
“Namun, jika kamu ingin mendapatkan sesuatu terlebih orang yang kamu cintai, tak seharusnya kamu hanya diam dan menyimpan cinta itu untuk dirimu sendiri,”
Bab 10 : Keputusan yang Harus Diambil
Awalnya, Kishi yang mengetahui Dean dan Pelangi pindah sekolah ke luar negeri, benar-benar tidak bersemangat. Kishi bahkan berniat kabur jika pada kenyataannya, sekolah barunya tidak lebih baik dari sekolah lamanya. Pun meski Athan yang mengantarnya sudah sempat wanti-wanti sekaligus menyemangati. Namun ketika gadis bertubuh mungil itu berhasil menerobos kerumunan hingga membuatnya mendapati kebersamaan Dean dan Kim Jinnan, Kishi menjadi berubah arah.
Kishi bahagia, karena pada kenyataannya, Dean masih ke sekolah, dengan kata lain, ia masih bisa melihat pemuda itu meski dari kejauhan. Pun meski pada kenyataannya, Kishi juga tidak mengetahui, apakah Dean memang tidak jadi pindah, atau sekadar ada keperluan yang harus diurus di sekolah. Namun lantaran kehadiran Kim Jinnan yang ada di hadapan Dean, juga dibalas dengan begitu banyak kemarahan oleh Dean, Kishi pun menjadi kehilangan nyali.
Kishi berangsur mundur, menatap bingung situasi sekitar yang menjadikan kebersamaan Dean dan Kim Jinnan tontonan. Kedua sosok keren itu tak ubahnya bintang panggung yang bahkan sampai diabadikan kebersamaannya melalui bidik kamera ponsel.
“Kishi, maju dan hadapi kenyataan. Sadarkah kamu, Kim Jinnan dan Dean pasti sedang memperdebatkan Ngi-ngie!” batin Kishi yang menasehati dirinya sendiri.
Karenanya, Kishi berniat memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menepuk pelan tangan seorang siswi yang turut menjadi bagian dari kerumunan yang memenuhi pelataran gerbang sekolah.
“Kak, kalau boleh tahu, itu si Kim Jinnan dan Dean kenapa, ya?” tanya Kishi sungkan.
“Oh, memangnya kamu enggak lihat, tadi si Kim Jinnan bikin pengakuan kalau dia mencintai Pelangi dan dalam waktu dekat, mereka akan menikah? Tapi sepertinya, Dean justru sangat marah. Lihat saja ....”
“Oh ...? Makasih banyak, yah, Kak ....” Balasan yang baru saja Kishi dengar, sukses menohok hati gadis itu. Kishi tertunduk pasrah, merasa sangat bersalah.
Kishi yang masih menunduk, sampai menjadi gemetaran. Dan demi menghalau kenyataan tersebut, ia sengaja mengepalkan kedua tangannya erat. “Kim Jinnan ada dalam hidup Ngi-ngie karena aku. Aku yang sok tahu dan beranggapan bahwa aku ini super hero yang bisa menyulap semua keadaan. Tapi sungguh, niat awalku menghadirkan Kim Jinnan, bahkan aku sampai mengajak Zean bekerja sama, karena aku ingin menyelamatkan hubungan kak Mofaro dan kak Rafaro. Juga, ... agar Dean juga bisa lebih fokus dengan kehidupannya tanpa terus-menerus memikirkan Ngi-ngie ... namun, kenapa yang terjadi justru seperti ini?” batin Kishi.
Kishi yakin, matanya yang sampai menjadi terasa panas, lantarain kali ini, ia juga sudah menangis. Kishi merasa bertanggung jawab untuk agenda kali ini. Kisi harus segera mengambil keputusan untuk mengakhiri semuanya. Namun sungguh, Kishi selalu kehilangan nyali jika harus tampil di depan umum. Gadis itu fobia keramaian. Kishi selalu tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah di keramaian. Namun jika Kishi hanya diam, yang ada, suasana juga akan semakin runyam. Pun meski Kishi yang akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri kebersamaan Kim Jinnan dan Dean, juga tidak yakin, apakah keberadaannya akan membantu dan membuat keadaan menjadi lebih baik? Atau, ... keadaan justru akan semakin memburuk?
