Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 54 : Keseriusan Kimo (Revisi)


__ADS_3

“Meski aku keras dan sempat minta kesepakatan, bukan berarti aku enggak serius!”


Bab 54 : Keseriusan Kimo


*****


Di bawah alam sadarnya, Rara teringat kebersamaannya dengan Gio. Mengenai wanita yang Rara panggil ibu dan sampai dipuji-puji oleh Gio. Juga, mengenai wanita yang dipanggil ibu dan justru Gio katakan sebagai wanita murahan, dalam waktu berbeda. Di titik ini, Rara benar-benar tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi pada Gio dan sampai memberikan penilaian begitu kontras terhadap ibu Rara? Rara yakin, Gio memiliki alasan bahkan mungkin masalah khusus, mengapa pria itu juga sampai membenci almarhumah ibu Rara?


“Ibuku sangat cantik,” ucap Rara suatu ketika, tepat di dua tahun usia hubungannya dan Gio.


“Mmm, benarkah? Pantas, kamu juga sangat cantik,” balas Gio santai dengan senyum manis yang menyertai tatapan teduhnya kepada Rara. Ia mengelus lembut kepala Rara yang bersandar di dadanya.


Mereka duduk di bangku menghadap meja berisi dua buah laptop, di dalam indekos Rara.


Tak lama setelah itu, Gio juga sampai menahan kepala Rara menggunakan dagunya. Mereka sangat dekat. Tak ada sedikit pun celah yang menunjukkan jika cinta Gio hanya pura-pura. Gio terlihat begitu tulus. Hubungan mereka tak beda dengan pasangan pada umumnya yang saling mencintai.


“Tapi ibuku sangat cantik, Gi!” Rara meyakinkan penuh penekanan. Karena bagi Rara, di dunia ini wanita tercantik memang disandang oleh ibunya. Rara bahkan iri jika membandingkan kecantikannya dengan sang ibu. Dan Rara sampai menengadah sambil menoleh ke belakang demi menatap wajah Gio yang ada di atas wajahnya.


Gio balas menatap Rara. “Baiklah. Kalau ibumu tidak cantik, mana mungkin kamu secantik ini.”


Di saat itu, Gio juga selalu bersikap manis sekaligus sabar. Meski kemanisan Gio tak sampai disertai hadiah mewah layaknya Yuan kepada Keinya. Namun bagi Rara, Gio yang saat itu, tak ubahnya anugerah terbesar dalam hidupnya, setelah Rara juga memiliki Keinya.


Rara tersipu dan terbahak atas pujian Gio yang kadang membuatnya sampai tidak bisa berkata-kata. “Ehm. Ibuku, dia memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dariku. Tingginya seratus tujuh pulun senti lebih.”


“Tinggimu juga lebih dari seratus tujuh puluh senti, Ra. Hanya saja, lebihan dari seratus lima puluh senti yang tersisa jadi tinggimu, terbawa tiang listrik.”


“Ya ampun ... jahat kamu ih!”


“Ya sudah, mana coba aku lihat, seperti apa kecantikan ibu mertuaku?”


“Jangan terpesona, lho. Aku cemburu!” Rara segera meraih dompetnya dari dalam tas yang ada di meja sebelah laptop dengan layar berisi lembar dokumen. Ia mengambil selembar foto berukuran kecil dari dalam dompetnya.


Sesosok wanita bertubuh jenjang, berambut panjang tergerai dengan gaya blow dry, terlihat begitu anggun sekaligus menawan. Tampilan wanita itu sangat bertolak belakang dengan Rara yang berpenampilan sangat sederhana. Dari gaya pakaian berikut susunan rambutnya saja, Rara dan si wanita sudah sangat berbeda. 


Wanita yang Rara sebut sebagai ibu itu tak beda dengan model andal, dan sampai merias tebal wajahnya. Rok selutut yang begitu mengekspos keindahan pinggul, berikut atasan sabrina lengan pendek yang begitu menonjolkan keindahan dada berikut leher jenjangnya.


