
“Keinya sudah bahagia di Surga, Mi.”
Episode 46 :Keinya Dalam Kenangan Keluarganya
****
Rara melangkah tak bersemangat, sangat loyo meninggalkan ruang rawat Kainya.
Langkah Rara teramat pelan bersama hatinya yang terasa begitu gamang. Kejadian tadi, kebersamaan sepasang paruh baya yang begitu mencemaskan Kainya sarat ketulusan, justru membuat Rara merasa begitu sakit karena baginya, jika Kainya mendapatkan itu, Keinya juga harus mendapatkannya.
Setelah meninggalkan lorong keberadaan ruang rawat Kainya menuju lorong seberang yang hanya membuatnya menghabiskan waktu tak kurang dari lima menit dengan langkahnya yang begitu pelan, Rara telah sampai di depan pintu ruang rawat Yuan.
Rara tak langsung memasuki kamar rawat bersuasana tenang tersebut. Rara justru menatapnya sangat lama bersama rasa sakit yang kian membuncah memenuhi dadanya. Rara yakin, Keinya belum tahu apa-apa. Mengenai Kainya, berikut keluarganya.
“Kalau Keinya tahu, dia pasti akan sangat terluka ... kenapa mereka melakukan semua ini kepada Keinya? Ini enggak adil!” Rara tak hentinya menjerit, mengecam apa yang Kainya berikut sepasang paruh baya tadi lakukan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam.
Tangis Rara pecah, tubuh mungilnya sampai terguncang-guncang akibat sesenggukan. Namun tak lama setelah itu, sebuah tangan menahan sebelah lengannya, menariknya menjauhi pintu ruang rawat Yuan.
Ketika Rara memastikan, itu Kimo. Pria yang begitu suka mengenakan jaket hoodie untuk penampilannya itu menyeretnya penuh emosi. Rara mencoba melepaskan lengan berikut tubuhnya yang sampai diboyong Kimo. Namun tenaganya tak sebanding dengan Kimo yang terlihat begitu marah kepadanya.
“K-kimo, apaan, sih? Kita sudah enggak ada urusan, ya!” tegas Rara penuh peringatan.
Kimo membawa Rara pergi menuju anak tangga yang keberadaannya di ujung lorong ruang rawat Kainya. Anak tangga yang menghubungkan lantai ruangan keberadaan mereka dengan lantai ruangan di bawahnya. Suasana di sana teramat sepi. Hanya mereka berdua tanpa orang lain dan memang jauh dari jangkauan penghuni, kecuali yang ingin menggunakan tangga darurat keberadaan mereka.
Rara segera melepaskan diri, menjauh dari Kimo sambil merapikan asal sweter yang membalut tubuhnya dan sampai berantakan akibat apa yang Kimo lakukan. Pria di hadapannya membawa tubuhnya seolah-olah, tubuh Rara barang yang bisa dicomot dan dipindahkan sesuka hati.
Setelah menatap kesal Kimo, Rara berlalu sambil mendengus.
“Jangan mengungkit masa lalu, jika kenyataan itu hanya melukai Keinya.” Kimo menatap tegas punggung Rara yang meninggalkannya. “Sudah kukatakan, Keinya memiliki Yuan. Dia tidak membutuhkan apa pun karena Yuan akan memberikan semuanya.”
Rara yang refleks menghentikan langkah sesaat setelah mendengar pernyataan Kimo, menjadi bergeming.
“Sekarang biarkan Keinya dan Yuan menentukan kebahagiaan mereka. Biarkan mereka dengan apa yang harus mereka hadapi. Juga, biarkan dirimu hidup tenang ....”
