
“Aku ini bukan orang yang bisa selalu berbicara dengan suara pelan apalagi lembut. Aku juga lebih sering cuek bahkan marah-marah. Tapi mengenai keselamatan sekaligus kebahagiaan kalian, itu akan menjadi prioritasku!”
Bab 48 : Prioritas
D. Steven : Kamu baik-baik saja? Seharian kemarin, kamu tidak mengabariku? Rekanku bilang, kamu sudah akan pulang? Apakah kamu yakin? Apakah benar, sudah baik-baik saja?
Pesan WA dari Steven, hanya Kainya baca tanpa ada niat membalasnya. Seperti beberapa panggilan telepon yang dilakukan pria itu sebelumnya. Bahkan mengenai pesan yang beberapa saat lalu Kainya kirimkan ketika ia mengabaikan telepon dari pria itu, hal tersebut Kainya lakukan untuk basa-basi.
Kainya merasa harus bersikap baik kepada Steven, lantaran pria itu telah banyak membantunya. Pun meski cara Steven memperhatikannya, tak beda ketika ia pura-pura menjadi Keinya. Karena saat itu, hal yang sama juga Yuan lakukan kepadanya. Yuan begitu memperhatikannya layaknya apa yang Steven lakukan akhir-akhir ini.
Kainya sudah tidak mau mengenal apalagi berurusan dengan laki-laki, setelah semua yang menimpa hidupnya. Terlebih, karena berawal dari laki-laki pula, cintanya kepada Gio dan juga Yuan, ia menjadi wanita jahat yang hidup dalam obsesi. Pun mengenai Daniel, ia hanya menganggap perhatian sekaligus kesungguhan pria itu bak angin lalu. Karena baginya, sampai kapan pun, Daniel selalu akan menjadi adik kesayangannya. Benar-benar tidak akan ada yang bisa mengubah hubungan mereka.
Kemudian, Kainya mengembuskan napas pelan. Ia yang masih duduk di ranjang rawatnya, tak hanya terjaga seorang diri. Sebab Daniel ada di sofa seberang dekat jendela. Pria muda itu tengah fokus bekerja.
Jemari Daniel begitu sibuk di keybord laptop. Sedangkan kedua matanya yang kali ini dilindungi kacamata min, terlihat begitu serius menatap layar laptop.
Tiga hari setelah kecelakaan yang menimpanya akibat ulah Steffy, hampir sebagian besar waktu Kainya memang ditemani Daniel. Meski sesekali, Steven akan hadir atau sekadar menanyakan kabarnya melalui pesan dan telepon. Dan perhal Steven, bagi Kainya, untuk saat ini, Steven masih tergolong sangat sopan.
“Aduh .... kayaknya mataku bermasalah ....,” keluh Daniel tiba-tiba sambil mengulet dan menjulurkan kedua tangannya ke atas.
Kainya yang awalnya akan merebahkan tubuhnya pun berujar tanpa menatap Daniel. “Mungkin matamu lelah. Makanya bermasalah.”
Daniel meninggalkan rutinitasnya sambil memanyunkan bibir sesaat melepas kacamatanya. Ia menghampiri Kainya. “Tapi kayaknya bukan bermasalah, sih.”
Sambil memejamkan mata perlahan, Kainya berkata, “cek saja ke dokter mumpung di rumah sakit.”
“Lah, terus aku harus jawab apa, kalau dokter tanya?”
__ADS_1
“Daniel ... Kakak ngantuk. Kamu jangan jail terus.” Kainya benar-benar mengabaikan Daniel. Jangankan menatap, melirik saja tidak.
Daniel mulai merasa sebal. Kemudian ia duduk di sofa kecil dan persis menghadap wajah Kainya. Ia merebahkan wajah berikut sebagian punggungnya di sana.
“Mataku bermasalah karena hanya dipenuhi wajah sama senyummu, Kak ...,” lirih Daniel sambil menunjuk-nunjuk gemas hidung Kainya menggunakan telunjuk tangan kanannya.
“Apakah Daniel benar-benar mencintaiku?” batin Kainya. “Ah tidak ... ini tidak boleh terjadi! Sampai kapan pun kami keluarga dan tidak ada yang bisa mengubahnya!” lanjut Kainya kemudian, masih di dalam hati.
Kecemasan Kainya semakin menjadi-jadi, ketika Daniel sampai membelai kepalanya, kemudian mencium keningnya sangat lama. Karena dari cara Daniel memperlakukannya berikut pengakuan cinta yang dilakukan, adik angkatnya itu mungkin serius mencintainya.
“Tidurlah. Jangan memikirkan pulang dulu sebelum Kakak baik-baik saja. Lagi pula, mami sama papi percaya kalau Kakak sedang jalan-jalan ke luar negeri bersamaku,” bisik Daniel kemudian.
Tak lama setelah itu, selain tangan Daniel yang tak lagi membelai kepala dan terkadang wajah Kainya, langkah pria itu juga terdengar menjauh. Kembali ke seberang, tempat pria itu menghabiskan waktu untuk bekerja selama tiga hari terakhir. Kainya yang memilih pura-pura tidur, yakin Daniel telah kembali ke sofa seberang untuk bekerja. Dan ketika ia memastikannya.
“Apa yang harus aku lakukan, agar Daniel melupakanku dan mencintai wanita lain? Tanpa melibatkan laki-laki dalam hidupku, pun meski hanya pura-pura?” batin Kainya.
