
“Di dunia ini, hanya ada satu Keinya, wanita yang aku cintai. Tidak ada yang lain, bahkan meski kamu juga memiliki kembaran.”
Episode 42 : Janji
Keinya bermimpi.
Dalam mimpinya, apa yang terjadi terasa begitu nyata. Ia sedang berdiri di balkon bersama Yuan. Yuan mengajak Keinya menikah. Namun di waktu yang sama, Keinya mendengar suara Kainya yang memanggil nama Keinya.
Keinya dilema. Apa yang harus ia lakukan dengan perasaan berikut cintanya? Salahkah jika ia mencintai mantan suami kembarannya? Atau, Keinya harus melupakan cintanya begitu saja demi menjaga perasaan Kainya?
Kini, Keinya tersentak dan terbangun dari mimpinya. Ketika Keinya mengamati keberadaannya, ternyata ia bukan di balkon, melainkan sebuah ruang rawat. Ia terjaga untuk Yuan dengan sebelah tangannya yang menggenggam jemari tangan pria tersebut. Pria yang juga sampai menghiasi mimpinya selain Kainya.
Terhitung, sudah seharian Keinya terjaga untuk Yuan yang tak kunjung sadar. Keinya sendiri tidak mendapat penjelasan lebih dari petugas rumah sakit. Mereka hanya meminta Keinya tetap menunggu sambil terus berdoa untuk kesembuhan Yuan, karena seharusnya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Ketika Keinya teringat Kainya, tiba-tiba saja ia mencemaskan wanita itu. Karena jika Kainya sampai melakukan segala cara demi mendapatkan Yuan, dengan kata lain kembarannya itu sangat mencintai Yuan. Keinya berpikir agar dirinya menghubungi dan berbicara dengan Kainya mengenai hubungan mereka tanpa terkecuali mengenai Yuan. Bahkan jika bisa, mereka bertiga harus duduk bersama untuk membicarakan hubungan mereka dan pastinya ada mediator yang menjadi penengah.
Keinya melepas genggaman tangannya dari jemari Yuan untuk meraih ponselnya dalam tas yang ada di nakas sebelahnya. Namun, belum juga jemarinya bergerak meninggalkan jemari Yuan, jemari pria itu justru menahannya. Keinya terkesiap menatap tak percaya jemari Yuan yang menggenggamnya. Bersamaan dengan itu, kelopak mata Yuan juga bergerak-gerak.
“Yu?!” Keinya sampai menitikkan air mata. Ia bangkit dari sofa tempatnya duduk untuk menghubungi petugas, tapi jemari-jemari Yuan yang masih lemah, tetap menahannya.
Keinya berangsur balik badan untuk menatap Yuan. Kedua mata pria itu mulai terbuka meski masih sangat lemah. Mata yang selalu menatapnya penuh cinta sekaligus kekhawatiran tersebut terlihat sangat sayu sekaligus tak berdaya. Melihat itu, Keinya menjadi merasa sangat bersalah. Keinya berangsur berjongkok dan menatap Yuan lebih dekat.
“Sebentar. Aku panggil petugas dulu,” lirih Keinya mencoba memberi pengertian sambil menatap dalam, kedua mata Yuan.
Yuan menggeleng lemah. Menatap Keinya dengan memohon di tengah wajahnya yang masih sangat pias.
“Oh, iya. Kan ada tombol panggilan perawat, ya?” Ketika Keinya nyaris menekan tombol yang dimaksud dan akan menghubungkannya dengan petugas yang bertugas, Yuan juga kembali mencengkeram jemari Keinya bahkan sampai sedikit menariknya.
Keinya menjadi mengurungkan niatnya lantaran ketika ia menatap Yuan, pria itu kembali menggeleng bahkan lebih lama dari sebelumnya. Padahal, leher Yuan masih digips. Dan jika pria itu bergerak berlebihan, pasti proses penyembuhannya akan terganggu.
“Ada apa? Kenapa aku enggak boleh memanggil petugas?” Keinya masih bertutur sarat perhatian.
