Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 84 : Kacau


__ADS_3

Bersama Pelangi dan Kim Jinnan, awalnya Yuan sedang makan siang di ruang kerjanya, sambil membahas persiapan resepsi pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan. Namun, telepon masuk yang menghiasi ponselnya membuat Yuan undur, apalagi telepon masuk tersebut dari orang kepercayaannya.


“Kan nanti yang bawa cincin si Zean, nah posisinya dia masuk dari sini sama ....” Sambil mengunyah makanan di mulutnya, Pelangi yang duduk bersebelahan dengan Kim Jinnan, menjelaskan detail susunan acara sambil menunjuk kertas di hadapan mereka menggunakan pulpen.


Yuan yang meninggalkan Pelangi dan Kim Jinnan, kerap memperhatikan keduanya sembari menjawab telepon masuk di ponselnya. Sedangkan Pelangi yang mencari Yuan dan mendapati sang papa sedang menerima telepon di seberang meja kebersamaannya dan Kim Jinnan, menjadi urung. Karena di depan jendela sudut ruang kerja kebersamaan mereka, Yuan tampak serius menyimak obrolan ponsel pria itu. Jadi, Pelangi hanya menatap cukup lama Yuan, lantaran Pelangi juga tidak berani mengusik papanya. Sebab, anandai saja tidak sangat penting, Yuan pasti tidak sampai pergi hanya untuk menjawab ponsel.


“Masalah ini, tunggu papa. Kita minta pendapat papah. Tapi bentar, ... kayaknya papa sedang ada keperluan sangat penting,” ucap Pelangi.


“Ya sudah ... kita makan dulu,” balas Kim Jinnan.


Baru juga akan menyuapkan makanan ke dalam mulut masing-masing, Kim Jinnan dan Pelangi menjadi terdiam lantaran dari seberang, Yuan menyebut nama Elena penuh keterkejutan.


“Kok, bisa? Cepat kejar!” tegas Yuan.


Yuan terlihat begitu emosional, di mana Pelangi belum melihat papanya seemosional sekarang, sedangkan tadi, Yuan juga sampai menyebut nama Elena.


“Jinan ... kira-kira ... apa yang harus dikejar? Terus ... kamu, tadi juga dengar, kan, papa sebut-sebut nama Elena?” lirih Pelangi tanpa bisa menyembunyikan kekhawatiran yang juga turut diselimuti rasa takut.


Kim Jinnan yang menyimak sambil menatap istrinya, berangsur mengangguk. “Iya. Aku juga enggak tahu. Kita tanyakan nanti setelah papah selesai telepon,” balasnya yang kemudian memakan apa yang sudah ada di sendoknya.


Meski masih merasa tidak yakin, Pelangi berangsur mengangguk dan kemudian mengikuti apa yang Kim Jinnan lakukan. Pelangi makan di tengah keresahan yang tidak bisa sepenuhnya ia halau. Karena apa yang menimpa Yuan, dan nama Elena sampai disebut, sulit membuat Pelangi untuk tidak berpikir buruk.


“Semoga, enggak terjadi apa-apa,” batin Pelangi.


*** 


Elia sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolahnya, ketika suara berisik sebuah motor terdengar mendekat ke arahnya. Awalnya, Elia hanya menghela napas dengan sedikit kekesalan yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya, lantaran suara motor tersebut mengingatkan Elia pada Mofaro. Ya, suara motor yang membrisikkan telinga Elia kali ini sangat mirip dengan suara motor Mofaro. Namun, ketika motor itu justru berhenti di hadapan Elia, detik itu juga suasana hati Elia menjadi memburuk. Sungguh, itu memang Mofaro. Mofaro yang langsung menatap Elia dengan ekspresi menyebalkan, terlepas dari wajah pemuda itu yang masih cukup memar.


Elia mengerutkan bibir dan hanya menatap Mofaro tanpa melakukan hal lain. Mata bulatnya hanya sesekali melihat, sebelum akhirnya menepis dan mengamati sekitar lantaran ia memang sengaja menepis kehadiran Mofaro.


“Sombong banget, sih!” celetuk Mofaro yang mendadak menjadi bengis.


Elia menatap bingung Mofaro di tengah bibirnya yang masih mengatup rapat.


“Iya. Aku ngomong sama kamu. Masa iya, aku ngomong sama debu! Cepat naik, ... aku antar kamu pulang!” lanjut Mofaro.


