
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti bahkan satu detik setelah ini? Yang jelas, aku selalu berusaha memanfaatkan waktuku sebaik mungkin, seolah-olah detik berikutnya aku akan mati.”
Bab 42 : Tentang Perpisahan dan Kehilangan
Kim Jinnan masih terdiam bingung menatap Pelangi dan kedua orang tua gadis itu silih berganti. Kim Jinnan merasa jika ketiga orang itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang sangat penting dan bahkan memiliki dampak yang sangat besar. Juga, sesuatu yang mungkin bisa melukai ketiganya, atau malah Kim Jinnan sendiri.
“Aku baik-baik saja. Jangan mencemaskanku sedalam itu. Aku hanya ingin menemani kakek, di saat-saat terakhirnya. Maksudku, ... sebelum kakek, ... dikebumikan.” Kim Jinnan masih sangat tidak bersemangat.
Akan tetapi, pandangan Kim Jinnan masih terfokus pada Pelangi. “Aku butuh kamu,” ucapnya dan sukses membuat Pelangi yang menatapnya menjadi berlinang air mata.
“Om ... tante ... aku izin buat bawa Ngi-ngie pulang denganku. Malam ini saja. Aku janji, aku enggak akan macam-macam.” Kim Jinnan menatap Keinya dan Yuan penuh harap. Ia melakukannya dengan sangat memohon.
Yuan yang sampai berkaca-kaca dan tak kuasa agar air matanya tidak mengalir, berangsur mengangguk. “Iya. Kami juga akan menemanimu,” ucapnya sambil merangkul Keinya.
Ketika tatapan Kim Jinnan teralih pada Keinya, Keinya pun mengangguk tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.
Nuansa duka benar-benar menyelimuti kebersamaan. Duka yang tak akan pernah bisa disembuhkan. Juga, duka yang hanya akan menyisakan kenangan yang kadang disertai sesal. Dan karena hal tersebut pula, Kim Jinnan menyadari, bahwa patah hati terbesar dalam kehidupan adalah ketika kita harus merelakan orang yang kita cintai, menjalani kematian. Sebab setelah itu, mereka benar-benar tidak akan bisa kita temui apalagi miliki.
Pelangi menatap kedua orang tuanya penuh rasa terima kasih di tengah air matanya yang terus berlinang. Kemudian, ia berlalu dan melangkah menghampiri Kim Jinnan.
Tak beda dengan Pelangi, kali ini Jinnan yang sudah mendapati Pelangi berdiri di sampingnya juga berangsur menatap Keinya dan Yuan dengan banyak rasa terima kasih. Dan setelah sampai membungkuk, bersama pak Jo, Kim Jinnan dikawal pergi dan masih mengenakan kursi roda.
Pelangi melangkah di sebelah Kim Jinnan. Dan meski kebersamaan tersebut benar-benar tidak dihiasi obrolan, tetapi tak lama setelah itu, sebelah tangan Kim Jinnan meraih sebelah tangan Pelangi yang kemudian digenggamnya dengan kuat. Kim Jinnan melakukannya tanpa menatap Pelangi atau pun tangan yang digenggamnya. Dan Pelangi tak kuasa melarang layaknya apa yang biasa ia lakukan kepada Kim Jinnan. Pelangi benar-benar membiarkannya.
Hingga detik ini tatapan Kim Jinnan masih kosong. Tatapan yang begitu banyak mengandung lara, bersama ingatannya yang dipenuhi kejadian di masa lalu. Kim Jungsu, ... kakeknya itu tidak pernah sekalipun memarahinya. Kakeknya itu justru akan melucu atau malah memberinya hadiah jika Kim Jinnan sampai berulah.
Yuan dan Keinya masih berdiri di tempat sambil melepas kepergian rombongan Kim Jinnan yang mengikut sertakan Pelangi di dalamnya.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti bahkan satu detik setelah ini? Yang jelas, aku selalu berusaha memanfaatkan waktuku sebaik mungkin, seolah-olah detik berikutnya aku akan mati.” Yuan mengatakan itu dengan hati yang mendadak terasa sangat sesak.
Dan yang bisa Keinya lakukan, hanyalah menghantam sangat keras pantat suaminya. Keinya melakukannya dengan kesadaran penuh di tengah air matanya yang mendadak rebas. Sebab apa yang Yuan katakan sungguh membuat hati Keinya menjadi sangat sakit. Pun meski setelah itu, Yuan meraih kedua lengah Keinya.
Yuan menatap lekat-lekat kedua manik mata Keinya yang basah dan menatapnya dengan banyak rasa kecewa. “Menua dan mati itu pasti. Semua kehidupan apalagi manusia akan mengalaminya, kendati perihal waktunya masih menjadi rahasia Sang Kuasa!” tegasnya meyakinkan Keinya.
Namun Keinya benci dengan kenyataan itu. Perpisahan bahkan kehilangan, ... kedua hal tersebut merupakan hal yang paling tidak ingin Keinya alami. Bahkan Keinya yakin, semua orang juga tidak ingin mengalaminya. Bukan hanya Keinya saja.
