
“Sorry, i am married!”
Bab 11 : Balada Pengantin Baru (2)
Kimo dan Rara refleks bengong ketika mendapati kasur di kamar Kimo dipenuhi tumpukan baju Kimo. Ada yang masih berupa lipatan rapi yang tertumpuk, ada juga yang sudah diacak-acak selain terserak dan berhanger. Sedangkan ketika melihat lemari pakaian di sebelahnya juga tak kalah mengerikan. Semua rak berikut laci dalam keadaan terbuka. Ada beberapa pakaian yang masih tersampir di hanger meski dalam keadaan acak-acakan. Ada yang masih tertumpuk, juga sebagian terserak di lantai. Sedangkan di seberang pintu selaku lemari koleksi sepatu Kimo, juga dalam keadaan terbuka semua.
Kimo dan Rara yang refleks memerhatikan itu seperti ditampar dengan semua itu.
“Ini sambutan?” pikir Rara tanpa mengungkapkannya pada Kimo yang ia lihat sudah terbakar emosi. Kimo terlihat sangat marah dengan otot berikut saraf di wajahnya yang sampai mencuat.
“Jangan marah. Bersikap seperti biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa,” bujuk Rara.
“Bagaimana mungkin aku nggak marah, sedangkan ini, jelas sengaja? Bahkan aku berpikir, jangan-jangan, mama sengaja pura-pura sakit!” balas Kimo kesal.
“Turunkan aku. Aku akan mengurusnya.” Sebelah tangan Rara menepuk-nepuk pelan dada Kimo, sedangkan kedua kakinya bersiap menapak.
Kimo menatap sebal Rara. “Tolong, tetaplah jadi Frola yang aku kenal. Wanita yang tidak bisa ditindas, melainkan wanita yang akan menindas!” tegasnya lirih.
Rara tersipu. “Kita ikuti permainan mamamu saja. Cepat turunkan aku. Memangnya kamu mau tidur jam berapa?”
Kimo tetap bungkam dalam kemarahannya. Tatapan tajam, dan kalau dibiarkan Rara yakin suaminya itu bisa mencabik-cabik orang yang patut disalahkan.
“Kimo, aku harus membereskan ini secepatnya. Kalaupun tidak langsung beres semua, setidaknya yang di kasur, harus dibereskan dulu, kan? Kamu mau, tidur di lantai?”
Kimo tertunduk sedih. “Asal bersamamu, aku mau-mau saja, tidur di lantai.”
“Kalau kamu memang mencintaiku, tak seharusnya kamu membiarkanku sampai tidur di lantai!” omel Rara. “Cepat turunkan aku!”
“Bahkan sudah sejauh ini, kamu masih meragukanku?” gerutu Kimo yang mulai menurunkan Rara dengan hati-hati.
Rara segera meninggalkan Kimo yang masih berdiri membelakangi pintu dengan tergesa. Ia memasuki kamar mandi yang keberadaannya masih dalam kamar dan terletak di ujung ruangan di lorong sebelah lemari.
Namun tak lama setetelah kepergian Rara, Kimo yang mendekati kasurnya dan bingung harus membereskannya dari mana, dikejutkan oleh kehadiran Rara yang berlari ketakutan ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Kimo cemas lantaran Rara sampai menarik-narik sebelah lengannya.
“Di kloset ada cecak mati. Tolong buangin,” rengek Rara.
Ketakutan Rara benar-benar kuat. Bahkan degup jantung istrinya itu sampai terdengar sangat cepat sekaligus keras.
“Kamu takut cecak?” Kimo menertawakan Rara.
“Bukan takut, tetapi geli. Apalagi kalau ekornya putus. Cepet ih, aku udah pengin pipis.”
“Hahaha ...!” Kimo sengaja tertawa lepas.
“Kimo! Cepat ambil!”
“Iya ... iya.”
Rara menunggu di luar, mengintip Kimo yang memungut cecak matinya, menggunakan helai tisu. Dan ketika suaminya itu kembali, cecak dalam tisu yang dibawa justru dilempar padanya.
“Kimo!” Rara lari terbirit-birit.
