
Elia keluar dari ruang rawat Irene, dengan mata yang masih basah. Elia menutup pintunya dengan hati-hati, di tengah kenyataannya yang menjadi lemas dan kehilangan banyak semangat. Namun, ketika kedua matanya mendapati Rafaro tengah melangkah tergesa ke arahnya, sebagian beban Elia seolah langsung terangkat.
Kehadiran Rafaro membuat Elia merasa kembali bersemangat, kendati apa yang Irene alami, sangat menguras emosi sekaligus empatinya.
“Semuanya oke?” ujar Rafaro yang memang sangat mengkhawatirkan Elia. Terlebih, tadi ia sempat mrndapati gadis itu menghela napas berat, ketika Elia baru keluar dari ruang rawat Irene.
Elia tetap melanjutkan langkahnya, kendati ia memang kehilangan banyak tenaga. “Aku enggak yakin, sih. Aku kan masih amartir. Namun, tadi aku sudah berusaha maksimal.”
“Iya. Aku yakin, kamu pasti sudah melakukan yang terbaik. Enggak apa-apa. Itu sudah bagus banget,” balas Rafaro yang kali ini sudah berdiri di depan Elia.
Rafaro sengaja memuji Elia, terlebih tidak semuanya apalagi gadis seusia Elia, berani mengambil keputusan besar membantu orang lain meringankan beban kehidupan.
“Maaf, aku telat, ... padahal sudah berusaha secepat mungkin, takut kamu kenapa-kenapa. Tadi, aku terjebak macet, soalnya,” lanjut Rafaro sarat penyesalan.
“Enggak apa-apa. Justru aku kaget, kamu sudah ke sini lagi,” balas Elia yang memang menanggapi dengan santai. “Lain kali, jangan ngebut-ngebut. Soalnya kamu bukan Mo yang punya banyak nyawa. Aku malah khawatir, kalau kamu sampai ngebut.”
“Hubunganmu, dan Mo, ... baik-baik saja?” lanjut Rafaro yang mendadak cemburu lantaran Elia sampai menyamakannya dengan Mofaro.
Elia menatap aneh Rafaro. “Aku selalu mengharapkan hubungan yang baik, dengan siapa pun,” ucapnya yang sampai cemberut. “Kamu, kenapa, sih? Rasanya jadi aneh?” lanjutnya. Lantaran yang tahu, Rafaro merupakan pemuda yang hangat tak ubahnya Steven papa Elia. Dan karena itu juga, bagi Elia, Rafaro sangat spesial. Syukur-syukur, Rafaro bisa menjadi jodohnya.
“Aku sudah buat kamu merasa enggak nyaman, ya?” ujar Rafaro dan Elia yang masih menatap bingung kepadanya, berangsur mengangguk. “Maaf, ya?” lanjutnya dan lagi-lagi, Elia hanya mengangguk.
“Iya. Biasa saja. Ingat, aku ini fans beratmu. Jangan kecewakan aku!” lanjut Elia dan kenyataan tersebut langsung membuat Rafaro tersipu.
Namun, Elia juga penasaran mengenai apa yang terjadi pada Elena dan Atala? Dan kenapa juga, Rafaro tidak bersama mereka?
“Bagaimana dengan Elena dan Atala?” lanjut Elena.
“Elena memintaku untuk kembali ke kamu. Elena sepakat untuk menyelesaikan masalahnya dan Atala, tanpa campur tangan orang lain bahkan mamamu,” balas Rafaro.
__ADS_1
Mendengar itu, Elia merasa sangat lega, terlepas dari Elia yang sangat berharap Elena dan Atala bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. “Ya sudah. Aku lapar. Otakku masih terasa sangat panas. Aku butuh asupan energi lebih banyak dari Popeye agar bisa kuat lagi!”
Elia berlalu melewati Rafaro, tapi Rafaro meraih sebelah pergelangan Elia sambil berkata, “kalau begitu, aku akan masak buat kamu!”
Rafaro benar-benar bersemangat. Padahal, yang digandeng sudah langsung salah tingkah dan nyaris kehilangan kewarasan.
“Ini, si Rafa, ... beneran, ya?” batin Elia yang mengekor dan mengikuti tuntunan Rafaro.
“Kamu mau makan apa? Kita mampir ke swalayan dulu, buat beli bahannya, ya? Nanti terserah kamu, mau dimasakin di rumah kamu, atau rumah aku,” tawar Rafaro yang menjadi sangat bersemangat.
“Kalau aku nunggu lebih lama, aku bisa busung lapar gara-gara nahan lapar kelamaan, Raf,” keluh Elia dan langsung membuat Rafaro tertawa.
“Jadi, ... maunya bagaimana?” balas Rafaro sambil balik badan dan membuatnya menatap Elia dengan sepenuhnya.
Elia merasa jika Rafaro yang hangat telah kembali, bahkan itu terkesan hanya untuk Elia. “Itu kayaknya tadi aku lihat tukang bakso sama siomay di depan klinik,” balas Elia yang sengaja menepis tatapan Rafaro, agar kewarasannya tetap bisa terjaga.
