Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 25 : Tetangga Baru


__ADS_3

“Jangan meragukan kekuatan doa. Apa sih, yang nggak mungkin, kalau Tuhan sudah berkehendak?”


Bab 25 : Tetangga Baru


Yuan baru saja selesai mengenakan jas hitam, ketika Pelangi bangun dan langsung heboh mengoceh tidak jelas, sambil tersenyum ke arahnya.


“Ya ampun, anak cantik Papa sudah bangun. Ayo, kita cari mama. Mama lagi masak di dapur,” sambut Yuan tak kalah heboh dan langsung menghampiri Pelangi yang masih ada di tengah-tengah kasur. Bocah menggemaskan itu langsung mengulurkan kedua tangannya dan jelas minta digendong.


Dalam sekejap, Yuan berhasil menggendong Pelangi dan membawanya keluar dari kamar. Keduanya kompak mengobrol, di mana terkadang, Pelangi akan mengangguk-angguk sambil menggoyangkan tubuhnya ketika Yuan menyanyikan lagu anak-anak yang sering Pelangi tonton di aplikasi video online.


“There was a farmer who had a dog, and Bingo was his name-o. B-I-N-G-O. B-I-N-G-O. B-I-N-G-O. And Bingo was his name-o ....”


Kedatangan Yuan dan Pelangi langsung disambut hangat oleh Keinya. Mengenakan celemek warna hitam, wanita itu sampai berkeringat dan memang tengah berkutat dengan termos bekal. Sedangkan dibelakang Keinya selaku keberadaan kompor dengan lima sumbu, dihuni wajan dan panci yang semuanya masih berisi hasil masakan.


“Kamu masak banyak banget?” ucap Yuan sesaat kemudian, setelah mendapati suasana dapur khususnya sekitar kompor yang masih berantakan.


“Asal kalian sehat, masak banyak bukan masalah,” balas Keinya sambil menyusun isi termos bekalnya.


Yuan menanggapinya dengan senyum sambil menimang-nimang Pelangi.


“Pelangi sudah minum?” tanya Keinya kemudian yang sesekali menatap Yuan dan Pelangi di tengah kesibukannya. Kali ini, ia sibuk memanggag roti, mrnggunakan mesin panggang yang keberadaannya tidak jauh dari kompor.


Meski mereka memiliki pekerja yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi mengenai urusan masak berikut mengurus Pelangi, Keinya melakukannya sendiri. Ia melakukan itu dengan senang hati, meski tentu, kenyataan tersebut kadang membuatnya kerepotan, apalagi Yuan selalu berangkat ke kantor sebelum jam tujuh pagi, kecuali hari libur.


Yuan melangkah menjauhi Keinya, menuju rak lemari gelas. Ia mengambilkan minum untuk Pelangi dan membantunya. “Omong-omong, ada kabar terbaru apa mengenai yang sedang bulan madu?” tanyanya pada Keinya sambil menahan tawa.


Belum menjawab, Keinya juga sudah menahan tawa sambil menggeleng geli. “Kimo masih sibuk muntah-muntah. Jadi kayaknya acara bulan madu juga jadi ribet karena kesehatan Kimo ....”


Keinya menyajikan sepiring roti bakar yang ia bawa ke meja di tengah-tengah dapur. Di sana sudah ada aneka selai berikut telur rebua selain satu gelas penuh susu hangat untuknya dan Yuan.


Sambil menarik kursi untuknya duduk setelah Pelangu selesai minum, Yuan berkata, “kayaknya Rara lagi isi, deh. Tapi yang mengidam justru Kimo!” candanya sambil duduk pada kursi pilihannya berikut memangku Pelangi.


Keinya tersipu sambil mengendalikan senyumnya. “Aku pikir juga begitu. Dari awal Kimo muntah-muntah gara-gara naik wahana permainan, malah ... tapi ya nggak mau sesumbar. Pamali ...,” ucapnya yang kemudian menawari Yuan perihal selai yang ingin dioleskan ke roti panggangnya.


“Kacang,” ucap Yuan yang kemudian menunduk dan mengajak Pelangi mengobrol. “Asyik, ya ... Pelangi bakalan punya adik dari Bibi Rara sama Paman Kimo!”


Keinya mesem kemudian memutari meja dan menghampiri Yuan untuk memberikan rotinya. “Omong-omong, ada perkembangan mengenai Tante Kiara, belum?” tanyanya yang memilih menarik kursi di sebelah Yuan.


