Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 79 : Titik Terang


__ADS_3

Mobil Rafaro melaju tepat di belakang mobil Kim Jinnan, ketika mereka memasuki jalan perumahan elite kediaman Yuan. Akan tetapi, Rafaro sengaja menghentikan laju mobilnya sebelum memasuki gerbang rumah Yuan, kendati sang satpam masih membiarkan gerbang terbuka, terlepas dari satpam yang juga kerap melongok dari depan gerbang, dan terkesan memastikan sekaligus menunggu Rafaro.


“Di sini saja, ya?” ujar Rafaro sambil menatap Elia yang masih sibuk dengan ponsel.


“Terserah. Parkir di depan rumahmu juga enggak apa-apa. Hanya lima menit kan, dari sini, kalau jalan kaki?” balas Elia yang tetap fokus dengan ponselnya. Tak hanya tatapannya, tetapi benar-benar semuanya.


Jemari Elia sibuk mengetik di atas layar ponsel dan Rafaro pastikan, Elia sedang sibuk dengan aplikasi tulis. Elia sedang mengerjakan tugas sekolah dan terlihat cukup menguras otak.


“Sekarang kamu sibuk banget,” ujar Rafaro lantaran Elia begitu sibuk. Dan apa yang baru ia samaikan, antara keluhan karena ingin lebih diperhatian, juga kecemasan lantaran ia takut, Elia terlalu memporsis waktu dan bisa berakhir fatal untuk kesehatan gadis itu.


Elia mengangguk dan masih belum menatap Rafaro. “Iya. Demi masa depan termasuk nama baik sekolah. Lagi pula, kalau enggak dikerjain sekarang, takutnya nanti sampai rumah lupa, gara-gara ngantuk.” Kemudian ia menyodorkan layar ponselnya pada Rafaro. “Lihat, belum ada satu jam, sudah ada dua ribu pesan masuk yang belum dibaca,” ujarnya sambil menahan tawa. Terlebih, di saat ia sedang sangat lelah layaknya sekarang, Rafaro ada, dan bahkan menemaninya.


Rafaro menggeleng tak habis pikir. “Itu grup sekolah, apa grup nyinyir?” keluhnya lantaran berharap, Elia cukup mengurus yang penting saja. 


Elia terkikik dan langsung menatap geli Rafaro. “Soalnya teman sekolahku memang rame-rame. Ya sekalian nyinyir. Kamu kayak enggak pernah nyinyir saja. Nyinyir itu seru, lho! Bisa bikin stres hilang!” ujarnya yang kemudian bergegas melepas sabuk pengaman sebelum akhirnya turun diikuti juga oleh Rafaro.


“Kebanyakan nyinyir, bisa tersambar petir!” celetuk Rafaro dan kembali membuat Elia tertawa. “Ya iya, kan? Sudah tahu hujan bahkan sampai disertai petir, masih saja nyinyir?” lanjutnya.


Elia menggeleng sambil terus berusaha mengakhiri tawanya. “Sudah, ah, Raf ... ternyata kamu juga berbakat nyinyir!”


Ketika Rafaro dan Elia melewati gerbang rumah Yuan, ternyata tak jauh dari mobil Kim Jinnan yang terparkir di depan garasi rumah, Pelangi dan Kim Jinnan sudah menunggu.


“Itu yang Mo, apa Rafa ...?” tanya Kim Jinnan sambil menatap penasaran Rafaro yang melangkah berdampingan dengan Elia.


“Mo itu yang rambutnya gondrong, agak ikal. Sedangkan itu Rafa. Rambutnya lurus dan lebih suka gaya rapi,” jelas Pelangi. “Lagian enggak mungkin juga, Mo sama Elia bisa seakrab itu. Mereka kan kayak kucing sama tikus kalau sudah bareng!” tambah Pelangi.


“Kok aneh gini, ya, ketemu Rafa malah bareng Elia? Beruntung, aku sudah enggak segugup seperti kemarin-kemarin!” batinnya kemudian.


“Ingat, Jinnan. Mau Mo, apa Rafa ... semuanya sama-sama pernah naksir Ngi-ngie!” celetuk Zean yang digendong Kim Jinnan, dan tiba-tiba langsung berseru. “Wah ... Lili pacarnya Mo! Ngapain malam-malam ke sini?” 


“Lho, kamu enggak tidur? Kalau gitu, turun,” ujar Pelangi lantaran awalnya, Zean tertidur dan Kim Jinnan sengaja menggendongnya.


