Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 77 : Selangkah Lagi


__ADS_3

“Selangkah lagi, tolong percaya dan dukung aku! Kita menikah!”


Bab 77 : Selangkah Lagi


****


Sadar kehadirannya dan Gio menjadi fokus perhatian, Kainya segera mengenyahkan gandengan Gio. Kendati demikian, ketiga orang di hadapan mereka tetap menatap kebersamaan Kainya dan Gio penuh tanya.


Kainya sadar, kenyataan tersebut ia dapatkan lantaran sebelumnya, ia telah melakukan kesalahan yang berakibat fatal. Berbagai kekacauan silih berganti hadir akibat keegoisannya. Jadi, ketika ia mencoba berubah, tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Tentunya, tak semudah semua hal yang ia tuntutkan, dan pastinya tak mungkin bisa seindah yang ia harapkan.


“Dia tahu kalau aku Kainya,” ucap Kainya dengan hati yang bersedih. “Tapi dari dulu, sebenarnya aku juga sudah mengatakan kalau aku Kainya. Dia saja yang keras kepala!” tambahnya tanpa menatap siapa pun. Ia berangsur menunduk di tengah matanya yang kerap mengerjap.


Athan gelisah. Ia menatap Kainya dan Keinya silih berganti. “Lalu, yang selama ini bersamaku?” desaknya.


“Enggak usah dibahas. Lagi pula, semuanya hanya masa lalu!” tepis Yuan geram. Ia menatap Athan penuh peringatan. “Satu lagi, kamu dan Keinya sudah bercerai. Jadi tolong, jaga sikapmu. Karena seperti yang dulu pernah kukatakan, semenjak kamu memutuskan untuk melepas Keinya dan Pelangi, semua tentang Keinya berikut Pelangi, sudah langsung menjadi tanggung jawabku!”


Athan tak bisa menerima peringatan dari Yuan begitu saja. “Tapi sampai kapan pun, aku akan tetap menjadi ayah Pelangi! Aku ayah sah-nya Pelangi! Jadi kamu tidak berhak melarangku menemui apalagi melakukan kewajiban sekaligus hakku sebagai ayah kandungnya!”


“Mengenai kewajiban seorang ayah, memangnya kamu pernah melakukannya untuk Pelangi? Bukankah selama ini kamu sibuk sendiri? Sekarang, setelah Pelangi sudah bahagia, kamu justru bertingkah seolah-olah kamu ini korban?” Keinya menatap tak habis pikir Athan di antara kekecewaan yang membuncah. Mantan suaminya itu kembali sukses membuatnya geram.


“Aku tidak pernah mengatakan statusmu sebagai ayah Pelangi berubah, karena sampai kapan pun tidak ada yang namanya mantan anak. Tapi setelah perceraian kalian, tentu semuanya ada batasnya, apalagi status Keinya juga sudah berubah.” Yuan menatap Athan penuh pengertian dengan emosi yang beranjak redam.


“Sudah jangan terus-menerus mempersulit hidup orang. Lagi pula, dari dulu kamu juga enggak pernah peduli. Kenapa sekarang, setelah kamu kehilangan semuanya, kamu justru berusaha kembali merusak kebahagiaan yang sudah ada?” umpat Kainya geram.


Athan melirik sinis Kainya. “Aku mohon, yang enggak punya urusan enggak usah ikut campur. Di sini, aku hanya memperjuangkan hakku sebagai ayah Pelangi. Bahkan sampai sekarang aku juga belum bisa melihat apalagi bertemu dengan anakku!”


Athan terlihat sangat tertekan sekaligus depresi.


“Cukup, Than. Jangan memperburuk keadaan. Lebih baik kamu pergi. Berhentilah mengganggu kehidupanku dan orang-orangku!” sanggah Keinya. “Mengenai Pelangi, kamu enggak usah khawatir. Bahkan ketika aku enggak punya apa-apa, aku selalu berusaha kasih yang terbaik. Apalagi dengan semua yang aku miliki sekarang?”


Athan menghela napas lelah. “Suatu saat, bahkan cepat atau lambat, kamu pasti akan menyesal, Kei!”


Keinya mengangguk sambil menatap serius Athan. “Ya, aku memang menyesal. Menyesal kenapa aku pernah percaya bahkan memberimu kesempatan. Hanya itu, benar-benar tidak ada penyesalan lain!”


Keadaan sekarang membuat Keinya tertekan. Ia mencemaskan apa yang akan terjadi pada Pelangi jika mengetahui ayah kandungnya jauh dari kata baik. Athan yang egois, jahat bahkan tak tahu diri!