Keinya sengaja duduk di sebelah Yuan. Sambil terus menatap suaminya, ia juga melepas celemek dari tubuhnya, kemudian mengambil alih Pelangi agar Yuan bisa sarapan dengan leluasa. Keinya siap menyimak cerita berikut penjelasan dari suaminya, yang seketika itu langsung berdeham sambil menatapnya.


“Kalau aku sih kurang tahu. Tapi kalau melihat tanggapan Tante Kiara, harusnya beliau tersentuh. Tetapi, ini kembali pada Tante Kiara sendiri yang menjalani. Memangnya, Rara nggak cerita mengenai ini?” Yuan mulai meraih roti bakarnya. Ia memakan roti bakar berselai kacang itu dengan tangan kosong tanpa menggunakan garpu apalagi pisau.


Keinya mengerutkan dahi kemudian menggeleng dengan bibir yang dimanyunkan. Kemudian ia menyuwirkan sehelai roti tawar yang tidak dibakar untuk Pelangi, dan menuntunnya untuk bakar.


“Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kalau sudah saatnya, pasti Tante Kiara akan sadar dengan sendirinya. Mungkin sebentar lagi, karena Kimo dan Rara, akan memberi tante Kiara cucu?” ujar Yuan yang berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


“Kamu yakin, Tante Kiara akan luluh?” balas Keinya tidak yakin.


“Harus yakin, dong. Sambil doa yang baik-baik.” Yuan mengangguk-angguk sambil mengunyah sekaligus menikmati roti bakarnya.


“Tapi ini sudah seminggu lebih dari usahamu meluluhkan hati Tante Kiara,” balas Keinya terdengar putus asa.


Yuan tak langsung membalas. Ia meraih segelas air susunya kemudian menenggaknya. “Jangan meragukan kekuatan doa. Apa sih, yang nggak mungkin, kalau Tuhan sudah berkehendak?” balasnya sambil meletakkan kembali gelas susunya yang masih tersisa setengah.


Keinya menghela napas berat dan tidak mengomentari lagi. Fokusnya hanya tertuju pada Pelangi yang tengah menikmati roti tawar pemberiannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia mengaminkan kata-kata suaminya. Semoga, kekuatan doa untuk hubungan Rara dengan Kimo, juga hubungannya dengan Yuan, selalu dikabulkan oleh Sang Pemilik Kehidupan.


***


Itzy tengah lari pagi di kompleks rumahnya dengan kedua telinga yang disumpal headset. Sayangnya, telepon masuk membuatnya berhenti berlari, karena ia harus mengatur napas demi bisa menjawab telepon itu. Namun, belum juga sempat menjawab telepon yang sudah ia geser tombol hijau hingga telepon otomatis diterima, sosok pria tampan yang memasuki kursi penumpang sebuah sedan mewah dan sampai dipersilahkan oleh sang ajudan, langsung membuatnya terpesona.


Sosok yang tak lain adalah Yuan itu langsung membuat jantung Itzy berdegup sangat kencang sekaligus keras, melebihi batas normal. Sampai-sampai, Itzy yang tidak bisa menyudahi tatapannya pada Yuan apalagi wajah tampan berkarisma pria itu, refleks mencengkeram dada sebelah kirinya selaku sumber kekacauannya. Itzy merasakan gejolak cinta yang luar biasa, sampai-sampai saking terpesonanya, ia justru mematung tak jauh dari gerbang megah rumah Yuan.


“Tetangga baru, ya?” pikirnya setelah terbengong-bengong melepas kepergian Yuan. “Kalau gini caranya, aku bakalan tambah rajin olah raga! Syukur-syukur enggak hanya dapat sehat, tapi dapat dia juga!” Itzy terkikik dengan pemikirannya sendiri. Bahkan tiba-tiba saja, ia seolah mendapatkan banyak energi positif hanya karena memikirkan Yuan yang untuk sekadar nama, belum ia ketahui. Sungguh, hanya memikirkan Yuan dengan mengingat wajah tampan pria itu, membuat wanita berusia dua puluh tiga tahun itu seolah memiliki nyawa tambahan!


***


Keesokan harinya sesuai niatnya, Itzy sengaja lari pagi lebih awal. Bahkan ia sengaja menunggu lama hingga matahari menyengat panas, menandakan ia terlalu lama menunggu. Tak jauh dari gerbang rumah Yuan, gadis cantik itu menjadi terheran-heran.


“Kok dia nggak keluar-keluar, ya? Dia tetangga baru, kan? Aoa jangan-jangan, cuma ada keperluan, makanya dia ke sini?”


Sadar waktu sudah tak lagi ia gunakan untuk menunggu, ia pun segera mengakhiri penantiannya dengan harapan, penantian besok akan mendapatkan hasil.


