
“Rara pendarahan. Dia sendirian tidak ada yang mengurus. Benar-benar terlantar!”
Bab 56 : Kimo, ke Mana?
Awalnya, Keinya baik-baik saja. Ia tetap dengan keputusannya--menjadi wanita tangguh tanpa merepotkan Yuan lagi dan menghadapi kasus Rara sendiri. Terlebih semenjak menikah, ia sudah terlalu bergantung pada suaminya. Selain itu, Pelangi juga sudah kembali ceria, tak hentinya berjalan ke sana-kemari sampai-sampai, Keinya yang mengikuti menjadi kewalahan sendiri.
Namun ketika tiba-tiba pintu IGD keberadaan Rara dibuka dari dalam, berikut Rara yang diboyong keluar, hati Keinya menjadi berdesir. Keinya mendadak tidak baik-baik saja. Ia dilanda ketegangan bahkan ketakutan yang tak berkesudahan.
“Rara baik-baik saja, kan? Kenapa mereka setegang itu? Kenapa Rara dibawa keluar? Mau dibawa ke mana?” Keinya yang awalnya berada di pertigaan lorong keberadaan IGD, persis menjadi tujuan kepergian perawat berikut dokter yang memboyong Rara, langsung menggendong Pelangi.
Keinya langsung menghampiri rombongan itu, dua perawat yang mendorong ranjang rawat keberadaan Rara, berikut dokter yang tak hentinya meyakinkan Rara. Sedangkan yang terjadi pada Rara, wanita itu terlihat putus asa. Pucat, tegang, dan tak hentinya menitikkan air mata.
“Dibawa santai, ya, Ibu Rara. Jangan dibawa tegang. Lawan. Ayo ketawa. Senyum. Releks ...,” ucap dokter. Wanita bertubuh tambun itu begitu sabar merayu Rara.
“Kei ...,” rengek Rara ketika sudah berpapasan dengan Keinya.
Keinya membalasnya dengan mengangguk, kemudian mengelus sebelah lengan Rara. “Enggak apa-apa, Ra. Santai. Jangan dibawa tegang, ya,” hiburnya.
Seperti ketika dokter yang menasehati, kali ini Rara juga mengangguk. Kembali menahan sebelah tangan Keinya, menggenggamnya erat-erat. Rara terlihat sangat takut, dan membutuhkan banyak dukungan sekaligus kekuatan.
“Enggak apa-apa, Ra. Sebentar, ya. Aku ngobrol sama doktet dulu.” Keinya mencoba memberi pengertian. Memang tidak mudah lantaran Rara terus menolak, tak hentinya menggeleng dan terus menggenggam tangannya erat. Namun lama-lama, Rara mengerti, mau melepas tangan Keinya.
Keinya masih mengikuti kepergian Rara. “Semuanya akan berusaha kasih penanganam yang terbaik. Percayalah!” Kemudian tatapannya teralih pada dokter yang menangani Rara. “Dok, ... boleh, kita ngobrol sebentar?” pintanya.
Rara dibawa oleh kedua perawat, sedangkan dokter yang menangani berhenti dan siap berbicara empat mata dengan Keinya. Keinya sengaja mengajak dokter tersebut berbicara empat mata, lantaran tidak mau membuat Rara mendengarnya. Ia takut, Rara semakin tertekan dan tidak bisa mengontrol diri hingga keadaan sahabatnya itu, justru semakin memburuk kalau sampai mendengar obrolannya dengan dokter.
“Ada apa, Ibu, Keinya?” tanya Dokter memulai pembicaraan.
“Bagaimana keadaan ibu Rara, Dok? Itu mau dibawa ke mana?” sergah Keinya.
Dokter itu mengangguk sambil mengulas senyum. Senyum yang terlihat sangat terpaksa karena ada gurat tegang yang turut menghiasi raut wajahnya.
“Kabar baiknya, belum sampai ada pembukaan, Bu. Tapi kami akan melakukan USG untuk memastikan keadaan janin ibu Rara. Apakah janin ini berkembang, atau malah tidak. Karena kalau memang tidak berkembang, memang harus diangkat dan dikuret untuk membersihkannya.”
