
“Bukankah sesempurna-sempurnanya hubungan anak dengan orang tua sambung, ibarat puzzle yang akan tetap memiliki celah walau tersusun sempurna?”
Bab 69 : Masih Tentang Restu
****
“Coba berikan Pelangi kepadaku,” pinta Kimo lantaran meski sudah digendong sambil ditimang oleh Rara, Pelangi terus saja rewel, tak hentinya menangis.
Rara menyerahkan Pelangi kepada Kimo dengan hati-hati. Kemudian ia segera berlari ke meja rias dan mengambil ikat rambut dari sana. Ketika ia memastikan waktu pada beker di nakas, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam sedangkan tiga puluh menit yang lalu, ia baru saja mengabari Yuan dan memberitahukan mengenai keadaan Pelangi.
Rara bermaksud mengikat rambut Kimo agar tidak mengganggu Pelangi, tetapi karena ia hanya sedada Kimo, ia menjadi kesusahan menjangkau kepala kekasihnya yang juga memiliki leher jenjang. “Jongkok ... jongkok,” pintanya
“Ya ampun ribet banget sih, kamu, Ra. Tahu-tahu Pelangi lagi sakit rewel begini,” keluh Kimo yang terpaksa menuruti kemauan Rara. Ia sampai jongkok dan tentu keadaan tersebut membuatnya sangat tidak nyaman.
“Potong rambut saja kenapa biar rapi? Biar orang-orang tahu kamu punya telinga,” omel Rara.
“Aku nyaman gaya begini,” kilah Kimo cepat.
“Tapi rapi lebih nyaman dilihat, kalau gayamu juga rapi. Awas saja kalau besok masih begini, aku botaki sekalian!” balas Rara masih mengomel.
Kimo mendengkus melepas kepergian Rara yang membawa baskom kompres berikut botol susu bekas. Namun tak sampai sepuluh menit, wanita bertubuh mungil itu sudah kembali membawa baskom kompres berikut botol susu yang sudah terisi.
“Pelangi minum susu dulu, ya.” Rara menahan botolnya sambil sesekali mengompres ketiak berikut sekitar leher Pelangi, sedangkan Kimo yang masih mengemban Pelangi juga terus menimang agar Pelangi merasa lebih nyaman.
“Usahakan Pelangi tetap mengonsumsi cairan biar enggak dehidrasi. Duh ... jangan sakit ya, Sayang. Aunty enggak tega kalau kamu harus banyak minum obat apalagi kalau sampai menginap di rumah sakit lagi.” Rara menatap Pelangi dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sudah ... sudah, jangan berpikir aneh-aneh. Sebentar lagi Pelangi juga sembuh,” ujar Kimo yang tak kalah cemas. Mengurus anak orang lain yang sakit saja membuatnya begitu cemas, apalagi jika mengurus anak sendiri? Memikirkan itu, Kimo refleks mengamati wajah Rara. “Kayaknya lebih seru kalau kita urus anak kita sendiri, ya?” ujarnya.
Apa yang baru saja Kimo katakan membuat Rara tak bisa berkata-kata. Rara menjadi merasa sangat gugup karenanya. Akan tetapi, Rara memilih fokus mengurus Pelangi dan pura-pura tidak mendengar apa yang Kimo sampaikan.
Semenjak mengetahui Piera masih hidup dan naasnya, ibunya itu justru menjadi simpanan sekaligus duri hubungan orang, kenyataan tersebut sangat membuat Rara malu, terlepas dari Rara yang menjadi tidak yakin, adakah keluarga yang sudi menjadikannya menantu?
***
Setelah mengemudi dengan buru-buru atas kecemasan terhadap Pelangi yang membuat Yuan dan Keinya sangat tegang, ke duanya juga buru-buru dalam memasuki apartemen. Baik Keinya maupun Yuan kompak mengganti pakaian mereka kemudian mencuci tangan berikut membasuh wajah menggunakan sabun.
Keinya langsung mengambil alih Pelangi, sedangkan Kimo dan Rara sama-sama menepi, menjadi penonton apa yang akan Keinya lakukan. Namun, Kimo yang tahu situasi, yakin Keinya akan memberi Pelangi ASI, memilih undur dan hanya pamit pada Rara.
Setelah Kimo pergi, Rara langsung menghampiri Keinya yang duduk di tepi kasur dan bersiap memberi Pelangi ASI.
“Semuanya baik-baik saja, kan?” tanya Rara lirih sambil mengelap buih keringat di sekitar leher Pelangi sesaat setelah ia duduk.
Keinya buru-buru mengangguk. “Hanya masalah kecil.”
