
“Kita memang kembar. Tapi aku bukan kamu, dan kamu bukan aku. Kita benar-benar tak sama, walau kita terlahir kembar.”
Bab 38 : Yuan, Suamiku!
***
Keinya baru saja meninggalkan Pelangi di tengah kasur ketika ponselnya yang ada di nakas sebelah ranjang, berdering. Itu panggilan masuk dari nomor baru yang biasanya Kainya gunakan untuk menghubunginya. Merasa ada yang janggal karena tak biasanya Kainya sampai menelepon kecuali untuk urusan yang sangat penting, Keinya segera menjawabnya.
“Iya, Kai? Ada apa?” Keinya berpikir, mungkin Kainya masih mencemaskan perceraian Keinya dengan Athan.
“Kei, bisa tolong ke kamarku dan tolong cek isi brangkas di sebelah ranjang tidurku?”
Keinya mengerjap dan mulai merasa gugup. Pertama-tama, tak lain karena ia belum mengatakan perihal keberadaannya pada Kainya dalam artian, ia tidak tinggal di rumah Kainya sesuai yang kembarannya harapkan. Belum lagi, dengan statusnya yang masih harus menjalani proses perceraian, orang-orang termasuk Kainya pasti akan langsung berpikir macam-macam, jika mereka tahu Keinya justru tinggal di apartemen Yuan. Bahkan meski ia tinggal bersama Rara dan tidak satu apartemen dengan Yuan.
Setelah sempat bingung, Keinya berniat jujur apalagi Kainya begitu peduli dan selalu ingin melihatnya bahagia. Kalaupun Kainya awalnya mengecam, pasti karena wanita itu takut pria yang bersama Keinya hanya akan menyakiti Keinya seperti Athan.
“Kai, sebenarnya,”
Keinya baru akan menjelaskan, tapi Kainya yang terkesan buru-buru langsung berkata, “aduh, Kei ... aku buru-buru banget. Nanti kamu tolong cek di brangkas ada map warna biru muda enggak, ya. Nanti aku WA kode brangkasnya ke kamu.”
Keinya tidak sempat menjawab terlebih menjelaskan keberadaannya, sebab Kainya langsung mengakhiri sambungan telepon mereka. Kenyataan yang membuat Keinya harus ke rumah Kainya untuk memastikan. Tentu ia menyertakan Pelangi dan tak lupa pamit pada Rara yang sedang menggarap naskah di ruang bersantai. Rara begitu sibuk dengan laptopnya dengan jemarinya yang begitu cekatan di keyboard.
“Oh? Pelangi dibawa? Tinggal saja sama aku enggak apa-apa. Lagi pula Pelangi juga anteng,” ujar Rara.
Keinya menggeleng. “Kamu harus fokus, Ra. Tulisanmu sudah nyaris deadline.”
Rara tersenyum memasang wajah tak berdosa. “Siap, biar dapur terus ngebul!”
Keinya mesem. “Jangan lupa, pesanan naskah masih banyak yang antre,” ujarnya sesaat sebelum berlalu meninggalkan Rara.
Membludaknya pesanan naskah di tengah suasana hati dan pikiran Rara yang jauh dari kata baik setelah apa yang Gio lakukan, sangat disyukuri Keinya. Karena dengan banyaknya pesanan naskah, Rara akan sibuk menggarap naskah walau kenyataan itu tidak menjamin kesedihan Rara akan berkurang apalagi hilang. Bahkan meski masalah Rara juga tidak sesederhana itu. Sebab mengenai persiapan pernikahan dari semua keperluan, tetap harus dibayar, dan benar-benar diurus Rara, sedangkan hingga detik ini, Gio sama sekali belum menghubungi Rara.
****
Sesampainya di rumah Kainya, Keinya langsung bergegas menuju lantai atas selaku keberadaan kamar Kainya. Ia melangkah sambil mengamati suasana rumah yang sepi. Walau rumah dalam keadaan rapi, tapi debu tipis yang menyelimuti cukup mengganggu kenyamanan Keinya yang sudah terbiasa hidup bersih. Jadi, Keinya berniat membersihkan rumah Kainya setelah memastikan apa yang Kainya pesankan. Namun, baru juga memasuki kamar Kainya, ia sudah dikejutkan oleh bingkai besar yang menghiasi dinding sebelah ranjang. Bingkai besar yang menjadikan sosok Yuan berikut wanita yang begitu mirip dengannya, mengenakan pakaian pengantin.
