
“Siapa yang salah dan siapa yang benar? Jangan-jangan, Kainya dan Keinya mencintai pria yang sama? Jangan-jangan, Yuan justru mempermainkan putri kembarku?”
Bab 64 : Jebakan Untuk Kainya
****
Bila ada yang mengatakan cinta atau jatuh cinta bisa membuat orang kehilangan akal, mungkin itu yang sedang Ben rasakan atas cintanya kepada Keinya. Belum lagi, sejauh ini Ben belum pernah mendapat abaian apalagi penolakan dari wanita. Namun Keinya, apa yang wanita itu lakukan terkesan sangat dibuat-buat. Keinya terkesan sengaja mengelabuhinya, membuatnya penasaran dan seolah ingin semakin dikejar.
Ben tak mau menunggu dan membuang kesempatan lagi setelah wanita yang ia cintai, ada di hadapannya. Bahkan meski ada dua ajudan sangar yang menyertai Keinya.
Ben segera mengejar Keinya dan membawa paksa wanita itu agar mengikutinya. Mendapati itu, ke dua ajudan Keinya tak tinggal diam dan langsung mengejar, sesaat setelah salah satu di dari mereka yang mengendalikan ranjang belanjaan, menepikannya lebih dulu.
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!” Keinya yang sangat terkejut dengan ulah Ben, berusaha mengenyahkan tahanan pria itu yang bahkan berani-beraninya membopongnya. “Ya ampun, kamu benar-benar lancang! Turunkan aku!”
Apa yang Ben lakukan berhasil menarik perhatian orang-orang di sana. Yang Keinya bingungkan, kenapa ke dua ajudannya justru bergerak lambat sedangkan Keinya sudah dibawa menuju tempat parkir oleh Ben? Atau jangan-jangan, ke duanya justru kehilangan jejak? Jika kenyataan memang begitu, Keinya tidak mungkin berharap lagi. Dan Keinya harus bisa melarikan diri tanpa bantuan ajudannya!
“Ben, Ben. Baik, ... baik. Aku minta maaf. Tapi tolong turunkan aku dulu,” pinta Keinya mencoba mengelabuhi Ben.
Ben menghentikan langkahnya, menatap wanita cantik dalam gendongannya yang terlihat sangat syok bahkan sampai berkeringat. “Apakah akhirnya kamu menyerah? Aku bahkan bisa lebih gila dari sekarang, kalau kamu terus menolakku!”
Dalam diamnya, Keinya menegaskan, seberapa pun ia kesal pada pria tersebut, ia harus bisa mengelabuhinya. Bahkan meski ia juga harus pura-pura bersikap manis.
“Turunkan aku. Punggungku sedang bermasalah. Lagi pula, dengan caramu begini, orang-orang akan curiga kalau kamu berniat jahat kepadaku,” ucap Keinya yang sudah terengah-engah.
Ben tersenyum sarkastis menikmati wajah lelah Keinya yang baginya semakin menarik. Dengan keringat yang membasahi wajah beserta sekitar leher, wanita itu terlihat begitu seksi. Kemudian ia berangsur menurunkan Keinya dengan hati-hati. Seperti dugaannya, wanita itu langsung berusaha melarikan diri, tetapi ia segera menahan sebelah tangannya.
Tak mau kalah untuk ke dua kalinya, Keinya nekat menggigit tangan Ben yang menahannya, kuat-kuat hingga pria itu mengerang kesakitan dan melepaskannya. Setelah itu, tanpa pikir panjang Keinya langsung melarikan diri. Keinya memasuki area parkir dan berlari menelusuri lorong sekat jejeran mobil yang terparkir.
Suasana gelap dan cukup sepi membuat Keinya harap-harap cemas sambil terus memastikan Ben yang ternyata tetap mengejarnya. Dan ketika pria itu terlihat semakin dekat, Keinya memilih untuk bersembunyi di balik sedan yang terparkir di sana. Keinya yakin, tadi Ben sempat melihatnya. Jadi, dengan perasaan takut sekaligus cemas yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang, ia mengambil ponsel dari tas yang menghiasi pundaknya. Ia berniat menghubungi Yuan. Namun apa daya, baru juga akan menekan tombol telepon kontak Yuan, seseorang membekap mulutnya dari belakang, sedangkan tubuhnya juga turut didekap erat.