“Kak Jinnan ...,” ucap Kishi akhirnya setelah susah payah mengumpulkan keberanian yang juga langsung ia kerahkan. Pun meski pada kenyataannya, kedua tangannya masih mengepal kuat di kedua sisi tubuh.
Jantung Dean seolah melesak tatkala pemuda itu mendengar suara Kishi. Bahkan karenanya, Dean sampai mengakhiri tatapan tajamnya kepada Kim Jinnan berikut menepis keberadaan Kishi.
Meski awalnya terkejut, tetapi Kim Jinnan langsung menatap semringah gadis yang mengenakan seragam putih hitam di hadapannya. “Kishi! Benar-benar adik berbakti!”
Ketika Kim Jinnan tak segan mengacak susunan rambut sebahu Kishi yang kali ini terurai dengan poni yang sengaja dijepit ke samping kanan, Dean justru bergegas meninggalkan kebersamaan. Tadi, Kishi masih melihat begitu banyak kekesalan sekaligus kekecewaan yang menyertai kepergian Dean. Dean yang bahkan terlihat tidak sudi dekat-dekat dengan Kishi, layaknya biasa.
Meski sadar diri Dean selalu menolak, tetapi kali ini Dean terlihat begitu marah bahkan mungkin sampai membenci Kishi. Terlebih Kishi yakin, Dean juga sudah tahu perihal Kishi yang ada di balik keberadaan Kim Jinnan dalam hidup Pelangi.
Kishi yang awalnya melepas kepergian Dean dengan banyak rasa sakit yang memenuhi dadanya, segera menengadah demi memastikan apa yang terjadi pada Kim Jinnan. “Kakak mengenaliku?”
“Ya. Kamu—” jawab Kim Jinnan bersemangat.
“Tolong jangan dilanjutkan,” tahan Kishi cepat lantaran ia yakin, Kim Jinnan mengenalinya sebagai adik Pelangi.
Kim Jinnan menatap bingung Kishi. Pria itu tak hanya mengernyit, melainkan sampai cukup memiringkan wajahnya hanya untuk menatap Kishi penuh kepastian.
“Aku tidak mau menambah beban kak Ngi-ngie.”
Pengakuan Kishi, cukup membuat Kim Jinnan merasa aneh. Tidak, karena lebih tepatnya, keluarga Pelangi memang menjalani kehidupan yang di matanya cukup aneh.
“Dan satu lagi ....” Kali ini, Kishi semakin serius, dalam menatap Kim Jinnan.
Kim Jinnan balas menatap serius Kishi bahkan lebih dari sebelumnya. Dahi di wajah putih bersihnya sampai berkerut demi menyimak apa yang akan Kishi katakan.
Berhadapan dengan Kim Jinnan sedekat sekarang, sukses membuat Kishi senam jantung. Bukan karena Kishi memiliki rasa lebih kepada Kim Jinnan, terlebih entah kenapa, hati Kishi hanya merindukan Dean, sebab apa yang Kishi rasakan saat ini, tak lain karena Kishi yang fobia keramaian, sedang berusaha mengakhirinya.
“Jika memang Kakak menyanyangi kak Ngi-ngie, tidak seharusnya Kakak membuat kak Ngi-ngie dalam bahaya.”
“Namun, jika kamu ingin mendapatkan sesuatu terlebih orang yang kamu cintai, tak seharusnya kamu hanya diam dan menyimpan cinta itu untuk dirimu sendiri,” ujar Kim Jinnan sengaja memotong ucapan Kishi. Ia mengatakan itu dengan senyum penuh kemenangan yang membuatnya terlihat semakin tampan.
Dan apa yang Kim Jinnan lakukan, sukses membuat Kishi tertampar. Benar, jika kita ingin mendapatkan sesuatu terlebih orang yang kita cintai, kita memang tidak seharusnya hanya diam dan menyimpan cinta itu hanya untuk diri kita sendiri. Tenetunya, kita harus membaginya kepada yang bersangkutan.