Zean langsung buru-buru turun, berlari menghampiri Elia yang kiranya hanya tinggal tujuh meter dari kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan.


“Semprul, kamu! Bikin gosip saja!” omel Elia yang sampai menggetok kepala Zean menggunakan ponselnya.


Zean menyeringai sambil menengadah demi menatap Elia. “Memang kamu pacarnya, Mo! Jangan bohong! Eh malah kamu selingkuh sama Rafa!” ucapnya yakin.


Tudingan Zean sukses membuat Elia dan Rafaro kebingungan untuk beberapa saat.


“Umurmu berapa, sudah tahu pacaran sama selingkuh? Mendadak aku merasa sangat stupid ...,” keluh Elia yang memang sangat syok.


“Zean ...!” seru Pelangi yang memang sengaja menegur Zean. “Jinnan, itu bilangin si Zean ... tuh anak kan sekarang cuma nurut sama kamu,” pintanya kemudian dan sampai merengek pada sang suami.


Kim Jinnan langsung menghela napas demi mengatur suranya, sebelum akhirnya berseru memanggil Zean.


“Bentar, Jinnan. Nanggung, ini!” balas Zean yang tetap berdiri di depan Elia dan Rafaro.


Elia tidak menggubris ledekan Zean lagi. Terlebih, Zean terkenal jail dan sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Semua orang dalam hidup mereka tahu, kalau Zean yang terkenal sangat cerdas, juga sangat jail, selain banyak bicara yang kadang justru melenceng jauh dari kebenaran.


“Kemari!” ujar Rafaro yang kemudian menggendong paksa Zean. 

__ADS_1


Zean sendiri langsung menurut lantaran Rafaro bukanlah Mo yang ibaratnya sudah menjadi musuh bebuyutan Zean. “Jangan jail. Nanti Rora marah!” Rafaro tersenyum sarat ancaman, di mana detik itu juga, Zean langsung diam.


“Hahahaha!” Elia sampai menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan demi meredam tawanya lantaran ternyata, menghadapi Zean sangat mudah. Cukup menjadikan Rora sebagai penawarnya, bocah itu langsung diam.


Rafaro dan Elia memang berangsur melangkah, tetapi Kim Jinnan dan Pelangi juga melakukan hal yang sama. Kim Jinnan dan Pelangi berangsur mendekati Rafaro dan Elia, di mana, Zean juga masih anteng dalam dekapan Rafaro. Dan karena kenyataan tersebut pula, Kim Jinnan sampai menahan tawanya.


“Itu diapain itu, kok langsung jinak begitu?” ucap Kim Jinnan yang sampai menekap mulutnya demi meredam tawanya.


Rafaro hanya mesem, sedangkan Elia tak beda dengan Kim Jinnan—masih menggunakan sebelah tangannya untuk menekap mulut demi meredam tawa, terlebih Zean benar-benar menjadi penurut tak ubahnya bayi. Zean hanya diam dan sama sekali tidak berani mengubah wajahnya selain ekpresi takut sekaligus tunduk


“Jinnan ... tolong, aku. Aku tak berdaya dengan ancaman Rafa,” rengek Zean yang kemudian merentangkan kedua tangannya pada Kim Jinnan.


Sadar Zein minta digendong, Kim Jinnan segera mengambil alih bocah itu dari Rafaro. “Habis ini, kamu langsung mandi, kerjakan PR-mu, terus tidur, ya?” Kim Jinnan sengaja meninggalkan kebersamaan lebih awal, untuk mengurus Zean.


“Nanti tolong periksa PR-ku, kalau aku sudah selesai mengerjakannya, ya?” pinta Zein yang benar-benar manja kepada Kim Jinnan.


“Zean sangat dekat dengan Jinnan? Jinnan penyayang anak kecil juga, ya?” ujar Elia yang memang sengaja memuji Kim Jinnan.


Pujian yang langsung membuat Pelangi tersipu, terlepas dari Pelangi yang juga merasa sangat bersyukur lantaran di kehidupan keluarganya yang awalnya kewalahan mengurus Zean, Tuhan mengirim Jinnan yang begitu disegani Zean. Pun meski kadang, Zean juga akan tetap menjaili Kim Jinnan. Hanya saja, Kim Jinnan tak ubahnya ‘pawang’ untuk Zean.


Seperginya Kim Jinnan yang membawa Zein, fokus Pelangi langsung tertuju pada kedua sejoli di hadapannya, kendati undurnya pak Jo, juga membuat Pelangi melepas kepergian orang kepercayaan suaminya itu.