“Jangan bahas itu, Yu. Aku mohon. Aku enggak mau dengar.”
“Key,”
“Yu!”
Keinya sadar, ketika dirinya sampai bisa mengumpat, suaminya akan semakin sabar atau malah diam.
“Dengarkan aku,” ucap Yuan sesaat setelah menelan ludah.
Keinya menepis tatapan Yuan, menolak mentah-mentah permintaan suaminya untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka.
“Keinya, dengarkan aku ... kamu istriku, jadi kamu juga harus mendengarkan aku. Manusiawi. Ada kehidupan ada juga kematian. Di dunia ini tidak akan ada yang abadi.”
Keinya masih bungkam. Masih menepis tatapan Yuan. Sebab cinta Keinya pada Yuan begitu besar. Dan saking besarnya, Keinya tidak mau ada perpisahan apalagi kehilangan.
“Jika itu yang kamu mau ... mulai sekarang, berpikirlah jika di detik berikutnya, kita akan tiada! Jadi kita lakukan semua yang kita mau seolah-olah, tidak akan ada nanti!” Yuan masih berusaha meyakinkan Keinya. Dan kali ini, kedua tangannya menjadi turun. Ia menggenggam erat kedua tangan istrinya yang tak lama setelah itu berangsur membalas tatapannya.
__ADS_1
“Aku ingin melihat Pelangi menikah. Aku ingin melihat semua anak-anak kita berkeluarga. Dean, Zean ... Riri. Semuanya! Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama anak-anak mereka. Kita akan menghabiskan masa tua kita bersama anak-cucu kita?” Yuan, tersenyum semringah di antara linangan air matanya.
Dan kali ini, meski merasa begitu berat dan bahkan dadanya juga menjadi semakin sesak, Keinya berangsur mengangguk di tengah air matanya yang semakin mengalir deras.
“Aku mau ... aku juga ingin sepertimu!” Keinya terisak-isak hingga tubuhnya terguncang-guncang. Dan kenyataan tersebut tetap berlanjut kendati Yuan telah mendekap tubuhnya dengan hangat.
“Bahkan sekarang saja, ubanku sudah terlalu banyak,” ujar Yuan yang menjadi bisa bernapas dengan lega.
Sambil terisak-isak, Keinya pun berkata, “aku akan semakin rutin mencabuti ubanmu!”
“Aku akan memegang janjimu!” sahut Yuan.
“Aku enggak pernah mengingkari janjiku. Memangnya kapan aku pernah mengingkari janjiku?” Keinya berangsur melepaskan diri dan menatap serius suaminya.
Dengan kenyataannya yang menjadi mendadak gugup, Yuan pun segera menggeleng. “Enggak ... enggak pernah. Kamu enggak pernah lupa apalagi ingkar! Kamu selalu benar, Kei! Di mataku, kamu enggak pernah salah!”
Yuan benar-benar berusaha meyakinkan. Dan Keinya menanggapinya dengan menghela napas dalam.
“Yu, ... takut sama istri, dengan sayang sama istri, bedanya sangat tipis, kan?” ujar Keinya sambil menatap Yuan penuh kepastian.
Pernyataan Keinya sukses membuat Yuan tersenyum masam, sembari menggaruk punggung kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Yuan tak kuasa menyembunyikan kebenaran jika apa yang Keinya katakan memang benar.
Yuan berangsur menuntun Keinya untuk beranjak.
“Jawab ... tumben kamu enggak bisa jawab?” tagih Keinya yang sampai menengadah demi menunggu kepastian dari Yuan.
Yuan mengangguk-angguk sambil tersenyum masam. “Lagi-lagi, kamu benar, Kei!” ujarnya yang kemudian sengaja menahan tawanya tanpa berani menatap Keinya.
“Syukurlah kalau begitu. Aku benar-benar bahagia mendengarnya! Lanjutkan! Awas saja kalau sampai enggak!” balas Keinya yang untuk pertama kalinya sampai berani mengancam Yuan. Dan apa yang Keinya lakukan sukses membuat Yuan tergelak.
Yuan mengangguk-angguk. “Iya, aku tahu. Tapi sepertinya kita juga harus menghubungi Dean, untuk menjaga adik-adiknya.”
“Oh, iya, Yu ... sebentar. Biar aku yang menelepon Dean.” Keinya segera membuka totebag kecil yang menghiasi pundak kanannya, dan mengeluarkan ponsel dari sana. Sesuai tujuannya, ia akan menghubungi Dean untuk menjaga adik-adiknya.
***
“Iya, Ma ... aku tahu.” Sebelumnya, Dean memang belum tidur. Ia masih terjaga dan sibuk dengan laptop berikut setumpuk bukunya di meja belajar sebelah tempat tidur.
“Ini nanggung, Ma. Habis ini beres, kok, bentar lagi,” ucap Dean ketika Keinya langsung berkata tegas dan memintanya untuk segera tidur.
“Iya, Ma. Selamat malam.”