“Tapi sepertinya cukup serius, ya? Pelangi sampai demam begini? Dibawa tenang, ya, Kei. Takutnya berdampak ke Pelangi,” ujar Rara tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
Keinya mengulas senyum sambil mengangguk. “Makasih, ya, Ra. Kamu selalu ada buat aku.”
Rara mengangguk dengan bibir yang mengerucut. Tak lama setelah itu, kedatangan Yuan yang buru-buru langsung membuatnya undur.
“Makasih, ya, Ra,” sergah Yuan.
Rara kembali mengangguk sambil menoleh untuk menatap Yuan. “Jangan sungkan. Kalian juga jangan berterima kasih terus, karena itu bikin aku jadi sungkan.”
Yuan dan Keinya kompak meringis melepas kepergian Rara yang sampai menutup pintu kamar keberadaan mereka.
***
Rara melangkah lemas, tak bersemangat. Kimo yang tak sengaja melihatnya ketika pria itu menoleh ke arah pintu kamar Keinya saja menjadi cemas. Kimo sampai bangun dari sofa tempatnya duduk.
“Kamu kenapa?” tanya Kimo.
__ADS_1
Rara menggeleng membalas pertanyaan kekasihnya. Ketika Rara baru akan menuju sofa keberadaan Kimo, seseorang menekan bel. Sontak, hal tersebut membuat mereka kompak saling tatap, berkode mata perihal siapa yang datang di luar sana.
“Biar aku yang buka,” sergah Kimo.
“Eh, enggak usah. Biar aku saja. Kalau yang datang kenalan Yuan atau Keinya bagaimana? Mereka pasti langsung berpikir macam-macam kalau yang buka pintu apartemen justru kamu,” tolak Rara yang seketika itu juga langsung berlari ke arah pintu.
“Sebenarnya Rara kenapa?” lirih Kimo mulai merasa risi dengan perubahan Rara yang menjadi murung.
Ketika Rara memastikan siapa yang datang melalui CCTV dan terpasang di sebelah pintu, Rara langsung terkejut.
Yang datang dan kembali menekan bel dengan tidak sabar itu Khatrin. Ekspresi wanita yang Rara ketahui sebagai mama Keinya itu terlihat begitu judes.
Kedatangan Rara yang sampai lari sedangkan pintu masih tertutup, sukses mengejutkan Kimo.
“Kenapa lagi? Memangnya siapa yang datang?” sergah Kimo cukup mengomel kendati ia bertutur lirih.
“Yang datang maminya Keinya!” balas Rara kebingungan.
“Ya sudah daripada kamu kebingungan begitu, kamu bilang dulu saja ke Keinya,” balas Kimo dan berharap Rara tak lagi kebingungan.
“Ah iya, ide bagus!” ucap Rara sambil menjentikkan jari kanannya kemudian pergi meninggalkan Kimo menuju kamar Keinya.
Setelah Rara pergi, Kimo kembali duduk sambil mengecek laporan dokumen pekerjaan melalui ponselnya.
“Kei, mami kamu datang. Langsung masuk saja atau kamu mau siap-siap dulu?” ucap Rara sesaat setelah mengetuk pintu kamar Keinya.
***
Kabar mengenai kedatangan Khatrin dari Rara, membuat Keinya dan Yuan refleks saling tatap.
“Ngapain Mami sampai ke sini?” gumam Keinya gusar. Pelangi baru saja mulai tenang, kenapa Khatrin justru datang?
Semenjak mengandung dan menjadi seorang ibu, hal terpenting bagi Keinya adalah kebahagiaan Pelangi. Apa pun itu, ia akan mengusahakan yang terbaik untuk Pelangi. Bahkan meski kebahagiaan Pelangi harus membuatnya berseberangan dengan cara pikir Khatrin karena Pelangi menginginkan Yuan.
“Langsung masuk saja, Ra,” seru Yuan mengambil keputusan lantaran Keinya justru diam. Keinya terlihat sangat tidak nyaman. Yuan yakin, itu terjadi lantaran Khatrin menentang hubungan mereka.
“Ingat, Kei. Sikap dan cara pikir kamu akan menjadi penilaian tersendiri, mami kamu kepadaku,” ucap Yuan lantaran Keinya tetap diam. “Yang sabar saja. Kita jalani pelan-pelan. Sini, biar Pelangi sama aku. Kamu temui mami dulu.”
Meski enggan, Keinya memilih memberikan Pelangi pada Yuan.
“Aku benar-benar minta maaf, Yu. Aku yakin, mamiku sudah bikin kamu sakit hati,” ucap Keinya tulus.