“Tuh cowok wajahnya enggak asing. Kayak pernah lihat, tapi di mana ...?” gumam Itzy masih menerka-nerka, bersamaan dengan benaknya yang dipenuhi sosok Yuan. Kejadian kemarin pagi, ketika Yuan memasuki sedan mewah bagian kursi penumpang, kembali memenuhi ingatannya.


Saking penasarannya kepada sosok Yuan, Itzy sampai bertanya kepada satpam rumahnya yang sialnya, tidak tahu-menahu mengenai Yuan, berikut rumah kemunculan pria itu.


“Masa sih, nggak tahu?” keluhnya merasa kesal sambil menatap satpamnya penuh kekecewaan.


Bagi Itzy, seharusnya satpamnya tahu tentang Yuan walau sedikit. Namun, kenapa ia justru tidak mendapatkan informasi lebih rinci tentang Yuan bahkan dari satpam rumahnya yang sering jaga di depan gerbang, dan otomatis harusnya pernah melibat Yuan?


Meski rasa penasaran semakin menghantui Itzy, gadis itu tak lantas menyerah. Setelah mandi dan berdandan secantik mungkin dengan jas putih yang ia kenakan menjodohi dress selutut warna biru muda, ia sengaja menyuruh satpamnya untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Yuan.


“Rumah paling besar, hanya terpaut lima rumah, dari rumah kita, ya, Pak!” ucapnya wanti-wanti dari sebelah kaca kemudi yang ia kendalikan sendiri. Tak lupa, sebuah amplop ia berikan sebelum berlalu meninggalkan pria berkumis tipis itu.


Ketika belum lama mengemudi, Itzy tak sengaja melihat seorang wanita sedang mendorong sepeda yang ditumpangi anak kecil. Itu merupakan Keinya yang sedang memomong Pelangi.


“Ya sayang, baru juga ditinggal sebentar, sudah murung begitu?” keluh Keinya sampai berhenti mendorong sepeda Pelangi.


Keinya jongkok di sebelah Pelangi dan menatap putrinya itu dengan perasaan serba salah. Subuh tadi, Yuan memang sudah harus pergi ke Bandung untuk mengurus beberapa pekerjaan di sana. Karena setelah ditinggal bulan madu nyaris satu bulan, beberapa pekerjaan penting memang sudah menunggu Yuan. Dan subuh tadi, Pelangi masih tidur, meski Yuan juga sudah sampai pamit. Yang membuat Keinya kewalahan, Pelangi sangat sulit kalau sudah ditinggal Yuan. Buktinya, sekarang semua yang ia lakukan selalu salah dan tidak ditanggapi oleh Pelangi, sedangkan tiga hari ke depan, Yuan masih akan menyelesaikan pekerjaan di Bandung.


“Kita siap-siap buat ke restoran, ya?” tawarnya masih mengajak Pelangi mengobrol. Tidak ada Yuan dan Rara, siapa lagi yang bisa membantunya menenangkan Pelangi? Namun tiba-tiba saja, ia teringat Khatrin. “Nanti kita minta Oma buat datang ke reatoran sekalian sama Om Daniel, mumpung Om Daniel lagi libur kuliah!”

__ADS_1


Dengan pemikirannya itu, Keinya merasa lebih lega. Karena baru ia sadari, kini hidupnya tidak hanya memiliki Yuan dan Rara. Melainkan keluarga besarnya berikut keluarga besar Yuan.


“Pokoknya nggak usah khawatir. Kita masih punya banyak teman. Nanti Mama telfon semua biar pada datang ke restoran!” ucap Keinya yang bersiap kembali mendorong Pelangi.


Belum jadi mendorong, sebuah mobil menepi, dan seorang wanita muda sampai keluar dari jendela kaca sebelah kemudi. Wanita itu mengemudi sendiri dan menatapnya dengan sangat ramah. Bahkan, wanita itu sampai menggoda-goda Pelangi, meski yang ada, lirikkan tajamlah yang Pelangi berikan sebagai balasannya.


“Ya ampun, cantiknya ... siapa namanya?”


“Namaku, Pelangi, Aunty ...,” balas Keinya basa-basi. “Duh, Pelangi ... lirikkanmu sadis banget!” batin Keinya yang merasa tidak enak hati pada si wanita. Jadilah, senyum masam yang sengaja ia suguhkan, ia harapkan mampu mengurangi balasan kurang mengenakkan dari Pelangi, untuk si wanita.


