
Bab 83 : Jebakan!
Masih sangat pagi, tetapi Elena terpaksa menyumpal telinganya menggunakan headset, lantaran Elia terus saja bernyanyi dengan suara lantang. Elia menyanyikan lagu-lagu BTS dengan semangat menggebu, seolah-olah, gadis itu menjadi satu-satunya penguasa kebahagiaan, di jagad raya kehidupan. Bahkan karenanya, mood Elena yang masih buruk gara-gara mencemaskan Atala, menjadi semakin memburuk, hanya karena mendengar suara Elia yang sangat berisik.
“Si Elia ... masih pagi, sudah bikin telinga orang rusak!” cibir Elena yang melangkah di belakang Elia. “Ini masih untung ... dia nyanyi lagu Korea punya Bangtan ... kalau sampai nyanyi lagu India apa malah Italia, dan aku enggak ngerti artinya ...? Wasalam ... hanya Elia dan malaikat saja yang tahu!” gumam Elena sambil menatap sebal kembarannya. “Benar-benar kayak Mo! Bentar, deh ... jangan-jangan, sebenarnya si Elia ini justru kembarannya sama, Mo? Mereka tuh cuma beda tipis soalnya!” Dan Elena menjadi berpikir buruk lantaran ia yakin, pemikirannya itu memang benar.
Baik Elia maupun Elena, sudah mengenakan seragam sekolah, lengkap dengan tas yang mereka taruh di pundak kanan. Terlepas dari itu, keduanya juga sama-sama mengenakan sweter, kendati motif dan warnanya berbeda. Karena tak beda dengan Mofaro dan Rafaro, Elia dan Elena juga anti mengenakan aksesori bahkan sekadar pakaian yang sama, walau hanya motifnya.
Dari ruang sarapan, di depan taman yang sampai disertai kolam ikan koi, Steven yang melihat tingkah Elia menjadi tak hentinya tertawa. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu sampai geleng-geleng, melihat keceriaan Elia yang justru bertolak belakang dengan Elena. Ya, karena Elena yang ada di belakang Elia, terlihat begitu tersiksa dan sampai menyumpal telinganya menggunakan headset.
“Morning, Pah!” sapa Elia yang akhirnya berhenti menyanyi, tepat di anak tangga paling akhir.
Bersamaan dengan itu, Elena langsung mengembuskan napas lega, dan kemudian melepas headset yang tersalur dengan ponsel dan ia simpan ke dalam tas yang menghiasi pundak kanannya. “Morning, Pah ...,” sapa Elena tak bersemangat dan kemudian mencium sebelah pipi Steven, tak lama setelah Elia pergi ke meja sarapan.
Tadi, Elia yang begitu bersemangat, sampai memeluk Steven dengan sangat erat. Lain halnya dengan Elena yang hanya melayangkan ciuman kilat sebelum menyusul jejak Elia ke meja sarapan.
“Semangat, dong ... jangan kalah sama Elia,” ujar Steven yang sampai menyusul Elena dan kemudian merangkul mesra pinggang Elena.
Elena menoleh dan menatap Steven sambil mendengkus. “Kalau anak Papah kayak Elia semua, dikirnya sama orang-orang, anak Papah enggak ada yang waras!” rutuknya dan langsung sukses membuat Steven tertawa.
“Ya enggak gitu, kali, Sayang. Ceria kan bagus. Ibaratnya, bisa menuangkan isi hati, biar enggak terlalu setres,” balas Steven kemudian sambil terus berjalan menyusul keberadaan Elia.
“Biar enggak terlalu setres, tapi apa yang kita lakukan justru bikin orang lain setres! Hidup orang lain jadi terkesan cuma ngontrak tahu, Pah, kalau semua orang kayak Elia!” balas Elena masih saja berkeluh-kesah.
Kali ini, Steven yang masih tertawa, sampai menggeleng tak habis pikir. “Kamu ini seperti mamah ... terlalu serius dan pemikir yang hebat!” ujarnya. “Biasakan untuk lebih santai, ya ....”
Elena tidak begitu mengindahkan masukan Steven. Sebab yang ada, selama ia belum mendapatkan semua keinginannya termasuk mengetahui kabar Atala, di mata Elena, semua selain itu akan tetap salah.
“Tumben meja sarapan masih kosong?” seru Elia dari depan sana.
