yang ninggalin jejak cuma segitu?
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1