Air mata Rara berlinang dengan sangat deras. Dalam diamnya, ia berpikir, andai dirinya super hero yang bisa membasmi segala kejahatan, sudah ia pastikan Kainya berikut sepasang paruh baya tadi menjadi bagian dari kejahatan yang akan ia selesaikan. Namun sekali lagi, jika memang mereka hanya berdampak buruk untuk Keinya, apa yang Kimo katakan adalah hal yang harus Rara lakukan. Sekali lagi Rara harus menyadari, Keinya memiliki Yuan yang bisa memberikan semua kebahagiaan untuk sahabatnya itu.
“Baiklah. Mulai sekarang aku akan melepas Keinya.” Rara menarik napas dalam-dalam atas keputusan besar yang baru saja ia ambil. Namun tetap saja, sakit di hatinya tidak mau meninggalkannya atau setidaknya berkurang.
Ketika Rara melangkah pergi tanpa kata perpisahan meskipun itu hanya basa-basi kepada Kimo, kenyataan tersebut langsung membuat Kimo gelisah.
“Tapi, kamu juga tidak boleh melupakan tawaranku.”
Pernyataan Kimo barusan kembali mematahkan langkah Rara. “Tawaran?” pikirnya tidak mengerti. Tiba-tiba saja ia ingat, beberapa jam lalu, pria itu mengajaknya melakukan kesepakatan.
“Kalau memang tidak bisa, kita bisa mencobanya.” Kimo merasa ragu bahkan gugup untuk melanjutkan kata-katanya. “Keinya bilang, dia akan mengizinkanku menjadi teman baikmu, jika aku bisa membahagiakanmu.”
Apa yang Kimo katakan semakin membuat Rara bingung. Tanpa memberikan jawaban, ia kembali melanjutkan langkahnya sambil menggeleng menepis anggapan sekaligus pemikiran aneh yang tiba-tiba saja menghiasi pikirannya. Karena apa yang Kimo katakan membuatnya berpikir, Kimo sedang mengutarakan perasaan bahkan keseriusan kepadanya. Namun, Rara telanjur tidak percaya kepada Kimo. Bukan semata karena sejauh mengenal dan masih dalam hitungan hari, Kimo begitu emosional dan bisa berubah dengan waktu yang begitu cepat, melainkan juga mengenai status mereka yang dianggap Rara berbeda dan Kimo pernah mengatakan itu kepada Rara. Rara tidak sebanding dengan pria itu.
“Aku serius. Mari kita buat kesepakatan. Aku benar-benar tidak suka dianggap jahat apalagi oleh wanita sepertimu!”
Teringat kata-kata Kimo yang itu, Rara benar-benar tak mau memiliki urusan dengan Kimo apalagi kalau harus membuat kesepakatan.
Dalam diamnya, Kimo melepas kepergian Rara dengan penuh keresahan sekaligus penyesalan. “Dia benar-benar marah. Dasar wanita pemarah!” cibirnya lirih sekaligus geregetan.
***
Keinya masih terjaga untuk Yuan. Sedangkan di tempat tidur sebelah, berupa hamparan sofa lipat yang empuk dan memang nyaman untuk tiduran, Pelangi tengah asyik main sambil tengkurap. Karena meski balita tidak diizinkan tinggal, tapi setelah melakukan izin terlepas dari Pelangi yang sempat sampai diinfus, Pelangi boleh tinggal di sana dengan pengawasan terbilang ekstra.
“Tidur. Istirahatlah.” Keinya menatap cemas Yuan tak beda dengan kecemasan seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya.
__ADS_1
Yuan menggeleng di tengah raut wajahnya yang terlihat menahan sakit.
“Kenapa?” Keinya merapatkan jaraknya dari wajah Yuan. Ia yang duduk di sofa kecil sebelah Yuan, menatap pria itu lekat-lekat. Sebelah tangannya mengusap pelan kepala Yuan. Dari sana, ia masih bisa mencium bau anyir. Bahkan rambut hitam lurus nan tebal Yuan terasa begitu kaku karena kandungan darah yang belum sepenuhnya boleh dibersihkan.