Elia yang kebingungan berangsur menarik sebuah kursi dan meletakkan tasnya di sana. “Hari ini, Papah enggak buatkan kita sarapan spesial, ya?” ujarnya yang kemudian menghampiri Steven yang kiranya masih lima meter dari keberadaannya.
Steven menggeleng santai. “Pagi ini, kita akan sarapan ala chef andal!”
“Wah ... pesta, maksudnya, Pah!” saut Elia bersemangat.
“Lebih dari itu!” balas Steven meyakinkan.
“Huaahh!” Elia yang menepukkan kedua tangannya di depan wajah, menjadi semakin antusias.
Lain halnya dengan Elena yang tetap saja bersungut-sungut, seolah-olah, gadis itu merupakan mahluk yang paling tersakiti. Elena menarik sebuah kursi yang ada tepat di sebelah kursi keberadaan Elia. Elena duduk di sana sambil mencengkeram perutnya.
“Lena ... kamu ini enggak asyik banget, sih? Senyum kenapa?” tegur Elia sembari menghampiri kembarannya.
Elena mendengkus sambil melirik sebal Elia, sebelum akhirnya menepisnya dan meletakkan wajahnya di tepi meja. “Kamu tahu sakitnya datang bulan dan perut kita seperti ditusuk-tusuk, terus sekujur tubuh kita rasanya pegal semua?” keluhnya tanpa menatap Elia.
“Semua wanita merasakannya, dan itu bukan hal yang harus dibesar-besarkan. Nikmati saja,” balas Elia yang kemudian duduk di kursi keberadaan tasnya.
“Dibesar-besarkan kepalamu! Hidup ini enggak semudah cara pikirmu!” cibir Elena yang masih memegangi perutnya menggunakan kedua tangan.
Elia tertawa geli. “Kalau kamu saja sudah menanamkan sugesti begitu, tentu rasanya enggak ada yang mudah. Hmm ... jujur, ya ... duh ... berat ngomongnya.”
__ADS_1
Steven menjadi senyum-senyum sendiri menanggapi Elia. “Lena ... di luar sana masih banyak yang jauh lebih kurang beruntung dari kita, tapi mereka justru lebih bersyukur sekaligus bersemangat.” Steven duduk di depan anak-anaknya.
“Yes ... bersyukur merupakan kunci kebahagiaan. Bahkan sekadar masih bisa bernapas dengan baik, juga wajib kita syukuri!” timpal Elia.
Elena tidak menanggapi. Tetap diam menepis keberadaan kedua orang di sekitarnya.
“Morning semuanya ... Mamah masak mi goreng sea food spesial!” seru Kainya dari belakang, sembari membawa mi goreng yang dimaksud dalam wadah sekaligus jumlah yang terbilang banyak.
“Wuaah ...! Thank you, Mah!” sambut Elia yang langsung kegirangan. Elia bahkan sampai berdiri dari duduknya.
Sedangkan Steven yang langsung tersenyum dan menyambut Kainya dengan tatapan sarat cinta, segera meninggalkan kursinya dan kemudian menarikkan kursi di sebelahnya untuk Kainya. Di mana, setelah meletakkan mi goreng yang dibawa ke tengah-tengah meja, disusul mencium sebelah pipi kedua putrinya, Kainya segera duduk di kursi yang telah Steven sediakan.
“Lena ... kamu kenapa? Kamu sakit?” ujar Kainya lantaran wajah Elena sampai pucat.
Elena yang masih memasang ekspresi tidak nyaman pun mengangguk. “Aku lagi datang bulan, tapi sakit banget. Sedangkan nanti, di jam pertama, aku jadwalnya olahraga, Ma. Enggak asyik banget. Mana gurunya killer banget. Alasan datang bulan lagi sakit-sakitnya saja, enggak diterima.”
“Wah ... iya ... sekolahmu enggak asyik! Kalau begitu, pindah saja ke sekolahku!” saut Elia sembari memberikan piring di hadapannya kepada Kainya untuk diisi mi goreng.
Elena mendengkus. “Nanti kalau aku pindah ke sekolahmu, fansmu pada kabur ke aku semua!”
Dan Elia yang masih sangat ceria, justru menertawakan balasan Elena. “Kesannya, aku ini artis, sampai punya fans! Lagian, aku berteman dengan semuanya. Bahkan, tukang jajan keliling kompleks saja, sampai hafal ke aku!”
