Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 39 : Dia Kembali


__ADS_3

Dia kembali. Apakah dia juga yang membuat Keinya sulit dihubungi?”


Episode 40 : Dia Kembali


****


Kainya membisu dengan tubuh yang tiba-tiba saja terasa begitu kaku. Tubuhnya seolah terkunci, benar-benar sulit untuk digerakan. Ia tak beda dengan jelmaan patung. Kemudian tatapannya merangkak ke depan, membuatnya menemukan pantulan dirinya pada cermin rias di sana, tepat di sebelah ranjang tidurnya. Selain linangan air mata yang membasahi pipinya, otot beserta saraf di wajahnya yang terlihat menegang juga mempertegas kemarahannya. Kainya memang sedang sangat marah. Termasuk pada pantulan dirinya di cermin rias yang ia tatap penuh kebencian seiring adegan kebersamaannya dengan Keinya, beberapa saat lalu yang terputar memenuhi benaknya. 


Perdebatan tadi, Kainya merasa dirinya tak beda dengan iblis jahanam yang membenarkan segala cara agar Keinya meninggalkan Yuan untuknya. Bahkan tak hanya itu, seba Kainya juga mengharapkan kehancuran Keinya yang Kainya harapkan akan musnah dari kehidupan untuk selama-lamanya.


Ketika Keinya berjalan tergesa keluar dari sebuah kamar di lantai bawah sambil membawa satu koper berukuran cukup besar, Kainya yang bisa mendengar kegaduhan langkah berikut suara koper ditarik, segera menyeka tegas air matanya. Ia menepis jauh-jauh penyesalan yang baru saja menguasainya akibat apa yang ia lakukan pada Keinya.


“Pergilah Kei. Pergi dan jangan pernah kembali lagi. Pergi dan jangan sampai Yuan kembali menemukanmu. Yuan hanya milikku. Tidak ada wanita lain yang boleh memilikinya kecuali aku!” Kainya menegaskan itu dalam hatinya. Rahangnya mengeras, sedangkan kedua tangannya mengepal kencang di kedua sisi tubuh. Tekadnya benar-benar bulat. Dan Kainya akan memastikan semua itu benar-benar terjadi!


***


Rara baru saja menyandarkan punggung pada kursi tempatnya duduk sambil melakukan peregangan, mencoba mengenyahkan rasa sakit di tubuh khususnya punggung dan kedua tangannya, ketika seseorang menekan bel apartemen dari luar. Kenyataan tersebut cukup membuatnya merasa aneh. Kenapa ada orang lain yang datang ke apartemen? Kalaupun itu orang suruhan Yuan atau Keinya, tentu akan ada kabar lebih dulu sebelum yang diutus datang. Selain itu, kenapa Keinya yang pamit hanya pergi sebentar juga tak kunjung pulang?


Karena bel terus terulang bahkan dalam tempo yang terdengar cepat menandakan orang yang datang terus menekannya, Rara segera beranjak meninggalkan tempat duduk berikut laptopnya dengan perasaan waswas. Rara berjalan tergesa menuju pintu dan menjadi tak habis pikir ketika melihat Keinya sebagai pelakunya.


“Ya ampun, aku pikir siapa? Lho, kamu datang sendiri? Pelangi mana?” cibir Rara yang langsung membukakan pintu. Hanya saja, hadirnya Keinya tanpa Pelangi membuatnya tidak mengerti. Apakah sesuatu yang mencemaskan telah terjadi? Selain itu, Keinya juga sampai mengenakan baju yang berbeda dari saat kepergiannya.


“A-athan. Pelangi sedang bersama Athan. Eggak ada salahnya, kan, seorang anak bersama papanya?” Kainya tidak bisa mengendalikan kegugupannya. Ia bahkan sampai gemetaran. Yang ia hadapi kini adalah Flora atau yang lebih akrab dipanggil Rara, gadis lugu yang teramat menyayangi Keinya. 


Rara dan Keinya sudah mengenal lama semenjak masih SMA. Faktanya, Keinya sampai mengajak Rara tinggal di apartemen pemberian Yuan. Kalau tidak karena dekat, mana mungkin Keinya mengajak Rara tinggal?


Kainya tahu semuanya karena sekalipun ia jauh dan tidak bisa mengawasi kehidupan Keinya secara langsung, tapi ia memiliki banyak orang kepercayaan untuk melakukannya. Kainya menerima setiap perkembangan tentang Keinya berikut orang-orang di dalamnya, dari orang-orangnya.


“Aneh sekali? Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi? Bukan Keinya namanya kalau sampai melepas Pelangi pada orang lain bahkan meski itu kepada Athan, begitu saja tanpa kawalan?” pikir Rara terheran-heran. Belum sempat ia bertanya lagi, si terdakwa justru berjalan terus masuk dan melewatinya. 


Bisa Rara tangkap kegelisahan sekaligus ketakutan pada diri sahabatnya itu. Bahkan setelah terlihat sangat kebingungan melangkah ragu untuk memasuki setiap ruangan, Kainya yang Rara kira Keinya justru masuk ke kamar yang Rara tempati.