“Aku takut, trauma kalau kamu justru meninggalkan aku, ketika aku tidur,” lirih Yuan sambil menatap Keinya lekat-lekat.
Keinya menggeleng sambil terus mengurus Yuan. “Aku akan merawatmu sampai kamu benar-benar sembuh.”
“Setelah itu?” tagih Yuan cepat.
Keinya terdiam memikirkan pertanyaan Yuan. Tangannya yang awalnya membelai kepala Yuan refleks berhenti. Ia mendongak, menatap kosong langit-langit ruangan keberadaan mereka.
“Kita menikah, ya?” pinta Yuan memecahkan pemikiran Keinya.
Keinya menjadi gugup detik itu juga tanpa bisa menutupinya. Ia jadi sibuk menepis tatapan Yuan dengan bibir yang kadang mengerucut.
“Kei ...?”
Keinya menunduk. “Tadi, Athan mengirimiku pesan. Dia mau cerai baik-baik asal aku tidak membatasi hubungannya dengan Pelangi.”
Yuan masih menatap Keinya. “Memang begitu yang harus dia lakukan. Dia enggak boleh egois setelah semua yang dia lakukan pada kalian.”
Keinya menghela napas pelan. Raut wajahnya sarat kesedihan sementara tatapannya kosong. “Dunia ini benar-benar penuh kejutan. Semuanya berubah dengan begitu cepat. ... aku pikir, kemarin aku baru saja menikah. Tapi beberapa saat lalu, kamu justru mengajakku menikah dan membuatku tersadar, pernikahan yang rasanya baru kemarin kujalani, telah berakhir.”
Sebelah tangan Yuan yang tidak diperban dan memang tepat bersanding dengan sebelah tangan Keinya, meraih dan menggenggam tangan wanita itu.
Seulas senyum menghiasi wajah Keinya, membalas senyum Yuan.
“Semuanya akan baik-baik saja.” Yuan mengatakan itu penuh keyakinan.
Keinya mengangguk. Sebelah tangannya yang tidak Yuan genggam, menggenggam tangan Yuan. “Aku baik-baik saja.”
Keinya segera mengangguk. “Sesampainya di apartemen, aku akan langsung banyak memasak untukmu.”
Yuan memang sudah meminta rujukan rawat ke Jakarta. Ia sengaja melakukannya setelah mendapat kabar dari Kimo perihal penyebab kecelakaannya. Bahkan ia sengaja menutup kasus kecelakaannya pada polisi termasuk membatasi aktivitas Keinya di rumah sakit, agar wanitanya tidak mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Baik mengenai Kainya, juga sepasang paruh baya yang menyertainya.
*****
Keesokan harinya, ketika Keinya mendampingi pemindahan Yuan menuju ambulans yang sudah disediakan pihak rumah sakit, ia nyaris berpapasan dengan wanita paruh baya yang begitu mirip dengannya. Si wanita memang sempat melihat wajah Keinya sekilas dan langsung membuatnya terkejut sekaligus penasaran. Namun karena di waktu yang sama si pria bule tiba-tiba saja memanggilnya dari balik pintu ruang rawat Kainya, hingga fokusnya menjadi terkecoh. Terlebih, ketika ia kembali memastikan ke arah keberadaan Keinya, Keinya sudah tidak ada dan entah ke mana?
“Mi, cepat ke sini!”
Meski setengah hati, akhirnya Khatrin, wanita yang begitu mirip dengan Kainya dan Keinya, menghampiri si pria bule.
“Kainya minta diantar ke pasien yang dia tabrak. Tolong Mami urus soalnya Papi mau urus pekerjaan penting. Klien telepon terus, Papi jadi enggak enak sama mereka.” Philips, si pria bule yang memang suami Khatrin, bergegas masuk meninggalkan sang istri tanpa menunggu balasan atau persetujuan lebih dulu.
Khatrin segera menyusul kepergian sang suami. Ia langsung menatap Kainya penuh kasih sayang. “Minta maafnya besok saja. Lagi pula kamu juga belum boleh banyak gerak,” ucapnya.