“Terima kasih banyak, pak Jo! Selamat istirahat!” ujar Pelangi yang menjadi sangat ceria melepas kepergian pak Jo. Pria tua itu memasuki mobil dan memberikan senyum terbaik untuk perpisahan mereka.


Ketika mobil yang membawa pak Jo benar-benar meninggalkan halaman rumah Yuan, Pelangi kembali fokus pada Elia dan Rafaro. “Kita bicarakan di dalam. Tapi sepertinya sangat, penting, ya? Kamu sampai bela-belain datang malam-malam?” Ia menatap saksama Elia sebelum berlalu dan memimpin langkah.


“Papa ada di rumah Rafa,” balas Elia sambil menyusul Pelangi.


Mereka terus mengobrol, hingga tujuan utama Elia datang, membuat mereka duduk bersama dan berbicara empat mata.


“Bentar, aku matikan data paket ponselku dulu,” ujar Elia yang kemudian melakukan apa yang ia katakan.


Kemudian, jemari Elia bekerja cepat hingga membuat ketiga orang yang duduk di sekitarnya di ruang tamu kediaman Yuan, terlihat semakin penasaran. Elia membuka aplikasi perekam suara dan memilih file rekaman terbaru di sana.


“Aku enggak mau dibilang berbohong apalagi menyebarkan kebohongan. Apalagi, ini menyangkut masalah sangat serius, jadi aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Ngie ... sabar. Meski aku jauh lebih muda dari kalian, tapi aku sudah cukup paham.” Elia menatap Pelangi yang duduk di hadapannya, dengan saksama.


Pelangi yang duduk bersebelahan dengan Kim Jinnan, menjadi waswas. Sesekali, ia melirik suaminya yang tak kalah tegang juga. Namun ketika Elia memutar rekaman suara yang dipilih, semuanya mulai terurai. Mengenai keseriusan Elia yang mewanti-wanti Pelangi, juga duduk perkara perihal isi rekaman sendiri. Dan merinding tak percaya menjadi menyekap Pelangi maupun Kim Jinnan, di mana Elia dan Rafaro menjadi penonton sekaligus penasehat yang cukup baik untuk keduanya, mengingat usia mereka masih sama-sama muda.


Pelangi sampai menjadi sibuk menyeka air mata. Sadar kenyataan begitu menyakitkan dan akan semakin menyakitkan jika Elia tidak sampai ‘bergerak’ menghentikan ulah Irene, Kim Jinnan merengkuh tubuh sang istri. Sesekali, kendati Kim Jinnan tidak menenangkan Pelangi melalui kata-kata atau setidaknya mengomentari rekaman suara yang Elia putar, tapi Kim Jinnan tetap berusaha menguatkan sang istri melalui belaian lembut yang ia lakukan di kedua lengan Pelangi.


Elia memang merekam perbincangannya dengan Irene, dari awal ia memasuki ruang rawat wanita itu. Jadi, Elia tidak sampai menjelaskan panjang lebar, karena hanya dari rekaman tersebut saja, semuanya sudah jelas. Terlebih, selain kebersamaan Elia dan Irene, Elia juga sampai merekam perbincangannya dengan Atala ketika ia dan Rafaro baru akan ke lapak penjual bakso dan siomay, di depan klinik yang menjadi tempat pengobatan Irene. Karena sebelum mengajak Atala berbicara, Elia juga sudah sengaja menyiapkan rekaman untuk merekam obrolannya dengan Atala.


Kim Jinnan seolah ditampar dengan dua kenyataan sekaligus. Kebaikan, sekaligus karma. Ya, kebaikan dari Elia yang telah menyelamatkan kehidupannya. Karena jika Elia sampai tidak menolongnya bahkan terlambat sedikit saja, tentu Kim Jinnan akan kehilangan semuanya. Tidak hanya mengenai hubungannya dengan Pelangi, tetapi juga harga diri Kim Jinnan yang pastinya sudah tak tersisa bahkan sekadar berbekas.


Terlepas dari itu, yang Kim Jinnan maksud dengan karma tak lain mengenai kebiasaan buruknya di masa lalu yang begitu gencar mengencani banyak wanita. Ya, itulah salah satu karmanya, lantaran salah satu wanita yang ia kencani juga masih menaruh hati bahkan dendam kepadanya. Sebuah kesalahan di masa lalu yang bisa berakibat fatal di masa depan.