“Kalau aku enggak kayak gini, kamu rnggak mungkin ada di sini, bersamaku, kan?” ucap Yuan susah payah sambil menitikkan air mata.
Perih memilin hati Keinya. Apa yang Yuan katakan di tengaj keadaan pria itu yang masih tak berdaya, sungguh melukainya. Keinya merasa sangat bersalah. Namun seperti biasa, di saat ia ingin berucap serius layaknya sekarang, lidahnya tiba-tiba saja menjadi kelu sementara air matanya justru dengan lancang berderai tanpa bisa ditahan lagi. Air mata yang seolah mewakili jerit hatinya yang begitu terluka atas luka Yuan. Namun tunggu, Yuan mengenalinya sebagai siapa?
__ADS_1
“Berjanjilah, jangan meninggalkanku apa pun yang terjadi,” lanjut Yuan masih susah payah untuk sekadar berucap.
Keinya menelan salivanya kemudian menghela napas lantaran dadanya menjadi cukup sesak. “Kamu mengenaliku?” lirihnya masih berlinang air mata. Air mata sesal yang dihiasi harapan karena ia sangat berharap Yuan benar-benar mengenalinya. Ia juga ingin tahu bagaimana caranya Yuan bisa melakukannya; membedakannya dengan Kainya karena Keinya dan Kainya sangat mirip.
Dikarenakan Yuan tak langsung menjawab, tapi justru menggeleng, Keinya menjadi harap-harap cemas.
“Yu ...?”
“Apakah kamu berpikir aku amnesia?”
“Hah?”
“Di dunia ini, hanya ada satu Keinya, wanita yang aku cintai. Tidak ada yang lain, bahkan meski kamu juga memiliki kembaran.”
Pengakuan Yuan membuat Keinya terharu kendati air matanya justru kian rebas. “Apa yang membuatmu bisa membedakan kami?”
“Apakah kamu benar-benar ingin mengetahui jawabannya?” balas Yuan masih dengan suara yang begitu lirih.
Keinya mengangguk sambil menyeka cepat air matanya. Kemudian Yuan mengangguk sambil melakukan gerakan wajah agar Keinya mendekatkan wajahnya.
Meski ragu bahkan gugup, Keinya berangsur mendekatkan wajahnya di mana tak lama setelah itu, bibir Yuan mendarat di kening Keinya.
“Aku akan mengatakannya, nanti, setelah kita menikah.”
Yuan memang sudah mengakhiri ciumannya. Tapi apa yang pria itu lakukan telanjur membuat Keinya kehilangan sebagian kewarasan. Keinya yakin, kali ini tampangnya begitu bodoh sekaligus memprihatinkan. Faktanya, Yuan sampai menertawakannya meski pria itu hanya tersenyum geli. Senyum yang membuat wajah tampannya tak lagi sepias sebelumnya.
“Tapi serius, lho, Yu. Aku penasaran. Kenapa kamu bisa membedakan kami?” Keinya berangsur meraih sebotol air mineral dan menaruh sedotan untuk Yuan minum. Ia membantu sekaligus mengurus Yuan dengan hati-hati.
“Karena aku mencintaimu, aku bisa menemukan perbedaan kalian, dengan sangat mudah.”
Keinya merasa kurang puas dengan balasan Yuan. “Penjelasan semacam itu enggak konkret, Yu!” protesnya yang kemudian menekan tombol panggilan perawat.
Yuan hanya mengulas senyum sambil memandangi Keinya yang menjadi kerap menepis tatapannya di tengah wajah wanita itu yang menjadi merah merona. Yuan yakin, Keinya sedang sangat gugup. “Berjanjilah, Kei. Jangan pernah mengambil keputusan sendiri tanpa sepengetahuanku. Sesulit apa pun jalan yang harus kita lalui.”
Keinya menghela napas dalam hingga dadanya menjadi cukup terangkat. “Aku rasa tidak ada yang akan terasa sulit, selama aku bersamamu. Hanya saja ….”