Penjelasan dokter yang awalnya membuat lega, langsung membuat hati Keinya seperti disayat-sayat, tepat sesaat setelah dokter membahas USG.
“Janin Rara berkembang, kan? Enggak perlu diangkat apalagi dikuret?” batin Keinya ketakutan yang kemudian mengangguk melepas kepergian dokter sambil berlinang air mata. Keinya mendekap erat Pelangi yang ia gendong di depan dada menggunakan gendongan khusus. Keinya merasa sangat bersyukur, karena dulu, ia berhasih mempertahankan Pelangi. Tentunya, itu berkat dukungan penuh dari Rara yang susah-payah mengemis penanganan terbaik, lantaran dulu, mereka bukan siapa-siapa.
Menyadari majikannya terlihat ketakutan, salah satu ajudan Keinya pun berkata, “Nyonya, bukankah alangkah baiknya mengabari Tuan, atau suami ibu Rara?”
Yang menarik perhatian Keinya itu mengenai “suami ibu Rara.” Ya, Kimo di mana? Jika pria itu benar-benar pergi meninggalkan Rara hanya untuk menemui Steffy, demi Tuhan, Keinya tidak akan memberi toleransi bahkan meski Kimo melakukan itu, karena pria itu amnesia!
Memikirkan hal itu, Keinya menjadi tersulut emosi. Kedua tangannya yang awalnya mendekap Pelangi, menjadi mengepal kencang.
***
__ADS_1
Khatrin baru saja menyambut kepulangan Kainya dan Daniel yang sempat membuatnya terheran-heran. Katanya baru pulang dari luar negeri, tetapi pakaian berikut keperluan keduanya diwadahi kantong tentengan biasa. Namun karena telepon dari Keinya, ia tak lagi kebingungan atas hal itu. Sebab Keinya yang mengabarkan bila Rara mengalami pendarahan, langsung membuatnya syok.
“Kok bisa pendarahan?” pekik Khatrin cemas.
Khatrin menjadi dilanda kegelisahan, berjalan tergesa meninggalkan kebersamaan. Mendapati itu, Kainya dan Daniel yang masih berdiri bersebelahan, menjadi saling berkode mata.
“Kak Kai, enggak usah ikut memikirkan ini. Kak Kai harus fokus dulu, ke kesehatan Kakak.”
Teguran Daniel membuat Kainya menghela napas pelan seiring tatapannya yang menjadi menunduk. “Rara pasti sangat tertekan,” lirihnya. “Sekarang, gangguan mental sangat mudah menimpa siapa saja. Dan biasanya, faktor lingkungan bahkan orang-orang terdekat selalu menjadi penyebab utamanya,” lanjutnya sambil menatap Daniel penuh keyakinan.
Daniel mencebik sebal lantaran kata-kata Kainya sangat mirip dengan gaya berbicara Steven. “Kakak dan Steven ada hubungan apa, sih? Enggak mungkin, kan, enggak ada yang spesial, sedangkan Steven selalu saja siaga buat Kakak?” cibirnya mulai terbawa emosi.
“Apakah kami terlihat cocok?” Kainya mengulas senyum dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia berniat membuat Daniel mulai meninggalkannya.
Daniel langsung menggelang, menepis anggapan Kainya, mentah-mentah. “Sangat tidak cocok!”
Kainya sengaja menunduk dan memasang wajah sedih.
“Sudah, deh ... enggak usah pura-pura bikin aku cemburu. Lagian, si Ben saja gila begitu dan malah mau mainin Kakak! Si Steven pasti sama saja apalagi mereka seakrab itu! Bagaimana kalau kedua pria itu justru taruhan sengaja mempermainkan Kakak? Kebanyakan pria kan begitu, Kak! Mereka hobi taruhan hanya untuk memenuhi rasa penasaran mereka!”