“Iya. Ibumu memang cantik.” Gio langsung menatap Rara penuh peringatan. Kemudian ia meletakan foto tersebut dengan keadaan terbalik di dekat dompet berikut foto tersebut berasal. “Tapi kamu jangan begitu, Ya. Kamu enggak usah pakai pakaian terbuka apalagi sampai dandan berlebihan, kecuali kalau kamu cuma sama aku. Aku enggak mau kecantikanmu justru jadi bahan cuci mata banyak orang.”


“Ra ...?” ucap Gio. Sebelah tangannya menahan dagu Rara, menuntun wanitanya untuk balas menatapnya. “Aku enggak bermaksud apa-apa. Aku cuma berusaha melindungimu dari pandangan yang kurang baik. Sudah jangan murung begitu.”


Rara menyikut Gio. “Apaan, sih! Aku juga enggak apa-apa, kok. Justru senang, karena kamu ternyata peduli banget ke aku.” Rara mengatakan itu tanpa menatap Gio. Dengan rasa bahagia yang menyelimuti hatinya.


“Lho, jadi selama ini kamu menganggap aku enggak tulus?”


Kebersamaan penuh kebahagiaan tersebut bertolak belakang dengan kebersamaan beberapa saat lalu. Gio tak lagi memuliakan Rara. Gio justru menganggap Rara berikut ibu Rara murahan. Termasuk dengan ketulusan Gio yang juga hanya kebohongan semata, sebab pria itu justru menegaskan alasan mereka ada karena Rara hanya pelampiasan cinta Gio yang bertepuk sebelah tangan dikarenakan di masa lalu, Keinya lebih memilih Athan.


****

__ADS_1


Kimo yang terjaga untuk Rara merasa semakin terluka ketika ia mendapati linangan air mata terus berlangsung dari sudut mata Rara. Rara masih terbaring di ranjang pasien. Sebuah infus juga dipasang lengkap dengan kedua lututnya yang juga dipolesi obat merah.


Setelah merebutnya dari Athan, Kimo yang tidak mau hal buruk semakin menimpa Rara memang memilih membawanya ke rumah sakit terdekat. Menurut dokter yang menangani, luka luar yang menimpa Rara terbilang tidak parah dan bisa sembuh dalam hitungan hari. Namun, jika melihat Rara yang sapai pingsan bahkan tak kunjung sadar, dokter menduga Rara mengalami syok berat. Kenyataan ini juga yang membuat Kimo tak hanya marah kepada Gio. Karena Kimo juga menjadi membenci pria itu dengan sangat mudah. 


Andai, hubungan Kimo dan Rara terbilang baik dalam artian, mereka tidak sering salah paham, Kimo sudah menjebloskan Gio ke penjara dengan bukti yang sudah Kimo siapkan. Mengenai keadaan Rara sekarang, bukankan itu sudah cukup menjadi bukti?


Tangan Kimo yang sempat mengepal atas kebenciannya kepada Gio, berangsur menyeka linangan air mata Rara. Dengan dada yang terasa sangat sesak, ia sampai menitikkan air mata, bersumpah akan memberikan balasan berkali lipat kepada Gio.


Tanpa Kimo ketahui, diam-diam di balik pintu ruang rawat keberadaannya, Yura mengintip. Wanita itu menyaksikan perhatian Kimo kepada Rara benar-benar dari awal. Dari ketika Kimo keluar dari kantor dengan buru-buru. Kimo yang selalu lari di setiap langkahnya, berikut ketika Kimo mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata.


Awalnya, Yura berniat meminta kejelasan sekaligus kesempatan kepada Kimo. Namun, Yura yang baru akan keluar dari taksi dan mendapati Kimo buru-buru menuju tempat parkir bahkan langsung mengemudi meninggalkan kantor, memilih mengikuti menggunakan taksi. Selain mengikuti, Yura juga berusaha menghubungi Kimo. Namun seperti biasa, pria yang begitu menyukai gaya rambut gondrong menyerupai karakter Yoon Ji Hoo di Boys Over Flowers dan diperankan oleh Kim Hyun Joong itu kembali mengabaikannya.


