Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 13 : Serius


__ADS_3

“Menilai terlebih mengkritik sudah menjadi bakat semua orang. Tuhan memberikan bakat alami itu semenjak manusia dilahirkan.”


Bab 13 : Serius 


“Kei,”


Sebenarnya, cara Yuan memanggil Keinya dengan suara lirih penuh kesabaran, cukup mengganggu wanita itu. Karena hal tersebut membuat mereka terkesan memiliki hubungan yang sangat dekat. Athan saja sangat jarang melakukannya, dan memang hanya melakukannya di kebersamaan terbilang sangat intens saja.


“Be-berhenti di situ. Aku masih istri orang, Yu!” Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja hati Keinya terasa begitu sakit. Masih istri orang? Istri orang dari mana? Bukankah Athan sudah menalaknya? Baru juga memikirkan itu, batin Keinya menjerit bersama ke dua matanya yang seketika berembun.


“Bukankah kalian akan bercerai?” Yuan menatap aneh lawan bicaranya.


Keinya terdiam. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Memangnya ada, cinta tulus tanpa memandang status seperti yang Yuan yakinkan?


Belum menemukan jawaban dari pertanyaannya, Keinya dikejutkan dengan kehadiran kaki Yuan yang sudah ada di hadapannya. Sontak, setelah memelotot kebingungan, Keinya memilih mundur dua langkah.


“Kei ... aku serius dengan ucapanku yang kemarin. Aku serius dengan semua yang kuyakinkan kepadamu. Ayo, … ayo, kita menikah.”


“Tapi ... aduh, Yu ... kamu bikin kepalaku tambah pusing.”


“Dua minggu lagi, kita akan bertemu keluargaku.”


“Y-yu ...? Yang benar saja?!”


“Bertepatan dengan peresmian apartemen, Kei. Aku mohon. Menikahlah denganku!”


“Ta-tapi aku belum menyetujuinya, kan?”


Demi Tuhan Keinya mengutuk ulah Yuan. Kenapa pria itu begitu gegabah langsung ke ranah keluarga?


Yuan mengulas senyum kemudian melangkah mendekati Keinya.


Keinya yang menyadarinya kembali mencoba menghindar. Sial, langkahnya terhalang ranjang Pelangi. Membuatnya tidak bisa kembali menghindari Yuan. Pria itu mendekapnya dengan lembut.

__ADS_1


Kedua tangan Yuan mengunci punggung berikut pinggang Keinya. Awalnya, Keinya merasa sangat tegang bahkan semakin kacau. Namun tak lama setelah itu, ada rasa lain yang justru membuat Keinya mengharapkan pelukan tersebut.


Keinya masih ingat, terakhir kali ia mendapatkan pelukan dari Athan adalah sebelum ia hamil. Dan sekarang, ia seolah merasakan kehangatan yang telah lama ia rindukan seiring rasa nyaman yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya. Keinya merasa sangat damai. Hidupnya seolah tak berbeban.


Ketika Yuan tersenyum tulus sambil memejamkan mata dan seolah begitu menikmati pelukan mereka, Keinya yang telah sadar jika apa yang terjadi padanya dan Yuan salah, mati-matian mengendalikan ketegangannya terlebih jantungnya berdegup tidak karuan. Dadanya bergemuruh karenanya.


Kedua tangan Keinya berangsur mendorong dada Yuan. “Yu, aku adalah seorang ibu. Sedangkan mencintai seorang ibu dengan mencintai seorang wanita, eggak sama.”


Merasa tak mengerti, Yuan menatap Keinya dengan mengernyit. Ia semakin menyikapi wanita itu dengan serius.


Keinya menununduk dalam, seolah tenggelam dalam kesedihan. “Suamiku selingkuh. Dia lebih memilih mantan kekasihnya bahkan mereka akan segera memiliki anak dalam waktu dekat.” Ia menghela napas, dikarenakan dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak.


Semenjak Athan melayangkan perpisahan, dada Keinya memang sering terasa sesak. Apalagi semenjak itu juga, penyesalan yang bercampur dengan amarah membuatnya menjadi istri sekaligus ibu yang gagal. Hidup Keinya menjadi gamang.


Kedua mata Keinya berkaca-kaca. Ia merasa menjadi wanita yang sangat buruk karena tidak bisa menjaga keutuhan keluarganya.


“Semua itu sudah cukup membuktikan, tak seharusnya kamu tetap memilihku. Pilih dan menikahlah dengan wanita lain saja.” Keinya masih belum berani menatap Yuan.


“Kamu yakin dengan keputusanmu?” Yuan memastikan.


