Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 29 : Kebenaran


__ADS_3

“Bukankah segalanya bisa dengan mudah berubah tanpa terkecuali cinta, apalagi jika yang menjalaninya sudah merasa lelah?”


Bab 29 : Kebenaran


****


“Kalau memang yang gendong bayi itu selingkuhannya ojol, kenapa dia bisa pegang member VIP?” celetuk salah satu dari teman Tiara. Satu-satunya wanita berambut panjang sekaligus lurus.


“Iya ... iya ... cerita dong! Kok berasa aneh gini!”


Keinya baru saja akan meninggalkan tempat pendaftaran, andai saja ia tidak mendengar celetukan itu. Pun dengan Rara yang langsung menatap cemas sahabatnya. Bagi Rara, tak sepantasnya Tiara kembali membuat gara-gara apalagi sampai menambah luka Keinya setelah semua yang Tiara lakukan. Tiara sudah mengambil bahkan menghancurkan semua milik Keinya. Benar-benar semuanya. Dari rumah tangga, bahkan pekerjaan. 


Dengan rahang yang mengeras, sementara kedua tangan mengepal kencang, Keinya balik badan dan menatap Tiara penuh kebencian.


Tiara tak gentar dan balik menatap Keinya di antara kumpulan wanita nyentrik dan terlihat jelas begitu ingin mengetahui lanjutan cerita mengenai Keinya dan Rara. 


Ke sepuluh teman Tiara berkerumun di belakang Tiara, siap menerima cerita tanpa berpikir ulang apakah cerita yang mampir ke telinga mereka benar-benar kebenaran? Karena biasanya, wanita seperti mereka juga tak jauh berbeda dari Tiara. Hidup mereka hanya untuk bersenang-senang tanpa peduli pada hal lain termasuk kesenangan yang mereka dapatkan. Jangankan pada orang lain, pada diri sendiri saja mereka tidak akan berpikir ulang, apakah kesenangan yang mereka rasakan tidak berisiko dan bahkan sampai berdampak buruk?


“Kamu ingin menyelesaikan semuanya di sini?!” ucap Keinya masih terbilang tenang.


Apa yang Keinya lakukan membuat ke sepuluh teman Tiara kompak terkejut. Bibir bergincu tebal dan kebanyakan berwarna merah menyala, kompak menganga. Beberapa di antara mereka juga ada yang refleks menggunakan kedua tangan untuk menekap mulut. Mereka sungguh tidak sabar untuk melihat pertempuran antara Tiara dan si wanita yang Tiara bilang merupakan selingkuhan ojol.


“Athan bilang pria yang dulu datang itu ojol. Ya memang ojol, kan?” batin Tiara yang kemudian maju satu langkah menghadapi Keinya.


Sebelum Tiara berucap, Keinya lebih dulu berkata, “sebelum mengatakan kebenaran, aku hanya ingin mengingatkan, bayar hutang kamu dulu, baru bersenang-senang!”


Tiara terkesiap dan refleks menelan salivanya. Lain halnya dengan kesepuluh temannya yang lagi-lagi bergunjing membahas setiap perkembangan cerita yang mereka dapatkan.


“Si Jeng Tiara hutang sama selingkuhan ojol?”


“Bisa-bisanya? Bukannya dia kaya?”


Mendengar gunjingan teman-teman Tiara, Keinya langsung berseru, “satu lagi, aku bukan selingkuhan. Karena yang selingkuhan itu kamu!” Ia mengatakan itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Tiara menggunakan telunjuk tangan kanannya. 


Meski sempat kebingungan dan jelas kalah telak, Tiara buru-buru menahan telunjuk Keinya dan berusaha memelintirnya. Namun dengan cepat Keinya balik mencengkeram pergelangan Tiara hingga keadaan bertolak belakang dengan yang Tiara inginkan. Sebab apa yang Keinya lakukan membuat Keinya menguasai Tiara.


Suasana menjadi kian panas.

__ADS_1


Rara yang tersenyum puas sampai berlinang air mata. “Patahin saja, Kei! Wanita ular seperti Tiara pantas menerimanya. Biar tahu rasa!” serunya.