“Baiklah. Aku pegang kata-kata kalian. Kalau bisa secepatnya tolong aturkan waktu agar aku bisa bertemu Pelangi!” Sesaat setelah berkata demikian, Athan berlalu dengan perasaan tak menentu. Marah, nelangsa, sekaligus malu. Baginya, pertemuan kali ini membuat harga dirinya seolah diinjak-injak.


Keinya kerap mengerjap, menghalau rasa pusing  seiring pandangannya yang menjadi gelap. Menyadari itu, Yuan merengkuh tubuh Keinya kemudian menuntunnya untuk duduk.


“Lebih baik kalian pulang. Urusan Rara biar aku yang urus. Lagi pula, Pelangi juga enggak bisa ditinggal lama-lama, kan?” ujar Kainya.


Keinya menatap cemas Kainya. Apakah kembarannya itu benar-benar sudah berubah dan bisa dipercaya? Ini menyangkut Rara yang selalu peduli sekaligus berusaha memberikan yang terbaik kepadanya. Jadi tidak mungkin Kainya lepas tangan begitu saja, sedangkan Rara tidak punya siapa-siapa selain dirinya. 


Bahkan meski pada kenyataannya, Rara memang masih memiliki ibu kandung. Nyatanya, hingga detik ini wanita itu tidak muncul. Kalaupun mama kandung Rara memiliki alasan, dengan latar belakangnya yang notabene orang kaya, harusnya meski tidak bisa memberikan perhatian langsung, mama Rara bisa mengutus orang lain untuk melakukannya, kan?


“Baiklah. Kami titip Rara sebentar,” tukas Yuan mengambil keputusan.


Keinya menengadah, menatap Yuan tak percaya.


Mendapati itu, Yuan balas menatap Keinya, meyakinkan wanitanya melalui tatapan sekaligus gerak wajah yang ia lakukan diakhiri dengan mengangguk.


Karena selama ini Yuan selalu mengambil keputusan dengan alasan kuat, kali ini Keinya juga percaya dan menuruti keputusan Yuan. Namun sebelum mereka pergi, Keinya menyempatkan waktu untuk menengok Rara.


Di dalam ruang rawatnya, Rara masih terpejam. Keinya mendekap Rara dengan hati-hati sambil berlinang air mata.


“Cepat sembuh, Ra. Bagaimana bisa kamu melindungi aku, kalau kamu justru sakit begini?” bisik Keinya.


Ketika mereka keluar, mereka nyaris bertubrukan dengan Kimo yang kebetulan akan menerobos masuk.


“Kamu sudah mendingan?” sapa Keinya.


Kimo menatap Keinya kemudian mengangguk.


“Dengan penampilanmu yang seperti ini, kamu mau menemui Rara?” tahan Yuan menatap prihatin Kimo. 


Kemeja kaku nyaris menyerupai keripik akibat darah yang mengering lengkap dengan aroma anyir yang begitu menusuk, menjadi penampilan mencolok Kimo. Di mana, teguran Yuan membuat Kimo menyadari, penampilannya sangat kacau bahkan jauh dari kata layak.


“Mandi dan ganti pakaian dulu,” ujar Keinya yang sampai menahan napas lantaran tak tahan dengan bau anyir dari Kimo.

__ADS_1


Kimo terdiam dengan tatapan yang berangsur menatap kedua sejoli di hadapannya dengan pandangan depresi.


***


Yang membuat Rara bersedih, tak lain ketika di awal ia membuka mata dengan tubuh yang terasa kebas tak berdaya, justru tidak disertai Keinya apalagi Kimo. Awal ia membuka mata disambut oleh Gio berikut wanita yang buru-buru memperkenalkan diri sebagai Kainya.


“Ya, aku tahu. Karena aku pernah melihatmu,” balas Rara yang masih belum bisa berbicara dengan suara normal. Suaranya masih terdengar sengau.


Kainya mengulas senyum. “Kamu mau minum?” tawarnya.


Rara langsung mengangguk sambil mengulas senyum.


Setelah Kainya membantu Rara minum melalui segelas air putih dilengkapi sedotan, Gio berkata, “kembalilah istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri.”


Rara kembali mengangguk. “Kalau boleh tahu, ini jam berapa?”


Gio memastikan waktu di arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. “Sembilan malam.”


“Tadi, Keinya dan Yuan juga sempat menunggu lama. Tapi aku meminta mereka pulang karena takut Pelangi rewel,” ucap Kainya sengaja menambahi.


Fokus Rara refleks teralih pada Kainya. “Makasih, Kai,” ucapnya sambil mengulas senyum.


Rara berharap, ke dua orang di hadapannya juga akan mengatakan jika Kimo sempat terjaga untuknya. Namun, Kimo sama sekali tidak dibahas. 


Anehnya, kenapa Rara begitu mengharapkan kabar Kimo, padahal jelas-jelas Rara telah menolak lamarannya? Memikirkan itu, Rara refleks menatap jari manis kanannya. Di sana, cincin lamaran dari Kimo masih tersemat. Cincin emas tersebut teramat berkilau, membuat Rara semakin mengharapkan kehadiran pemberinya. Terlebih Rara yakin, ketika Rara sekarat, Kimo tak hentinya menangis. Namun kenapa pria itu tidak terjaga untuknya seperti kebersamaan sebelumnya ketika tifus Rara kambuh, juga ketika Rara begitu terluka akibat ulah kasar Gio?


Mendapati kesedihan Rara, Kainya dan Gio yang duduk bersebelahan di sofa panjang sebelah ranjang rawat Rara, menjadi saling tatap.


“Kamu nunggu Kimo?” tanya Kainya mencoba menebak.


“Heum ...?” Rara terkesiap tapi memilih mengulas senyum.


Belum lama dibahas, yang bersangkutan tiba-tiba masuk dengan tampilan yang begitu berbeda. Sontak, Kimo yang telah memangkas rapi rambutnya langsung membuat ke tiga orang di ruang tersebut khususnya Rara, pangling. Kimo sendiri yang menjadi fokus perhatian juga menjadi salah tingkah.


“Aku hanya memotong rambutku, dan penampilanku sebelumnya juga enggak buruk. Jadi tolong, lihatnya biasa saja!” cibir Kimo sembari meletakkan kantong kain berukuran besar yang ia bawa, di lantai bibir ranjang Rara.


“Sebaiknya kita pulang,” bisik Kainya sesaat setelah menyikut Gio yang menunduk dan sibuk dengan sendiri dengan ponsel pria itu.


Gio kebingungan. Ia menatap Kainya, dan wanita itu memberinya kode gerakan wajah agar melihat apa yang terjadi pada Kimo dan Rara. Rara dan Kimo terlihat sangat romantis dan tak hentinya bertutur lirih sarat perhatian. 


“Kalau begitu, kami pulang dulu.” Gio beranjak dari duduknya tanpa menyimpan ponselnya.


Kainya juga segera bangun dari duduknya sambil menatap ke arah Rara.


Kimo yang beranjak bangun, menyambut Gio berikut Kainya dengan senyum hangat. “Terima kasih banyak, sudah membantuku menjaga Rara.”


Kainya dan Gio kompak mengangguk. Bedanya, ketika Gio terlihat serius, Kainya terus tersenyum canggung.


“Jaga dia baik-baik,” ucap Gio sambil melirik cemas Rara. “Aku pulang dulu,” pamitnya pada Rara yang langsung mengangguk.


“Hati-hati. Terima kasih, ya, maaf aku sudah merepotkan.” Ada kebahagiaan yang memenuhi dada Rara dan bahkan seolah membuncah. Suasana sekarang, bersama Kimo, ia merasa begitu damai. Sedangkan melihat kebersamaan Gio dan Kainya, rasanya ada lingkaran kebahagiaan yang mengelilingi ke duanya.


“Lain kali jangan merepotkan lagi!” balas Gio yang justru mengomel kepada Rara.


Rara tersipu, sedangkan Kimo mengantar Gio dan Kainya hingga ambang pintu.


****


“Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Kimo yang kembali bersimpuh. Ke dua tangannya kembali bertumpu di tepi kasur Rara, persis di hadapan wajah wanitanya.


Rara terdiam tegang, menepis tatapan Kimo.


“Semua yang kamu katakan setelah kita keluar dari mal, enggak benar, kan?”


“Menurutmu?” balas Rara sambil menatap Kimo dengan mata yang bergetar dan terasa panas sekaligus berembun.


Kimo mendengkus. “Aku enggak percaya. Kamu pasti sengaja membohongiku karena suatu hal.” Ia menatap Rara dengan pandangan yang dipenuhi rasa kecewa. “Jangan mengatakan kebohongan seperti itu lagi, karena aku enggak akan pernah percaya!” tegurnya mengomel.


“Sampai kapan? Apakah selamanya, kamu akan seperti ini? Kamu benar-benar akan selalu percaya kepadaku?” sergah Rara sengaja menuntut kepastian.

__ADS_1


Kimo langsung mengangguk tegas.


“Lalu, bagaimana dengan orang tua dan keluargamu? Orang tuaku? Kamu juga tahu kalau ibuku ternyata masih hidup?” Rara masih menatap Kimo penuh kepastian. “Inilah alasanku.” Rara menghela napas sambil terpejam. “Aku malu sama kamu. Aku merasa hina karena status ibuku dan ini sangat membuatku tertekan!”


“Memangnya aku pernah mintamu memiliki keluarga sempurna? Nggak! Keseriusanku ke kamu enggak berkurang sedikit pun, walau aku tahu masa lalumu! Bahkan dengan kejadian ini, aku justru takut, aku enggak bisa membahagiakan kamu, padahal aku sibuk meyakinkanmu, bahwa aku mencintaimu!”