Kainya menggeleng dengan begitu manja. Wajahnya menunduk sedih. Kenyataan tersebut membuat Khatrin tidak tega dan langsung meraih kursi roda yang sudah tersedia di sebelah sofa kecil tempatnya dan Philips bergantian menjaga Kainya.
“Baiklah ... baiklah.” Khatrin mendekatkan kursi rodanya pada Kainya tepat di sebelah tubuh Kainya. “Tapi bagaimana caranya memindahkan kamu ke kursi roda? Tubuhmu bahkan sudah lebih besar dari Mami?”
“Maksud Mami, aku gendut, begitu?” rutuk Kainya yang langsung dibalas tawa oleh Khatrin.
Di waktu yang sama, Philips tidak sengaja melihat ke arah Khatrin dan Kainya. Menyadari sang istri kebingungan dalam membantu Kainya pindah ke kursi roda, pria bertubuh tinggi tegap itu segera menghampiri dan memindahkan Kainya ke kursi roda dengan sangat hati-hati.
Melihat apa yang Philips lakukan, hati Khatrin menjadi berdesir dengan rasa nyaman yang seketika membuatnya merasa begitu tenang. Sambil memegangi ponsel Philips yang masih terhubung dengan panggilan klien, Khatrin menatap haru Philips berikut Kainya. Namun bayang-bayang yang menghiasi ingatannya, mengenai ia yang melihat wanita yang menggendong bayi dan begitu mirip dengan Kainya beberapa saat lalu, hal tersebut mengusik kebahagiaannya. Tadi itu, Khatrin melihat Keinya yang mengemban Pelangi.
“Kok bisa mirip banget, ya? Tapi kan, Keinya sudah meninggal?” batinnya menjadi berduka. Mengingat itu, perasaan Khatrin menjadi sangat hancur. Mengingat ketika untuk pertama kalinya ada seorang gadis lugu yang tiba-tiba saja memanggilnya “mama”, sekitar sembilan tahun yang lalu.
__ADS_1
Saat itu, Kainya mendatangi Khatrin ke rumah. Dan setelah seorang ART mengabari Khatrin, Khatrin pun menemui gadis yang langsung membuatnya kalang kabut hanya dari namanya—Kainya. Dan ketika ia memastikan dengan perasaan tidak sabar dipenuhi harapan yang langsung tergelar, benar, seorang gadis tengah mengamati keindahan rumahnya penuh decak kagum.
“Benar kamu Kainya?” tanya Khatrin saat itu dan langsung mengakhiri pengamatan Kainya terhadap kemegahan rumah Khatrin.
Kainya balik badan dan terlihat tidak sabar. “Mama?!”
Melihat rupa si gadis yang mewarisi kecantikannya, hati Khatrin bergejolak girang. Khatrin segera membentangkan kedua tangannya untuk memeluk gadis tersebut yang tidak lain Kainya ketika remaja, di mana, apa yang dilakukannya juga langsung disambut hangat oleh Kainya. Kainya langsung berlari dan mendekap Khatrin sangat erat.
“Mama akhirnya aku bisa ketemu Mama! Bunda panti bilang, Mama mencari kami?” Kainya bertanya antusias di tengah kesibukan Khatrin menciumi wajah berikut kepalanya.
Khatrin yang terus berlinang air mata, saking bahagianya, tak mampu berkata-kata. Khatrin mengangguk dengan luapan ucapan syukur yang membuncah memenuhi hatinya.
“Ah Mama ... aku kangen banget sama Mama ....” Kainya mengeratkan dekapannya. Memeluk Khatrin jauh lebih erat dari sebelumnya.
“Maaf karena Mami sudah menelantarkan kalian. Mami terpaksa melakukannya karena saat itu Mami benar-benar enggak ada uang. Belum lagi, papa kalian juga pergi ninggalin Mami. Tapi Mami janji, Mami akan menebus kesalahan Mami ....”