“Kamu tuh ... ‘bar-bar’!” celetuk Elena sambil menatap serius Elia.
“Lho ... kok bar-bar, sih?” balas Elia yang mulai serius, terlebih setahunya, ‘bar-bar’ itu berarti kurang baik.
Sementara yang terjadi pada Steven dan Kainya, keduanya masih menjadi penyimak yang baik.
“Ya iya ... kamu sama siapa-siapa dekat. Kalau mereka punya niat jahat sama kamu, bagaimana?” balas Elena yang kali ini menaruh banyak kekhawatiran pada Elia.
“Tapi, kamu memang harus lebih selektif, lho, Li ... apalagi kalian perempuan,” ujar Kainya yang kali ini sampai angkat bicara sambil memberikan piring Elena yang sudah terisi mi goreng.
“Bukan selektif, tetapi waspada,” ujar Steven yang mulai menikmati mi gorengnya. “Nanti kalau kita dikit-dikit takut dan curiga, yang ada kita jadi orang jahat,” tambah Steven berusaha sepengertian mungkin.
“Iya, Pah, makasih,” balas Elia.
“Mamah sampai ngeri, lihat berita-berita sekarang ...,” ujar Kainya yang sebenarnya belum selesai bicara, tetapi Steven justru menyelanya.
“Mamah jangan kebanyakan lihat berita. Berpikir positif saja. Kita, termasuk anak-anak kita itu cerdas. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, ketika sesuatu yang tidak diinginkan, sampai mengancam.” Steven menatap ketiga wanita di sekitarnya dengan banyak keyakinan sekaligus pengertian.
“Waspada dan berjaga boleh. Tapi jangan sampai berlebihan,” tambah Steven. “Sudah sarapan. Mamah sudah bikin spesial buat kita,” lanjutnya lantaran suasana di meja menjadi hening diselimuti keterjagaan.
“Jadi, kamu mau pindah sekolah?” lanjut Steven sambil tetap menikmati minya, tetapi fokus tatapannya tertuju pada Elena.
Elena yang sedang mengunyah mi di dalam mulutnya, tak lantas menjawab lantaran setelah menatap Steven, gadis itu juga menatap lama Elia.
“Kamu nyamannya bagaimana?” ujar Elia yang kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku seragam di bagian dada.
Tak lama setelah melihat ponselnya, Elia menjadi senyum-senyum sendiri dan kemudian menatap Steven. “Pah ... hari ini, aku enggak berangkat bareng Papah. Soalnya, ... Rafa sudah ada di jalan mau jemput,” ucapnya malu-malu.
Steven langsung tersipu dan kemudian sengaja menahan tawanya, di mana ia juga sampai mengangguk-angguk.
__ADS_1
“Jam segini, sudah ada di jalan? Berangkat jam berapa, dia? Pukul lima pagi? Jarak rumah kita sama Rafa itu satu jam lebih. Kecuali, kalau naik motor kayak Mo, pakai kecepatan setan,” ujar Kainya terheran-heran.
Elia menjadi tertunduk malu, seiring wajahnya yang sampai bersemu. “Aku sudah bilang enggak usah, apalagi dia juga kerja, tapi ... dia tetap jemput ....”
“Enggak apa-apa. Papah oke, kok, ke Rafa. Lagi pula, om Kimo sama tante Rara juga sudah ada obrolan, mengenai Rafa sama kamu,” ujar Steven.
“Tapi fokus sekolah dulu,” ujar Kainya terbilang tegas.
“Iya ... Rafa juga kasih banyak referensi buat olimpiade besok,” balas Elia yang sampai merengut.
“Ya sudah, habiskan sarapan kalian,” lanjut Steven.
Diam-diam, Elena yang menyimak menjadi nelangsa sendiri. “Nah ... punya pasangan atau seenggaknya teman dekat kayak Rafa kan enak. Perhatian, saling mendukung ...,” batinnya.
***
Sepulang sekolah, Elena dikejutkan oleh Anton yang tak lain merupakan papa kandung Atala. Entah atas dasar apa, pria murah senyum itu tiba-tiba sudah berdiri menunggu di depan mobil yang diparkir tak jauh dari gerbang sekolah Elena. Tentu, kenyataan tersebut membuat Elena langsung menghampiri Anton, terlebih Anton juga sampai menyapa Elena lebih dulu dan bersikap sangat ramah layaknya biasa.