Awalnya, Yura marah karena ia sangat mengkhawatirkan Kimo yang pergi dengan sangat buru-buru dan terus saja mengabaikan telepon berikut pesan-pesannya. Apalagi ketika tujuan Kimo adalah taman yang membuat pria itu sampai melayangkan bogem mentah kepada seorang pria di mana Kimo terlihat sangat marah. Yura sampai keluar dari taksi yang ditumpangi dan sengaja diparkir cukup jauh dari keberadaan Kimo. Namun, ketika Yura memerhatikan lebih teliti, ternyata Kimo melakukan itu semua dikarenakan seorang wanita yang tak sadarkan diri dan itu Rara. Detik itu juga api cemburu membakar Yura. Yura benar-benar marah bahkan membenci Rara, meski kebenciannya itu juga tidak seharusnya terjadi lantaran Kimo-lah yang terkesan sangat mencintai Rara. 


Seperti sekarang, setelah terjaga hingga larut malam untuk Rara, Kimo yang menggenggam erat sebelah tangan Rara juga sampai mendaratkan ciuman hangat di kening Rara.


“Bangunlah. Marahi aku lagi. Aku lebih suka kita terus bertengkar daripada melihatmu sakit seperti ini.”


Kata-kata penuh kekhawatiran Kimo yang terdengar begitu tulus, di mana pria itu juga sampai menitikkan air mata, tak hentinya menggenggam erat sebelah tangan Rara menggunakan kedua tangan berikut menatap wanita itu lekat-lekat dalam jarak yang begitu dekat, membuat Yura pupus harapan. 


Andai Yuan termasuk Keinya mau membantunya membujuk Kimo, pasti Yura tidak sesakit sekarang. Yura jadi kesal kepada kedua orang itu apalagi Rara. Kenapa Rara harus ada setelah Kimo lepas dari wanita yang sempat menjadi cinta pertama Kimo? Kenapa Tuhan tidak pernah memberi Yura kesempatan padahal Yura sangat mencintai Kimo?


***


Ketika Rara tersadar, kening Kimo persis menyandar di dagunya. Ya, Rara langsung bisa mengenali sosok itu Kimo hanya dari warna rambut pirang termasuk aroma parfum teh hijau pria itu yang tercium begitu menenangkan tak beda dengan aroma terapi. Namun pertanyaannya, kenapa Kimo ada di dekatnya, tepat ketika ia membuka mata?


Athan menyelamatkan Rara, tapi pria itu justru tiba-tiba tersungkur. Rara hanya ingat sampai situ, di mana semua itu sudah langsung membuat kepala Rara terasa sangat sakit. 


Rara bingung dan tak bisa membedakan apa yang Rara alami. Apakah Rara hanya berdelusi, mimpi, atau memang kenyataan yang Rara takuti benar-benar telah terjadi?


Erangan dari Rara membuat Kimo terjaga. Ketika Rara memastikan, Rara seperti kesakitan sambil menjambak kedua sisi kepalanya.


“Sttt ... Ra, jangan begini!” Kimo menahan tangan Rara dan membentangkannya, menatap tegas wanita itu untuk menghentikan ulah Rara.


Rara menatap bingung Kimo yang ada di hadapannya. Wajah pria itu persis di atas wajahnya. Jadi, semuanya bukan delusi apa lagi mimpi? Semuanya benar-benar nyata?


“Cukup. Jangan menyakiti dirimu lagi!”


Suara Kimo terdengar sengau. Bahkan pria itu sampai menitikkan air mata. Rara melihat ketakutan sekaligus kekesalan yang begitu besar dari cara pria itu menyikapinya.


“Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Kimo kemudian.


Bukannya cerita, Rara justru menangis. Terisak-isak hingga Kimo tak tahan melihatnya dan memilih untuk memeluknya. Rara merasa begitu sakit kalau harus mengingat atau sekadar teringat kejadian pertemuannya dan Gio.


Setelah setengah jam berlalu dan Rara juga terlihat jauh lebih tenang, Kimo membuka sebotol air mineral dan memberikannya kepada Rara lengkap dengan sedotan. Rara menerima bantuan sekaligus perhatian Kimo. Tak seperti biasa, kebersamaan mereka belum sampai dihiasi pertengkaran atau setidaknya perselisihan. Padahal, biasanya hal sepele saja bisa menjadi bahan percekcokan mereka. Namun sekarang, mereka kompak diam dalam luka masing-masing. Termasuk meski tatapan Kimo terus mengunci wajah terlebih mata Rara.


