Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 45 : Suara Hati Kainya


__ADS_3

“Mencintai memang bukan kesalahan, Kai. Tapi mencintai yang hanya menyakiti juga tidak dibenarkan.”


Bab 45 : Suara Hati Kainya


****


Hal terakhir yang Kainya ingat, ia sedang memikirkan cara untuk bertemu sekaligus bersama Yuan. Ia akan melakukan semua cara bahkan meski ia harus kembali berpura-pura menjadi Keinya. Kainya benar-benar akan melakukan apa pun untuk bersama Yuan.


Ketika Kainya sedang memikirkan cara yang harus ia tempuh, ia segera keluar dari kamar Keinya di apartemen Yuan lantaran dering sebuah ponsel yang terus terulang mengusik keheningan suasana apartemen yang memang sangat sepi tanpa ada suara lain. Ternyata itu merupakan ponsel Rara yang tergeletak di sebelah laptop di meja ruang keluarga, sedangkan selain Rara yang memang tidak ada di sana, si penelepon justru dengan kontak bernama Yuan. Tentu kenyataan tersebut langsung membuat Kainya yang tengah bingung memikirkan cara untuk bersama pria itu, segera menjawabnya.


“Ra, Keinya di mana? Kenapa dari tadi nomornya enggak aktif?” tanya Yuan terdengar begitu cemas sesaat setelah teleponnya tersambung.


Baru mendengar kecemasan Yuan yang menanyakan keberadaan Keinya, hati Kainya menjadi terasa sangat sakit. Rona panas seketika menguasai sekujur tubuh Kainya tanpa terkecuali kedua matanya.


Setelah terdiam cukup lama, Kainya berdeham demi mengatur suaranya, hingga akhirnya ia berkata, “ini aku ....”


Setelah dari seberang sempat terdengar Yuan yang begitu cemas dan kerap menghela napas, detik itu juga, dari seberang justru hanya terdengar deru angin kencang. Kainya berpikir itu terjadi lantaran Yuan ada di luar ruangan yang berangin kencang. Dan karena Yuan hanya diam, Kainya yakin pria itu sudah langsung mengenalinya.


“Iya, ini aku. Rara sedang keluar. Dia enggak bawa ponsel. Ponselnya ketinggalan.”


“Kenapa kamu kembali?”


Pertanyaan yang Yuan layangkan begitu menohok Kainya. Hati Kainya terasa semakin sakit. Bahkan Kainya bisa memastikan kedua matanya yang basah sudah mulai sembam. Terasa kaku dan pedih.


“Katakan padaku, di mana Keinya? Kamu yang membuatnya sulit dihubungi, kan?”


Kainya menggigit bibir bawahnya. “Apakah sudah benar-benar enggak ada kesempatan buat aku, Yu? Aku mencintaimu. Semuanya terasa begitu sulit setelah kamu meninggalkanku. Setidaknya, walau hanya sedikit, apakah benar-benar tidak ada? Meski hanya sedikit, cinta dan rindumu masih ada buat aku, kan?”


“Maaf, Kai. Aku hanya mencintai Keinya!”


“Kita ada karena aku mencintai Keinya, selain karena kebohongan yang kamu lakukan.”


“Tapi selama bersamaku kamu juga sangat bahagia, Yu!”


“Cukup, Kai! Jangan egois! Apa yang kamu lakukan sudah sangat melukai Keinya!”


“Kamu pikir, aku enggak terluka? Aku juga sakit, Yu! Aku benar-benar sakit!”

__ADS_1


“Kamu menyakiti dirimu sendiri melalui kebohonganmu, Kai. Setelah ini, aku enggak mau ada drama lagi, ya! Dan kalau aku enggak lihat kamu sebagai saudara Keinya, aku bisa mempermasalahkan apa yang kamu lakukan, ke ranah hukum!”


Balasan Yuan yang selalu saja melesat jauh dari yang Kainya harapkan, membuat Kainya tak hanya pupus harapan, melainkan ingin mati detik itu juga dan menyertakan Yuan di dalamnya.


