
Bab 86 : Maaf
Tangis Elena terdengar meronta-ronta, ketika hantaman sebuah linggis, berhasil memecahkan jendela sebelah pintu masuk utama, selaku ruang keberadaan Elena dan Aton.
Atala yang melakukan itu dan sampai membuat satpam rumah Anton kebingungan, langsung menerobos puing jendela yang menjadi tak berkaca. Jangan tanyakan bagaimana keadaan Atala yang menangkap basah Anton, berikut bingungnya Anton tertangkap basah oleh Atala. Atala benar-benar murka, sedangkan Aton yang baru saja membanting tubuh Elena ke sofa panjang yang sempat Elena tempati, menjadi kebingungan. Lain halnya dengan Elena yang sudah terisak-isak dan sebisa mungkin berusaha bangkit sekaligus kabur.
Namun yang membuat Anton semakin bingung, ternyata yang datang bukan hanya Atala. Sebab lima orang berseragam polisi bahkan sampai menyertai kehadiran mereka dengan pistol yang moncongnya diarakkan kepada Anton, juga mendadak memenuhi ruang tamu. Ruang tamu yang juga merupakan ruang pertama di rumah Anton, setelah pintu masuk utama, yang juga menjadi ruang kebersamaan Anton dengan Elena.
“Papah ...!” isak Elena ketika pandangannya yang belum begitu jelas dan masih kerap kabur bahkan kadang gelap, mendadak dipenuhi wajah Yuan.
“Semuanya baik-baik saja, Lena ... tidur. Ini hanya mimpi buruk.” Yuan langsung membelai kemudian mendekap wajah Elena penuh kasih. “Kamu hanya sedang bermimpi buruk. Sttt ... tidur, ya ....”
Yuan tak kuasa menahan air matanya untuk tidak mengalir, sedangkan hatinya langsung terluka hanya karena melihat Elena yang sudah berantakan, terisak-isak meringkuk di sofa. Beruntung, pakaian Elena masih utuh, kendati salah satu kaus kaki berwarna putih gadis itu, terkapar di lantai.
Sebenarnya, bukan hanya Anton yang merasa sangat terkejut dengan kenyataan sekarang. Sebab hal yang sama juga terjadi pada Atala. Terlebih, yang Atala tahu, tadi ia datang sendiri tanpa polisi apalagi pria yang sampai Elena panggil ‘papah’. Ya, panggilan itu masih berlangsung. Elena yang sampai gemetaran, terisak-isak memanggil Yuan dengan sebutan ‘papah’. Isak yang terdengar sangat pilu, hingga membuat setiap yang mendengar seperti disayat-sayat hatinya.
Yuan, dengan jiwanya yang dipenuhi kasih sayang, tak hentinya berbisik, meyakinkan Elena sambil sesekali melayangkan kecupan di kepala gadis itu. Yuan berusaha setegar mungkin, kendati apa yang tengah terjadi sudah membuat dadanya terasa sangat sesak. Terlebih, Elena juga tak beda dengan Pelangi atau anak gadis lainnya. Cukup Irene saja yang Yuan ketahui menjadi korban Anton. layaknya keterangan dari orang kepercayaannya. Tidak dengan Elena, atau pun anak gadis lainnya.
Kelima polisi yang datang langsung meringkus Anton. Anton yang menjadi kehilangan nyali dan tidak berani mengangkat wajahnya apalagi menatap Atala. Sangat kontras ketika pria itu berusaha mendapatkan Elena. Sedangkan yang terjadi pada Atala, pria itu juga merasa sangat terluka dengan apa yang menimpa Elena.
Atala yakin, Elena tak hanya ketakutan. Namun juga bisa trauma. Sekarang saja, Elena masih saja gemetaran meski pria yang Elena panggil papah dengan begitu sabarnya menenangkan Elena.
Setelah yakin suasana sudah cukup lebih baik, ditambah Anton yang sudah diringkus, Yuan segera membopong tubuh Elena. Yuan melakukannya dengan hati-hati, terlepas dari ajudannya yang langsung membereskan barang-barang Elena. Dari tas, berikut ponsel yang terkapar di sebelahnya.