Tiara kesakitan dan terus mengerang. Sebab karena ulah Keinya juga, ke dua tangannya tertarik dan tertahan di belakang punggung. Sungguh, tubuh Tiara bisa langsung tersungkur andai saja Keinya melepaskannya.


Berbeda dengan Rara yang sampai berlinang air mata karena ulah Keinya dan sukses membuat Rara sangat bahagia, teman-teman Tiara yang menjadi ngeri melihatnya.


“Kalian semua punya suami?” tanya Rara pada teman-teman Tiara.


Meski terlihat bingung dan saling melempar pandangan, ke sepuluh teman Tiara kompak mengangguk.


“Eh Bantat ... enggak usah banyak omong yah, kamu!” seru Tiara padahal untuk berbicara saja susah.


Mendapati itu, Keinya semakin mendorong tubuh Tiara hingga wanita hamil itu menjerit ketakutan.


Rara tersenyum sarkastis pada Tiara sebelum kembali menatap ke sepuluh wanita nyentrik di hadapannya. “Hati-hati, nanti suami kalian direbut juga sama siluman ini!”


Teman-teman Tiara semakin merasa ngeri. Bulu kuduk mereka sampai kompak berdiri.


“Bayangkan, sahabat saya memiliki anak yang masih balita, sementara pelakor ini sudah hamil sebesar ini!”


“Bantat berhenti jangan kebanyakan bacot kamu!” erang Tiara.


“Keinya sialan! Lepas! Lepas, enggak? Kupastikan … kupastikan kamu akan membayar semua ini!”


Semua yang di sana termasuk petugas salon, berbondong-bondong menonton lantaran apa yang terjadi memang sampai menimbulkan keributan. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sedang melakukan perawatan, rela meninggalkannya meski kepala maupun tubuh mereka masih dibungkus handuk.


“Keinya cukup!”


Teriakan penuh peringatan tersebut melemahkan Keinya yang yang menjadi kebas. Begitu banyak benda tajam dan seolah silih berganti menyerang Keinya detik itu juga. 


Athan. Pria berkacamata itu datang dan entah atas dasar apa, pria itu bisa sampai di sini? Kenapa Athan sampai datang, sedangkan Keinya belum sampai memberikan Tiara kejutan.


Melihat adegan datangnya Athan, Keinya seolah mengalami adegan slow motion. Dunianya seolah hanya berisi ia dan Athan, selain apa yang akan pria itu lakukan.


Ketika Athan dengan beraninya menarik Tiara dari tahanan Keinya bak seorang ksatria, Rara juga tidak tinggal diam. Ia menarik sebelah tangan Keinya yang langsung kembali terlihat sangat hancur karena kehadiran Athan.


“Sayang ... s-sakit!” Tiara terus merengek. Susah payah ia melakukan itu karena tenaganya sudah terkuras menahan sakit karena ulah Keinya. Tentunya, ia sengaja kembali berdrama agar Athan semakin marah kepada Keinya. Dan benar saja, Athan langsung mendekapnya dengan hangat, menenangkannya melalui tepukan pelan berikut elusan yang pria itu lakukan.

__ADS_1


Di luar dugaan, sebuah tamparan panas, Rara layangkan di sebelah pipi Athan sesaat setelah ia menyimpan Keinya di balik punggungnya.


Di balik punggung Rara, Keinya yang awalnya membisu menjadi terisak-isak di tengah tubuhnya yang sampai menjadi gemetaran. “Aku kuat. Aku punya Pelangi ... a-ku benar-benar kuat! T-tapi P-pe ... Pelangi enggak boleh dengar ini …!” batin Keinya.


Keinya buru-buru mendekap erat Pelangi yang ada dalam gendongannya dan kebetulan sedang tidur.


“Itu untuk pria pengecut, pecundang, dan tidak tahu malu kayak kamu!” lantang Rara. Emosi Rara meledak-ledak.


Dua satpam yang berjaga dan kebetulan baru datang, bergegas mencoba menahan Rara.