“Kamu mau ngapain? Ada yang kamu butuhkan?” sergah Rara cemas.


Kainya balik badan. “Apakah aku salah kamar?” Pikirnya. Ia memang tahu Keinya tinggal satu apartemen dengan Rara, sedangkan Yuan tinggal di apartemen sebelahnya. Namun hanya sebatas itu, tidak sampai mengenai tata ruangan apalagi kamar yang ditempati.


“A-aku mau istirahat.”

__ADS_1


Kegugupan Kainya membuat Rara semakin cemas. Segera, Rara menghampiri wanita itu. Namun ketika Rara melewati meja tempatnya bekerja, ia justru makin cemas bahkan bingung lantaran layar ponselnya menyala menampilkan pesan WhatsApp dari Keinya.


Rara memang tahu ada Kainya dalam hidup Keinya. Namun, Rara hanya sebatas mengetahui keduanya memiliki hubungan yang cukup dekat. Yang Rara tahu, Kainya kerap membantu Keinya mengatasi masalah. Selebihnya, Rara sama sekali tidak mengetahui keduanya saudara bahkan kembar.


Kini, setelah mengantar Kainya ke kamar Keinya, Rara pun membaca pesan WhatsApp dari Keinya sambil berangsur duduk di kursi yang belum lama ia tinggalkan.


Keinya : Ra, kerjakan semua naskah pesanannya dan gunakan uangnya untuk melunasi keperluan pernikahanmu. Setelah itu, kirimkan semua keperluan berikut tagihannya ke Gio. Ingat, jangan berurusan dengan Gio lagi. Jangan sampai kamu dibohongi Gio lagi.


Keinya : Aku pergi dulu untuk acara seminar kemdikbud. Aku lolos seleksi untuk penulisan buku anak tahun ini. Tapi kamu enggak usah kasih tahu perihal ini kepada siapa pun termasuk Yuan. Kalau bisa, kamu cari tempat tinggal baru. Nanti setelah pulang seminar, aku langsung pulang ke tempatmu. Setelah ini aku akan mematikan ponselku. Ingat, jangan mengatakan ini kepada siapa pun apalagi Yuan.


Rara membaca pesan tersebut dengan nada penuh peringatan sekaligis perhatian. Dirasanya, dengan adanya pesan tersebut, apa yang menimpa Keinya justru semakin aneh. Kenapa harus mengirim pesan jika mereka sedang bersama atau setidaknya akan bertemu? Dan yang lebih aneh lagi, kenapa Pelangi sampai diserahkan kepada Athan tanpa pengawalan, sedangkan Keinya sampai melarangnya cerita kepada Yuan?


“Benarkah aku enggak usah cerita ke Yuan? Tapi kalau aku enggak cerita, aku juga salah, kan? Mereka sedang bertengkar, apa bagaimana?” pikir Rara. 


Setelah terdiam merenung, Rara bergegas ke dapur dan mengambilkan gelas berikut air mineral 1,5 liter untuk Kainya yang ia kenali sebagai Keinya.


Karena kebetulan pintu kamar Keinya tidak tertutup rapat, Rara memasukinya dengan hati-hati. Di depan ranjang tidur megah bernuansa putih berikut selimut dan sarung bantal yang menyertai, Kainya tertegun dengan pandangan kosong menatap ke kasur.


Bagi Rara, apa yang menimpa Kainya tak beda dengan seseorang yang seolah kemasukan arwah. Rara sampai merinding dibuatnya atas pemikiran tersebut.


“Kei, ayo minum. Terus istirahat.” Rara membujuknya dengan hati-hati.


Kainya memilih duduk di tepi kasur sebelah nakas, menunggu Rara menuangkan air mineral. Lebih tepatnya, Rara menuangkan air mineral serta memperlakukannya dengan baik karena yang gadis itu tahu, Kainya merupakan Keinya.


Rara sampai jongkok sambil memberikan segelas air mineralnya pada Kainya tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia menatap Kainya lekat-lekat. Mencoba mencari celah kesalahan yang membuat wanita di hadapannya menjadi bersikap aneh.


Kainya tak lantas meminum segelas air mineral yang diterima. “Keinya selalu bilang kalau aku jauh lebih beruntung. Padahal dia lebih beruntung karena aku tidak punya beberapa hal yang Keinya punya, khususnya sahabat baik seperti Rara,” batin Kainya. Kainya mengulas senyum. “Apakah kamu sudah makan?”


Rara menggeleng dengan gugup sesaat setelah terdiam. “Sebentar lagi.”


“Bagaimana kalau kita makan di luar sambil membeli sesuatu?” tawar Kainya.


“Apa ...?” Rara menatap Kainya tak percaya. Ia tersenyum getir atas kebingungannya. Selama ini, Keinya paling anti membiarkan Rara berikut orang-orang dalam hidup Keinya, makan makanan dari luar. Selain menganggap makanan dari luar kurang terjamin bahkan meski dari tempat bergengsi sekalipun, Keinya akan lebih memilih untuk mempelajari makanan yang ingin dimakan orang-orangnya, di mana Keinya tak segan sibuk di dapur untuk memasaknya. Namun kini, keanehan kembali Rara dapatkan dari sahabatnya dalam kurun waktu yang begitu singkat.