“Maaf, Anda siapa?” tahan Atala lantaran ia memang tidak mengenali Yuan.
Yuan yang awalnya sengaja mengabaikan Atala pun sengaja menghentikan langkahnya. Ia menatap menatap Atala di tengah kenyatannya yang berusaha setenang mungkin, agar Elena percaya perihal apa yang ia yakinkan. Agar Elena semakin yakin gadis itu hanya sedang bermimpi buruk.
“Saya mertua Kim Jinnan. Itu sebabnya, saya mengetahui kasus Irene, ... juga apa yang nyaris menimpa Elena. Dan Elena, ... Elena anak dari kakak ipar saya.” Yuan rasa, jawabannya kepada Atala sudah sangat jelas. Dan setelah jawabannya, ia mendapati keterkejutan luar biasa yang menghiasi raut wajah pria itu. Pria yang wajahnya masih lebam, dan ia ketahui sempat beradu bogem dengan Mofaro.
Kepergian Yuan membuat Atala tergolek lemas. Atala bahkan sampai terduduk, di mana bahu kokohnya juga menjadi sangat loyo. “Ternyata ... kejadian ini masih berputar di sekitar keluarga Kim Jinnan. Bahkan, dengan kata lain ... Kim Jinnan sudah menjadi bagian dari keluarga besar Elena dan Elia ....”
Atala sadar, bukan Kim Jinnan berikut hubungan Elena dan Elia dengan pemuda itu yang harus ia pikirkan. Sebab, nasib Anton jauh lebih harus Atala pikirkan, sekalipun tentu, selain merasa sangat malu, terpukul sekaligus jijik dalam waktu bersamaan, Atala juga mendukung hukuman setimpal untuk Anton. Aton harus dikuhum karena Anton sudah sangat bersalah. Terlebih, Anton tak hanya melakukan sekali, bahkan mungkin lebih dari dua kali.
***
Kedatangan Atala langsung disambut antusias oleh Elia yang sudah ditemani Rafaro. Bahkan, Mofaro yang masih terjaga di sana, merasa menjadi mahluk asing yang tersesat di dunia lain, lantaran Elia yang terus saja heboh mencemaskan Elena, begitu sibuk dengan Rafaro.
Rafaro tak hentinya menenangkan sekaligus meyakinkan Elia, bahwa Elena baik-baik saja. Ya, Rafaro adik sekaligus kembaran Mofaro yang sampai langsung datang, padahal yang Mofaro tahu, harusnya hari ini Rafaro pulang sekitar pukul tujuh malam. Bukan pukul dua siang layaknya sekarang.
“M-mertua, Kim Jinnan?” Elia mengulang jawaban Atala.
Atala yang masih terlihat sangat lemas sekaligus terpukul, berangsur mengangguk, membenarkan anggapan Elia.
“Ya ampun ... kok aku enggak kepikiran, ya? Papah Yuan pasti tahu ini, karena kasus Irena juga menyeret Kim Jinnan,” gumam Elia yang kemudian terduduk lemas.
“Li ....” Rafaro turut jongkok dan meminta Elia untuk tidak duduk sembarangan, apalagi Atala sudah menegaskan Elena baik-baik saja.
Meski awalnya tatapan Elia sempat kosong, tetapi tiba-tiba saja, gadis itu memiliki pemikiran lain atas keterlibatan Yuan yang sampai bisa menyelamatkan Elena. Bahkan karena ingin memastikan pemikiran tersebut, Elia yang awalnya sudah sangat lemas dan seperti kehilangan sebagian nyawanya, seolah mendapatkan nyawa tambahan. Elia bangkit dengan cepat dan mengabaikan Rafaro yang masih terjaga sekaligus berusaha mengimbanginya.
“Atala, tatap mataku!” tegas Elia sembari menatap tajam kedua manik mata Atala yang selalu saja menepisnya.
“Enggak mungkin semuanya baik-baik saja, kan? Papah Yuan enggak mungkin tiba-tiba datang begitu saja antar Elena, sedangkan Papah Yuan enggak kenal papahmu!” Lantaran Atala justru menunduk, Elia pun semakin maju dan kemudian mencengkeram kemeja bagian dada yang Atala kenakan.