“Jika aku tidak bisa memilikimu, kamu juga tidak boleh memiliki atau dimiliki, Yu!” Kainya terisak-isak dalam diamnya sesaat setelah Yuan mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Pria itu memang pernah memintanya untuk mencari cinta lain. Bahkan pria itu juga sempat mendoakan kebahagiaannya dengan cinta dari pria lain. Namun bagi Kainya, melupakan apalagi melepas Yuan yang begitu ia cintai bukan perkara mudah. Tak peduli jika caranya mencintai juga perkara yang salah. Bahkan Kainya tak hanya rela mengorbankan segalanya termasuk Keinya adik sekaligus kembarannya. Sebab jika Yuan terus menolaknya, Kainya memilih lenyap selamanya dan mengikutkan Yuan di dalamnya.


Namun, Kainya tidak percaya dengan keadaannya yang sekarang. Kenapa ia justru terbangun, setelah usaha bunuh diri yang susah payah ia lakukan? Setelah Kainya sengaja merusak rem mobilnya dan segera menyusul Yuan yang sudah ia pantau melalui orang kepercayaannya? Lalu, bagaimana dengan Yuan yang juga sengaja Kainya tabrak agar mereka mati bersama tanpa ada orang lain dalam hubungan mereka?


Kainya berusaha untuk bangkit dan mencari tahu kabar Yuan. Namun, tubuhnya terasa begitu sakit, kaku, tidak bisa untuk sekadar digerakan.


“Kai?” sergah Rara yang langsung mengejutkan Kainya.


Awalnya Rara baru akan membuka pintu untuk keluar dari ruang rawat Kainya. Kainya bahkan sempat melihatnya. Kendati tidak percaya karena Rara terjaga untuknya, Kainya begitu mengharapkan kabar Yuan dari wanita itu.


“Yuan bagaimana? Bagaimana keadaan Yuan? Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya, Ra!” Kainya terisak-isak. Mencoba untuk bangkit seberapa pun sakit yang harus ia rasakan jika ia terus memaksa untuk sekadar bergerak.


Rara menahan Kainya. “Jangan begini. Kamu enggak boleh begini. Kamu harus istirahat agar kamu cepat sembuh,” bujuk Rara sambil terus meyakinkan sekaligus menahan Kainya.


“Yuan bagaimana, Ra?” tegas Kainya geram. Matanya menatap tajam Rara lantaran wanita berbola mata hitam itu tak kunjung memberinya kabar Yuan. Kabar selaku satu-satunya hal yang Kainya harapkan untuk saat ini.


Rara mengerjap sambil menelan salivanya beberapa kali. Ia menjadi cukup gugup dengan apa yang Kainya lakukan. Kainya begitu mencemaskan Yuan, terlepas dari wanita itu yang juga mengetahui Yuan juga mengalami kecelakaan. Bisa Rara pastikan, Kainya memang ada sangkut pautnya dengan kecelakaan Yuan!


Kainya masih menatap tajam Rara yang jelas ketakutan kepadanya.


“Kamu ...?” Kainya menatap Rara dengan menelisik. Begitu banyak kecurigaan yang terpancar dari tatapannya pada wanita itu.


Meski menepis tatapannya, tapi Rara mengangguk.


“Berhentilah, Kai. Semuanya sudah cukup. Kamu harus mengakhirinya.” Rara mencoba memberi pengertian sekaligus meyakinkan Kainya. Ia menatap mata tajam Kainya yang kali ini dipenuhi kebencian, lekat-lekat.


Kainya langsung menggeleng tegas bersama kesedihan yang mengiringi tangisnya. “Nggak bisa, Ra ....”


“Belum.” Rara mengatakan itu penuh keyakinan.


Kainya kembali menggeleng. Kali ini jauh lebih lama. “Aku enggak bisa melepas apalagi melihat Yuan sama wanita lain bahkan itu Keinya, Ra!”


Rara menghela napas sangat dalam sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


“Aku sangat mencintai Yuan! Sedangkan mencintai bukan sebuah kesalahan, Ra!”


Tampang Kainya yang begitu penuh keyakinan, menandakan jelas kefrustrasian yang wanita itu rasakan.


“Mencintai memang bukan kesalahan, Kai. Tapi mencintai yang hanya menyakiti juga tidak dibenarkan.” Rara berangsur jongkok, menatap Kainya penuh kepedulian. “Aku mohon, akhiri semuanya. Apa yang kamu pertahankan begitu melukai kalian. Kamu, Keinya, Yuan, bahkan keluarga kalian akan terluka, jika kamu terus begini.”