“Aku paham risiko dari apa yang telah kulakukan. Kamu tidak usah khawatir, karena aku bahkan belum pernah seserius ini kepada wanita,” tambah Kim Jinnan berusaha meyakinkan Kishi. Kedua tangannya sampai menepuk-nepuk pelan bahu Kishi.
Tak lama setelah itu, Kim Jinnan berlalu dari hadapan Kishi.
__ADS_1
“Tapi kak Ngi-Ngie memiliki banyak mimpi. Tolong, jangan mendesaknya dengan pernikahan dini ...,” lirihnya pada Kim Jinnan. Ia menatap kepergian pria itu dengan tatapan yang dipenuhi harapan.
Kim Jinnan yang seketika itu berhenti melangkah, berangsur menoleh. Ia menatap Kishi sembari memberikan senyum terbaiknya. Entah apa yang ingin Kim Jinnan sampaikan. Yang jelas, tak lama setelah itu, pria itu langsung berlalu, meninggalkan Kishi tanpa penjelasan lain.
“Apakah dia murid baru? Sepertinya aku baru melihatnya?”
“Lalu, apa hubungannya dengan Kim Jinnan? Kenapa Kim Jinnan terlihat begitu menyayanginya?”
“Iya ... Kim Jinnan seperti mengistimewakannya?”
Hampir semua siswi di sana langsung menjadikan Kishi sebagai fokus perhatian dengan maksud pembicaraan mereka yang juga masih sama. Perihal hubungan Kishi dengan Kim Jinnan, juga, siapa sebenarnya Kishi.
Kishi yang menyadari hal tersebut segera beranjak meninggalkan kebersamaan. Ia segera mencari ruang guru untuk meminta bantuan perihal kehadirannya di sekolah sebagai murid baru. Namun bisa dipastikan, Kishi akan satu kelas dengan Dean. Karena meski umur mereka terpaut dua tahun, tetapi demi Dean, Kishi telah bekerja keras menjadi siswi cerdas. Bahkan jika mau, Kishi bisa mendapatkan beasiswa. Namun karena kisi sadar masih ada murid yang jauh lebih membutuhkan beasiswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga berekonomi kurang mampu, Kishi tidak menerima semua itu.
Tak beda dengan Mofaro dan Rafaro, Kishi memang dibebaskan oleh orang tuanya dalam mempercepat pendidikan. Apalagi Mofaro dan Rafaro, hanya tinggal satu semester lagi, keduanya akan menjalani sidang skripsi untuk kelulusan kuliah. Namun semua itu tidak terjadi dengan cara didik Yuan dan Keinya. Keduanya mewajibkan anak-anak mereka untuk menjalani segala sesuatunya sesuai waktunya. Pun meski baik Pelangi, Dean, bahkan Zean mampu melampauai kemampuan usia mereka.
***
Bagi Pelangi, kehadiran Kim Jinnan dalam hidupnya tak ubahnya mimpi buruk. Ya, hidup Pelangi menjadi tidak baik-baik saja semenjak kemunculan pria itu. Hidup Pelangi menjadi bermasalah, tak karuan hanya ulah seorang Kim Jinnan yang bahkan tidak Pelangi ketahui asal-usulnya.
“Mencintaiku? Menikah ...? Sttt! Awas saja kau Kim Jinnan, tunggu pembalasanku!” batin Pelangi sesampainya ia di kelasnya. Ia segera duduk meski semua mata di sana masih memperhatikannya.
“Kudengar, Pelangi itu bukan anak Yuan Fahreza.”
“Wah, anak haram?”
“Aku kurang yakin, tetapi saat menikah dengan Yuan Fahreza, kabarnya si Keinya itu janda!”
Mendengar obrolan dari sudut kelasnya, Pelangi yang duduk di kursi kedua dari depan, baris ke dua dari kiri dari empat baris yang ada, langsung naik pitam. Kedua tangan gadis itu mengepal. Dan dengan cepat, Pelangi balik badan. “Kalian cari mati?!” umpatnya dengan mata yang memerah.