__ADS_1
Rasa hancur tiba-tiba melebur menguasai kehidupan Elia yang detik itu juga diliputi banyak kesedihan. Terlebih, penegasan Elena perihal “Om!” juga sampai terngiang di ingatan Elia. Semua itu masih terdengar sangat jelas, sedangkan alasan Elia merasa sangat hancur, tak lain karena kenyataan Irene yang mengandung anak dari pria lain, tetapi justru berusaha mengalihkan tanggung jawabnya pada Kim Jinnan. Dan tentu, alasan Yuan sampai turun tangan mengambil Elena dari papah Atala, padahal Yuan sedang menyelesaikan kasus Irene, pasti karena keberadaan Elena dengan Anton, juga menjadi bagian di dalamnya.
“Maaf ....”
Tak hanya suara Atala yang terdengar sengau diliputi banyak kesedihan sekaligus sesal, sebab butiran bening juga jatuh dari kedua mata pria itu, yang hingga detik ini masih menunduk.
Hanya Elia dan Atala saja yang mengetahui apa yang sedang keduanya bahas. Di mana, Elia yang terlihat sangat marah bahkan hancur dan kembali menangis terisak-isak juga langsung menggunakan kedua tangannya untuk memukul-mukul dada Atala.
“Li ... Li ... tenangkan dirimu!” Rafaro sampai mendekap Elia dari belakang dengan sangat erat lantaran Elia terus berusaha memukul Atala.
“Sebenarnya ada apa, sih?” batin Mofaro yang menjadi bingung sendiri. Mofaro sampai menghampiri kebersamaan.
“Papamu jahat! Dia penjahat!” teriak Elia yang sampai memaki Atala.
***
Tangis Steven pecah tatkala Yuan menceritakan semuanya. Steven yang jelas berkalilipat lebih hancur dari Yuan, sampai menekap wajahnya menggunakan kedua tangan, di mana pria itu juga sampai terduduk di lantai. Namun, kendati demikian, Yuan membiarkan Steven melepas kesedihannya. Membiarkan pria yang selalu tampil tenang itu meluapkan kehancurannya, atas apa yang menimpa Elena.
“Kamu lebih tahu apa yang harus kamu lakukan. Cukup kita saja yang tahu. Tidak dengan orang lain bahkan Elena sendiri.” Yuan menepuk-nepuk pundak Steven. Berusaha menguatkan Steven yang sampai menangis sesengggukkan dan masih terduduk di lantai.
Hari ini, di sore menjelang malam, untuk pertama kalinya, di kliniknya sendiri, Steven baru saja merawat Elena. Di dalam sana, di ruang rawat yang pintunya ada di hadapan Steven, Elena yang tadi datang dalam keadaan tidak sadarkan diri dan dipobong oleh Yuan, masih belum sadarkan diri dan sampai diinfus.
“Aku benar-benar berterima kasih, Yu ...!” ucap Steven di sela sesenggukannya.
Dari depan dan masih di lorong yang sama, Elia datang dengan setengah berlari diikuti Rafaro. Dan Elia yang masih berderai air mata, nyaris berseru andai saja Rafaro tidak membekap erat mulut Elia dari belakang.
Ketika Elia menoleh dan sampai menengadah demi menatap wajah Rafaro, pemuda itu langsung menggeleng tegas sambil menatap Elia penuh peringatan. Elia sadar, maksud Rafaro tak lain karena pria itu melarangnya menemui Steven.
“Jangan menemui papamu dalam keadaan seperti ini. Itu hanya akan membuat papamu semakin bersedih.” Rafaro mengangguk, mencoba menuntun Elia untuk menyanggupi permintaannya. “Bahkan kamu jauh lebih tahu dari aku.”
Elia mengangguk dan berangsur menunduk seiring tangisnya yang kembali terisak-isak. Itu juga yang membuat Rafaro memutuskan untuk membawa Elia pergi dari sana, sebelum Steven melihat mereka. Padahal hingga detik ini, Rafaro belum tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Elena, dan apa juga hubungannya dengan papa Atala. Akan tetapi, melihat keadaan yang sampai membuat Elia bahkan Steven terlihat begitu hancur, Rafaro yakin jika apa yang menimpa Elena dan berhubungan dengan papa Atala, terbilang sangat serius.