__ADS_1
“Kainya?” tebak Yuan lantaran Keinya mendadak menunduk diam.
“Yu ...,”
“Dia hanya masih butuh waktu buat menerima kenyataan, aku hanya mencintaimu.”
Dengan keadaannya yang terluka parah, sedangkan hanya melihat Keinya di sisinya langsung membuat Yuan merasa baik-baik saja, tentu apa yang Yuan rasakan kini tak lain karena kekuatan cinta mereka, terlebih Keinya juga sudah mulai mau mengakuinya. Dokter berikut perawat yang datang memeriksa Yuan, sampai terheran-heran pada keadaan Yuan.
“Pak Yuan, untuk sementara, tangan kanan Bapak mungkin tidak bisa bekerja dengan semestinya,” jelas Dokter.
Yuan mengangguk. “Dulu tangan kiri saya juga begitu. Tidak apa-apa. Ini jauh lebih baik daripada kehilangan wanita yang sangat saya cintai.”
Yuan sengaja melirik Keinya di antara senyumnya. Ulah Yuan sukses mencuri fokus ketiga orang yang menyertai mereka. Ke tiganya kompak menoleh sekaligus menggoda Keinya yang berdiri di balik punggung dokter, yang menangani Yuan.
Keinya mendelik saking gugup sekaligus malunya, tapi Yuan hanya membalasnya dengan senyum yang begitu lepas.
“Terima kasih, Kei. Aku pasti akan segera sembuh agar kita bisa jalan-jalan dan berlibur dalam waktu lama.” Yuan mengatakan itu ketika Keinya kembali sesaat setelah mengantar dokter dan kedua perawat hingga ambang pintu.
Keinya mengangguk. “Iya. Kamu harus fokus untuk kesehatanmu dulu,” ucapnya sambil membenarkan posisi selimut Yuan hingga menutupi dada pria itu.
“Tapi omong-omong, Pelangi ke mana?” tanya Yuan kemudian.
“Ah ... Pelangi sedang bersama Rara dan Kimo.”
“Kimo? Bukankah seharusnya dia ke Australia?”
Keinya mengangguk sambil menghela napas dalam, kemudian duduk di sofa di hadapan Yuan tempat awal ia terjaga untuk pria itu.
Keinya menceritakan alasan Kimo dan Rara bisa ada di Bandung. Kimo sengaja menjemput Rara di apartemen, setelah sempat menghubungi Rara untuk menanyakan keberadaan Keinya perihal kecelakaan yang menimpa Yuan, dan sampai membuat polisi menghubungi Kimo. Di mana kebetulan, Rara yang masih terjaga juga sedang kepikiran Keinya yang mengabarkan kecelakaan Yuan. Jadilah keduanya sengaja pergi ke Bandung bersama menggunakan motor Kimo.
****
Tak jauh dari ruang ICU selaku ruang rawat keberadaan Kainya, Rara dan Kimo terjaga dengan Pelangi yang ada di dekapan Rara. Dua orang polisi tampak berjaga di depan ruang rawat Kainya. Menurut keterangan salah seorang polisi, rem mobil yang Kainya kemudikan blong, hingga mobil yang Kainya kendarai menabrak mobil yang Yuan kemudikan.
Meski begitu, Kimo dan Rara tak bisa mempercayainya begitu saja. Tak semata perihal rem blong. Sebab keberadaan Kainya yang ada di Bandung, sedangkan awalnya sedang di Jakarta, sudah membuat Rara dan Kimo curiga. Dan demi membuktikan kecurigaan tersebut, mereka sengaja merahasiakannya dari Keinya, meski Kainya juga terluka parah.
__ADS_1
“Kainya itu busuk, sedangkan Keinya terlalu rapuh dan enggak mungkin membiarkan Kainya terluka,” lirih Kimo yang menatap serius ke dua manik mata hitam Rara yang bergetar. “Ini rahasia kita, dan kita harus segera memecahkanny!” lanjutnya kemudian membimbing Rara untuk berlalu dari sana.
****