Penjelasan dari Daniel membuat hati Kainya terasa begitu sakit. “Kok sakit, ya? Dan kenapa juga, aku enggak sampai mikir ke sana? ... Steven dan Ben sangat akrab ... bisa jadi ... apa yang Daniel ucapkan memang benar,” batin Kainya yang menjadi putus asa sekaligus kecewa kepada Steven.
Setelah sempat terdiam dan membuat Daniel memperhatikannya lebih lama, akhirnya Kainya kembali menatap pria muda itu sambil mengulas senyum. “Mulai sekarang, kamu enggak usah repot-repot urus Kakak. Kakak udah baik-baik saja. Kamu fokus dengan kepentinganmu.” Menyadari Daniel akan menyela ucapannya, Kainya sengaja meninggikan suaranya. “Daniel, ... sampai kapan pun, kamu akan menjadi adik kesayangan Kakak. Seperti halnya Kak Keinya, dalam hidup Kakak. Kakak mohon, tetap begitu saja demi keutuhan sekaligus kebahagiaan keluarga kita.” Mengucapkan itu, Kainya benar-benar merasa lega sekaligus bahagia. Sungguh, seperti ada beban yang baru saja terangkat dari dadanya. Pun dengan ia yang kembali bisa tersenyum tulus. Tak lupa, sebelum pergi meninggalkan Daniel, ia mengambil kantong tentengannya dari tangan adiknya itu.
“Semuanya, hanya tinggal menjalani dan menunggu saja. Aku percaya, semuanya akan indah pada waktunya,” batin Kainya masih diliputi banyak kebahagiaan. Senyum tulus seolah tidak akan pernah usai dari wajah cantiknya.
***
Di dalam ruang USG, Keinya yang masih menggenggam erat sebelah tangan Rara, dibuat sangat lega ketika dokter menunjukkan keberadaan janin Rara, melalui layar tivi sebagai hasil pemeriksaan. Meski masih terlalu kecil dan memang tidak terlihat begitu jelas, tetapi melalui layar itu bisa dipastikan, janin Rara tubuh dengan sehat. Hal tersebut pula yang membuat Keinya dan Rara berukar senyuman di tengah rantai air mata yang mengikat kebersamaan mereka.
Ketika dokter menekan sebuah tombol, sedangkan tangannya masih di atas perut Rara berikut alat pengendali untuk USG sendiri yang masih diarahkan sekaligus ditekankan pada perut Rara berikut gel khusus yang sebelumnya dioleskan di permukaan perut bagian bawah Rara, ada bunyi bising menyerupai detak jantung.
“Ini detak jantungnya. Sudah cukup jelas, kan?” ucap si dokter.
Rara dan Keinya dibuat melongo saking tidak percayanya, selain mereka yang sampai merinding.
“Anakku sehat, Kei!” racau Rara di tengah tangis bahagianya.
Keinya mengangguk-angguk. “Alhamdullilah, Ra. Doa kita dikabulkan!”
Rara mengangguk-angguk. Ia kembali fokus ke layar televisi dua puluh satu inci yang menempel di dinding atas hadapannya.
***
Tidak ada penanganan medis lebih lanjut. Rara langsung dibolehkan pulang dan hanya diberi obat penguat janin berikut beberapa suplemen untuk ibu hamil. Pastinya, ‘tidak boleh setres’ menjadi satu-satunya obat mujarab agar Rara berikut janinnya baik-baik saja. Dan demi menjaga Rara lebih leluasa, Keinya juga memboyong Rara ke rumahnya, apalagi Rara harus bed rest total selama dua minggu. Tentunya, Keinya sengaja melakukan itu untuk mendapatkan pertanggung jawaban dari Kimo. Apa pun alasannya, Kimo harus berhadapan dengan Keinya, jika pria itu akan menemui Rara.
__ADS_1
Ketika baru sampai rumah, mereka langsung disambut Khatrin yang langsung heboh. Khatrin langsung memapah Rara, menuntunnya hati-hati memasuki rumah Keinya. Rara rasa, Keinya sengaja meminta bantuan Khatrin dalam menjaganya.
