Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 73 : Menjadi Diri Sendiri


__ADS_3

“Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi lebih baik, sedangkan kamu saja selalu menjadi orang lain? Dan bagaimana mungkin kamu bisa dilihat, jika kamu saja selalu ingin seperti orang lain? Tentu jika kamu terus begitu, kamu juga akan selalu jadi bayang-bayang! Bayang-bayang yang tidak bisa dilihat bahkan oleh dirimu sendiri!”


Bab 73 : Menjadi Diri Sendiri


Elena sudah hampir menyerah lantaran Atala sungguh sulit dihubungi. Atala bahkan mengabaikan semua pesan berikut panggilan yang Elena lakukan. Karena hal tersebut pula, Elena menjadi semakin kaca. Elena terus saja mondar-mandir di dalam kamarnya dengan mata yang sudah semakin sembam.


“Sekalipun kamu tidak pernah mencintaku, tolong beri aku kesempatan. Demi Tuhan, aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Aku akan selalu menjadi orang yang mencintaimu apa pun kenyataan kita dan bagaimanapun orang lain melihat kita!” Dan Elena juga tak hentinya meracau. Ia bahkan masih mengenakan seragam sekolah, kendati kini, waktu di beker yang ada di nakas sebelah kasurnya suah menunjukkan tepat pukul tujuh malam.


Tak lama setelah itu, Elena menyadari jika seseorang membuka kunci kamarnya dari luar.


Padahal Elena sudah mengunci kamarnya dari dalam. Namun ketika ia balik badan dan memastikannya, ternyata benar, seseorang baru saja membuka kunci pintu kamarnya dari luar, di mana tak lama kemudian, Kainya ada di balik pintu. Dan yang membuat Elena semakin tidak baik-baik saja di mana air matanya juga kian rebas, Kainya menatapnya dengan air mata yang tak hentinya berlinang.


“Jangan dilanjutkan,” ucap Kainya di tengah tangisnya yang detik itu pecah.


Rasa sesak begitu menyita Kainya di tengah dada berikut sekujur tubuhnya yang telanjur sakit semua. Rasa sakit yang terjadi setelah ia mengetahui perihal hubungan anak kembarnya. Dan ketika dulu Kainya pernah meyakini jika karma itu ada, kali ini Kainya juga seolah ditamar dengan kenyataan yang sama. Ya, karma memang ada dan kali ini, Sang Pemilik Kehidupan, tengah menjadikan Kainya sebagai tokoh utama untuk menghadapi sekaligus menyelesaikannya.


Mengenai hubungan anak kembarnya yang ternyata mengalami cinta yang sama. Mengenai Elena yang justru mengikuti jejak Kainya. Juga, perihal Elena yang justru merasa hanya menjadi bayang-bayang Elia. Padahal Kainya pikir, semua karma kejahatan yang dilakukannya di masa lalu kepada Keinya, telah tertebus setelah Kainya mengalami cinta yang rumit. Setelah takdir kehidupan seolah meminta Kainya menyerah dalam urusan cinta, hingga akhirnya Tuhan justru menghadirkan Steven, dan membuat Kainya kembali percaya. Akan tetapi, Kainya justru menghadapi kenyataan lain yang justru jauh lebih pahit dan itu melanda putri kembarnya.


“Mah ...?” tangis Elena kian pecah. 


Elena merasa hancur sekaligus malu. Tidak, lebih tepatnya, Elena merasa jika semuanya telah berakhir. Semua tentangnya yang detik itu juga tak lagi memiliki masa depan.


Elena tertunduk pasrah seiring tubuhnya yang menjadi terguncang-guncang atas tangis yang masih berlangsung.


“Semuanya selalu istimewa bahkan dengan kekurangan masing-masing. Jadi, apa yang membuatmu begitu tidak mensyukuri apa yang kamu miliki? Kamu merasa Elia lebih baik? Kamu hanya menjadi bayang-bayang Elia?” ucap Kainya sembari melangkah cepat menghampiri Elena.


Tangis Elena semakin pecah. “Aku buruk ... dalam segala hal ....”