Dan Dean, baru saja mengakhiri sambungannya, ketika tiba-tiba saja, ia mendengar jeritan Zean dari depan pintu kamarnya.
Kenyataan tersebut pun membuat Dean bergegas mematikan. Namun, pemandangan Zean yang sampai hanya mengenakan celana dalam, sukses membuat Dean terkejut.
“Ya ampun, kenapa kamu cuma pakai celana dalam, kayak tuyul begitu?!” tegur Dean.
“Dean, aku takut! Aku begini biar aku enggak lihat setan!” balas Zean yang sampai berteriak-teriak.
Zean terlihat jelas ketakutan. Zean bahkan sampai mau berpegangan erat pada kedua tangan Dean. Namun, Zean terus saja menatap ke sekitar dan jelas terlihat sedang berjaga dari suatu hal. Zean benar-benar takut setan atau hantu? Dean benar-benar tak percaya.
“De ... kakeknya Jinnan meninggalnya enggak jadi hantu, kan?” tanya Zean dengar suara yang sampai terdengar gemetaran.
__ADS_1
“Kata siapa kakek Jinnan jadi hantu? Jangan omong kosong, ah! Sudah, cepat pakai baju!” balas Dean.
“Enggak ah, ... aku begini saja. Karena menurut mitos yang aku baca, telanjang akan membuat setan atau hantu, takut sama kita!” balas Zean penuh keyakinan.
“Ya ampun, kamu baca itu di mana? Kamu enggak main macam-macam, kan, pakai ponsel kamu? Sini ponselmu, aku saja yang pegang?” balas Dean yang kali ini sampai mengomel.
Dua hari yang lalu, untuk kepentingan tambahan pelajaran secara online dari pihak sekolah, Zean memang menjadi memiliki ponsel pribadi. Dan Dean yakin, Zean sudah memakai ponsel itu melebihi batas yang sudah ditentukan.
“Apaan, sih, De? Kok kamu zalim banget, ke aku?” keluh Zean yang sampai merengut dan menatap sebal kakaknya.
Namun, Dean masih tidak percaya Zean benar-benar bisa dipercaya. Jadi, ia memutuskan untuk segera membahasnya dengan orang tuanya.
“Tapi, De ... aku tidur sama kamu, ya! Tapi kamu tidurnya di karpet juga. Kan kamu tahu, aku enggak bisa tidur di kasur!” pinta Zean sengaja memaksa.
“Enggak, ah! Ogah tidur di lantai! Bukannya tidur, nanti malah dikelonin setan!” balas Dean abai dan sengaja meninggalkan Zean.
“De ... jangan bikin aku tambah takut!” rengek Zean yang sampai menjerit histeris.
Zean yang sampai gemetaran, memilih untuk segera loncat ke punggung Dean. Ia mendekap leher Dean sangat erat tak ubahnya dengan mencekik.
“Ya ampun, Zean ... apa-apaan, ini? Lepas, Zean ... aku enggak bisa napas. Jangan sekencang ini kalau mau digendong!”
“Makanya, malam ini kamu tidur di lantai temenin aku. Tidur di karpet enak tahu, kayak tidur di alam bebas!”
“Ogah!”
“Dean!”
“Sudah sana kamu pakai pakai baju!”
“Enggak mau, aku takut!”
Zean benar-benar dengan keputusannya, dan tetap takut kendati Dean sudah meyakinkannya jika hantu tidak ada.
“Kalau pun hantu ada, seharusnya hantu yang takut sama kita bukan kita yang takut sama mereka.” Dean masih berusaha menenangkan Zean yang masih menempel di punggungnya.
“Enggak mau, ya enggak mau! Takut ada kakeknya Jinnan!” rengek Zean yang terdengar nyaris menangis.
“Kamu ini gimana, sih? Katanya ngefans sama Jinnan. Kok kakeknya meninggal bukannya kamu dukung buat hibur Jinnan, kamu malah mengharapkan kakek Jinnan menjadi hantu?” Dean berusaha menasehati Zean.
“Duh duh duh ....”
“Duh duh, kenapa?”
“Aku kebablasan pipis, De ... De, anterin aku ke kamar mandi, De. Ini sudah keluar ....”
“Ya ampun, Zean ... kamu beneran ngompol di punggung aku?!” Dean benar-benar dibuat gila atas kenyataan yang menimpanya. Zean sampai ngompol di punggungnya dan bahkan punggung hingga bawahnya terasa basah semua.
“Khilaf, De ... maaf!” rengek Zean sangat menyesal.
Dan Dean, tak kuasa meluapkan kekesalannya lantaran pada kenyataannya, Zean memang sangat ketakutan. Namun, jika kenyataannya Zean terus ketakutan, Dean tidak yakin bisa mengatasinya.
Bersambung ....
__ADS_1
Biar enggak mewek karena Author ngetiknya sampai nangis dan diledek suami, Author nyempilin Dean sama Zean 😂😂😂
Jujur, Author juga kalau sudah takut banget bisa sampai kebelet ngompol 😂😂😂🤣. Jadi, jangan hujat mahluk-mahluk seperti kami, ya. Penakut 😂😂😂