“Memangnya ada acara apa?” balas Elia yang mulai mencurigai maksud Mofaro tiba-tiba menjemputnya.


“Kitanannya Rafa! Sudah, naik saja! Ngapain nanya-nanya? Rafaro enggak marah, enggak! Dijamin. Halal!” 


“Ih ... enggak jelas banget! Enggak, ah. Aku masih nunggu sopirku. Bentar lagi juga sampai soalnya hari ini Elena dijemput papanya Atala. Tuh rivalmu kecelakaan katanya,” balas Elia.


“Alhamdullilah ... napasnya masih bagus, kan?” balas Mofaro yang menjadi menatap penasaran Elia.


Elia tergelak. “Gila saja kamu. Bertarung tanpa rival ya kayak orang gila! Seneng banget dengar Atala kecelakaan!”


Mofaro tersenyum geli sambil menggeleng. “Enggak juga, sih. Biasa saja. Kamu kayak enggak kenal aku saja! Ya sudah, ... bilang ke sopirmu enggak usah jemput. Kamu bareng aku saja.”


Meski Mofaro terlihat serius, tapi Elia tidak mungkin menerima bantuan pemuda itu lantaran sekarang, Rafaro menjadi pencemburu bahkan kepada Mofaro. “Enggak, ah.”


“Aku sudah bilang ke Rafaro. Katanya sekalian enggak apa-apa, daripada kamu lama nunggu jemputan sopir. Ya ... asal jangan sampai nyubit-nyubit kamu lagi katanya. Jadi, dengan kata lain, nampol atau malah nendang berarti diizinnin!” balas Mofaro yang awalnya meyakinkan tetapi akhirnya kembali tertawa lepas layaknya orang setres.


Jadi, demi membungkam mulut Rafaro agar tidak terus-menerus berisik, Elia sengaja mengirim pesan kepada Rafaro, sebelum akhirnya mengirim pesan pada sopirnya, lantaran Rafaro memang menyarankan Elia ikut Mofaro, daripada Elia menunggu jemputan sopirnya, yang kadang membuat Elia menunggu sampai sejam lebih.

__ADS_1


“Hari ini, kamu ke kantor?” tanya Elia sembari bersiap duduk dibonceng Mofaro. Ia bertanya begitu lantaran pakaian Mofaro terbilang cukup dinas. Kemeja belang-belang biru putih motif garis dipadukan dengan celana levis panjang warna biru tua. Ya, meski Mofaro tidak pernah bisa berpenampilan rapi layaknya manusia normal atau setidaknya Rafaro. Lihat saja, kancing lengan kemejanya saja tidak ada yang dikancingkan. Terlepas dari itu, kemeja Rafaro juga tidak dimasukkan dan dibiarkan menutupi pinggang.


“Iya ... kalau enggak, gajiku dipotong terus sama papa. Tahu, lah ... papaku sangat disiplin. Beda sama papamu yang penuh dengan kasih sayang!” balas Mofaro sembari mulai menyalakan mesin mobilnya.


“Papamu disiplin karena kamu petakilan terus, enggak jelas. Rafaro saja enggak pernah mengeluhkan cara didik papamu!” balas Elia yang menjadi mengomel sembari mengenakan helm pemberian Mofaro. Bahkan, setelah beres mengancing kaitan helmnya, ia tak segan menoyor kepala Mofaro yang dilindungi helm.


“Semprul kamu, ya!” omel Mofaro tanpa membalas dan hanya melirik sebal pada Elia.


Elia tergelak dan segera berpegangan pada pundak Mofaro. “Jangan ngebut-ngebut. Kalau kamu berani ngebut, aku cekek!” ujar Elia yang langsung praktek mencekek Mofaro.


“Ya ampun, Elia! Bisa mati muda aku, kalau lama-lama sama kamu!”


“Hahaha! Lagian, aku enggak minta kamu buat jemput aku!”


“Ya maksudnya sekalian. Lagian aku juga mau survei beberapa mini market buat cek penjualan di lapangan. Nanti berhenti bentar, ya, di market pengkolan depan.”


“Sippp. Sekalian, aku juga mau beli.”


“Memangnya kamu mau beli apa?”


“Pembalut! Sudah jalan, ... jangan banyak tanya!”


“Ya ampun ... kamu enggak tahu malu banget! Bilang ‘pembalut’ sampai sengegas itu! