
“Jangan cemburu. Cemburu itu tanda tak mampu. Sedangkan kamu punya semuanya termasuk cintaku.”
Bab 55 : Kimo, dan Rahasia Gio
****
Keinya gelisah. Ia terjaga dan masih menunggu kabar dari Rara.
Siang tadi, sebelum kepergian Rara, sahabatnya itu begitu menggebu untuk menagih kejelasan sekaligus tanggung jawab Gio sebagai seorang pria. Tentu hal tersebut Keinya sambut dengan baik, terlepas dari Keinya yang sangat mendukung keputusan Rara untuk bangkit, meski kesedihan dan luka jelas masih membuat Rara menjalani semuanya dengan berpura-pura bahagia.
Akan tetapi, kini, tiba-tiba saja rasa bersalah justru mencekam Keinya lantaran Rara tak kunjung menghubunginya, di tengah waktu yang nyaris menyentuh pergantian hari.
“Tidur dan istirahatlah. Biar aku saja yang menunggu Rara. Orang-orangku pasti akan segera menemukannya,” bujuk Yuan untuk ke sekian kalinya.
Awalnya, Yuan juga mendukung keputusan Rara, ketika Keinya menceritakannya kepadanya. Namun setelah dua jam lalu Keinya menghubunginya dan mengabari Rara belum juga kembali bahkan untuk sekadar memberikan kabar, Yuan juga langsung tidak tenang.
“Ponsel Rara sudah enggak aktif, Yu,” ucap Keinya terdengar frustrasi.
Keinya menatap Yuan penuh kesedihan. Tubuhnya yang menjadi terasa begitu lemas, terduduk di ujung sofa keberadaan Yuan, menepis tatapan khawatir pria itu yang ia yakini hanya pura-pura tenang.
Rara, sahabat baiknya yang selalu periang dalam keadaan apa pun, memang dengan mudah disukai banyak orang. Jangankan Yuan dan keluarganya, Ryunana saja tidak pernah bisa benar-benar marah kepada Rara, meski terkadang bahkan sering kali, Rara akan mengerjai Ryunana habis-habisan. Satu lagi yang cukup membuat Keinya tak percaya, Kimo ... pria dingin yang masih trauma diselingkuhi itu, pria yang juga sangat dicintai Yura, terpikat kepada Rara karena keceriaan sekaligus kepolosan Rara. Di mana, Yuan sampai mengadopsi Rara menjadi adik.
Yuan menghela napas pelan. Di tengah remang suasana ruang bersantai keberadaan mereka, ia mendapati Keinya sampai menitikkan air mata. Yuan bangkit dan melangkah hati-hati mendekati Keinya.
Langkah Yuan yang terdengar tertatih akibat tripod yang digunakan, berhasil mengusik Keinya. Keinya menatap cemas Yuan. Pria itu masih harus istirahat, tetapi Keinya justru kembali menyusahkannya.
“Yu, jangan banyak gerak,” pinta Keinya yang berangsur bangkit membantu Yuan, setelah terlebih dahulu meletakan ponselnya di meja hadapannya.
Yuan mengerang. Tangan kirinya merangkul dan memang berpegangan pada punggung Keinya. Yuam duduk dengan hati-hati sesuai tuntunan wanitanya.
“Kakiku pasti akan sembuh lebih cepat. Dokter saja tak percaya melihat kaki kananku sudah bisa menapak sempurna.” Yuan sengaja meyakinkan Keinya agar beban pikiran wanitanya tidak semakin menumpuk. Ia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Keinya karena apa pun yang menimpa Keinya juga berdampak ke Pelangi.
Keinya terdiam. Kedua tangannya berada di atas pangkuan sedangkan pandangannya kosong ke depan selaku keberadaan ponselnya.
“Itu ada pesan WA yang belum dibaca? Itu bukan dari Rara?” ujar Yuan yang melihat ada pemberitahuan mengenai pesan WhatsApp yang belum dibaca, di menu paling atas di layar ponsel Keinya.
Keinya mendengkus tak bersemangat sambil menggeleng. “Itu pesan dari Athan.”
Mendengar nama Athan disebut bahkan itu oleh Keinya, tiba-tiba saja hati Yuan terasa sakit. “Mungkin Athan kangen Pelangi?” Tentu Yuan mengatakan itu hanya untuk basa-basi. “Kalau untuk itu sih oke oke saja, asal enggak ganggu apa lagi kangen mamanya.” Nyatanya, ia tidak bisa berpura-pura kalau sudah menyangkut Keinya apalagi Athan yang jelas-jelas mantan suami Keinya.
Keinya menghela napas pelan kemudian merangkul dan menyandarkan tubuh berikut wajahnya di dada Yuan. Keinya sama sekali tidak memikirkan hal lain selain mengenai Rara.
“Boleh aku membaca pesan dari Athan?” pinta Yuan hati-hati.
Keinya mengangguk tanpa mengubah keadaannya. Kedua matanya berangsur terpejam seiring rasa nyaman yang ia dapatkan dari mendekap dan bersandar pada Yuan. “Itu pesan sudah dari siang tadi. Tapi aku malas bacanya.”
“Kalau malas, kenapa enggak dihapus? Atau kalau tidak, alihkan semua aktivitas dari nomor Athan ke nomorku.” Dan kali ini, sebenarnya Yuan sengaja mengamankan Keinya dari Athan.
“Jangan cemburu. Cemburu itu tanda tak mampu. Sedangkan kamu punya semuanya termasuk cintaku. Enggak lucu kalau sama Athan saja kamu jadi serapuh itu.”
Setelah berkata seperti itu, Keinya nyaris menarik wajahnya dari dada Yuan, termasuk mengakhiri dekapannya, tapi Yuan buru-buru menahan kepala Keinya untuk tetap menyandar di sana.
“Cemburu itu wujud dari rasa memiliki. Dan cemburuku ke kamu, karena aku mencintaimu tanpa mau kehilangan atau sekadar berbagi. Memangnya kamu rela, milik kamu diambil orang lain? Memangnya, kamu rela, kalau aku dekat sama wanita lain?”
Tanpa menjawab, Keinya yang telanjur kesal, memilih mencubit perut Yuan dengan sangat keras hingga pria itu mengerang kesakitan.
__ADS_1
“Ampun, Kei!” ujar Yuan kalah telak. Akhirnya ia bisa mencairkan suasana agar tidak semakin panas atas menghilangnya Rara. Namun ketika ia membaca pesan dari Athan yang justru mengabari tentang Rara, ia pun menjadi terjaga.
[Athan : Kei, Rara sudah balik? Tadi aku lihat dia di taman enggak jauh dari indekos Gio. Sepertinya Rara sedang kurang sehat, apalagi tadi dia juga sampai pingsan. Aku sudah coba menolong, tapi tadi ada pria gondrong pakai mobil sport warna merah, tiba-tiba datang dan sampai menonjok aku, sebelum bawa Rara pergi.]
Setelah membaca pesan dari Athan, otak Yuan langsung tertuju pada satu orang; Kimo. Pria gondrong yang memakai mobil sport warna merah dan sampai menonjok Athan—siapa lagi kalau bukan Kimo? Dan mengenai Kimo sampai menonjok Athan, tak lain karena sahabatnya itu telanjur mencintai Rara, sedangkan sebelumnya Kimo sempat diselingkuhi dan itu membuat Kimo trauma.
Yuan segera meraih ponselnya yang tersimpan di saku sisi piama yang ia kenakan. Ia mengirim pesan pada Kimo tanpa memberitahu Keinya.
[Yuan : Rara sama kamu?]
Pesan WhatsApp yang Yuan kirimkan kepada Kimo langsung dibaca dan mendapat balasan. Sebuah foto Rara yang masih terpejam terpampang dengan keterangan; biarkan aku mengurusnya.
Yang Yuan bingungkan, kenapa Rara sampai pingsan dan harus dirawat inap?
“Kei. Lebih baik kamu tidur. Rara aman. Dia sedang bersama Kimo.”
Keinya yang nyaris terlelap berangsur menarik diri dari Yuan. Ia cukup terkejut, lantaran Yuan bilang, Rara sedang bersama Kimo. Keinya tidak salah dengar, kan?
“Tapi kenapa Rara sama Kimo?” tuntut Keinya merasa ganjil. “Biarkan aku berbicara dengan Kimo,” sergahnya kemudian tanpa menunggu balasan Yuan.
“Ayolah, Kei. Kamu enggak percaya sama aku?” Yuan menatap Keinya penuh keyakinan.
“T-tapi kenapa mereka masih berdua selarut ini?”
“Jangan tanyakan itu pada mereka, karena mereka pasti akan menanyakan hal serupa kepada kita.”
Balasan dari Yuan yang begitu sarat pengertian, membuat Keinya seperti dipaksa untuk bercermin. Ia dan Yuan masih bersama meski sudah larut malam. Namun mengenai Yuan, ia percaya Yuan bisa dipercaya. Sedangkan Kimo ... apakah pria itu juga bisa dipercaya? Belum lagi, sejauh ini Kimo dan Rara kerap cekcok?
Aman, kah? Tampang Kimo saja tidak menjamin.
****
Kimo, sosok tunggal yang memenuhi pandangan Rara selain perawat dan dokter, selama tiga hari Rara dirawat. Tak ada Keinya atau pun Yuan. Benar-benar hanya mereka berdua. Di mana selama itu juga, Kimo menjaga Rara sambil bekerja.
Ternyata bukan hanya penampilan Kimo saja yang menjadi bergaya kantoran. Karena pada kenyataannya, Kimo memang sudah bekerja dan sepertinya ‘terikat’ oleh sebuah pekerjaan penting. Karena selain sibuk berkerja, terkadang Kimo juga sampai melalukan telepon video. Baik melalui ponsel, atau malah latop, di mana Rara kerap mendapati Kimo, seolah-olah, pria itu tengah memimpin rapat. Sebuah kenyataan yang kontras dari gaya Kimo selama Rara mengenal pria itu.
Ketika Rara bosan berbaring, bosan duduk atau melakukan aktivitas lain termasuk ke toilet, Kimo selalu siaga membantunya. Bahkan meski Rara berulang kali mengatakan tidak membutuhkan bantuan karena bisa melakukannya sendiri. Kimo selalu ada untuknya termasuk menyuapi, memastikannya makan dengan baik. Belum lagi, karena tifus Rara juga kambuh dan membuat Kimo mengetahui Rara sudah langganan penyakit yang bermula dari gaya hidup tak sehat, Kimo semakin disiplin memantau pola makan sekaligus istirahat Rara. Bahkan agar Rara benar-benar fokus istirahat, Kimo sampai menyita ponsel Rara.
“Pria itu, meski terkesan dingin bahkan kasar, sebenarnya hatinya sangat hangat.” Rara masih memikirkan Kimo. Tiga hari bersama dan dirawat pria itu, Rara jadi terbiasa. Bahkan meski terkadang mereka juga akan berebut remote televisi sambil berbagi camilan, hingga terjadi keributan apalagi kalau kebetulan Kimo sedang asyik menonton acara berita, sedangkan Rara bosan kalau terus mengisi otaknya dengan hal-hal serius. Namun dari semua kebersamaan, hal yang akan terus melekat di ingatan Rara adalah ketika Kimo meminta dibacakan dongeng sebelum tidur, dengan dalih mengetes status Rara yang katanya seorang penulis, selain ketika pria itu siaga menutupi bagian atas lutut Rara menggunakan kain ketika pria itu mengurus luka di kedua lutut Rara.
Kimo begitu menjaga Rara, tak beda dengan awal Gio menjalin hubungan dengan Rara. Gio yang begitu peduli dengan penampilan Rara, tak rela jika bagian tubuh Rara dibiarkan terbuka.
“Kirim semua keperluan pernikahan itu ke rumahnya,” ucap Kimo yang kemudian membentangkan jasnya untuk menutupi paha Rara. Hal yang sudah menjadi kebiasaannya ketika mengompres luka di lutut Rara.
“Rumah?” Rara menatap Kimo penuh kepastian. Memangnya Gio punya rumah? Bukankah Gio sebatang kara dan tinggal di indekos? Apa Kimo sengaja menghina Gio?
Kimo menghentikan kesibukannya dan menatap Rara. “Kenapa?”
“Bukankah ...?”
“Jangan bilang kamu juga nggak tahu, kalau dia berasal dari keluarga kaya dan dia juga punya rumah megah?”
“Hah ...?” Rara merasa mendadak menjadi orang paling bodoh. Selama lima tahun bersama Gio, yang ia dan orang-orang tahu, Gio hidup sebatang kara dan tinggal di indekos. Tapi kata Kimo, Gio berasal dari keluarga kaya raya bahkan memiliki rumah megah?
“Apakah Gio juga masih punya orang tua?” tanya Rara beberapa menit kemudian. Ia benar-benar ingin mengetahui semuanya tentang Gio.
__ADS_1
Kimo menggeleng tak habis pikir, menertawakan Rara yang ia yakini benar-benar tidak mengetahui semua tentang Gio.
“Itu kenapa, ketika awal aku mengantarmu ke indekosnya, aku cukup terkejut. Seorang Gio tinggal di indekos?” Kimo tersenyum sarkastis. Merasa sangat r4 iya, Yuan tidak tahu juga mengenai hal ini? Tapi tunggu dulu ... bila Yuan tidak tahu, mana mungkin sahabatnya itu mempertemukannya dengan Rara? Tapi syukurlah. Kalau enggak ada Gio, aku juga enggak mungkin kenal Rara!” batin Kimo.
“Kimo, bisa tolong antar aku ke rumahnya? Demi Tuhan, aku enggak akan macam-macam apalagi sampai berpikir kembali ke Gio.” Rasanya ada yang terus mengganjal, jika Rara belum bertemu orang tua Gio.
“Dan kenapa juga kamu harus ke rumah Gio? Kamu mau menemui orang tuanya?” Kimo menatap Rara penuh kepastian. Tatapan tajam yang selalu menyudutkan Rara.
Rara benci tatapan itu, karena dari tatapan Kimo seperti yang sekarang, sama sekali tidak disertai rasa percaya kepada Rara. Bukankah pria itu mencintainya? Kenapa harus menatapnya seperti itu?
“Aku hanya ingin tahu. Bayangkan saja. Lima tahun bersama, dan kami akan menikah, sedangkan dia sengaja menelantarkan semuanya. Ini aneh, Kimo. Sangat aneh. Aku enggak bisa menerima alasannya begitu saja! Memangnya, kalau kamu jadi aku, kamu bisa menerima alasannya begitu saja?” ucap Rara.
Kimo menyisihkan handuk kompresnya dan semakin menatap saksama, menyimak cerita Rara. “Memangnya, alasan Gio melakukan semuanya apa? Apa yang sudah dia katakan kepadamu?”
Rara menunduk sedih. “Bukan. Tidak. M-maksudku, benar-benar bukan alasan yang masuk akal dan memang enggak penting.”
Sampai kapan pun, Rara tidak bisa menerima alasan yang menyudutkan Keinya sebagai ajang untuk menyakitinya. Apa pun itu, termasuk dalam urusan cinta. Rara akan lebih percaya Keinya ketimbang orang lain. Walau Rara hanya dipandang sebelah mata, bahkan hanya bayang-bayang Keinya. Rara tidak peduli. Rara telanjur kehabisan kepercayaan diri, merasa buruk dalam segala hal.
Kesedihan yang menyelimuti Rara membuat Kimo muak. “Baiklah. Sudah jangan sesedih itu. Besok kita ke rumah Gio. Puas?!”
“S-serius?!” Rara begitu girang dan sampai antusias, refleks mencengkeram kedua tangan Kimo.
Kimo mendengkus judes. “Kau menggenggam tanganku hanya karena orang lain?!”
Rara tak menghiraukan keluhan Kimo. Yang jelas, persetujuan yang baru saja pria itu janjikan sudah sangat membuatnya bahagia. “Kimo, bagaimana kalau sekarang saja? Aku rasa kakiku sudah sembuh.”
Kimo terpejam dengan rahang yang mengeras. Dengan cara Rara semakin merengek dan itu untuk orang lain bahkan Gio yang jelas-jelas sudah sangat melukai, jahat kepada Rara, yang ada Kimo justru semakin emosi. Itu juga yang membuat Kimo menutupkan handuk bekasnya mengompres lutut Rara, ke wajah Rara sebelum berlalu meninggalkannya.
“K-kimo ...?!”
****
“Kita pakai mobil?” tanya Rara merasa tidak yakin ketika Kimo yang memintanya menunggu di depan pintu masuk rumah sakit, justru mengendarai mobil.
Rara masih jongkok, menatap tak yakin Kimo yang duduk di balik kemudi sebuah mobil sport berwarna merah, dari kaca jendela pintu yang diturunkan otomatis oleh Kimo dari dalam.
“Kamu bilang gara-gara aku bonceng pakai motor, kamu jadi sering masuk angin? Cepat masuk,” sergah Kimo.
Rara mendengkus sebal. “Tapi aku enggak minta pakai mobil, kan?”
“Sudah jangan banyak protes. Hati-hati,” sergah Kimo yang bergegas turun membantu Rara.
“Sudah enggak usah bantu, aku bisa,” tolak Rara layaknya biasa.
“Masalahnya ini mobil keluaran baru, Ra. Nanti kalau lecet bagaimana?” kilah Kimo.
Rara yang sudah hampir duduk setelah pintu dibuka otomatis oleh Kimo sebelum pria itu mendekatinya, menjadi tersulut emosi. Namun tiba-tiba saja Kimo tergelak, kemudian membopongnya dan mendudukkannya paksa disusul memasang sabuk pengaman, sebelum pria itu berlalu dan kembali duduk di balik kemudi. Kenyataan tersebut pula yang membuat Rara semakin marah dan sepanjang perjalanan terus memunggungi Kimo.
Kendati Kimo tak pernah absen membuatnya kesal, pria itu benar-benar selalu menepati janji yang diberikan. Seperti kali ini, Kimo mengantar Rara ke sebuah rumah megah di kawasan perumahan elite yang masih berada di kawasan Jakarta pusat. Rara saja sampai tidak percaya dan enggan turun.
“S-serius, ini, ... rumah ... Gio?” tanya Rara memastikan sambil menatap gerbang rumah yang menjulang tinggi sekitar lima meter, sedangkan rumah Gio yang dimaksud begitu luas sekaligus tinggi. Paling megah dan mewah dari semua rumah elite di sana.
Kimo menanggapi reaksi Rara dengan santai. “Rumah kita juga enggak kalah gede, Ra. Bahkan aku membangunnya pakai uangku sendiri. Kalau ini kan rumah orang tua Gio!”
Rara tak peduli dengan alasan yang Kimo berikan. Karena dengan adanya semua kemegahan dalam hidup Gio yang lima tahun berpura-pura menjadi orang lain dan dengan lancang memasuki kehidupan Rara, pria itu pasti memiliki tujuan yang begitu penting. Belum lagi, Rara juga masih ingat, ketika ia menampar Gio dan memutuskan pria itu awal ia mengenal Kimo, Gio sampai menitikkan air mata. Saat itu Gio terlihat sangat terluka.
__ADS_1
Jika memang Gio tidak mencintainya, kenapa ketika Rara memutuskannya, pria itu menitikkan air mata dan terlihat begitu terluka?
****