“Bapak-bapak ini mau pada ngapain? Minta saya hajar juga?!” Mata Rara memelotot menatap kedua satpam yang langsung kehilangan nyali dan tampak serba salah. 


“Urusan saya belum selesai, Pak. Nanti kalau urusan saya sudah selesai, saya juga langsung pergi! Mana mungkin saya sudi satu tempat dengan kedua penjahat ini!” tegas Rara cepat. Secepat kilat lantaran wanita bertubuh mungil itu takut, lawan bicaranya yang tak tahu malu, telanjur kabur.


“Cukup, Ra! Kalau kamu enggak tahu apa-apa nggak usah ngomong!” bentak Athan.


Rara makin kesal dan emosinya sudah di ubun-ubun. Ia nyaris kembali menampar Athan andai saja Keinya tidak keluar dari balik punggungnya dan langsung melakukan apa yang ingin ia lakukan. Keinya menampar Athan dan itu sangat di luar dugaan siapa pun di sana tanpa terkecui Rara bahkan mungkin Athan.


“Jangan pernah bentak-bentak sahabatku kalau kamu enggak mau berurusan sama aku! Memangnya, semua yang kamu lakukan belum cukup?!” tegas Keinya cepat.


Tatapan Keinya kepada Athan sungguh dipenuhi kebencian. Yang Rara lihat, tatapan sahabatnya pada pria berkacamata tersebut sudah sangat berubah. Termasuk dengan Athan maupun Tiara yang menatap tak percaya Keinya.


Namun, bukankah segalanya bisa dengan mudah berubah tanpa terkecuali cinta, apalagi jika yang menjalaninya sudah merasa lelah?


“T-tunggu ... pria ini suami Jeng Tiara?” sela seorang teman Tiara yang sampai maju dua langkah. Apa yang ia lakukan berhasil menghentikan adegan berdrama yang sedang panas-panasnya. Bahkan semua mata yang awalnya menonton adegan tersebut langsung teralih padanya tanpa terkecuali pelaku adegan. Jadilah, dengan wajah tak berdosa andalan, ia memberikan penjelasan lanjutan. “Hanya ingin memastikan. Soalnya yang saya dan teman-teman saya tahu, suami Jeng Tiara itu bule. Orang Jerman. Kami pernah bertemu beberapa kali. Bahkan terakhir ... mmm, satu bulan lalu!”


Ada gelombang kebenaran yang seketika menyapu hamparan amarah tanpa terkecuali kebohongan. Kebohongan seorang Tiara bahkan Athan yang bisa jadi merupakan bagian dari korban. 


“Honey ...? What are you doing?”


Suara berat itu memecahkan suasana. Seorang pria bule yang kiranya berusia lima puluh tahun. Pria berambut tipis botak di bagian ubun-ubunnya dan berperut buncit tersebut, menatap tak mengerti bahkan emosi sosok Tiara yang tengah memeluk Athan.


Tiara kehilangan ekspresi. Begitu juga dengan Athan yang seketika terlihat lemas. Akan tetapi, baik Tiara maupun Athan memaksakan diri untuk balik badan. Sebab baik Athan apalagi Tiara yang penasaran sungguh ingin memastikan. 


Antara mimpi, delusi, atau malah tragedi. Begitulah kiranya yang Tiara rasakan ketika tatapannya dipenuhi oleh sang pria bule. Tiara relfleks menelan salivanya. Tubuhnya mendadak gemetaran menahan takut tak ubahnya menggigil karena kedinginan.


Pria bule berambut ikal putih tersebut, bergegas menghampiri Tiara dan Athan. Menatap kedua sejoli itu penuh tanya sekaligus amarah. 

__ADS_1


Dari semua di sana, hanya Rara yang tersenyum girang. Dan ketika ia memastikan bagaimana ekspresi Keinya, ternyata sahabatnya itu tengah bertukar tatapan dengan seseorang di depan. Yuan, pria itu menatap Keinya dengan mata berkaca-kaca. Yuan melangkah tanpa menatap hal lain karena tatapannya hanya tertuju pada Keinya. Benar-benar Keinya!


******


__ADS_2