Rara dituntun menuju kamar yang ada di lantai bawah agar tidak sampai memanjat tangga dan membuat Rara kelelahan. Namun diam-diam, Rara yang sedari awal hanya diam, pura-pura bersemangat lengkap mengulas senyum, sebenarnya sedang memikirkan Kimo. Di mana Kimo? Bukankah Kimo pamit akan secepatnya kembali? Kenapa sudah hampir lewat jam makan siang, pria itu belum juga kembali.
“Sayang, kamu harus istirahat total. Jangan setres lagi,” ucap Khatrin sambil membantu Rara untuk berbaring. Bahkan ia sampai mencubir gemas hidung Rara, sedangkan yang bersangkutan langsung mengulas senyum. Senyum yang sebenarnya terasa hambar karena terlalu banyak rasa sakit yang sengaja ditahan.
“Mi, sup sapi yang aku minta sudah?” ucap Keinya yang kebetulan di belakang Khatrin. Keinya meletakan suplemen berikut obat penguat janin, di nakas sebelah Khatrin.
Khatrin segera menoleh dan mengangguk. “Bentar lagi matang, Sayang. Sini, Pelangi sama Oma. Mama mau urus Aunty Rara. Nanti, kalau baby Aunty sudah lahir, kalian main bareng, ya.”
Khatrin mengambil alih Pelangi dari Keinya setelah beres membantu Rara, berikut menyelimutinya. Ia sengaja terjaga bersama Pelangi dan mengajak Rara bercanda, sedangkan Keinya memilih pergi menyiapkan makananan untuk Rara.
***
Ketika baru akan memasuki area dapur dengan seorang pekerja di sana yang sedang mencuci piring di wastafel, ponsel Keinya berdering. Segera, Keinya memastikannya dan mengambilnya dari saku celana jins yang dikenakan. Telepon masuk dari Yuan. Celaka, suaminya pasti kebingungan karena Keinya tidak di restoran, sedangkan dari malam, mereka sudah berjanji untuk makan malam bersama di restoran.
“Hallo?” jawab Keinya sambil menyeringai, merasa bersalah karena telah melupakan janjinya.
“Sayang, kamu di mana? Kok kamu enggak di restoran? Semuanya baik-baik saja, kan?” sergah Yuan dari seberang.
Keinya menunduk dan mengangguk-angguk penuh sesal. “Maaf aku lupa janji kita.”
“Enggak apa-apa. Yang penting kamu sama Pelangi baik-baik saja, kan? Semuanya oke, kan?” balas Yuan cepat dan terdengar masih sangat cemas.
Keinya mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya memasuki dapur yang megah dan selalu rapi sekaligus bersih. “Iya. Semuanya baik-baik saja. Aku dan Pelangi baik-baik saja. Hanya saja,”
“Lho, kok hanya saja?” sergah Yuan terdengar kebingungan.
Keinya menghela napas dalam. “Rara pendarahan. Dia sendirian tidak ada yang mengurus. Benar-benar terlantar!”
“Kok bisa?! Kimo ke mana?!” saut Yuan langsung terdengar marah.
Mendengar tanggapan Yuan yang sejalan dengan hati Keinya, wanita itu menjadi dilanda kesedihan mendalam. Sampai-sampai, Keinya sulit mengendalikan diri untuk tidak menangis. “Kimo ... dia pamit menemui Steffy, Pa ....” Keinya susah payah bersuara lantaran dadanya terasa sangat sesak. Sedangkan setelah itu, Yuan tak lagi bersuara. Itu menandakan, suaminya sudah sangat kecewa.
Ya, Keinya yakin, Yuan juga sangat kecewa kepada Kimo, seperti ia yang sudah sangat kecewa pada pria yang masih resmi menjadi suami Rara. Semuanya tinggal menunggu waktu. Keinya benar-benar tak sabar meminta pertanggung jawaban Kimo. Bahkan kalau bisa, ia ingin menerkam Kimo hidup-hidup.
Bersambung ....
Mau up tambahan enggak? Kalau banyak yang mau, nanti sore atau malam, Author up .
Ditunggu like komen dari kalian, yaa ....
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1