Pelangi menatap tajam kerumunan siswi yang jumlahnya ada tujuh orang .Pelangi benar-benar marah. Tak peduli apa yang terjadi, kenapa mereka sampai membawa-bawa status bahkan masa lalu keluarganya?
“Ya sudah, kalau begitu, jelaskan kepada kami, benarkah kabar semua itu?” celetuk salah satu dari mereka tak gentar sambil beranjak dari duduknya dan diikuti juga oleh keenam siswi lainnya.
“Iya, jelaskan pada kami sejelas-jelasnya!” timpal salah satunya lagi sedangkan sisanya hanya mengangguk-angguk setuju.
“Kepo! Apa peduli kalian? Memangnya masalah keluargaku akan berpengaruh pada kalian?” balas Pelangi santai sambil tersenyumm sarkastis. Namun tak lama setelah itu, ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku seragam bagian dadanya. Ia memilih fitur kamera kemudian membidikkannya kepada ketujuh sisiwi yang sempat mencari masalah dengannya.
“Itu kenapa Pelangi memfoto kita?”
“Iya, itu tadi, Pelangi memfoto kita!”
Ketujuh siswi itu menjadi ketar-ketir.
Terlebih, setelah jemari Pelangi sibuk di atas layar ponsel dan seperti sedang mengetik, Pelangi juga sampai berucap di depan ponselnya, “Pa ... mereka mengata-ngataiku dan keluarga kita. Bahkan mereka ingin tahu masa lalu Papa dan Mama. Mereka benar-benar menindasku.”
Glek!
Ketujuh siswi tersebut refleks menelan ludah, menatap tak percaya Pelangi sambil melotot. Apalagi tak lama setelah itu, Pelangi sampai menerima panggilan video.
“Gila ... si Pelangi beneran melaporkan kita ke Yuan Fahreza!” bisik ketujuhnya semakin ketar-ketir. Bahkan, mereka yang berangsur mundur menepi pada tembok sesaat sebelum kompak menunduk, sampai menjadi gemetaran.
“Sayang ...?” ucap Yuan dari seberang dengan raut wajah yang begitu serius bahkan marah.
“Pa ...,” balas Pelangi yang sebenarnya masih sangat sedih sekaligus terpukul.
“Katakan pada mereka, Papa ingin berbicara kepada mereka,” balas Yuan kemudian.
“Mereka langsung pura-pura enggak berdosa, Pa,” balas Pelangi sembari melirik sebal ketujuhnya yang memang masih menunduk ketakutan.
“Baik. Kalau begitu, Papa akan langsung menghubungi pihak sekolahmu dan meminta orang tua mereka untuk datang ke sekolahan. Besok juga, Papa akan datang ke sekolahan dan membicarakannya dengan orang tua mereka berikut perwakilan dari sekolahan.”
__ADS_1
Yuan menanggapi laporan Pelangi dengan sangat serius. Apalagi, tak hanya suara Pelangi yang terdengar sengau saat mengirim pesan suara, sebab Pelangi memang sampai menangis.
“Kalian dengar, kan?” ujar Pelangi kepada ketujuh teman kelasnya di sudut sana.
“Ngi, maaf, Ngie ....”
“Iya, Ngie ... kami minta maaf.”
“Maaf banget, sumpah, Ngie!”
Pelangi menatap sinis ketujuhnya. “Sekali-kali kalian harus belajar dari apa yang kalian lakukan. Apa yang kalian lakukan ke aku itu sudah bagian dari tindakan anarkis tahu! Ya, aku memaafkan kalian. Tapi teguran dari papaku juga akan tetap berjalan. Iya, kan, Pa?”
“Iya, Sayang ... sekarang kamu fokus belajar saja. Jangan pedulikan mereka. Toh, kamu di situ juga tinggal beberapa hari lagi, kan? Bahkan tanpa ke sekolah pun, sebenarnya kamu bisa. Papa enggak terima kalau kamu dan anak-anak Papa sampai ditindas seperti ini.”