Kimo sampai terduduk tidak bisa mengendalikan tawanya. Apalagi, Rara sampai naik ke kasur dan jongkok di sana.
“Cepat buang!” omel Rara. “Kalau kamu terus jail, kamu tidur di luar!” ancamnya lantaran Kimo tetap saja tertawa.
“Duh, jangan sampai gara-gara cecak mati, aku jadi nggak dapat jatah!” balas Kimo yang kemudian langsung menyudahi tawanya dan berangsur melangkah, memungut cecaknya. “Lagian, ini cecak sudah tewas. Kenapa masih takut juga?”
Rara menggeleng geli sambil bersedekap. Ketika Kimo akan masuk ke kamar mandi membawa cecek dalam tisunya, Rara langsung berseru, “buangnya ke luar!”
Kimo mundur sambil tersenyum jail pada Rara dan mengangsurkan cecaknya.
__ADS_1
“Serius, Kimo. Satu minggu ke depan kamu nggak bakalan dapat jatah dan tidur di luar, kalau kamu terus jail ke aku!” ancam Rara sambil menunjuk-nunjuk Kimo saking kesalnya.
“Eh, jangan-jangan!” Kimo langsung lari ke luar, dan setelah itu, Rara baru bisa bernapas lega.
Ketika Kimo kembali, Rara keluar dari kamar mandi dengan lesu, di mana kedua tangannya bertumpu pada pinggang.
“Ada apa lagi?” tanya Kimo cemas.
“Aku lupa bawa pembalut. Coba deh kamu minta dulu ke Kimi atau mamamu. Pasti mereka mikirnya aku sedang mens, dan mereka pasti seneng,” balas Rara lesu.
Kimo menatap bingung Rara setelah terlihat sempat terkejut. Sambil mendekati Rara ia berkata, “Kamu bilang, kamu baru mens tiga hari yang lalu?”
“Iya. Tapi gara-gara tadi, aku jadi pendarahan. Cepat sana bilang kayak yang aku ajarkan!” omel Rara.
“Tapi nggak mens beneran, kan?” tanya Kimo yang tetap saja ngenyel.
“Orang ini! Cepat saja, nangi aku tembus ini aku pakai gaun warna putih!” Rara sampai mendorong-dorong tubuh Kimo sampai keluar dari kamar, saking kesalnya.
***
Karena Kimi tidak ada di kamar Kimo terpaksa turun dan menjadikan kamar Kiara sebagai tujuan langkah loyonya. Ketika memasuki kamar, ia mendapati Kimi terjaga sambil bermain ponsel di sofa menemani Franki.
“Ma, pingsannya sudah. Kan aku sama Rara sudah pulang. Kita juga siap kerja rodi,” gerutu Kimo.
Franki yang sedang membaca koran menjadi tersenyum geli sambil melirik Kimo. “Kalian suka suasana kamarnya?” tanyanya.
Kimi langsung gelisah ketakutan mendengar pertanyaan Franki. Celaka, aku yang bikin kamar Kak Kimo kayak neraka meski awalnya romantis banget. Bahkan Papa sampai menyiapkan bak rendam air susu sama bunga mawar buat Kak Kimo dan Rara.
“Suka bagaimana? Kamar kayak neraka begitu, suka,” balas Kimo sewot sambil mengamati keadaan Kiara yang masih terpejam dalam balutan selimut.
Balasan Kimo membuat Franki terdiam bingung. “Kayak neraka bagaimana?”
“Papa lihat saja, deh. Tadi saja sampai ada cecak mati yang bikin Rara hampir nangis karena ketakutan. Sekarang anaknya lagi beres-beres kamar,” balas Kimo masih santai.
“Masa, sih? Papa sampai mengutus tim khusus buat sulap kamar kamu, bahkan sampai dipasang bak rendam, lho?” Franki yang penasaran segera menepikan korannya.
Franki melangkah tergesa meninggalkan kebersamaan.
Duh! batin Kimi.
“Berarti memang ada yang sengaja ngacak-ngacak, mungkin?” tanggap Kimo masih santai. “Heh, Kimi? Tumben kamu diam terus? Oh, kamu apa Mama ada stok pembalut? Rara sedang mens. Kalau kalian nggak ada Kakak mau langsung ke market buat beli.”