“Ra?” panggil Kainya lantaran Rara justru terdiam.


“Ah, kamu mau makan apa? Biasanya kan begitu. Kamu pesan apa pasti aku makan.” Rara tak mau menunjukkan kecurigaannya lantaran ia tidak mau menambah beban Keinya. Justru, di otaknya sekarang hanya dipenuhi bagaimana caranya agar Rara bisa secepatnya bertemu Athan. Rara yakin, Athan merupakan dalang di balik perubahan Keinya!

__ADS_1


***


“Lepaskan, Kei. Lepaskan semuanya dan biarkan dirimu bahagia tanpa mereka.”


Keinya menangis dalam diamnya. Ia mendekap Pelangi sambil memejamkan kedua matanya. Namun tak lama setelah itu, Keinya justru terisak-isak.


Taksi yang Keinya tumpangi kembali terjebak macet, tapi kali ini karena lampu merah.


Di waktu yang sama, Yuan yang sedang mencoba menghubungi Keinya melalui ponsel, mobil yang ia tumpangi bersebelahan dengan taksi Keinya. Yuan menurunkan jendela kaca mobilnya. Yuan sengaja melakukannya untuk mengamati situasi di luar.


Kendaraan di luar masih membludak terjebak antre tanpa terkecuali mobil milik Yuan yang dikendarai sang sopir. Ketika Yuan menatap ke arah taksi Keinya, di saat itu Keinya masih mendekap Pelangi sambil menunduk. Dan ketika antrean kendaraan usai di mana satu persatu kendaraan mulai melaju, Yuan mengalihkan tatapannya sambil terus mencoba menghubungi Keinya. Di waktu yang sama, Keinya tak sengaja melihat ke arah keberadaan Yuan dengan keadaan kaca jendela mobil yang yang berangsur tertutup sempurna, terlepas dari Keinya yang juga tidak tahu jika penumpang mobil tersebut merupakan Yuan.


“Kenapa nomor Keinya masih enggak aktif juga?” gumam Yuan bertanya-tanya dan mulai mencemaskan Keinya. Bahkan karenanya, sepanjang hari ini ia tidak bisa berkonsentrasi dengan deretan pertemuan berikut rapat yang ia pimpin. Jadi, ketika kini ia meninjau apartemen yang akan diresmikan besok berikut persiapan yang masih berlangsung, Yuan sengaja menghubungi nomor ponsel Rara.


“Ra, Keinya di mana? Kenapa dari tadi nomornya enggak aktif?” tanya Yuan ketika panggilannya tersambung.


Yuan tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia termenung di salah satu balkon apartemen yang tengah ditinjau. Dari sana, hamparan gedung yang terlihat menjadi sangat kecil bak miniatur dan teramat sulit ia jangkau, membuatnya tak beda dengan bagaimana perasannya kepada Keinya saat ini. Wanita itu kembali sulit dihubungi dan kenyataan itu sudah langsung membuatnya takut.


Lantaran Rara tak kunjung menjawab, Yuan menjadi semakin tidak bisa tenang.


Yuan memastikan waktu di arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Sudah lewat pukul empat sore, sedangkan untuk hari ini jadwalnya akan berakhir tengah malam, saking sibuknya pekerjaan yang harus ia bereskan sebelum acara peresmian apartemen besok.


Yuan sudah berulang kali menghela napas. Ia juga melonggarkan lilitan dasi di lehernya demi meredam kecemasannya dan sampai membuatnya sesak.


Suara deham dari seberang membuat semua kecemasan Yuan sirna. Ada yang berbeda dan sampai membuat Yuan tak percaya.


“Ini aku,” ucapnya dari seberang.


Dahi Yuan berangsur berkerut tipis. Itu bukan suara Rara selaku pemilik ponsel. Bukan juga suara Keinya selaku orang yang tengah ia cari dan sudah membuat perasaannya kacau. Yuan bisa memastikannya, meski tentu ia tidak akan menepis tidak mengenali suara tersebut. Yuan kenal betul suara tersebut meski jika sekilas mungkin akan terdengar mirip suara Keinya.


“Ya, ini aku. Rara sedang keluar. Dia enggak bawa ponsel. Ponselnya ketinggalan.”


Lanjutan suara tersebut begitu sarat rasa canggung sekaligus gugup. Mendengarnya, Yuan refleks menelan salivanya seiring jantungnya yang menjadi berdegup lebih kencang melebihi batas normal.


“Dia kembali. Apakah dia juga yang membuat Keinya sulit dihubungi?” Kali ini tak hanya berdegup melebihi batas normal, karena jantung Yuan juga seolah melesak. Sakit, bingung, dan semua ketakutan menawannya detik itu juga.


“Kei … kamu, baik-baik saja, kan?” batin Yuan. Pikirannya melayang-layang, memikirkan Keinya yang ia takutkan tidak baik-baik saja, bahkan parahnya terluka.

__ADS_1


***


__ADS_2