Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 47 : Gara-gara Cecak


__ADS_3

“Ngie ... maaf, ya?”


Bab 47 : Gara-Gara Cecak


“Ada apa?” ulang Kim Jinnan untuk ke tiga kalinya lantaran Pelangi masih saja bungkam.


Tadi, cara Pelangi berteriak tak beda dengan ketika Zean memanggil Kim Jinnan. Suara yang begitu lantang sekaligus bersemangat. Kim Jinnan sampai nyaris tidak mengenali suara Pelangi yang selama ini selalu bertutur lembut. Dan karena itu juga, Kim Jinnan menjadi sangat terkejut. Bahkan seumur-umur, belum pernah Kim Jinnan langsung loncat ketika bangun tidur.


Kim Jinnan masih bertutur sabar. Dengan kenyataannya yang masih cukup sempoyongan, pria itu menghampiri Pelangi. Namun, meski jarak mereka hanya terpaut sekitar tiga meter, tetapi kenyataan Kim Jinnan yang masih setengah sadar ditambah kepalanya juga masih terasa sangat pening, membuat Kim Jinnan membutuhkan waktu cukup lama dalam melakukannya.


Kim Jinnan berangsur jongkok dan duduk di depan Pelangi, dengan jarak tak kurang dari satu jengkal. Kedua lutut mereka nyaris bersentuhan.


“Ngie ...?” bujuk Kim Jinnan


“Bentar Jinnan, aku masih lemes ....” Jemari-jemari Pelangi, sampai mencengkeram erat seragam roknya.


“Kok, lemes, sih?” Kim Jinnan semakin terheran-heran perihal apa yang sebenarnya terjadi pada Pelangi, yang bahkan sampai lemas berkeringat begitu.


Pelangi menghela napas dalam. Masih terlihat ketakutan sekaligus syok.


“Sebenarnya kamu ini kenapa?” Sebelah tangan Kim Jinnan berangsur meraba kening dan sekitar leher Pelangi. Ia memastikan suhu tubuh Pelangi yang untungnya masih normal.


Kemudian, dengan kenyataannya yang seperti menahan takut, Pelangi memastikan setiap sudut dinding di sana. “Jinnan, di kamar mandi ada cecak. Usir gih!” keluhnya.


“Ce-cak?” ulang Kim Jinnan memastikan. Ia masih menatap dalam, kedua manik mata Pelangi.


Dan Pelangi yang masih tidak bersemangat, segera mengangguk sebelum akhirnya kembali menunduk. “Cecak ... aku takut ....”


“Ya Thuan ....!” keluh Kim Jinnan yang detik itu juga sampai mendesah kemudian hendak merebahkan kepalanya di pangkuan Pelangi, andai saja gadis itu tidak menolak.


“Usir dulu cecaknya!” usir Pelangi yang sampai mendorong-dorong bahu Kim Jinnan.


Pelangi kembali berteriak lantang. Persis seperti Zean.


Kim Jinnan mendengkus dan merasa pasrah. “Cecaknya juga pengin main kali, Ngie. Cecak kan punya kaki punya tangan juga,” balas Kim Jinnan meyakinkan.


“Pokoknya enggak mau tahu, kalau kamu enggak mau usir cecaknya, aku pulang, lho!” ancam Pelangi dengan napas yang terdengar sampai memburu.


“Mau pulang ke mana? Sekarang kan rumahmu di sini,” keluh Kim Jinnan yang berangsur bangkit. “Bentar-bentar ... jangan nangis, Ngie. Nanti dikiranya, kamu aku apa-apain lagi ....” Ia cukup kesulitan hanya untuk bangun.


Kim Jinnan tidak mau mengambil risiko yang membuat Pelangi semakin nekat, hingga gadis itu benar-benar meninggalkannya. Jadi, kendati bangun dan melangkah saja masih kesulitan, ia berangsur ke kamar mandi untuk mengusir cecak demi Pelangi.


“Tangkap, keluarin!” pinta Pelangi yang sampai melongok dari posisinya.