“Kamu ini ngomong apa, sih? Jangan bahas itu lagi,” balas Yuan sambil menimang Pelangi. Kemudian ia juga mengajak Pelangi mengobrol. “Kalau Pelangi sayang Papa ... Pelangi enggak boleh sakit, ya. Pelangi harus nurut sama Mama, apalagi besok Papa ke luar kota. Papa janji bakalan cepat selesein urusan Papa, biar kita bisa sama-sama lagi.”
Keinya terenyuh dan nyaris menangis, tapi perhatiannya tercuri pada senyum Pelangi. Anaknya itu mau tersenyum karena Yuan? Sulit dipercaya karena kepadanya saja, Pelangi tak langsung tersenyum begitu!
“Pelangi lebih sayang Papa ketimbang Mama, ya?” keluh Keinya yang kemudian mengerucutkan bibir sambil mengamati wajah Pelangi lebih dekat.
Yuan tersenyum bangga merayakannya. “Ayo, Sayang, bilang; iya!”
“Ternyata kalian memang sekongkol!” rutuk Keinya lantaran senyum Pelangi semakin lebar saja, bahkan anak semata wayang dari pernikahannya dan Athan itu sampai mengoceh dengan tatapan yang hanya tertuju kepada ke dua mata Yuan.
Keinya mendekap punggung Yuan dan menyandarkan dagunya di sebelah pundak Yuan, persis di atas wajah Pelangi.
Tak lama setelah itu, pintu kamar terbuka dari luar. Yuan dan Keinya yang refleks memastikan, langsung mendapati Khatrin sebagai pelakunya.
Khatrin terdiam menatap kebersamaan mereka dengan wajah dingin bahkan kejam.
“Masuk, Mi ...,” lirih Keinya.
***
__ADS_1
“Ra ...,” panggil Kimo ketika Rara bergegas ke dapur.
“Bentar, aku mau bikin teh buat maminya Keinya.”
Kimo mengangguk sembari menyusul Rara ke dapur. “Setelah ini kita keluar sebentar biar mereka lebih leluasa.”
“Iya. Aku pikir juga begitu,” balas Rara sambil mengaduk teh celup yang ia seduh.
Kemudian setelah mengantarkan tehnya ke kamar Keinya dikarenakan Khatrin ada di sana, sesuai rencananya dengan Kimo, ia pamit untuk pergi ke luar sebentar.
Khatrin masih mengamati suasana kamar keberadaannya. Kamar Keinya dan Pelangi yang dilengkapi ranjang bayi berikut satu boks berukuran sekitar 2x1 meter beralas kasur, dan Khatrin ketahui merupakan boks bayi juga. Tak beda dengan ranjang bayi, boks bayi tersebut juga disertai banyak mainan gigit berikut kerincingan. Sementara yang tak kalah mencolok dari kamar, tak lain mengenai tiga buah bingkai berisi foto kebersamaan Keinya, Yuan, berikut Pelangi. Ke tiga foto tersebut mengenakan pakaian sekaligus warna berbeda, ke tiganya selalu sama. Dari setelan kaus putih dan celana jin panjang warna biru tua. Gaun selutut lengan pendek beraksen garis merah yang sama-sama Keinya dan Pelangi kenakan, sementara Yuan mengenakan kemeja lengan pendek bermotif senada. Sedangkan di foto paling tengah, ketiganya kompak mengenakan piama panjang warna putih dan tersenyum ke arah kamera dengan Pelangi yang posisinya selalu digendong Yuan.
Setelah mengamati semua foto tersebut, Khatrin menghela napas sangat dalam.
“Malam ini Mami tidur di sini. Kalian harus terbiasa di bawah awasan Mami sebelum kalian menikah.”
Perkataan Khatrin terdengar dingin bahkan kejam.
Keinya menghela napas kesal. Andai saja Yuan tak menggenggam tangannya, ia sudah melayangkan protes. Kenapa Khatrin harus mengawasi mereka, sedangkan niat baik Yuan menikahi Keinya justru ditentang?
“Jadi ini alasan Kainya sangat keras kepala? Karena di balik keanggunan Mami, Mami juga egois?” lirih Keinya tapi sampai terdengar Yuan termasuk Khatrin yang dimaksud.
“Keinya,” tegur Khatrin.
“Kalau begitu, aku titip Pelangi sebentar, Mi. Tapi Mami ganti pakaian dulu. Sebentar, sepertinya baju kita seukuran.” Keinya bergegas mengambilkan piama panjang untuk Khatrin gunakan.
Mungkin dua puluh menit kemudian, Khatrin keluar dari kamar mandi mengenakan piama pilihan Keinya.