__ADS_1
Jas hitam yang begitu pas dan mempertegas tubuh atletis Yuan hingga pria itu terlihat begitu menawan bersanding dengan gaun pengantin sabrina yang dikenakan si wanita. Yuan menatap penuh cinta wanita yang mirip dengan Keinya, yang menunduk dan tersipu. Kedua tangan mereka mencengkeram erat satu sama lain. Menggambarkan begitu besar cinta di antara ke duanya tak beda dengan apa yang Yuan lakukan pada Keinya selama ini.
Pertanyaannya, apa yang membuat foto itu ada sementara Keinya yakin itu bukan dirinya? Namun Keinya tidak bodoh dan tak serta-merta tidak tahu. Karena dengan kata lain, Kainya dan Yuan saling kenal bahkan sempat melakukan pemotretan bergaya pernikahan atau malah ... mereka benar-benar sudah menikah.
Perih memilin ulu hati Keinya yang seketika itu juga menitikkan air mata. Tubuhnya meremang, menolak ketakutan sekaligus pemikiran buruk bila kecewalah yang kembali ia dapatkan.
Keinya baru saja belajar membuka hati untuk Yuan. Bahkan Keinya mulai percaya pada pria itu. Terlepas dari itu, di awal hubungan mereka, Keinya juga sudah menegaskan pada Yuan karena Keinya takut Yuan salah orang. Namun dari semua pertanyaan berikut ketakutannya, Yuan juga terus membantah dan meyakinkan Keinya, bahwa Yuan hanya mencintai Keinya. Benar-benar Keinya, bukan wanita lain!
Kisah cinta mereka berawal setelah Keinya mendonorkan darahnya untuk Yuan. Keinya memang ikhlas memberikan darahnya bahkan sekalipun itu bukan kepada Yuan. Namun, Yuan dengan rasa berterima kasihnya justru jatuh cinta kepada Keinya ketika pria itu mencari lebih jauh semua tentang Keinya. Begitulah kiranya proses cinta Yuan kepada Keinya seperti yang pria itu jelaskan. Kenyataan yang sudah tidak asing lantaran Yuan kerap menjelaskannya dan sampai mengecap dirinya menjadi pria berisik hanya karena mencintai Keinya.
Namun, jika memang Yuan hanya mencintainya, kenapa Yuan juga ada dalam hidup Kainya? Keinya sampai merinding tak percaya dibuatnya. Perasaannya mulai kacau. Keinya mulai merasa marah bahkan kecewa. Apalagi, hadirnya Yuan dalam hidupnya bukan karena ia yang meminta. Pria itulah yang terus mengejarnya. Yuan terus meyakinkannya, dan terus begitu hingga akhirnya Keinya terlena dan mau memberikan kesempatan kepada Yuan.
“Kei?”
Suara Kainya terdengar begitu jelas, tapi Keinya sengaja menahan diri untuk tidak terbawa situasi kendati apa yang ia lakukan justru membuatnya terkesan bodoh bahkan egois.
“Aku pikir tadi aku tidak sempat, jadi aku memintamu untuk,” ucap Kainya.
Keinya segera menahan ucapan Kainya. “Melihat betapa dekatnya hubunganmu dan Yuan?” ucap Keinya sesaat setelah balik badan dan menatap kembarannya itu penuh kecewa.
Kainya menggeragap dan langsung menepis tatapan Keinya.
“....”
Keinya terus berlinang air mata. “Bahkan Athan dan Tiara jauh lebih baik. Mereka pantas melakukan itu karena mereka memang jahat dan memiliki tujuan buruk. Tapi kamu? Kamu selalu bilang kalau kamu menyayangiku. Kamu selalu akan memberikan yang terbaik kepadaku bahkan Pelangi,” isaknya.
“Tapi tidak untuk Yuan!” tegas Kainya memotong pernyataan Keinya. “Yuan, … aku sungguh tidak bisa membaginya bahkan kepada kalian!”
Tatapan tajam penuh kekesalan yang sebelumnya belum pernah Keinya dapatkan, Kainya kuncikan kepada Keinya. Keinya paham, Kainya sedang sangat marah dan itu kepadanya. Di mana, kemarahan Kainya sukses menghancurkan semua kedekatan sekaligus hubungan mereka dengan begitu jelas.
“Kita memang kembar. Tapi aku bukan kamu, dan kamu bukan aku. Kita benar-benar tak sama, walau kita terlahir kembar.” Kainya menatap Keinya penuh peringatan.
“Apa bedanya kamu dengan Tiara berikut wanita penggoda lainnya, jika setelah ini, kamu tetap bersama Yuan? Aku memintamu untuk memberikan Athan kesempatan. Seharusnya kamu lebih fokus mengurus anak, bukan justru sibuk mencari kepuasan hasrat dan cintamu, Kei!”