“Aku tidak tahu, apa yang harus aku katakan,” ucap Kim Jinnan yang sampai menggeragap.


Bukti rekaman yang Elia putarkan, membuat nyawa Kim Jinnan seolah dicabut paksa. Sakit, tapi tak berdarah, apalagi jika Kim Jinnan sampai harus melihat kesedihan Pelangi yang terlihat sangat terpukul.


“Selebihnya, aku kembalikan pada kalian. Akhirnya, satu beban kehidupan terberatku sudah aku alihkan,” ujar Elia yang sampai mengempaskan punggungnya pada sandaran sofa tempatnya duduk.

__ADS_1


“Aku sangat berhutang budi kepadamu,” ucap Kim Jinnan yang kemudian meraih beberapa helai tisu dari kotak tisu yang tersedia di meja.


“Itu sudah menjadi kewajibanku, apalagi meski aku lebih muda, aku ini kakaknya Ngi-ngie!” balas Elia dengan santainya.


Kim Jinnan tersipu. “Sekali lagi, makasih banyak, ya?” lanjutnya benar-benar tulus.


“Ly ... tolong kirim rekamannya ke WA aku, buat bukti, ya? Besok, bahkan bila perlu, malam ini juga, aku ingin menemui si Irene ini,” pinta Pelangi sambil menyeka air matanya menggunakan tisu pemberian Kim Jinnan.


“Ya, aku rasa, lebih baik kalian memang menemui Irena dan berbicara empat mata dengannya,” ujar Rafaro yang akhirnya angkat suara.


“Jadi, apakah semuanya sudah selesai?” tanya Elia kemudian.


Elia mengerling bingung dan kemudian menatap ketiga orang yang ada di sekitarnya.


“Untukmu sudah, tapi belum untuk Ngi-ngie dan Jinnan,” balas Rafaro yang duduk di sebelah Elia, sarat pengertian.


Elia mengangguk-angguk mengerti. “Tapi, meski Irene salah, kalian jangan sampai memborbardir dia, ya? Gitu-gitu, dia korban, lho. Kelihatan trauma banget.”


Kim Jinnan mengulas senyum. “Kamu cocok jadi psikiater,” pujinya kepada Elia.


“Memang maunya begitu!” balas Elia ceria.


Pelangi tersipu dan menertawakan Elia. “Pantas, kamu sukses bikin Elena cemburu!”


“Duh ... itu, belum beres iya,” saut Elia yang kembali menjadi murung.


“Elena hanya belum paham,” ujar Rafaro berusaha meluruskan.


“Tapi membuat orang lain bisa paham apalagi satu pemikiran dengan kita, bukan perkara mudah,” timpal Kim Jinnan yang menatap serius Rafaro.


“Semuanya kembali pada kesadaran masing-masing,” ujar Pelangi sambil tertunduk asrah. Ia mengembuskan napas panjang yang menegaskan kepasrahannya.


“Sayangnya, enggak semuanya bisa begitu,” gumam Elia sambil menunduk pasrah dan sampai terdengar Rafaro.


Suasana di sana menjadi senyap lantaran mereka larut dengan pemikiran masing-masing. Mengenai sulitnya membuat orang lain mengerti yang bahkan bisa menjadi pokok dari masalah tanpa harus membuat kita benar-benar melakukan kesalahan.


*** 


“Seharusnya, semuanya sudah baik-baik saja, kan? Bukankah Elena hanya ingin melihatmu memiliki pacar juga?” ucap Rafaro ketika mereka sudah di dalam mobil dan bersiap meninggalkan kediaman Yuan.


“Menurutku, itu terlalu naif! Elena begitu karena ternyata, Atala menyukaiku. Mungkin, itu sejenis kecemburuan Elena kepadaku. Jadi, perihal punya pacar dan tidaknya, bukanlah pokok masalahnya. Kamu jangan terlalu mencemaskanku,” balas Elia sambil mengenakan sabuk pengaman.


“Tapi aku enggak bisa berhenti mencemaskanmu,” balas Rafaro yang menjadi tertunduk pasrah.


Elia menggeleng tak habis pikir sembari mengulas senyum.


“Ya sudah, sekarang kamu fokus dengan olimpiade dan sekolahmu saja,” timpal Rafaro yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Ketika Rafaro sudah mulai mengemudikan mobilnya, satu-satunya yang menjadi beban di kepala Elia hanyalah mengenai hubungannya dengan Elena. “Semoga ada titik terang!” batinnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2