***
“Otak rusak?” panggil Rara lirih. Ia sengaja melakukannya karena takut menguras kosentrasi Kimo.
“Aku ini suamimu, jangan memanggilku otak rusak karena itu enggak sopan,” balas Kimo tanpa mengurangi fokus pandangnya pada layar laptop, berikut jemarinya di atas keyboardnya.
Rara mengerucutkan bibir sambil menghela napas pelan. “Itu kan memang fakta. Selain kamu amnesia, kamu juga sering mengubah keputusan. Awalnya sepakat berpisah, sekarang justru selalu nempel kayak perangko!” cibirnya kemudian sambil menatap sebal Kimo.
“Bukankah sejauh ini aman? Asal aku selalu bersamamu, kamu dan anak kita aman. Toh, papa sama Kimi juga setuju dengan caraku. Bahkan papa sengaja kasih pekerjaan yang bikin aku leluasa jagain kamu.” Kimo menatap Rara penuh keseriusan.
Kimo, dari pagi ini, pria yang menegaskan akan selalu menjadi suami Rara apa pun keadaannya bahkan sekalipun Kimo kembali amnesia, memang baru saja mendapatkan pekerjaan dari Franki. Pekerjaan yang bisa membuat Kimo leluasa menjaga Rara, tanpa rutin ke kantor.
__ADS_1
Siang ini, rencananya mereka akan makan siang bersama Franki dan Kimi. Jadi, selain sengaja datang untuk mengurus pekerjaan dengan Keinya, Rara yang kembali ditemani Kimo juga akan makan siang dengan Franki dan Kimi. Hanya saja, Rara jadi penasaran dengan kabar terbaru Kiara. Mama mertuanya itu apa kabar? Apakah wanita itu sudah sadar terlebih menyadari kesalahannya?
“Kimo ... kabar mama, bagaimana?” Rara bertanya dengan hati-hati. Menanyakan kabar Kiara cukup membuatnya harap-harap cemas. Namun tentu, ia sangat berharap wanita itu sadar dan mau menerima kenyataan.
Kimo tak langsung menjawab. Pria itu terdiam untuk beberapa saat dan terlihat cukup terkejut bahkan menahan sakit. “Sayang, kita jangan bahas hal yang bikin kita enggak baik-baik saja, ya? Apalagi semalam kamu sampai enggak tidur. Kalau tensi darah kamu sampai naik drastis bahkan turun, bahkan kamu kembali stres ... apa gunanya aku selalu ada buat kalian?” ucap Kimo lirih sarat pengertian berikut kesedihan yang tiba-tiba menyelimuti.
Rara sampai merinding dibuatnya. Tak percaya dengan apa yang Kimo lakukan di tengah keadaan pria itu yang ia ketahui masih amnesia.
“Aku ini bukan orang yang bisa selalu berbicara dengan suara pelan apalagi lembut. Aku juga lebih sering cuek bahkan marah-marah. Tapi mengenai keselamatan sekaligus kebahagiaan kalian, itu akan menjadi prioritasku!” tambah Kimo dengan mata yang dirasanya menjadi panas bahkan berkaca-kaca.
Berbeda dengan Kimo, Rara justru sudah berlinang air mata dan sengaja menepis tatapan Kimo. Rara sengaja melakukan itu lantaran ia tidak yakin akan baik-baik saja jika ia terus menatap pria itu. Terlebih, mereka sedang ada di tempat umum. Bagaimana jika tangisnya justru pecah bahkan meraung-raung, lantaran apa yang Kimo lakukan sangat membuatnya nelangsa? Apalagi ketika kedua tangan Kimo berangsur menarik sebelah tangannya. Melakukan gerakan agar ia membiarkan pria itu mendekapnya.
Sungguh, apa yang Kimo lakulan sangat membuat Rara bahagia.
***
Di rumah sakit, Steven baru saja meninggalkan UGD yang di dalamnya sedang menangani Steffy. Sejauh tadi masuk ruangan tersebut, Steffy yang sudah tak sadarkan diri masih bernapas. Steven berharap wanita itu bertahan untuk menanggung semua kekacauan yang sudah dilakukan. Dan pastinya, Steven berharap Steffy juga menjadi orang yang jauh lebih baik.
Langkah Steven tak langsung pergi, meninggalkan rumah sakit. Ia justru memasuki lift dan membuatnya sampai lantai lima. Di salah satu ruang rawat di sana, Kainya ada. Sayangnya, dua pesan yang ia kirimkan juga belum dibaca oleh wanita itu.
Yang membuat Steven bertanya-tanya, apakah Kainya baik-baik saja, atau justru sengaja menghindarinya? Terlebih sejauh ini menganati, Steven yakin Kainya akan menutup diri apalagi perihal hubungan dengan laki-laki.
Kini, setelah berdiri di depan pintu ruang rawat Kainya, Steven sengaja membukanya dengan hati-hati tanpa meminta izin atau sekadar mengetuk pintu. Dengan perasaan cukup gelisah atas kedua kemungkinan yang baru saja menghiasi pikirannya, ia membuka pintu tersebut. Pun meski kemungkinan Daniel ada di dalam juga besar. Karena biar bagaimanapun, menghadapi Daniel yang terlihat jelas tidak menyukainya juga harus ia pikirkan.
Steven benar-benar tidak sabar bertemu dengan Kainya yang entah sejak kepan, telah menjadi prioritas dalam hidupnya.
Bersambung ....
__ADS_1
Hari ini, mau up tambahan, enggak? Like dan komen kalian Author tunggu.