Kainya mengangguk antusias sambil menitikkan air mata.
“Sekarang Mami bisa kasih semuanya buat kamu. Oh iya, panggilnya Mami saja biar sama kayak adik kamu. Kamu punya adik laki-laki, namanya Daniel. Kamu juga punya papi yang sangat baik. Namanya papi Philips. Tapi ...?”
Kebahagiaan Khatrin meredup tatkala ia tidak mendapati orang lain bersama Kainya.
Kainya menunduk dalam dan terlihat sangat sedih.
“Kamu datang sendiri?” tebak Khatrin.
Kainya mengangguk.
“Memangnya Keinya ke mana?”
Kainya tetap menunduk.
“Sayang, adikmu di mana? Bunda panti bilang, kalian tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik sekaligus pintar?” Khatrin begitu bangga bila mengingat cerita pengurus panti yang ia titipi Kainya dan Keinya. Si kembar yang malang dan harus ia titipkan ke panti asuhan demi mencari kehidupan lebih baik, tumbuh dengan begitu baik. Menjadi gadis cantik dan juga pintar di mana semua orang yang mengenal juga menyukai mereka.
Namun apa daya, kebahagiaan Khatrin seketika sirna tatkala ia mendapati Kainya justru berlinang air mata sambil menatapnya penuh rasa bersalah.
“Maaf, Mi ... aku enggak bisa jaga Keinya.”
“Enggak bisa jaga Keinya, maksudnya bagaimana?”
Kainya menepis tatapan Khatrin dan kembali menunduk sedih. “Dua bulan yang lalu, Keinya kecelakaan. Keinya sudah bahagia di Surga, Mi.”
Pengakuan Kainya saat itu begitu sulit Khatrin terima. Namun bagaimana lagi, karena kenyataannya, Keinya memang sudah bahagia di Surga sana? Jadi kini, setelah Khatrin tidak sengaja melihat wanita muda yang menggendong bayi dan begitu mirip Kainya, ia merasa itu bagian dari teguran Tuhan lantaran ia masih belum bisa menerima kenyataan, seorang putri kembarnya telah bahagia di Surga.
“Mi, kenapa Mami menangis?” tanya Kainya bingung.
“Sayang? Kamu baik-baik saja?” Philips juga tak kalah mencemaskan Khatrin.
Khatrin menggeleng tanpa bisa menyudahi kesedihan berikut tangisnya. Terlebih, sesal dan rasa bersalah selalu membuatnya tidak baik-baik saja, jika ia teringat Keinya. Kenyataan tersebyt terjadi lantaran Khatrin belum sempat memberikan kehidupan layak kepada Keinya, tapi Tuhan justru mengambil Keinya kembali.
“Mami kangen Keinya. Tadi Mami kayak lihat Keinya.”
Pengakuan Khatrin langsung membuat jantung Kainya berdegup tidak karuan. Kainya menjadi ketakutan. “Jangan-jangan, Mami beneran melihat Keinya?” batin Kainya ketar-ketir.
Philips langsung merengkuh tubuh sang istri. Wanita yang begitu ia cintai itu memang selalu bersedih dan akan menyalahkan dirinya sendiri kalau sudah teringat Keinya kembaran Kainya. “Sabar, Mi. Keinya sudah bahagia di Surga. Besok kalau Kainya sudah boleh pulang, kita bareng-bareng ke makam Keinya, ya.”
Kainya berusaha mengendalikan ketakutannya. Santai, Kai. “Santai. Setidaknya selama ini kamu sudah berusaha menjadi kakak yang baik buat Keinya.” Dalam hatinya, Kainya kembali membenarkan semua perbuatannya, tanpa terkecui kegilaannya yang telah membuat Khatrin dan Philips percaya, Keinya telah bahagia di Surga.
****
__ADS_1