“Itu karena kamu selalu menjadi orang lain!” balas Kainya meyakinkan sambil menahan kedua bahu Elena yang sampai ia guncang. “Kamu harus jadi dirimu sendiri! Jangan pernah jadi orang lain, karena setiap hal apalagi manusia, semuanya sempurna bahkan dengan kekurangan mereka, yang mereka anggap tidak pernah lebih baik dari orang lain!”


“Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi lebih baik, sedangkan kamu saja selalu menjadi orang lain? Dan bagaimana mungkin kamu bisa dilihat, jika kamu saja selalu ingin seperti orang lain? Tentu jika kamu terus begitu, kamu juga akan selalu jadi bayang-bayang! Bayang-bayang yang tidak bisa dilihat bahkan oleh dirimu sendiri!”

__ADS_1


Elena hanya menunduk dalam tangisnya tanpa bisa benar-benar mengindahkan anggapan Kainya.


“Mamah sedih banget tahu anak-anak Mamah sampai berantem bahkan untuk orang yang jelas-jelas tidak akan menjamin kebahagiaan apalagi masa depanmu!” lanjut Kainya.


“Mah ...!” Elena bermaksud memberikan penjelasan. Ia menatap Kainya penuh harap berikut luka yang sebisa mungkin ia halau.


“Sebelum kamu ada, Mamah juga pernah muda. Di mana Mamah juga telah melakukan kesalahan yang sama. Jadi, cukup Mamah saja yang mengalaminya! Cukup Mamah, benar-benar cukup Mamah!”


“Kalaupun sekarang kamu merasa dirimu adalah korban, coba bayangkan jika kamu ada di sisi lain. Di posisi Elia. Juga, di posisi orang-orang yang menonton kehidupan kita? Malu? Jika kamu sudah sadar, kamu akan merasakan itu!”


“Bahkan sampai sekarang, jika Mamah dihadapkan pada masa lalu berikut kesalahan itu, Mamah benar-benar malu! Mamah benar-benar menyesal karena telah merusak hubungan Mamah dengan saudara sendiri!”


“Mah ....”


“Kamu masih terlalu muda untuk mengenal cinta. Demi Tuhan, Lena ... di seusiamu kini, tidak ada yang lebih istimewa dari hubungan keluarga bahkan dengan kembaranmu sendiri!” Kainya menatap Elena jauh lebih serius dari sebelumnya.


“Jika memang Atala jodohmu, dia pasti akan kembali dan mencintaimu tanpa harus membuatmu menjadi orang lain. Tapi jika Atala memang tidak bisa mencintaimu, lepas dan relakan.”


“Tuhan selalu menciptakan segala sesuatunya tanpa terkecuali bahagia dan luka.”


“Bahkan mengenai jodoh, Tuhan juga sudah menyiapkannya. Tuhan akan menyiapkan jodoh yang nantinya akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik!”


“Lena, ... kamu benar-benar harus mendengarkan Mamah! Jangan sampai kamu menyesal seperti Mamah! Bahkan Elia sampai mengalah dan memilih untuk tidak tinggal di rumah hanya untuk menjaga perasaanmu!”


“Minta maaf pada Elia ... Elia enggak salah! Minta maaflah sebelum masalah semakin melebar. Sebelum semuanya terlambat!” Kainya masih meyakinkan dan berusaha membuat Elena mengerti. Tentu, sebisa mungkin, Kainya juga berusaha menjaga perasaan Elena, apalagi Kainya sadar, berada di posisi Elena juga sangat menyakitkan.


Elena menatap Kainya dengan banyak luka. “Jadi maksud Mamah, aku yang salah? Benar-benar aku yang salah, Mah? Kalau boleh diminta, aku juga enggak mau mengalami cinta bertepuk sebelah tangan bahkan karena kembaranku sendiri, Mah!”


“Siapa yang mau ada di posisiku? ... enggak ada, bahkan aku yakin, Mamah juga enggak mau. Dan Mamah pasti tahu apa yang aku rasakan jika memang Mamah pernah merasakannya! Jika Mamah juga pernah ada di posisiku!” Tangis Elena semakin pecah.


Kainya yang tak kuasa berkomentar terlebih sakit yang begitu besar juga semakin mengikis kehidupannya, berangsur mendekap Elena dengan sangat erat.