“Itu tadi ada di sebelah cermin wastafel!” Padahal, Pelangi saja tidak bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di kamar mandi lantaran ia sendiri terduduk jauh dari kamar mandi.


“Tapi cecaknya lari ke atas, Ngie ...,” seru Kim Jinnan dari dalam kamar mandi yang pintunya sampai dibuka lebar.


“Ya, Jinnan ....” Pelangi terkapar lemas sekaligus pasrah, tiarap di lantai keberadaannya duduk.


Namun, ketika Kim Jinnan kembali dengan segenggam tisu, Pelangi langsung buru-buru lari bahkan loncat ke kasur. “Heh, Kim Jinnan! Jauhkan itu dariku! Ahhh! Papa! Kim Jinnan jahat!”


“Kim Jinnan!” Pelangi tak hanya berteriak, melainkan sampai loncat-loncat di atas kasur lantaran Kim Jinnan justru sengaja menakut-nakutinya.

__ADS_1


“Lihat, Ngie ... ini kepalanya. Sudah, turun sini!” Kim Jinnan sampai terpingkal-pingkal melihat Pelangi yang terlihat jelas kegelian sekaligus ketakutan.


“Kim Jinnan, serius, ya? Aku pulang beneran, lho!” Pelangi sampai mengambil dan melempar setiap bantal yang ada di kasur dan melemparkannya pada Kim Jinnan.


“Jangan takut, Ngie ... sini,” bujuk Kim Jinnan yang akan terus mengejar Pelangi ke mana pun gadis itu lari di atas kasur.


“Enggak! Aku mohon, Kim Jinnan. Aku mohon. Aku takut!” Pelangi sampai menitikkan air mata.


“Sini, aku bantu biar kamu enggak takut.” Kim Jinnan masih berusaha di antara senyum jailnya yang semakin lepas.


“Kim Jinnan, beneran ih! Aku takut!”


Pelangi segera loncat meninggalkan tempat tidur Kim Jinnan yang sudah berantakan. Semua bantal saja sudah tergeletak di lantai setelah sempat Pelangi lemparkan pada Kim Jinnan. Akan tetapi, Kim Jinnan juga tidak menyerah. Kim mengikuti Pelangi yang kali ini lari ke sudut meja kerja yang ada di sebelah jendela.


Melihat Pelangi yang begitu ketakutan, Kim Jinnan jadi tidak tega. Apalagi, tisu yang ada di genggamannya juga tisu kosong tanpa cecak, layaknya yang ia katakan kepada Pelangi. Kim Jinnan menunjukkannya. Tisu yang ia genggam tidak ada apa-apanya.


Setelah menjatuhkan tisunya, Kim Jinnan yang hanya berjarak tiga meter dari Pelangi berangsur merentangkan kedua tangannya. Dan melalui tatapannya, ia menuntun Pelangi untuk masuk ke dalam pelukannya.


“Enggak! Aku beneran marah!” keluh Pelangi yang masih menangis.


Pelangi masih ketakutan sekaligus kesal. Jangankan dipeluk, menatap Kim Jinnan saja, ia benar-benar malas. Pun meski setelah itu, Kim Jinnan memeluknya dengan paksa. Pelangi benar-benar memilih kabur dari Kim Jinnan bahkan kamar pria itu.


“Ngie ... aku minta maaf. Aku hanya mencoba agar kamu enggak takut cecak,” bujuk Kim Jinnan yang sampai menyusul.


Pelangi terus melangkah cepat sambil menyeka air matanya menggunakan kedua punggung tangannya. Sialnya, Pelangi melangkah menuju kamar tamu yang ditempati Khatrin dan Philips.


“Ya ampun! Kiamat ini!” gumam Kim Jinnan yang menjadi pupus harapan.


“Ya sudah, ... maju!” batin Kim Jinnan pasrah sekaligus menyemangati dirinya sendiri.


“Nenek ....” Pelangi tak kuasa menahan tangis. Ia tidak bisa untuk tidak menangis, lantaran rasa takutnya terhadap cecak benar-benar tidak ada penawar.