Pelangi sudah tertidur di ranjang, sedangkan Keinya dan Yuan yang memandanginya sambil menyandarkan kepala mereka pada tepi ranjang, segera bangkit sesaat setelah mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
“Mi, titip Pelangi sebentar, ya. Aku mau susun keperluan Yuan karena tiga hari ke depan, Yuan mau ke luar kota,” ucap Keinya yang sebenarnya sengaja mengerjai Khatrin. Bahkan ia sengaja tidak menunggu kesanggupan Khatrin. Ia langsung berlalu setelah mengatakan maksud kepergiannya sambil menarik paksa Yuan dari sana.
“Jangan karena mencintaiku, kamu jadi enggak sopan sama Mami, Kei,” tegur Yuan penuh pengertian dan sampai terdengar oleh Khatrin.
Khatrin bergeming. Ia yang awalnya masih berdiri di depan pintu kamar mandi segera mendekati Pelangi. Melihat wajah Pelangi, ia justru teringat awal ia memasuki kamar Keinya. Pelangi dalam gendongan Yuan sedang tersenyum sedangkan Keinya mendekap punggung Yuan dari belakang. Yang Khatrin tahu, Yuan bukan ayah kandung Pelangi, tetapi kenapa pemandangan seperti tadi begitu sempurna tanpa celah sedikit pun?
Bukankah sesempurna-sempurnanya hubungan anak dengan orang tua sambung, ibarat puzzle yang akan tetap memiliki celah walau tersusun sempurna? Namun, kedekatan Yuan dan Pelangi ibarat lukisan. Benar-benar indah. Yuan benar-benar tulus mencintai Keinya berikut Pelangi? Akan tetapi, apakah Yuan juga bisa membuat Kainya menerima kenyataan?
****
“Alasan Mami menentang hubunganku dan Yuan, hanya karena Kainya?” tanya Keinya mencoba mencari tahu lebih rinci, alasan Khatrin menentang hubungannya dan Yuan.
“Sudah malam Kei, sebaiknya kamu tidur,” balas Khatrin sambil meninggalkan Keinya dan langsung bersiap tidur.
Keinya menghela napas pelan. Ia tak langsung mengikuti ucapan khatrin lantaran ia justru terduduk sambil mendekap ranjang tidur Pelangi. Yuan bilang, ketika ia merasa kesal apalagi marah, ia cukup memandangi wajah Pelangi. Seperti apa yang tengah Keinya lakukan, memang membuat Keinya merasa jauh lebih tenang, tetapi jika membayangkan respons keluarga Yuan mengetahui lamaran Yuan justru ditolak Khatrin, apa yang harus Keinya lakukan?
“Yang seharusnya enggak kasih restu kan pihak dari Yuan, Mi. Logikanya ... semua kekacauan di keluarga kita dan Yuan itu karena Kainya. Pihak Yuan enggak menuntut Kainya saja sudah untung. Bahkan terakhir kali, kecelakaan yang sampai bikin kaki kanan Yuan enggak bisa kembali normal, mereka masih bisa menerima karena mereka melihat aku dan Pelangi,” Keinya mengatakan itu sesaat setelah meringkuk membelakangi Khatrin.
“Orang tua Yuan sayang banget sama Pelangi. Mereka juga langsung menerima kami tanpa syarat. Padahal mereka tahu posisiku ... aku ini janda, Mi. Sedangkan Pelangi juga jelas bukan cucu mereka.”
“Setelah semua yang harus Yuan lalui ... rasanya enggak adil kalau Mami justru bersikap seperti tadi siang. Bukan karena aku gampangan apalagi aku belum lama cerai dan masa idahku juga baru beres, tapi kalau sudah menemukan yang seperti Yuan dan keluarganya, mau cari yang seperti apa lagi, Mi?”
Lantaran Khatrin tak kunjung merespons, Keinya sengaja bangkit dan menatap wajah Khatrin hingga membuatnya merangkak di atas tubuh wanita itu. “Aku tahu Mami pura-pura tidur! Serius Mami masih mau pura-pura? Oke, aku tidur sama Yuan saja!”
Keinya segera menyingkirkan selimut tebal dari tubuhnya dan beranjak meninggalkan kamarnya dengan langkah tergesa.
“Keinya ...!” seru Khatrin yang langsung mengejar Keinya. Sialnya, kakinya justru tersandung tumpukan selimut yang terjatuh di lantai, hingga tubuh Khatrin juga terjerembam di atas selimut dan sebagiannya sampai mencium lantai.
Khatrin kehilangan jejak Keinya dan mau tidak mau, ia terpaksa menekan tombol pintu apartemen Yuan.
*****
__ADS_1