“Kamu yakin?” balas Rafaro yang sampai menatap khawatir Elia.
“Ya sudah. Daripada kamu beneran busung lapar, ayo kita makan bakso sama siomay!” ajak Rafaro.
Elia menjadi tersipu mendengarnya. “Tapi aku makannya banyak banget, lho, Raf!” balas Elia yang sengaja jujur.
“Aku tahu!” balas Rafaro sambil menahan senyum dan kemudian melirik Elia. Lirikan yang menjadi dihiasi banyak cinta.
“Bentar. Kita jangan senyum-senyum dulu. Soalnya ada hal serius yang harus aku bahas. Kalau bukan sama kamu, ya sama papa!” ujar Elia serius dan sukses membuat Rafaro mengalami hal serupa.
“Ke aku saja. Kan aku sudah pernah minta ke kamu, agar kamu bergantung kepadaku, kan?” balas Rafaro. “Ceritakan semuanya, biar kamu bisa fokus ke olimpiade,” lanjutnya dengan nada suara yang turun drastis.
Nada suara yang sarat perhatian dan detik itu juga langsung membuat hati Elia diselimuti banyak ketenangan.
__ADS_1
“Tapi aku juga harus secepatnya bertemu Jinnan dan Ngi-ngie,” lanjut Elia lantaran masalah Irene memang menyangkut Jinnan dan Pelangi.
“Ya sudah. Setelah makan, aku antar kamu ke Jinnan dan Ngi-ngie. Dan sekarang, aku izin ke mamamu dulu, takutnya mamamu sudah nunggu kamu,” balas Rafaro yang kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana, melalui tangan yang tidak menggandeng Elia.
“Ya ampun ... Rafaro begini, perhatiannya berlimpah-limpah, ... berasa punya suami masa depan! Aku jadi tambah semangat buat beresin sekolah dan jadi dokter kebanggaan semuanya!” batin Elia yang menjadi berbunga-bunga.
Elia sampai senyum-senyum sendiri lantaran Rafaro menelepon Kainya. Di mana, Elia juga sampai berbicara langsung dengan Kainya melalui sambungan telepon ponsel Rafaro, di susul Rafaro yang sampai menelepon Rara dan mengabarkan akan pulang telat. Tentu, Elia juga sampai mengobrol dengan Rara hingga Elia menjadi celingukkan.
Mereka terus berjalan meninggalkan klinik. Di mana ketika mereka baru akan mampir ke lapak yang menjual bakso dan siomay, di depan klinik, mereka tak sengaja berpapasan dengan Atala yang baru saja keluar dari mobil.
Atala kembali datang, dan langsung memandangan kebersamaan Elia dengan Rafaro yang bahkan masih bergandengan tangan. Atala menatap kebersamaan tersebut dengan tatapan yang dihiasi banyak luka.
Awalnya, apa yang Atala lakulan, langsung membuat Rafaro merasa tidak nyaman. Atala yang terus saja menatap Elia dengan banyak cinta, di mana tatapan pria itu akan menjadi dipenuhi luka ketika melihat gandengan tangan Rafaro kepada Elia.
Puncaknya, ketika Elia sampai meninggalkan Rafaro hanya untuk menghampiri Atala. Pun meski Elia sudah sampai izin, jika maksudnya menemui Atala, karena masalah yang menyangkut Irene. Rafaro tetap tidak baik-baik saja dan memang memaksa Elia mengizinkannya untuk ikut serta. Jadi, semua yang Elia bahas dengan Atala juga menjadi diketahui oleh Rafaro.
“Aku benar-benar minta tolong banget sama kamu. Jinnan dan istrinya saling mencintai. Bayangkan jika kamu ada di posisi Jinnan, At.” Layaknya ucapannta, Elia benar-benar memohon.
“Iya. Aku juga sudah mengarahkannya untuk tidak mengusik Jinnan lagi,” balas Atala.
“Baguslah kalau begitu. Terima kasih banyak. Meski Irene memang korban dan sampai sekarang, dia belum mau jujur, tapi Jinnan sudah bisa dipastikan bukan ayah dari anak Irene, apalagi Irene juga menolak usul tes DNA yang aku arahkan,” lanjut Elia masih menatap serius Atala.
Berbeda dengan Elia, Atala justru kerap menepis tatapan Elia. “Iya. Irene memang tergila-gila kepada Jinnan. Sayangnya, sampai sekarang aku belum tahu siapa ayah dari anak yang Irene kandung.”
“Tapi aku yakin, Irene tidak mencintai bahkan mungkin membenci pria itu,” tambah Elia dan dibenarkan oleh Elia meski di dalam hati.
Jadi, siapa ayah dari anak yang sedang Irene kandung? Atala akan segera mengustnya sebelum Irene semakin nekat dan Atala takuti tak hanya memaksa Kim Jinnan untuk bertanggung jawab, melainkan Irene yang Atala takutkan sampai bunuh diri.
“Namun, omong-omong, kenapa pemuda yang ada di sebelah Elia terus saja menggandeng Elia? Serius, keduanya pacaran?” pikir Atala.
__ADS_1
Bersambung ....