Ketika pintu terbuka dan Khatrin ada di balik pintu, Pelangi langsung memeluk wanita tua itu sangat erat. Membuat Kim Jinnan yang sudah ada di hadapan kebersamaan, semakin bersiap untuk menerima penghakiman. Ya, Kim Jinnan sadar, niatnya membuat Pelangi tidak takut kepada cecak memang berakhir fatal.


Khatrin bahkan Philips yang kemudian menyusul keluar dan bergabung dengan kebersamaan, dibuat syok dengan keadaan Pelangi yang terlihat sangat ketakutan. Pelangi tak hanya menangis. Melainkan berkeringat bahkan gemetaran.


“Kamu kenapa?” tanya Philips yang sampai ikut menyeka keringat di sekitar wajah Pelangi.


Pelangi tidak menjawab. Bukan karena membayangkan cecak saja sudah membuatnya trauma, melainkan keputusannya yang lari pada Khatrin yang pastinya akan membuat Kim Jinnan dalam sengketa. Terlebih Pelangi yakin, baik Khatrin maupun Philips tidak akan tinggal diam.


“Maaf, Kek ... Nek ... semua ini salahku!” sesal Kim Jinnan sambil menunduk.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Philip dengan nada suara yang terdengar tegas. Bahkan, ada kemarahan yang turut terdengar.


Keadaan kini sukses membuat dada Kim Jinnan berdebar-debar. “Tadi ada cecak ... dan aku ....”


“Cecak? Ya ampun ....” Khatrin menanggapi dengan ekspresi syok. Ia menatap saksama wajah Jinnan sambil mendekap Pelangi lebih erat, kususnya kepala gadis itu.


“Bawa dia masuk. Butuh waktu lama jika dia sudah ketakutan seperti itu,” tukas Philips yang sampai menatap tajam Khatrin.


Philips melakukan gerakan wajah agar Khatrin membawa Pelangi masuk ke kamar yang sempat mereka tempati. Dan Kim Jinnan melihat kemarahan yang begitu besar dari Philips. Bahkan, Philips sampai menutup pintu yang kemudian dipunggunginya.


Philips menatap saksama Kim Jinnan yang menjadi memilih menunduk. Kenyataan yang membuat suasana di sana mendadak menjadi terasa sangat tegang bahkan terbilang horor hanya karena cara Philips memperlakulan Kim Jinnan. Philips yang tak hentinya menatap tajam Kim Jinnan, dan tak kunjung melayangkan pertanyaan.

__ADS_1


“Maaf, Kek. Aku salah,” sesal Kim Jinnan memilih memulai pembicaraan lantaran pria tua yang memiliki kulit putih kemerah-merahan itu, hanya mendiamkannya.


“Tadi, Pelangi berteriak ketakutan dan mengeluhkan cecak. Jadi, aku berusaha untuk membuat Pelangi tidak takut pada cecak,” ucap Kim Jinnan yang masih menunduk menyesal.


“Jinnan. Kakek hargai keputusanmu. Namun kamu harus tahu, ... Pelangi itu terlahir dengan sangat istimewa. Bahkan meski dia memiliki adik-adik yang tidak kalah istimewa. Itu juga yang membuat Pelangi selalu menjadi prioritas dalam keluarga kami.”


“Tidak ada yang pernah mengatakan tidak kepada Pelangi apa pun keputusan yang Pelangi ambil.”


“Pelangi itu sangat takut pada cecak. Dan membuatnya ketakutan seperti tadi, itu sudah berakibat fatal!”


Philips memiliki alasan kuat kenapa ia begitu marah. Sebab seperti yang ia katakan, dari semua cucunya, Pelangilah yang paling istimewa. Karena semenjak baru akan dilahirkan, Pelangi sudah harus berjuang dengan kematian. Lebih tepatnya, Keinya harus mengalami pendarahan hebat ketika melahirkan Pelangi. Keinya dan Pelangi sama-sama berjuang dalam proses yang terbilang panjang.