Awalnya, Keinya memang nyaris pingsan saking takutnya. Namun, menyadari aroma tubuh si pembekap berikut cara pembekap yang justru mendekapnya dengan sangat hangat, Keinya justru berpikir itu Yuan. Dan ketika Keinya memastikannya, dugaannya memang benar.
Keinya terisak-isak saking nelangsanya. Bagaimana tidak, di tengah usahanya melarikan diri dan sampai membuat jantungnya hampir copot saking takutnya, Yuan justru melakukan hal yang membuatnya semakin ketakutan.
Yuan berangsur melepas tangannya dari mulut berikut pinggang Keinya. Namun ketika wanita itu nyaris membuka mulut dan seolah akan berucap, ia buru-buru menekapkan jemari kanannya padamulut Keinya lagi.
“Siitt …!” bisik Yuan memberi Keinya kode untuk diam. Kemudian, melalui pandangan berikut gerak wajah, ia menuntun Keinya untuk menoleh ke samping kiri mereka. Ben sudah ada di sana, dan itu juga yang membuat Yuan menuntun Keinya untuk berdiri.
Yuan melangkah memutari mobil dan langsung diikuti Keinya. Mereka bersembunyi di mobil sebelah yang ukurannya jauh lebih besar.
Kehadiran Yuan benar-benar membuat Keinya merasa aman. Ia mengelap air matanya secara asal kemudian mendekap tubuh Yuan dengan sangat erat.
__ADS_1
Tubuh Keinya sampai gemetaran dan Yuan bisa merasakannya. Wanitanya teramat ketakutan. Mungkin karena pria yang mengejar begitu nekat. Bahkan, Yuan yang juga sangat mencintai Keinya tidak senekat itu. Namun, Ben yang kini berlari menuju lorong tempat parkir dan semakin jauh dari persembunyiannya dan Keinya, justru melakukan tindakan bodoh dan hanya membuat Keinya semakin takut bahkan benci.
“Kenapa ajudanmu enggak menolongku, malah justru kamu yang datang menolongku?” keluh Keinya.
“Sittt, maaf, maaf ... aku memang sengaja meminta mereka untuk enggak menolong kamu dan hanya mengamati dari kejauhan,” balas Yuan sambil menyeka air mata Keinya.
Keinya nyaris protes, bahkan ia akan memarahi Yuan yang justru melarang ajudannya menyelamatkannya, padahal ia hampir pingsan karena ketakutan. Keinya akan mengeluh begitu andai saja Yuan tidak menuntun wajahnya menggunakan kedua tangan untuk menoleh ke ujung kiri di depan mereka. Ben, pria itu menemukan Kainya. Tak beda ketika kepada Keinya, Ben yang mungkin mengira Kainya sebagai Keinya, menarik paksa Kainya mengikutinya.
“Lepas, woy! Kamu salah orang! Kalau kamu berani macam-macam, kupatahkan kedua tanganmu!” ancam Kainya, tapi Ben tidak peduli.
“Diam dan ikuti saja. Kita harus bicara!” Ben terus membawa Kainya dan memaksa wanita itu masuk ke mobil yang buru-buru Ben kendarai.
Setelah kepergian ke duanya, Keinya menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut. Kemudian ia menoleh ke belakang dan sampai menengadah untuk menatap Yuan.
“Sekali-kali, enggak ada salahnya kalau kita juga kasih Kainya masalah. Biar dia juga merasakan sakitnya dibikin susah. Setelah apa yang dia lakukan pada kita terlebih kamu,” ucap Yuan yang kemudian mencium kening Keinya sambil memejamkan matanya.
