Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 94 : Bukan Pelangi


__ADS_3

“Karena pada kenyataannya, kita bukan pelangi yang akan tetap bersama, meski perbedaan terus membersamai.”


Bab 94 : Bukan Pelangi


Elena baru masuk ke lif, ketika dering tanda pesan masuk, menghiasi ponselnya. Elena pikir, itu dari Atala. Namun sayangnya, itu justru dari Mofaro.


Mo : Len, aku ada pesan cacing, ya, buat Elia.


Baru membaca sepenggal pesan Mofaro saja, Elena langsung merinding dan refleks menjengit.


“Apaan sih, Mo. Enggak jelas banget!” cibir Elena yang merasa tak habis pikir, tapi juga sebal. Terlebih, meski Mofaro dan Elia terkenal sangat sulit untuk akur, tapi akhir-akhir ini, semua orang terdekat mereka termasuk Elena tahu, Mofaro justru mencintai Elia. Namun, kenapa kini tiba-tiba Mofaro membelikan Elia cacing dan harus dihabiskan?


“Ah ... mungkin tuh orang lagi bercanda. Bukannya dia mau terbang, ya? Kayaknya dia kesel sama aku, gara-gara aku enggak ngucapin salam perpisahan, jadinya dia sengaja ngerjain aku!” pikir Elia yang kemudian melanjutkan membaca pesannya lantaran tadi, pesan yang Mofaro kirimkan terbilang panjang.


Mo : Pastikan semua cacinya habis, ya. Biar si Elia enggak penyakitan, kena tifus terus.


Elena yang gemas pada ulah Mofaro pun segera membalasnya.


Elena : Cacing apaan, sih?


Mofaro : Kapsul, Suayang ... biar Elia enggak tifus lagi.


Elena mengembuskan napas lega.


Elena : Oh


Mofaro : Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan kangen 😎


Elena : Salam, ya.


Mofaro : Buat siapa?

__ADS_1


Elena : Malaikat Munkar Nakir. Nanti kamu jawabnya yang bener, biar masuk surga 😁😁


Mofaro : Wahh ... ada yang cemburu ini 😘


“Ya ampun .... si Mo, diem-diem nakal!” gumam Elena yang langsung syok lantaran mendapat emot cium dari Mofaro.


Mofaro : Aku tambahin 😘😘😘😘🤣🤣🤣


Mofaro : Biar enggak cemburu lagi. Takutnya kamu malah ketemu malaikat Malik duluan 🤣🤣🤣


Demi mempertahankan kewarasan, Elena memilih mengakhiri pesannya bertepatan dengan ia yang keluar dari lift. Namun, baru juga memasukkan ponselnya pada tas selempang yang menghiasi pundak kanan, Elena mendengar suara langkah lari yang terbilang gaduh dari tangga darurat.


Elena memang sempat menjadikan kenyataan tersebut sebagai fokus perhatian. Namun selebihnya, gadis itu memutuskan untuk berlalu.


“Len! Kok pergi enggak pamit, sih?!” seru Atala terengah-engah.


Ya, Atala. Elena mengenali suara dengan napas memburu itu sebagai suara Atala. Di mana, ketika Elena memastikan, di depan tangga darurat, Atala yang membungkuk berpegangan pada tembok sekitar juga sudah dipenuhi buih keringat khususnya sekitar wajah dan leher.


“Aku mohon--” Atala tak kuasa melanjutkan ucapannya.


Dan apa yang Atala lakukan membuat Elena gamang. “Kamu terlalu baik, At.”


“Sudah jangan dilanjutkan!” tegas Atala yang masih berdiri di depan tangga darurat.


Elena yang berusaha tegar, berangsur mengangguk. “Sampai jumpa!” Seulas senyum ia suguhkan di tengah tubuhnya yang detik itu juga menjadi meremang, lantaran Elena yakin, seharusnya semuanya akan berakhir.


Bersamaan dengan air matanya yang luruh membasahu pipi, Atala menepis kepergian Elena. “Aku benar-benar sudah tidak memiliki alasan untuk kembali memintamu bertahan, sedangkan kamu selalu ingin pergi dariku.”


“Karena pada kenyataannya, kita bukan pelangi yang akan tetap bersama, meski perbedaan terus membersamai.” Elena terpejam pasrah seiring air matanya yang luruh membasahi pipi. Dan lantaran semakin lama tangisnya juga semakin pecah, kenyataan tersebut membuat pipinya menjadi merah merona.