“Aku benar-benar menyesal, Kek ....” Kim Jinnan masih tertunduk menyesal. Ia benar-benar tidak menyangka jika keputusannya sampai berakhir fatal.


“Sudah. Biarkan Pelangi tenang dulu,” tegas Philips.


Dan meminta Kim Jinnan untuk tidak mengganggu Pelangi adalah hukuman yang sesungguhnya bagi seorang Kim Jinnan. Karena dengan kata lain, Kim Jinnan tidak bisa menemui apalagi bersama Pelangi dalam waktu yang belum bisa ditentukan.


“Pih ... suhu tubuh Ngi-ngie sudah mulai panas,” seru Khatrin dari dalam yang terdengar mulai panik.


Dan tak lama setelah itu, tatapan tajam Philips kembali tertuju pada Kim Jinnan.


Philips segera masuk sedangkan Kim Jinnan yang tidak mau menunggu juga mengikuti. Kim Jinnan nekat masuk ke kamar keberadaan Pelangi kendati Philips sempat menatapnya lebih tajam.


Di tempat tidur, Pelangi meringkuk dalam dekapan Khatrin. Pelangi tidak tidur. Kedua mata gadis itu masih terbuka meski tampak sayu. Akan tetapi, wajahnya terlihat mulai pucat dan dihiasi banyak buih keringat.


Sebelumnya, Kim Jinnan belum pernah mengalami kejadian layaknya sekarang. Kejadian di mana orang yang takut atau fobia pada suatu hal, sampai bisa demam bahkan, memang benar-benar berakibat fatal.


“Ngie ... maaf, ya?” sesal Kim Jinnan yang sampai naik ke tempat tidur hanya untuk mendekati Pelangi.


Namun, mungkin karena masih marah, meski Pelangi tidak menatap Kim Jinnan, tetapi sebelah tangannya mendorong kening Kim Jinnan agar menjauhinya.


Pelangi tak bersuara. Namun gadis itu benar-benar menghindari Kim Jinnan dan memilih bersembunyi dalam dekapan Khatrin. Sedangkan Khatrin dan Philips yang melihat itu, hanya saling berkode mata sambil menggeleng.


“Aku beneran minta maaf. Aku menyesal, Ngie. Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Aku mau minta bantuan semua pekerja di rumah, buat berburu cecak biar kamu enggak lihat cecak lagi.” Dengan sesal yang memenuhi dadanya, Kim Jinnan mengelus punggung kepala Pelangi yang masih memunggunginya.


Kemudian Kim Jinnan berlalu setelah sampai menatap Khatrin berikut Philips yang juga masih mendiamkannya. Kim Jinna berniat memastikan rumahnya terbebas dari cecak khususnya tempat yang akan sering ditempati sekaligus dikunjungi Pelangi.


***


Malamnya, setelah minta maaf berulang kali, akhirnya Pelangi mau kembali bersama Kim Jinnan. Kim Jinnan membawa Pelangi ke kamarnya. Tentu, dengan kenyataan Pelangi yang terus mengamati suasana dinding dan menandakan jelas gadis itu sedang memastikan cecak.


“Kamu mandi dulu,” ucap Kim Jinnan yang sudah mengenakan pakaian yang berbeda dengan yang dipakai di siang harinya.


Di luar sana dan sempat keduanya lalui, sekumpulan orang yang jumlahnya lebih dari dua puluh, sedang mengikuti pengajian untuk Kim Jungsu. Di mana, Yuan dan Dean juga sudah bergabung dengan kebersamaan.


“Aku enggak ada baju,” balas Pelangi masih tidak bersemangat.


“Tadi papa ada bawa ransel buat kamu,” balas Kim Jinnan yang kemudian menuntun Pelangi menuju keberadaan ransel biru yang ada di depan tempat tidur. Tempat tidur yang sudah kembali rapi berbeda dari ketika Pelangi meninggalkannya.


Bersambung ....


Gara-gara cecak, Author pernah ngompol di celana 😂😂😂. Ada yang sama juga?

__ADS_1


__ADS_2