Kimi menggeragap dan segera beranjak. “Sebentar, aku ambilkan dulu.” Ia berlalu tanpa menatap Kimo yang jelas menatapnya curiga.
“Sekalian tolong bilang ke mbaknya buat bantu Rara. Kasihan, Rara baru mens jadi lagi sakit-sakitnya,” tambah Kimo. Biar kalian tambah seneng dan tentram nggak mengganggu kami, batin Kimo.
Kemudian pandangan Kimo beralih pada Kiara.
Akhirnya Tuhan menjawab doa-doaku! Yes, Rara lagi mens! batin Kiara yang tersenyum meski masih terpejam setelah mendengar suara langkah Kimo meninggalkannya.
Padahal, Kimo sengaja berjalan mundur sambil memperhatikan Kiara. Sekarang, Mama boleh nggak suka Rara. Tetapi nangi, Mama bakalan selalu bergantung pada Rara.
***
Yuan baru saja keluar dari kamar dengan fokus pandangan yang sepenuhnya tertuju pada ponsel, menunduk tanpa menatap sekitar. Suasana yang sepi membuatnya berpikir tidak perlu ada yang harus ia khawatirkan, terlebih ia yakin, ia satu-satunya yang ada di lorong hotel tempatnya menginap.
Tak jauh dari Yuan, bahkan dari kamar hotel sebelah Yuan tadi keluar, seorang wanita muda baru saja meninggalkan kamar hotel sambil mengantongi ponsel. Ketika wanita itu melihat Yuan yang tengah berdiri menyandar pada tembok sedangkan di lantai bawah sana memang terdapat kolam renang selalu ramai, si wanita yang langsung tersenyum lepas melihat Yuan, segera bergegas menghampiri pria itu.
Pria ini ganteng banget! Menginap di hotel mahal, lagi! Syukur-syukur memang kaya, lajang juga! batin Mia, selaku wanita tersebut.
“Hello, my name is Mia,” ucap Mia sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Yuan.
Tanpa menoleh apalagi menatap yang bersangkutan, Yuan berkata, “Sorry, i am married!”
__ADS_1
Mia terdiam takjub dengan senyum yang kian menghuasi wajahnya di tengah tatapannya yang justru mengamati lekuk wajah Yuan dengan begitu detail. Pria setia, nih! Makanya pura-pura mengaku sudah menikah! Ada yang meletup-letup di dada Mia, dan wanita muda itu tahu, itu bahagia yang tercipta karena cinta.
Ketika detik selanjutnya Yuan berlalu dengan kesibukannya tanpa sedikit pun terusik pada Mia, Mia juga masih menganati Yuan dengan kagum.
“Ganteng banget! Kelihatan berwibawa juga!” Batin Mia makin geregetan.
“Kirimkan semua laporannya kepada saya lewat email.”
Mendengar suara Yuan, Mia makin girang. “Demi apa, dia bisa berbicara bahasa Indonesia, apa memang dia orang Indonesia? Tapi, kok, matanya biru?!” pekiknya dalam hati. Sayangnya, meski Yuan juga melintas di hadapannya, fokus pria itu sama sekali tidak tergoyahkan. Pun meski ia sengaja membuka kancing kerah hingga sebagian dadanya terlihat. Tak-tik yang selalu ia gunakan di setiap mengelabuhi pria. Yuan benar-benar tidak melirik dan begitu fokus memasuki kamar.
“Pria ini? Kok aneh banget, sih? Masa nggak tergoda sama sekali?” gumam Mia kecewa sembari memanyunkan bibirnya. “Demi apa pun, aku harus mendapatkannya! Nanti malam aku akan ke sini lagi!” tekadnya.
***
Di kamar, Yuan tersenyum memandangi Keinya yang masih tertidur dalam lilitan selimut, sedangkan Pelangi yang ada di depan Keinya juga tak kalah pulas dari ibunya.
Terlebih dulu, Yuan mengisi daya batrenya menggunakan sambungan kabel di nakas yang sudah terpasang, sesaat sebelum meringkuk dan mendekap Keinya yang seketika mengulet sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga leher.