Keinya yang tersenyum bahkan nyaris tertawa atas ulah Yuan yang sengaja menjebak Kainya, juga turut memejamkan matanya di mana kedua tangannya berangsur mendekap pinggang Yuan.
“Tapi dari mana kamu tahu kalau Kainya ada di sini, Yu?” tanya Keinya kemudian.
“Dia datang ke kantor apartemen ini, dan kebetulan aku juga akan masuk ke kantor karena ada masalah yang harus aku selesaikan. Jadi, aku sengaja mengikutinya diam-diam, meski ketika ajudanku menelepon, aku langsung menyerahkan Kainya kepada salah satu dari mereka sedangkan yang satunya lagi aku tugaskan untuk mengawasimu.”
Keinya begitu tersentuh dengan gerak cepat Yuan. “Kamu benar-benar cocok jadi detektif, Yu.”
“Maaf, ya?” ucap Keinya tulus sambil menahan sebelah wajah Yuan. “Karena aku, kamu harus terluka sejauh ini.”
Yuan menggeleng kemudian mencium lengan tangan Keinya yang menahan wajahnya. “Kamu enggak salah, jangan minta maaf. Berdoa saja agar Kainya cepat sadar dan berhenti membuat banyak kebohongan.”
Keinya menghela napas pelan kemudian mengangguk. Sudah terlalu banyak kekacauan yang Kainya ciptakan. Sialnya, hingga detik ini ia belum mengerti awal mula kebencian yang meracuni Kainya dan itu karenanya. Namun, hal apa yang begitu melukai Kainya, sampai-sampai, kembarannya itu begitu membencinya?
“Sudah, ayo temani aku menemui klien. Aku mengatakan pada mereka kalau aku sudah punya istri dan anak karena mereka selalu mendesakku untuk menikahi putri mereka,” sergah Yuan yang kemudian merangkul dan menuntun Keinya untuk melangkah di depannya.
“S-sekarang?” ujar Keinya yang bingung dan memastikan.
“Iya. Kamu harus membuat mereka yakin!” balas Yuan bersemangat sambil memijat-mijat pundak hingga lengan Keinya.
“Dengan penampilanku yang seperti ini? Aku enggak pede, Yu. Biar aku ganti baju dan berias dulu.”
“Enggak perlu. Begini saja, kamu juga sudah sangat cantik. Kamu terlalu cantik, makanya pria tadi nekat bawa paksa kamu!”
Seperginya Yuan dan Keinya, pintu sedan bagian penumpang yang sempat Keinya gunakan untuk bersembunyi, berangsur terbuka. Di sana, Khatrin terdiam dengan pandangan kosong, tetapi air matanya tak hentinya berlinang.
__ADS_1
Khatrin mendengar semua perbincangan Keinya dan Yuan yang begitu jelas saling mencintai, tapi ke duanya seolah menyalahkan Kainya. Menurut ke duanya, Kainya telah membuat banyak masalah, selain Keinya yang juga sudah mengetahui perihal Khatrin. Namun jika dibandingkan dengan semua cerita Kainya, kenapa justru bertolak belakang?
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ada banyak drama yang tidak aku ketahui? Kenapa Yuan juga justru dengan Keinya dan mereka terlihat begitu saling mencintai? Lalu, bagaimana dengan Kainya? Bukankah Kainya juga sangat mencintai Yuan dan Yuan juga mencintai Kainya?” Khatrin benar-benar bingung. “Siapa yang salah dan siapa yang benar? Jangan-jangan, Kainya dan Keinya mencintai pria yang sama? Jangan-jangan, Yuan justru mempermainkan putri kembarku? Lantas, Pelangi anak siapa? Apakah Pelangi juga anak Yuan?”
Mengenai cerita-cerita Kainya yang selama ini meracuni, juga fakta tentang kedekatan Keinya dan Yuan, begitu membingungkan Khatrin. Khatrin harus percaya pada siapa? Selain itu, kenapa juga salah satu dari mereka harus berbohong? Baik Kainya maupun Keinya berikut Yuan, sama-sama bertutur dengan yakin. Namun salah satu dari mereka pasti ada yang berbohong. Khatrin yakin itu!