Tangis Kainya pecah. Ia memejamkan paksa matanya dengan tubuh yang terguncang-guncang sementara kedua tangannya mengepal di pangkuan. Kainya meraung-raung. Membuat Rara terenyuh dan segera menenangkannya melalui pelukan.


“Kenapa pria yang kucintai justru lebih memilih wanita lain dan bahkan itu adik sekaligus kembaranku sendiri?!”


“Percayalah, Kai. Tuhan juga sudah menyiapkan pria terbaik yang juga mencintaimu. Kamu hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Kalaupun Yuan tidak bisa mencintaimu, itu karena kalian belum berjodoh.”


“Kamu ngomong kayak gitu karena kamu enggak merasakan jadi aku, Ra!”


“Kata siapa? Pernikahanku gagal bahkan aku juga terlilit banyak hutang untuk menebus semua persiapan pernikahan, sementara calon suamiku memilih lepas tangan di mana dia justru akan menikah dengan wanita lain dalam waktu dekat!”


“Enggak sepantasnya kamu menilai seseorang hanya dari luar! Hanya karena seseorang bisa terlihat tenang bahkan bahagia, kamu pikir mereka benar-benar merasakannya? Di luar sana masih banyak yang lebih sulit dari kamu bahkan kita, Kai!” Rara menjadi terbawa emosi.


“Biarkan Yuan dengan pilihannya. Dia benar-benar mencintai Keinya dan aku yakin, kamu tahu itu!”


Kainya kian meraung-raung, tetapi Rara membiarkannya sambil sesekali menepuk pelan punggung wanita itu. Rara berharap Kainya mau mengakhiri semuanya, meski kesedihan yang menyelimuti Kainya kental dengan ketulusan cinta Kainya kepada Yuan. 


Namun, mau bagaimana lagi? Yang Yuan cintai Keinya, bukan orang lain bahkan Kainya yang memiliki wajah sekaligus rupa menyerupai Keinya. Karena yang seperti Kainya yakini, cinta memang bukan kesalahan. Tapi mencintai yang hanya menyakiti juga tidak dibenarkan.


Rara menengadah kemudian memejamkan matanya. “Aku rasa, aku sudah cukup dengan batasanku untuk mereka. Selebihnya aku akan memulai menata hidupku. Keinya pasti akan baik-baik saja karena dia memiliki Yuan. Sedangkan Kainya, dia wanita cerdas yang memiliki segalanya meski hatinya sangat terluka,” batin Rara.


Ketika Rara meninggalkan Kainya sesaat setelah Kainya terpejam, Rara dihadapkan dengan sepasang paruh baya bergaya elegan yang akan memasuki ruang rawat Kainya. Yang menarik perhatian Rara, tak lain si wanita yang begitu mirip dengan Kainya dan Keinya. Bahkan kenyataan tersebut sampai membuat Rara bergidik ngeri. Wanita paruh baya yang ditemani pria bule dan menghalangi langkahnya untuk keluar.


“Kamu siapa? Kamu teman Kainya? Bagaimana keadaan Kainya? Kenapa semua ini bisa terjadi?” tanya si wanita itu sambil menatap Rara penuh penghakiman.


Bukannya menjawab, Rara justru kebas. Tiba-tiba saja hatinya terasa sangat sakit. Apakah dugaannya memang benar? Keluarga Kainya yang kaya raya, merupakan keluarga kandung Kainya dan Keinya? Namun, kenapa mereka tidak mengikutkan Keinya? Kenapa mereka seolah membuang Keinya?


Karena Rara hanya diam dan bahkan menangis, terisak-isak sambil menahan dada menggunakan kedua tangan, si wanita berikut si pria pun segera meninggalkannya dengan pandangan aneh. Keduanya bergegas menghampiri Kainya. Memastikan keadaan kembaran Keinya itu penuh kepedulian.


“Sayang, apa lagi yang terjadi? Kenapa semua ini bisa terjadi ke kamu?” keluh si wanita sambil meratapi dan membelai kepala Kainya penuh kasih sayang. “Papi! Cepat minta pertanggungjawaban orang-orang Papi! Apa yang mereka lakukan, kenapa mereka membiarkan Kainya terluka separah ini?!”


“Kenapa kalian membuang Keinya?” Jerit Rara dalam hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2