Mungkin sekitar lima belas menit kemudian, Rafaro yang meninggalkan Elia di bangku tunggu sebelah pintu masuk klinik, kembali dengan satu kantong belanjaan cukup besar yang berisi air minum dan beberapa makanan ringan. Rafaro duduk di sebelah Elia yang masih menunduk. Elia yang terlihat jauh lebih tenang dan tak lagi menangis apalagi histeris, kendati apa yang terjadi tadi membuat mata gadis itu sangat sembam.
Rafaro mengambil satu botol air mineral dan membukakan tutupnya, sebelum akhirnya ia memberikannya kepada Elia. “Minum dulu.”
Elia tak lantas menerima air minum pemberian Rafaro. Karena yang ada, ia yang menoleh dan menatap Rafaro, mengucapkan terima kasih, sekaligus meminta pemuda itu merahasiakan apa yang menimpa Elena dari siapa pun. Benar-benar siapa pun. “Tadi aku sudah sempat WA Mo, dan dia sudah janji juga.”
Rafaro mengangguk mengerti. “Iya. Aku mengerti. Kamu bisa pegang ucapanku.”
Sekali lagi, Elia mengangguk dan kemudian berterima kasih sebelum akhirnya menerima air minum pemberian Rafaro.
“Kamu sudah menghubungi mamamu?” tanya Rafaro kemudian.
Elia yang masih minum berangsur mengangguk sambil melirik Rafaro yang juga berangsur menenggak minumannya sendiri. “Aku bilang, ... aku sedang mengurus keperluan olimpiade sama kamu. Maaf, aku bawa-bawa kamu dalam kebohonganku.”
Rafaro yang selesai minum dan berangsur menutup kembali botolnya, berangsur menggeleng. “Enggak apa-apa. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Terima kasih juga untuk hari ini.”
“Lho ... kok kamu yang bilang terima kasih? Harusnya kan aku?” Elia sampai melongok wajah Rafaro lantaran pemuda itu tak lagi menatapnya.
Rafaro menatap Elia di tengah kenyataannya yang merasa sangat lega. Ia yang bahkan sudah bisa kembali tersenyum, berangsur mengangguk. “Iya. Terima kasih karena kamu benar-benar mau bergantung kepadaku.”
Balasan Rafaro membuat Elia tersipu, seiring hati Elia yang sampai menjadi berbunga-bunga. Elia tertunduk malu-malu, membiarkan Rafaro mengelus punggung kepalanya. “Elena ... semoga kamu juga bisa dapat laki-laki penyayang seperti Rafaro. Seperti Kim Jinnan yang bahkan pensiun jadi play boy hanya untuk mencintai Ngi-ngie,” batin Elia.
__ADS_1
***
Mofaro yang baru pulang dan awalnya akan masuk ke kamarnya, menjadi berhenti melangkah lantaran tatapannya tidak sengaja mendapati pintu kamar Rafaro. Pintu kamar yang ada di seberang kamarnya itu masih tertutup rapat, lantaran pemiliknya memang belum pulang. Akan tetapi, melihat pintu kamar Rafaro, yang ada otak Mofaro justru dihiasi kebersamaan Rafaro dan Elia, untuk sore ini. Keduanya begitu dekat layaknya pasangan yang begitu mencintai.
“Katanya mereka enggak pacaran, tapi kok ... mesra banget?” pikir Rafaro. “Aneh ... tapi yang lebih aneh justru Elena. Iya. Elena kenapa? Tapi aku sudah janji ke Elia buat enggak bahas.”
Mofaro menghela napas dalam. “Kayaknya dari semua kehidupan ... cuma Kishi sama Dean yang adem ayem. Enggak adil banget. Bayangkan ... Dean sama Kishi. Ngi-ngie sama si Kim Jinnan ... Elena sama Atala ... dan si Molotof Elia justru sama Rafa! Terus, ... aku bagaimana? Mereka kan enggak mungkin diganggu gugat! Nyesek bener nasibku!”