Rara menghela napas sangat dalam. Memang tak nyaman dipandang begitu dekat layaknya sekarang, tapi karena Kimo sudah sering melakukannya, ia lebih memilih menepisnya tanpa mempermasalahkannya.

__ADS_1


“Aku rasa ada yang salah dengan Gio. Gio seperti menyimpan kekecewaan yang begitu besar, dan itu karena aku.”


Meski kembalinya Rara mau berbicara membuat Kimo bahagia, apa yang Rara bicarakan juga langsung membuat Kimokesal.


“Kimo, aku mohon, kamu pasti mengetahui sesuatu. Tentang Gio? Aneh saja dia jadi,”


“Kamu boleh meminta apa pun asal tidak berkaitan dengan dia!” tegas Kimo menahan kata-kata Rara.


Rara menggeleng sambil berlinang air mata. “Aku mohon ....”


Kimo menepis tatapan Rara dengan mata berkaca-kaca. Namun kedua tangan Rara berangsur menggenggam sebelah tangannya. Wanita itu menatapnya dengan sangat memohon.


“Aku mohon, aku janji, aku akan melakukan apa pun!”


Lanjutan permintaan Rara membuat Kimo menatap Rara. “Jangan pernah kembali kepadanya!” tegasnya cepat.


Rara mengangguk menyetujui permintaan sekaligus syarat dari Kimo.


“Apa pun?” ucap Kimo memastikan.


Rara tidak langsung menjawab. Ia terdiam, terlihat berpikir meski berakhir dengan mengangguk.


Bukannya senang, Kimo justru menjadi sangat kecewa. “Apa yang kamu cari dari pria seperti dia? Kenapa kamu begitu mencintai pria jahat seperti dia?!” Ia sampai tidak bisa mengontrol emosinya. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.


“Demi Tuhan aku sudah tidak berharap lagi kepada Gio atau siapa pun! Aku hanya ingin tahu, kenapa dia begitu membenciku bahkan ibuku!” tepis Rara tak kalah meledak-ledak.


Melihat keseriusan Rara, kekesalan Kimo berangsur mereda. “Seharusnya kamu sadar, alasanku marah di setiap kamu bahas pria lain, karena aku cemburu!” keluhnya.


Rara terpejam pasrah. “Seharusnya kamu juga enggak berharap ke aku!”


“Sudah jangan dibahas. Intinya, mulai sekarang kamu enggak boleh bertemu pria lain apalagi Gio tanpa sepengetahuanku. Dan mengenai keperluan persiapan pernikahanmu, bukankah aku sudah mengurus semuanya? Kenapa kamu masih menghubungi pria itu?!”


“Oh ... itu kamu?” Rara terkesiap, menatap Kimo tak percaya.


“Lho, memang kamu pikir siapa kalau bukan aku?” Kimo nyaris frustrasi menghadapi Rara.


Rara terdiam dan menunduk. “Kimo? Dia, melakukan semuanya untukku? Aku pikir itu Keinya dan Yuan ...?” batinnya.


Kimo mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana yang dikenakan dengan buru-buru. Setelah jemarinya sibuk di layar ponsel, ia menunjukkan bukti-bukti transaksi pembayaran yang ia lakukan kepada Rara.


“Meski aku keras dan sempat minta kesepakatan, bukan berarti aku enggak serius, Ra. Aku cinta ke kamu dan aku sungguh-sungguh. Cintaku ke kamu enggak harus bikin aku banyak omong, kan? Asal aku bisa urus semua kebutuhanmu dan sebisa mungkin bikin kamu bahagia, bukankah itu cukup?” tegas Kimo.


Rara bergeming, tak kuasa berkata-kata. Kimo, ... pria itu sedang ....?


“Jangan ada pihak lain di antara kita karena aku masih trauma!” Kimo menatap Rara masih dengan keseriusan yang membersamai. Tak beda dengan perasannya kepada Rara. Benar-benar serius.


*****

__ADS_1


__ADS_2