
~Selamat untuk pekerjaan barumu. Semangat dan sukses selalu. Aku mencintaimu!~
Bab 23 : Kiriman Buket Mawar Misterius Untuk Pelangi
Pagi ini, Pelangi mendapat kiriman buket mawar merah mistirius tanpa disertai nama pengirim. Hal tersebut langsung membuat Zean bersorak girang lantaran menyangka bunga tersebut dari Kim Jinnan.
“Yakin, deh, itu pasti dari Kim Jinnan. Kim Jinnan kan romantis!” sorak Zean tak hentinya pecicilan.
Namun tidak bagi Dean yang sedari awal hanya diam. Karena bagi Dean yang juga sudah mengenakan seragam sekolah layaknya Zean, buket tersebut justru dari Rafaro.
~Selamat untuk pekerjaan barumu. Semangat dan sukses selalu. Aku mencintaimu!~
Tulisan di ucapan kartu tanpa pengirim itu cukup membuat Pelangi sulit menebak. Jika memang itu dari Kim Jinnan, seharusnya dari kemarin pria itu mengiriminya, apalagi kemarin, Kim Jinnan juga sampai menyambanginya ke kantor?
Sekali lagi, Pelangi yang sudah mengenakan celana pensil panjang warna hitam dipadukan kemeja lengan panjang berwarna biru muda, mencoba meresapi perihal siapa dalang di balik kiriman bunga itu. Namun, hasilnya masih buntu. Pelangi tidak yakin buket mawar merah itu dari Kim Jinnan. Atau jangan-jangan, buket itu justru dari Rafaro?
“Dean, jangan cuma diam! Kamu juga harus kirim bunga ke Kishi biar lebih romantis!” semprot Zean yang kali ini sampai menyikut pinggul Dean.
“Nih bocah enggak bisa diem, ya?” omel Dean yang akhirnya sampai melotot juga kepada Zean.
Zean langsung melipir pada Pelangi yang masih berdiri di depan pintu. “Ngi-ngie ... ada yang ngambek,” lirihnya sambil melirik-lirik Dean.
Dean kembali masuk dan duduk di meja yang sudah menyajikan menu sarapan.
“Kamu jangan berisik, kenapa?” tegur Pelangi yang sebenarnya juga sudah sangat gemas pada Zean.
Zean langsung cemberut bahkan mencebik, merasa kecewa dengan balasan Pelangi. Namun tak lama setelah itu, Zean yang berlari ke arah Dean juga kembali berisik. “Hore ... Ngi-Ngie dapat kiriman bunga cinta dari Kim Jinnan!”
Mendengar itu, Pelangi refleks menghela napas panjang. “Gila nih bocah. Pantas si Dean lebih memilih diam, apalagi Dean selalu jadi korban!” uringnya sambil menggeleng tak habis pikir.
Pelangi segera meninggalkan pintu. Gadis itu juga melangkah ke arah kepergian Zean lantaran sebelumnya, mereka memang baru akan sarapan. Tampak beberapa pekerja di rumahnya yang bergerak cepat memenuhi meja makan dengan berbagai menu.
“Ada apa ini masih pagi sudah rame?” tanya Keinya yang berjalan mendekat sambil mengemban Mentari, diikuti pula oleh Yuan yang berjalan di belakangnya.
“Itu, Ma! Ngi-ngie dapat kiriman bunga dari Jinnan!” balas Zean bersemangat dan memang paling brisik.
Keinya langsung tersenyum geli dan kemudian melirik ke arah Pelangi yang memang membawa buket mawar merah. “Wah ... sweet!” pujinya.
__ADS_1
“Ciee!” sambut Zean yang sekali lagi membuat Dean merasa sangat terganggu.
Jika Zean bukan adiknya, dan bocah itu bukan manusia atau benda hidup lainnya, ingin rasanya Dean menendang Zean hingga luar angkasa. Akan tetapi, Zean yang duduk di hadapan Dean, memang adik yang harus Dean sayangi sekaligus jaga.
“Romantis, kan, Ma? Nah! Mama kapan dikasih bunga juga sama Papa?!” sambut Zean yang kali ini menatap serius orang tuanya.
Yuan dan Keinya yang baru akan duduk refleks diam sebelum akhirnya bertukar tatapan.
“Sudah lama Papa enggak kasih Mama bunga?” ujar Keinya.
Yuan menghela napas cepat. “Kata siapa? Yang penting bunga di ATM sama kartu kredit ngalir terus, kan?” kilah Yuan tak mau disalahkan.
Dean dan Pelangi yang baru duduk langsung mesem bahkan sengaja membekap mulut mereka dengan tangan. Pelangi dan Dean sengaja meredam tawanya agar tidak menyakiti kedua orang tuanya yang sedang berselisih perihal bunga akibat tingkah Zean.
“Hahaha ... tapi tetap saja beda, Pa! Iya, enggak, Ma?” seru Zean yang masih berisik.