__ADS_1


“Jika memang aku salah, ... tolong katakan padaku, apa yang harus aku lakukan tanpa harus membuatku mengubah perasaan sekaligus hatiku, Mah!” tangis Elena dengan dada yang semakin terasa sakit.


“Jadilah dirimu sendiri. Jangan jadi orang lain lagi, karena menjadi bayang-bayang itu sangat tidak nyaman! Menjadi bayang-bayang itu menyakitkan, Lena!”


“Mamah enggak mau, kalau kamu, dan semua orang-orang yang Mamah sayangi apalagi anak-anak Mamah sampai merasakannya!” Kainya semakin mengeratkan dekapannya.


“Sakit, Mah ... sakit banget! Aku enggak bisa melepas Atala! Aku sayang dia!”


Dari balik pintu, Elia yang sebenarnya menyimak, menjadi tergolek lemas. Elia yang juga sudah berderai air mata dan sampai tidak bisa berkata-kata, menjadi terduduk lemas menyandar pada dinding sebelah pintu kamar Elena.


“Atala ... Atala ...,” gumam Elia sambil terpejam pasrah. “Aku harus membuat Atala mencintai Lena, bagaimanapun caranya!” Dengan keputusannya itu, Elia segera beranjak dan berniat mencari sekaligus menemui Atala detik itu juga.


Elia keluar dari rumah dengan tergesa, sambil sesekali menahan tas selempang kecil yang menghiasi pundak kanannya. Diantar sopir Khatrin menggunakan mobil, Elia pergi dari rumah. Elia yang sebenarnya baru pulang dari rumah Khatrin, akan melakukan apa pun, asal Atala mau mencintai Elena. Memang terkesan konyol, tetapi Elia akan tetap berusaha. Elia yakin, selalu ada bahkan banyak jalan untuk bisa mendapatkan suatu hal tanpa terkecuali perihal apa yang baru saja akan ia lakukan.


Tak lama setelah mobil yang membawa Elia pergi meninggalkan jalan belokan menuju kediaman Elia, mobil Rafaro memasuki belokan dari arah belakang.


“Kayaknya itu mobil yang tadi pagi antar Elia, deh?” pikir Rafaro.


Kendati demikian, Rafaro tetap dengan tujuannya yaitu ke rumah Elia. Terlebih sebelumnya, ia yang baru pulang kerja dan langsung ke rumah Khatrin hanya untuk menemui Elia, justru tidak bisa langsung menemui Elia seperti tujuannya. Sebab menurut Khatrin yang sampai Rafaro temui secara langsung di ruang keluarga wanita itu, Elia baru saja pulang ke rumah, karena diminta oleh Kainya.


“Kalau sampai tadi memang Elia, bagaimana? Aku juga tetap enggak bisa menemuinya, dong?” Dan Rafaro semakin tidak mengerti, kenapa dirinya terus saja memikirkan sekaligus mengkhawatirkan Elia.


“Karena meski aku sudah mengatakan agar dia bergantung dan bahkan hanya bergantung kepadaku, tapi Elia yang bahkan sampai berubah dan terkesan menjaga jarak dariku, memang sedang tidak baik-baik saja.”


“Elia sedang menghadapi perang batin yang begitu menyiksa, lantaran dia harus menghadapi tuntutan kembarannya sendiri. Seperti aku dan Mo. Bahkan mereka jauh lebih parah.”


“Semoga sih Elia kuat. Lena juga. Jadi penasaran aku sama siapa sebenarnya Atala!”


Bahkan Rafaro sampai berniat mencari tahu mengenai Atala lebih lanjut, guna mengatasi kesalah pahaman yang membuat hubungan Elia dan Elena menegang.


“Kalau memungkinkan, aku juga harus bisa bicara dengan Lena. Bahkan kalau bisa dengan Atala juga. Semuanya duduk bersama agar bisa mendapatkan titik kesepakatan.”

__ADS_1


Kini, Rafaro baru saja menepikan mobilnya di depan kediaman orang tua Elia, yang pagar dinding dan menempel ke gerbang, dihiasi tumbuhan merambat. Tumbuhan merambat yang merimbun dan sangat hijau hingga, menimbulkan suasana alam yang sangat sejuk tak ubahnya suasana hutan.


#Bersambung ....


__ADS_2