“Ya ampun, cewek-ceweknya Papa masih pada betah di kasur?” goda Yuan yang menyemayamkan wajahnya di atas kepala Keinya.
“Sayang, mau aku siapin makan dulu? Nanti kalau kamu kurang asupan, ASImu kurang,” bisik Yuan. Mengrnai ASI, itu hal utama yang harus Keinya jaga selain cinta berikut hubungan mereka. Terlebih, mereka sudah sepakat, kalau memungkinkan, setiap anak mendapat ASI sampai umur 2 tahun.
“Aku masih ngantuk banget ...,” lirih Keinya yang kemudian mengulet sambil balik badan hingga membuatnya menghadap Yuan.
Yuan menyambutnya dengan senyum sembari mengusap-usap sebelah wajah Keinya. “Ini sudah pukul tujuh lebih, loh ... aku saja sudah mandi.”
“Lima menit lagi, ya ... rasanya, tubuhku masih remuk,” lirih Keinya dengan suara berat khas baru bangun tidur.
“Mmm, sini ... sini ....” Yuan memijat-mijat tangan berikut punggung Keinya.
Dalam keadaan matanya yang masih terpejam, Keinya yersenyum kemudian merangsek, mendekap erat tengkuk Yuan.
Yuan tersenyum lepas yang kemudian menjadi senyum jail. Ia menarik selimut dari tubuh Keinya dengan perlahan sambil berkata, “Pelangi ... Pelangi ... Mama nggak pakai baju, ni. Kelihatan ... kelihatan,” candanya.
“Ih ... Papa ini hobi banget jail!” keluh Keinya yang segera menarik kembali selimut yang sampai Yuan lepas hingga punggungnya terlihat.
Yuan tersenyum lepas sembari mendekap punggung Keinya kemudian memejamkan matanya. “Sayang, apakah kamu tahu, aku semakin bahagia?” ucapnya sambil tetap terpejam.
“Kamu sudah sering mengatakan itu,” balas Keinya santai yang juga masih terpejam.
“Makasih, ya!” balas Yuan berbisik sembali mengecup singkat kening Keinya. Kemudian kecupannya juga turun menjamahi setiap lekuk wajah Keinya.
Keinya berangsur membuka mata sembari tersenyum lepas. “Kamu nggak ikhlas banget, ya, kalau aku tidur?”
Yuan terpaksa menahan tawanya sambil terus menatap Keinya.
Sambil kembali mendekap erat tengkuk Yuan, Keinya berkata, “ayo tidur lagi. Gunakan waktu istirahatmu dengan sebaik mungkin, apalagi kamu jarang punya waktu istirahat ....”
“Bersamamu meski harus tetap sambil bekerja juga sudah menjadi waktu istirahatku,” balas Yuan tulus sambil mengelus punggung Keinya sesaat setelah mendekapnya.
Keinya tersipu. “Setelah ini, kita mau jalan-jalan ke mana lagi?”
“Kalau kamu memang capek, kita istirahat dulu. Justru, santai-santai seperti ini yang sebenarnya jadi quality time buatku.”
Mendengar itu, Keinya berangsur menyudahi dekapannya. “Bagaimana kalau kita pulang saja?”
“Masih ada seminggu lagi, kamu nggak mau tetap tinggal di sini?” Yuan menatap Keinya dengan sungguh-sungguh.
Keinya menggeleng. “Nggak tahu, sih. Tapi perasaanku kok nggak enak, ya?”
“Jangan dilanjutkan nanti jadi sugesti. Bahaya kalau makin kuat, kamu bisa tertekan. Kalau kamu nggak nyaman menginap di sini, kita bisa pindah. Bagaimana?”
Keinya mengangguk setuju. Entah kenapa, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak, padahal awalnya ia sangat takjub dengan pemandangan hotel tempatnya menginap. Bagaimana tidak, dengan suasana kaca untuk setiap dindingnya, mereka bisa menikmati lereng hamparan pegunungan yang dipenuhi salju dan tampak begitu indah, meski dari tempat tidur, layaknya sekarang.
__ADS_1
***