“Sepanjang hari ini setelah insiden ini menimpamu, aku terus berpikir, aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku, kenapa aku bisa kecolongan dan—” Kimo berderai air mata. “Maaf ... aku memang jauh dari sempurna dan bahkan sampai saat ini belum bisa kasih yang lebih baik buat kamu walau aku sudah berusaha. Tapi aku akan lebih berusaha menjadi yang lebih baik lagi. Janji. Aku beneran janji, Flora.” Kimo mengemis tak ubahnya bocah yang tengah merengek.


“Mengenai orang tua atau itu masa lalu, aku yakin kita bisa menyelesaikannya. Kamu jangan pesimis dong. Kamu cukup percaya dan tolong dukung aku!” Kimo kian tersedu-sedu.


Rara yang menunduk tak hentinya berlinang air mata. Bahagia dan luka ia rasakan, mengaduk-aduk perasaannya detik itu juga. Di mana, ketika Kimo menahan kedua tangannya, ia berangsur menatap pria itu.


“Selangkah lagi, tolong percaya dan dukung aku! Kita menikah!” pinta Kimo memohon.


Rara segera mengangguk.


“Satu lagi,” tahan Kimo.


Rara langsung menatap Kimo dengan penasaran.


“Kamu belum pernah bilang, kamu juga mencintaiku,” pintanya.


Rara sukses dibuat gugup dengan permintaan Kimo.


“Kamu bilang, aku egois dan selalu memaksakan kehendakku?” tagih Kimo.


“Kamu bilang, kamu enggak butuh pengakuanku?” elak Rara mencoba membela diri.


Ekspresi Kimo menjadi kaku. “Flora, aku hitung sampai tiga. Kalau tidak, posisimu terancam!” ancamnya.


“K-kimo ...?”


“Ayo, kamu bilang, kamu ini penulis cerita romantis? Masa bilang kalau kamu mencintaiku saja enggak sanggup!” omel Kimo.


Rara benar-benar gugup. Karena walau ia bisa menciptakan banyak kisah romantis, tetapi bila harus sejenis mengucapkannya secara langsung, itu merupakan salah satu hal tersulit dalam hidupnya.


“Satu ... satu setengah ....” Kimo terus menghitung sambil melirik kesal Rara.


“Aku mencintaimu ...,” batin Rara pasrah dan sangat sulit mengatakannya.


“Dua, setengah ...!” Kimo yang sudah sampai bersedekap sengaja menaikkan volume suaranya lantaran Rara tak kunjung mengabulkan permintaannya. Ia melirik sebal lawan bicaranya.


“I-ya!” sergah Rara dengan sebelah tangannya yang menahan sebelah tangan Kimo.


“Iya, apa?” tuntut Kimo. “Kimo, aku kan masih sakit,” balas Rara memelas.


“Sakit bagaimana? Ngomong kayak gitu saja susah?” rengek Kimo yang sampai ingin menangis lantaran Rara tak kunjung memberi pengakuan cinta terhadapnya.


“Kimo,” ucap Rara. Tatapannya menjadi dipenuhi keseriusan, sedangkan sebelah tangannya yang masih terasa lemah juga membingkai wajah Kimo.


Kimo yang seolah tersihir dengan tatapan Rara, berangsur menahan tangan Rara yang membingkai wajahnya, menggunakan sebelah tangan. “Iya. Katakanlah,” ucapnya lirih sekaligus tak sabar.


“Kamu, … kamu adalah alasan utamaku ingin tetap hidup, selain Keinya. Kamu alasanku bertahan, bahkan aku janji ke Tuhan, … aku akan selalu bersamamu, dan hanya akan menyerah, jika kamu yang meninggalkanku,” ucap Rara lirih dan mendapat senyum tak berdosa dari Kimo di tengah ke dua mata pria itu yang menjadi berkaca-kaca.


“Boleh cium?” pinta Kimo masih dengan suara lirih.


Rara langsung merengut dan menggeleng lemah. “Jangan dikit-dikit cium, kenapa?” 


“Bentar!” rengek Kimo masih memohon.


Rara berangsur mengakhiri tangahan tangannya pada sebelah wajah Kimo. Ia mengangsurkannya pada Kimo.


“Cium tangan?” ucap Kimo memastikan sekaligus tak percaya.


Rara langsung mengangguk membenarkan.


“Masa iya cium tanga, kesannya aku ini pengantin sunat!” keluh Kimo yang langsung ngambek, menepis tatapan Rara, sedangkan Rara justru menjadi sibuk menahan tawa.


*****

__ADS_1


__ADS_2