“Jangan terus-menerus mengatur hidupku! Dan jangan pernah menyamakanku dengan Tiara atau wanita penggoda lainnya! Kamu berharap aku melepas Yuan?” Keinya menggeleng tak habis pikir. “Aku tidak pernah memintanya untuk bersamaku. Dialah yang selalu datang dan terus meyakinkanku!”
__ADS_1
“Tapi Yuan suamiku!” tegas Kainya penuh peringatan. Selain berkata lebih cepat, suaranya juga semakin lantang.
Apa yang Kainya tegaskan tak beda dengan tamparan sangat panas bagi Keinya. Keinya kalah telak. Tak ada lagi pembelaan yang bisa Keinya lakukan jika apa yang Kainya tegaskan memang benar. Yuan … pria itu suami Kainya? Benarkah? Sebenarnya, apa yang terjadi?
“Mau apa kamu, kalau pada kenyataannya, Yuan memang suamiku!” Kedua mata Kainya memelotot, tak kalah tajam dari ucapan yang baru saja ia tegaskan.
Keinya menggeragap dan tak kuasa menjawab. Hanya air matanya saja yang berlinang semakin jelas.
“Kamu mengambil semua yang menjadi hakku. Hakku dari Yuan!” tegas Kainya lagi.
Keinya merasa sangat buruk. Keinya sampai merasa, apa yang Kainya katakan perihal dirinya yang tak beda dengan ‘wanita penggoda’ lainnya, benar adanya. Akan tetapi, Keinya juga tidak merasa dirinya telah menggoda apalagi mengambil Yuan dari Kainya.
“Setelah semua yang kulakukan untukmu, ini balasanmu?” kecam Kainya. “Kamu pikir, siapa yang membersihkan masalahmu dengan Ryunana dan semua masalahmu selama ini?”
“Aku tidak pernah memintamu mengurus masalahku, Kai!” teriak Keinya yang kian terisak-isak. Keinya merasa hancur sehancur-hancurnya.
Kainya tersenyum sarkastis. “Aku tidak akan mempermasalahkannya meski apa yang kamu lakukan salah, asal kamu mengembalikan hakku sebagai istri Yuan, Kei!”
“Sekali lagi aku tegaskan, Kai. Aku tidak pernah mengambil Yuan dari siapa pun termasuk kamu! Kalau kamu enggak percaya, ayo kita selesaikan ini bersama Yuan! Aku tidak terima kalau harus dituduh mengambil hakmu apalagi Yuan dari kamu!”
“Kamu pikir semudah itu? Kei ... kamu seorang wanita, seorang ibu. Bahkan kamu tahu betapa sakitnya ketika suamimu direbut wanita lain, dan ini, kamu saudaraku sendiri!”
Cara Kainya membalas benar-benar melukai Keinya.
“Apalagi besok akan ada pertemuan besar, kan?”
Keinya menepis tatapan Kainya. Satu-satunya saudara yang mrndadak menjadi sangat asing untuknya.
“Seharusnya kamu yang meninggalkan Yuan. Bukan Yuan yang meninggalkanmu jika kamu sudah tahu keadaannya seperti ini!” tuntut Kainya lagi.
“Kembalilah ke Athan.” Setelah mengatakan itu, Kainya bergegas mengeluarkan cek dan menandatanganinya. “Kamu butuh uang, kan?”
Keinya benar-benar tak percaya jika luka terbesar dalam hidupnya justru ia dapatkan dari Kainya yang selama ini selalu menawarkan kebahagiaan kepadanya. “Hanya sebatas itu harga Yuan untukmu?” tegasnya. “Aku tidak membutuhkan uangmu. Aku juga tidak membutuhkan Yuan atau siapa pun! Aku benar-benar tidak membutuhkan apa-apa dari siapa pun!” tegas Keinya meronta-ronta.
Keinya berlalu dengan luka yang begitu menghancurkannya. Luka yang bahkan berkali lipat dari apa yang Athan dan Tiara lakukan. Sungguh, dengan apa yang terjadi, ia tidak butuh penjelasan atau pembelaan apa pun dari Yuan maupun Kainya. Karena sekali lagi ia tegaskan, ia tidak membutuhkan apa pun dan siapa pun karena selama ini begitulah cara yang Keinya gunakan untuk bertahan. Keinya tidak pernah meminta, apalagi
__ADS_1
Bukankah Kainya tahu semua tentangnya, tapi kenapa wanita itu justru sampai merendahkan Keinya serendah-rendahnya?
*****