“Maaf banget, ya? Pelangi-nya lagi ngambek gara-gara ditinggal keluar kota sama papanya,” jelas Keinya. “Biasanya enggak begini. Biasanya ceria nyanyi-nyanyi.” Meski Keinya sudah berusaha mengajak Pelangi untuk tersenyum dan bersikap santai, tetapi anaknya itu terus bergaya sinis melirik tajam si wanita.


“Ini bocah, cantik-cantik kok sadis banget, ya, tatapannya?” batin Itzy masih pura-pura bersikap ramah.


Tiba-tiba saja Keinya menjadi menerka-nerka atas keadaan Pelangi. “Biasanya Pelangi enggak bisa bohong. Dari tadi Pelangi memang ngambek. Tapi, kok, dia nggak hentinya melirik wanita ini, ya? Apa jangan-jangan, wanita ini punya pegangan barang gaib?” batin Keinya yang menjadi waswas bahkan ngeri. “Ya sudah, ya. Maaf ... mau pulang dulu,” pamitnya sengaja menghindar. Takut, apa yang ia pikirkan memang benar, bahwa wanita di hadapannya memiliki maksud lain bahkan parahnya, jahat.


“Ah ... ya ya ....” Itzy melepas kepergian Keinya dengan senyum garing. “Gagal lagi, deh, misi penyelidikkan ke tetangga baru!” gumamnya kecewa sembari memanyunkan bibirnya.


Itzy memperhatikan kepergian Keinya melalui kaca spion sebelahnya. “Tapi wanita itu ke arah rumah si tetangga baru, ya? Jangan-jangan rumahnya justru lebih dekat, dan sebenarnya, dia juga kenal si tetangga baru?!” Sialnya, bentuk jalan menuju rumah Yuan dan dilewati Keinya, menikung, hingga ia tidak bisa memastikan lebih jelas perihal pemikirannya.


Keinya sendiri semakin yakin, Itzy memiliki maksud lain kepadanya. Sebab, diam-diam ia juga mengamati apa yang wanita itu lakukan. Bisa Keinya pastikan, sepanjang ia melangkah, Itzy mengamatinya dari kaca spion mobil wanita itu.


“Perasaanku jadi enggak enak. Mana Yuan pulangnya masih tiga hari lagi! Apa aku minta mami buat menginap di rumah, ya?” pikir Keinya. Keinya menghela napas dalam. “Aku harus jaga-jaga. Takutnya wanita tadi penculik. Aoa coba, maksudnya sampai berhenti dan goda-goda Pelangi?” Bahkan saking takutnya, Keinya sampai berbicara empat mata dengan satpam rumahnya.


“Wanita dengan gerak-gerik mencurigakan?” ucap Pak Jukri selaku satpam di sana mengulang perintah dari Keinya.


“Iya, Pak. Kalau memang ada yang mencurigakan, langsung laporkan saja ke pusat!” Keinya menggebu-gebu saking semangatnya dan tidak mau dihantui rasa takut pada ulah Itzy, wanita yang ia yakini memiliki niat buruk kepada Pelangi.


“Sebentar, Bu. Dari tadi memang ada wanita dengan gerak-gerik mencurigakan, seperti yang Ibu maksud. Ada di CCTV. Dia nungguin duduk di pojok sana. Tapi pas saya tegur, dianya keburu kabur,” ucap Pak Jukri.


Penasaran, Keinya pun memastikan sambil menggendong Pelangi. Ia masuk ke ruang satpam dan melihat rekaman CCTV yang dimaksud. Dan benar saja, itu masih wanita yang sama.


“Benar, Pak. Wanita ini! Hati-hati, lho, Pak, sama wanita ini!” pesan Keinya. “Ya ampun, bagaimana ini? Apakah aku harus lapor polisi sekarang juga?” pikirnya kemudian.


***


Setelah terdiam kecewa, Itzy menghela napas berat. “Oke, Itzy ... sabar! Orang sabar disayang Tuhan. Apalagi cowok itu kan luar biasa tampan. Rumahnya juga paling gede! Pasti dia sudah sangat mapan!” Ia berusaha menyemangati dirinya sendiri. “Bukankah sesuatu yang istimewa selalu membutuhkan perjuangan yang lebih?” Kali ini, senyum penuh keyakinan menghiasi wajahnya. Segera, ia menyalakan mesin mobil dan kembali melanjutkan perjalanannya. “Aku pasti bisa mendapatkan pria itu!” ucapnya optimis.


Bersambung ....


Masih semangat buat mengikuti ceritanya?


Saran Author, meski Yuan memang menggoda, tetapi dia sudah menikah dengan Keinya! Hahaha ... tolong tetap ikuti dan dukung ceritanya, ya!


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2