Yuan seolah kalah telak. Ia menatap miris Zean, kemudian Keinya silih berganti.
“Untuk kali ini, Mama setuju sama Zean!” ucap Keinya.
“Ya sudah, mulai hari ini, Papa bakalan booking toko bunga buat kirim bunga ke Mama sehari tiga kali kayak jadwal minum obat,” ucap Yuan sengaja mengalah dan memang merasa bersalah. Karena terhitung, semenjak Mentari lahir, ia memang terbilang sangat jarang memberi Keinya bunga.
“Seenggaknya, kebrisikan Zean pagi ini ada hikmahnya,” ujar Pelangi yang masih susah payah mengendalikan tawanya.
Keinya masih melirik sebal Yuan yang menatapnya dengan raut penuh sesal.
Dean yang sudah menikmati roti bakar berselai cokelatnya, masih menatap sebal Zean. Ya, bocah berisik yang selalu ingin menang sendiri dan kali ini sedang makan roti berselainya dengan rakus, sampai-sampai, Zean belepotan selai kacang di sekitar bibirnya.
Ketika semuanya mulai sarapan tanpa terkecuali Yuan dan Keinya yang sesekali akan bahu-membahu menyuapi Mentari, Pelangi yang juga akan memulai sarapan, meminta salah seorang pekerja di rumahnya untuk menempatkan buket mawar miliknya ke pot bunga yang sampai diisi air agar bunganya lebih awet.
“Nanti tolong taruh di meja ruang keluarga, yah, Mbak!” pesan Pelangi.
“Iya, Non ....”
“Bunganya kamu jaga begitu, berarti hubunganmu dan Jinnan sudah semakin baik, ya?” tanya Dean sambil menatap Pelangi penuh kepastian.
Pelangi menggeleng santai. “Enggak juga. Biasa saja, maksudku. Toh, aku dan dia memang berteman.”
__ADS_1
“Jangan gitu, dong, Ngie ... yang luar biasa kenapa, jangan hanya berteman juga!” protes Zean yang sampai mendelik-mendelik lantaran ia nyaris tersedak.
“Zean, fokus makan!” tegur Keinya yang sengaja memberikan segelas minum miliknya kepada Zean.
“Makasih, Ma!” ucap Zean yang segera menerima segelas air minum dari Keinya kemudian meminumnya.
“Dean ... nanti siang kamu mau dijemput apa enggak kayak kemarin?” tanya Zean sesaat setelah minum dan berhasil menelan makanan di dalam mulutnya dengan aman.
Yuan dan Keinya menatap serius Dean, sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulut mereka.
“Nanti siang enggak usah jemput. Aku mau naik bus lagi saja,” balas Dean santai.
“Lah, kok kamu naik bus, aku enggak?!” protes Zean yang langsung bersedih sambil menatap orang tuanya dengan wajah teraniaya.
“Jadi, Papa harus beli bus buat antar jemput kalian, begitu?” ujar Yuan tak mau ambil pusing. Karena jika memang anak-anaknya lebih senang bepergian menggunakan bus, dengan kata lain, ia memang harus membeli bus khusus.
“Enggak mau! Aku enggak mau bus yang dari Papa. Aku maunya bus yang kayak orang miskin!” kilah Zean yang masih cemberut bahkan kali ini sampai bersedekap.
“Ya sama saja. Toh, uang yang buat bayar sama kalian, juga uang dari Papa. Semuanya tetap sama, kan?” balas Yuan meyakinkan.
“Enggak, ah. Tetap beda. Aku mau naik bus yang kayak Dean juga biar enak!” tolak Zaean masih dengan keputusannya.
Yuan melirik Keinya. Keinya segera mengangguk cepat sebagai balasannya.
“Ya sudah, khusus hari ini dan selama satu minggu ke depan, kalian bebas naik bus. Tapi khusus Zean, nanti kamu dikawal,” ucap Yuan dan langsung disambut girang oleh Zean.
“Asyik, aku bakalan hidup miskin!” sorak Zean.
Namun sungguh, apa yang Zean sorakkan, sangat mengganggu orang-orang di sana. Perihal Zean yang begitu ingin hidup susah dan itu tidak satu atau dua kali diucapkan anak itu.
Bersambung ....
BTW, kapan terakhir kalian dapat hadiah bunga, apalagi yang cukup romantis kayak yang dimaksud Zean?
Oh, iya. Yang belum mampir ke cerita Author yang judulnya : Menjadi Istri Tuanku, Author tunggu, yaaa. Di sana, sudah banyak episode juga, kok. Pokoknya seru. Ada Ipul, juga Rafael yang mulai bucin ke Fina 😂😂😂😂
Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya. Selepas Perceraian akan mengutamakan drama keluarga yang dihiasi percintaan mereka, kok. Namun jangan salah ketika tiba-tiba hati kalian merasa sakit lantaran di beberapa bab, bakalan ada cerita yang sangat menguras air mata 😂😂😂😂
__ADS_1