Tak mau semakin larut dengan kenyataannya yang masih sendiri, Mofaro memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Sebab, menatap pintu kamar Rafaro sama saja menampar dirinya sendiri yang hingga detik ini belum memiliki pasangan.
“Tapi enggak apa-apa, sih, belum punya pasangan. Yang penting masa depan cerah dan aku bisa hidup bahagia bersama keluargaku nanti, seperta papa sama mom ....” Meski berusaha berpikir positif, tetapi yang ada, Mofaro yang langsung memasuki kamar mandi, justru tertawa depresi.
“Bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia bersama keluargaku, seperti papa dan mom, jika pasangannya saja enggak ada? Hahaha ... bisa diketawain Zean, kalau bocah itu sampai tahu!”
***
Di ruang rawat Elena, Steven terduduk terjaga sembari menggenggam erat sebelah tangan gadis itu yang tak disertai selang infus. Di mana, sekitar pukul sembilan malam, akhirnya Elena tersadar. Tentu, keberadaannya yang sedang di ruang rawat bahkan menjalani pengobatan, langsung membuat Elena kebingungan. Bahkan sekalipun Steven menyambut Elena dengan senyum yang tak pernah putus.
“Kok aku di sini, Pah? Bukannya tadi ...?”
“Kamu pingsan!” saut Steven cepat.
Elena memandang tak mengerti papanya. “Pingsan?” Dahinya berkerut tipis.
Steven mengangguk semringah sambil sedikit mengerutkan bibir padatnya yang membuatnya tak beda dengan bocah. “Kamu kelelahan. Efek olahraga dan datang bulan. Fix, ... lebih baik kamu pindah ke sekolah Elia!”
Meski masih bingung dengan penjelasan Steven, tapi bagi Elena, apa yang Steven katakan terbilang masuk akal. “Iya, Pah. Hari ini, setelah pemanasan dan lain-lain. Aku yang sudah izin enggak ikut olahraga, lari memutari lapangan selama dua puluh menit. Bayangkan, Pah. Panas-panas, sedangkan tubuhku saja rasanya remek gara-gara datang bulan. Eh pas aku izin enggak ikut basket, aku malah dikasih kartu kuning sama gurunya.”
Steven berusaha meyakinkan Elena jika anak gadisnya itu benar-benar pingsan efek kelelahan dan datang bulan. Sungguh, perihal apa yang Elena alami dan sampai Yuan selamatkan, akan Steven hapus untuk selama-lamanya.
“Tapi, kayaknya tadi aku dijemput Om Anton, dan kami ...?” Elia mengingat-ingat hal terakhir yang ia ingat.
“Iya! Kamu juga mengigau begitu! Mungkin karena kamu masih belum bisa move on dari Atala!” timpal Steven yang sengaja menggoda Elena.
“Ih Papah ...!”
“Ya enggak apa-apa. Kamu kan masih muda. Dijalani saja. Patah hati dan tumbuh cinta itu hal biasa, Sayang. Asal, kalau sudah punya pasangan sekaligus menikah, harus pensiun. Kamu boleh jatuh cinta hanya kepada pasanganmu. Contohnya, ... Kim Jinnan.”
“Hahaha ... Jinnan kan, play boy insyaf, Pah!”
Melihat Elena yang sampai tergelak, Steven merasa sangat lega sekaligus bahagia.
“Demi Tuhan, Sayang. Papah enggak akan membiarkan kamu dan semua keluarga kita, sampai mengalami apa yang beberapa jam lalu kamu takutkan!” batin Steven sembari membelai kepala Elena.
“Tapi Pah ... kayaknya aku tembus, deh.”
Kali ini Steven yang tertawa lepas atas rengekan yang baru keluar dari Elena. Elena yang sampai berangsur bangun dan memastikan bekas pantatnya.
“Kan, benar ... ih ... kain putih lagi ini selimutnya!”
“Hahaha ....”
“Papah ... jangan sampai Elia tahu, ya! Bahaya kalau dia sampai tahu! Bisa dihina sampai akherat akunya!”
__ADS_1
“Maafin Papah, ya, Sayang .... Papah janji, ke depannya, Papah akan menjadi Papah yang lebih baik!” batin Steven masih menanggapi Elena dengan banyak kebahagiaan sekaligus tawa.