“Sudahlah. Atala sudah dewasa, dan dia pasti lebih tahu bagaimana caranya agar dia hidup bahagia.” Elena yang terus melangkah dengan kedua tangan menahan kaitan tas selempangnya, terus meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Mungkin, karena dari awal, aku memang terlalu memaksa keadaan. Bahkan aku yang awalnya yakin kamu bukan cinta yang kucari, justru dihukum oleh cintaku sendiri.”


“Tuhan ... sesulit inikah yang harus kami lalui, padahal kami saling mencintai?” Atala yang masih berbicara dalam hati, berangsur berkecang pinggang dan kemudian menengadah, guna menghalau air matanya agar tidak kembal mengalir, terlepas dari Atala sendiri yang ingin mengakhiri sesak di dadanya.


Sungguh, kenyataan kini teramat menyiksa dan Atala yakin, semuanya juga akan berjalan semakin lama. Atala memang sudah benar-benar mencintai Elena. Namun di sisi lain, ada Irene yang juga sangat membutuhkan dukungan darinya. Terlebih, Irene sampai memiliki konflik pelik dengan orang tuanya atas kehamilannya.


***


Di dalam apartemen Atala, Arkan kebingungan lantaran setelah Atala menjadi seperti orang kesetanan mencari-cari gadis yang menikmati susu kotak rasa strawberi, pria itu juga langsung pergi tanpa penjelasan berarti. Ya, semua itu terjadi setelah Arkan juga sampai memberikan penjelasan, gadis yang Atala cari memang sudah pergi bertepatan dengan kedatangan Atala. Dan bahkan, gadis itu juga yang membuat Arkan bisa masuk ke apartemen Atala.


“Kak ... sebenarnya gadis itu siapa, sih? Kok kak Atala sampai segitunya?” tanya Arkan pada Irene.


Namun, Irene yang masih duduk sila dengan sebelah tangan yang masih menahan gelas berisi susu pemberian Atala, juga tidak memberikan penjelasan berarti. Yang ada, wanita yang sudah mandi keringat itu justru bungkam, tanpa sedikit pun penjelasan. Bahkan boleh dibilang, Irene terlihat sangat tidak bersemangat.


“Apakah gadis itu memiliki hubungan dengan kak Atala? Dan sepertinya, kak Irene juga tahu? Namun, bukankah kak Atala akan menikah dengan kak Irene?” pikir Atala.


“Kak?” rajuk Arkan.


Irene menghela napas dalam. “Jika kamu masih menganggapku sebagai kakakmu, lebih baik diam saja. Karena diammu lebih membantu, daripada kamu banyak bertanya.”


Setelah berkata seperti itu, Irene berangsur menandaskan sisa susu yang masih ada setengah gelas di tangannya.


“Bukankah kalian akan menikah?” ujar Arkan. “Karena aku adikmu, jadi aku juga peduli kepadamu. Apalagi, setelah semua yang terjadi kepadamu, aku benar-benar merasa kecolongan, Kak!” keluh Arkan.


Di detik berikutnya Arkan selesai berbicara, Irene melempar gelas susu di tangannya, tepat ke sebelah tembok yang Arkan punggungi. Irene melakukannya tanpa menatap Arkan, lantaran yang ada, pandangannya justru kosong.


Terlepas dari keterkejutan yang langsung mencekam Arkan, suasana di sana juga menjadi senyap. “Aku benar-benar tidak tahu dengan cara pikir orang dewasa! Bukankah kak Atala yang menghamilinya, tapi kenapa juga, kak Irene masih membiarkan pria itu mengejar gadis lain?!”


Arkan masih menatap kesal Irene. Wanita yang perutnya sudah terlihat buncit itu masih mematung. Pandangan Irene kosong tanpa sedikit pun dihiasi semangat apalagi kebahagiaan. Kenyataan yang menjadi satu-satunya pemandangan, semenjak Irene pulang dan mengabarkan sedang hamil, di mana tak lama setelah itu, Atala datang mengakui anak dalam kandungan Irene, merupakan anak Atala.


“Apakah semua ini gara-gara gadis tadi? Gadis yang bahkan memiliki garis wajah sama dengan Pelangi?” pikir Arkan bersamaan dengan kedua tangan kekarnya yang mengepal. “Baiklah, ... demi kak Irene, aku akan memberi gadis itu pelajaran, seberapa pun mirip dia dengan Pelangi!” lanjut Arkan yang masih berbicara dalam hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2