Yuan menghela napas sangat dalam. Pria itu tidak langsung menanggapi balasan Keinya. Mungkin sekitar tiga menit kemudian, Yuan tiba-tiba berkata, “sekitar jam makan siang nanti, Ryunana akan ke sini. Bukankah kamu ingin menyelesaikan masalah kalian?”


Yuan masih terdengar mengatur napas, membuat Keinya berpikir jika pria itu mulai lelah menghadapinya.


Keinya mengernyit dan menatap pria di hadapannya. Cukup terkejut, sebab mata Yuan berkaca-kaca dan memenjarakannya di dalamnya. Pria itu menatapnya dengan sangat serius melebihi sebelumnya.


“Kamu kenal Ryunana? Apa Rara cerita—?”


Yuan menggeleng kemudian berdeham. Ia menepis tatapan Keinya untuk beberapa saat. “Aku hanya mengira-ngira saja, karena kamu dan Rara kerap menyebut namanya.”


“Lalu, kenapa dia ke sini?” Keinya benar-benar ingin tahu. Apa yang membuat orang penting sekelas Ryunana, datang ke apartemen Yuan? Juga, apa hubungan Yuan dan Ryunana?


Tanpa menatap Keinya, Yuan berkata, “dia salah satu wanita yang sangat berharap bisa menjadi istriku.”

__ADS_1


Yuan menjadi kerap menghela napas dan terkesan tidak baik-baik saja. “Jadi, berhubung kamu ada di sini, dan kebetulan kalian juga ada urusan yang harus diselesaikan, sementara kamu juga memintaku untuk menikahi wanita lain ….”


Kali ini Yuan memainkan rahangnya yang masih terbuka, ke kiri dan ke kanan. Pria itu terlihat sangat jengkel.


“Oh!” ucap Keinya tiba-tiba dan terdengar tak kalah jengkel.


Yuan mengernyit, melirik, kemudian menatap Keinya.


“Kamu bermaksud meminta pendapatku tentang dia, kan?”


Yuan terkesiap. Untuk beberapa saat, ia menggeragap menatap Keinya dengan tatapan tidak habis pikir.


“Jangan khawatir. Aku tipikal kritis dalam menilai. Aku akan mengatakan penilaianku dengan sejujur-jujurnya. Tapi sejauh ini, Ryunana wanita yang sangat menarik. Bahkan meski belum bertemu dengannya secara langsung, aku rasa kalian cocok. Kalian memiliki sifat yang sama.” Keinya sengaja memancing emosi Yuan.


“Ryunana ingin menjadi penulis terkenal tapi nggak bisa bikin cerita apalagi menulis. Kamu yang katanya mencintaiku, tapi nggak punya pendirian! Bukankah kalian memang sangat cocok?!” batik Keiya jengkel. Ekspresi Keinya menjadi bengis.


“Baiklah. Kita buktikan nanti. Apakah penilaianmu benar-benar terbukti?” Yuan tersenyum sarkastis, menatap Keinya nyaris tak berkedip dalam waktu cukup lama.


Keinya sengaja mengulas senyum membalas tatapan Yuan.


Yuan memepetkan Keinya tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua manik mata indah wanita itu.


Hal tersebut membuat Keinya kebingungan di tengah rasa tegang yang kembali membuatnya kacau. Bahkan dia nyaris mengalami posisi kayang, sementara kedua tangannya berpegangan pada tepi ranjang Pelangi.


“Jangan meninggalkan apartemen ini sebelum kamu membuktikan penilaianmu,” ucap Yuan penuh penegasan. Ekspresinya dipenuhi amarah.


Tak mau menyerah bahkan merasa kian tertantang, Keinya tersenyum tulus kemudian mengangguk. “Pasti.”


“Kalau kamu sampai salah apalagi gagal?” Tatapan Yuan berubah menjadi mengintimidasi.


Keinya masih menyikapi Yuan dengan santai, meski punggungnya sudah terasa pegal. “Menilai terlebih mengkritik sudah menjadi bakat semua orang. Tuhan memberikan bakat alami itu semenjak manusia dilahirkan.”


Lagi-lagi Yuan tersenyum sarkastis. Namun tak lama kemudian, kedua tangannya justru menopang punggung berikut kedua kaki Keinya hingga membuatnya membopong wanita itu.

__ADS_1


Keinya kalang kabut dan refleks memberontak tanpa terkecuali kedua tangannya yang langsung sibuk menghantam dada Yuan. “Lepas, Yu! Turunkan aku!”


****


__ADS_2