“Om ... kok Om tahu sekolahku?” Elena langsung menyalami tangan kanan Anton, dan bahkan sampai mencium punggung tangan tersebut. “Ada apa, Om?” lanjut Elena.
Karena meski Atala tidak tinggal dengan Anton, selepas perceraian Anton dengan mama Atala, tetapi hubungan Atala dengan Anton sangatlah baik. Elena berpikir begitu, karena beberapa kali, kebersamaan Elena dan Atala yang tidak sengaja bertemu dengan Anton, juga disambut baik oleh Anton. Bahkan karena hal tersebut juga, Elena tahu jika orang tua kandung Atala sudah bercerai, di mana ketika mama Atala sudah sampai menikah lagi, Anton masih memilih hidup sendiri.
“Memangnya kamu enggak tahu, kalau Atala kecelakaan?” ujar Anton sambil menatap serius Elena.
Mendengar Atala kecelakaan, hati Elena mendadak sakit. “K-kecelakaan, Om? Kapan ...?”
“Ceritanya panjang! Ayo, Om diminta Atala buat jemput kamu!” Anton langsung menggandeng sebelah tangan Elena.
“T-tapi, Atalanya enggak apa-apa, kan, Om?” sergah Elena yang langsung masuk dan duduk di sebelah kemudi sesuai tuntunan Anton.
Anton menggeleng sedih dan kemudian sampai memasangkan sabuk pengaman untuk Elena. “Beruntung banget Atala punya pacar kayak kamu!” ujarnya serius dan kemudian melayangkan ciuman di sebelah pipi Elena.
Sungguh, Elena yang awalnya nyaris menangis saking sedihnya mendengar kabar Atala kecelakaan, menjadi risih atas sikap Anton yang sampai menciumnya dan baginya itu sangat lancang.
“Om ... jangan asal cium, kenapa?!” rutuk Elena yang kemudian memilih melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar dari mobil.
“Elena ... Elena ... iya ... iya ... Om minta maaf. Om salah. Itu, tadi alasan Om cium kamu, karena Om sedang sangat sedih gara-gara Atala kecelakaan,” elak Anton. “Kamu tetap duduk, ya. Soalnya kita harus buru-buru, karena Atala akan dirujuk ke Singapura!” lanjutnya meyakinkan.
“T-tapi ... nanti aku nyusul pakai mobilku saja, Om. Ini sebentar lagi, sopirku juga jemput,” elak Elena berusaha mencari aman, seburuk apa pun keadaan Atala layaknya apa yang Anton yakinkan.
“Enggak ... enggak ... kita enggak punya waktu lagi, Lena. Ini, dari tadi, mama Atala sudah berulang kali telepon sambil nangis-nangis, minta Om cepat-cepat bawa kamu, soalnya Atala sudah sibuk minta ketemu kamu!” Anton tak sekadar menatap serius Elena, melainkan sampai berkaca-kaca.
Sebenarnya, Elena yang waswas, tidak begitu yakin dan cenderung takut, ditambah agenda ciuman yang Anton lakukan. Namun karena Anton sampai nyaris menangis, Elena memutuskan untuk ikut. Ya, demi Atala yang Elena takutkan kecelakaan justru karenanya, apalagi dini hari tadi, Atala sempat menghubungi Elena.
“Akhirnya ... masuk jebakkan juga!” batin Anton yang diam-diam tersenyum semringah sambil mengemudi dan sesekali melirik Elena.
“Kok ... hatiku jadi enggak tenang begini, ya? Ah lupa ... aku WA pak sopir dulu, biar dia langsung putar balik buat jemput Elia,” batin Elena. Dan sesuai pemikirannya, Elia segera mengeluarkan ponsel dari saku seragam dadanya.
“K-kamu, lagi ngapain?” ujar Anton yang menjadi panik, ketika mendapati Elena memegang ponsel, tepat setelah Elena baru saja mengirimi sopirnya pesan.
Elena menatap aneh Anton. “Kok, om Anton panik ketakutan begitu, sih?” batinnya yang menjadi semakin tidak nyaman. Di mana tiba-tiba saja, Elena justru teringat ucapan Steven.
__ADS_1
“Kita, termasuk anak-anak kita itu cerdas. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, ketika sesuatu yang tidak diinginkan, sampai mengancam.” Dan teringat itu, Elena jadi semakin waswas. “Om Anton, aman, kan?” pikirnya.
Bersambung ....