Sikap tegas Yuan membuat Pelangi merasa lega sekaligus aman. Pelangi pun mengakhiri percakapan videonya dengan Yuan. Pelangi berharap, kedepannya tidak akan ada rundungan setelah sikap tegas yang ia dan Yuan lakukan. Tak semata kepada dirinya, melainkan semuanya apalagi di lingkungan sekolah yang seharusnya untuk aktivitas pendidikan.
Kini, tanpa mau membuang-buang waktunya untuk memikirkan perihal rundungan yang baru saja menimpanya bahkan sekelipun ketujuhnya sibuk meminta maaf, Pelangi justru sengaja menyibukkan diri dengan mengeluarkan buku pelajaran. Namun, di balik itu, ia juga mengirim pesan yang ia tujukan kepada Kim Jinnan.
--Kim Jinnan, tunggu pembalasanku!—
“Pelangi, aku benar-benar meminta maaf.”
“Iya, Pelangi, maafkan kami.”
“Ayolah Pelangi, ... kami bisa dimarahi habis-habisan oleh orang tua kami!”
Pelangi benar-benar tak acuh. Ia lebih fokus dengan buku bacaan yang sedang ia hadapi, juga, ... pesan balasan dari Kim Jinnan yang nyatanya langsung menanggapinya dengan cepat.
--Ya, aku akan selalu menunggu. Tapi jangan membuatku menunggu lebih lama—
--Malam nanti, aku akan datang ke rumahmu bersama kakekku—
Balasan Kim Jinnan yang terbagi dalam dua pesan berbeda, membuat Pelangi mengernyitkan dahi. “Nanti malam dia akan datang ke rumah bersama Kakekku? Untuk apa?” pikirnya. Pelangi rasa, ia harus segera mengambil keputusan untuk menyingkirkan Kim Jinnan dari hidupnya.
“Ngie?” panggil Dean yang sampai datang ke kelas Pelangi dan sukses membuat siswi-siswi di sana gugup.
Nyaris semua siswi di sana termasuk ketujuh siswi yang sempat merundung Pelangi, menjadi mendadak sesak napas. Mereka bahkan terkesan tidak sanggup menatap Dean, meski sesekali, mereka juga akan melirik pemuda itu sambil memegangi dada, demi meredam sesak yang tiba-tiba melanda di dada masing-masing.
Dean membawa sebotol air mineral dan memberikannya kepada Pelangi. Pelangi segera menerimanya, di mana tak lama setelah itu, sebelah tangan Dean juga sampai mengelus-elus kepala Pelangi.
“Jika ada yang berani mengganggumu, langsung hubungi aku,” ucap Dean serius.
“Aku sudah langsung lapor ke papa!” balas Pelangi bersemangat.
Dean sampai menunduk demi memastikan keseriusan Pelangi. “Sudah ada yang berani menganggumu?”
Pelangi tak lantas berkomentar. Namun gadis itu langsung menoleh ke belakang, kemudian melakukan gerakan wajah dan menunjuk ketujuh siswi yang sempat merundungnya.
Ketujuh siswi tadi kembali ketar-ketir dan buru-buru memunggungi tatapan Dean dan Pelangi.
“Mereka?!” ujar Dean memastikan dan mulai merasa kesal. Dean benar-benar tidak akan memaafkan siapa pun yang berani mengusik apalagi menyakiti keluarganya. Karena jika itu sampai terjadi, dia akan segera berdiri di barisan paling depan untuk mengatasinya.
“Si Pelangi benar-benar tukang ngadu!” gumam salah satu dari mereka yang merasa semakin tertekan.
“Sudah jangan memikirkan mereka. Sekarang kamu fokus ke,” tegur Pelangi pada Dean yang sudah merengut kesal pada ketujuh siswi di sudut sana.
“Kishi ....” Pelangi sengaja tidak mengucapkannya dengan gamblang. Hanya sebatas gerak bibir, tetapi kenyataan tersebut sukses membuat Dean menjadi cukup gugup. Dean sampai berdeham sesaat sebelum pria itu mendadak pamit.
Bersambung ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Like, komentar, vote, sama ratenya, Author tunggu 🤗
__ADS_1