“Tuhan, tolong tunjukan kebenaran kepada hamba. Jangan sampai putri-putri hamba berada di jalan yang salah.”
***
“Sudah kukatakan, kamu salah orang. Aku Kainya, bukan Keinya meski kami memang kembar!” Kainya meledak-ledak dengan tutur kata yang terdengar sangat pedas.
Ben hanya menyeringai sambil menggeleng dan tetap fokus dengan kemudinya. “Mau sampai kapan kamu mengelabuhiku?”
“Kainya mendengkus emosi. Pria ini sebenarnya siapa? Kenapa dia begitu tertarik bahkan terobsesi kepada Keinya? Dan sialnya, kenapa dia justru menemukan bahkan menahanku?” umpat Kainya dalam hatinya.
Tak mau menyerah, Kainya segera membuka tas di pundaknya dan mencari-cari ponsel di sana. Sialnya, ketika ia mendapatkan dan mengeluarkan ponselnya, Ben justru langsung merebutnya dan menyimpannya di saku celana yang ben kenakan.
“Kembalikan ponselku!” tegas Kainya berusaha merebut ponselnya.
Ben menggeleng, memberi isyarat agar Kainya duduk dengan tenang melalui gerak tangan berikut wajahnya.
“Pria ini, … memang bagus kalau dia terobsesi pada Keinya. Namun, jika aku ditahan, bagaimana mungkin aku bisa menjalankan rencanaku?” raung Kainya dalam hatinya.
Ben menertawakan kecemasan Kainya yang diketahuinya Keinya. Ia pastikan tak akan tertipu lagi dan kehilangan wanita di sebelahnya. “Bahkan demi mengelabuhiku, kamu sampai mengubah penampilanmu dengan begitu cepat? Benar-benar luar biasa!” sebelah tangannya menjangkau punggung kepala Kainya. Ia mengelus kepala Kainya untuk beberapa saat, dikarenakan wanita itu buru-buru menghindar.
“Karena aku memang bukan Keinya! Aku ini Kainya kembaran sekaligus kakak Keinya!” tegas Kainya masih meledak-ledak.
Ben menanggapinya dengan menggeleng santai. Tanpa mengurangi konsentrasinya mengemudi, ia menatap Kainya. “Kalau kamu mengaku kembaran bahkan kakaknya, aku justru suami bahkan masa depanmu!”
Kainya terpejam pasrah sambil menyibak rambutnya ke belakang yang kemudian ia tahan hingga tak beda dengan menjambak.
“Sudah, jangan susah begitu. Bersamaku kamu bisa memiliki semuanya. Kamu minta satu, aku bisa memberimu ratusan. Asal masih masuk akal, aku pasti akan selalu memanjakanmu.”
“Tanpa kamu, aku juga bisa mendapatkan semua yang aku mau!” tegas Kainya. “Kecuali Yuan yang memang sangat sulit kudapatkan!” batinnya buru-buru mengoreksi. “Sebenarnya pria ini siapa? Apakah dia seseorang yang berpengaruh?” pikirnya.
Diam-diam, Kainya mengamati Ben.
“Sekarang juga aku akan mengenalkanmu ke orang tuaku, mumpung mereka sedang liburan di Jakarta,” ujar Ben yakin. Tentu, hal yang harus ia lakukan setelah mendapatkan wanita di sebelahnya agar tidak kabur lagi memang langsung mengikatnya.
Detik itu juga dunia Kainya seolah hancur. Kegelapan menyelimutinya di mana ia seolah kehilangan masa depan berikut deretan rencana mendapatkan Yuan, yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari. “Siapa pun, aku mohon tolong aku! Tolong lepaskan aku dari pria aneh ini!” Kainya mulai frustrasi. Ia menunduk pasrah dan nyaris menangis. Ben, pria di sebelahnya begitu pemaksa bahkan kejam.
__ADS_1
*****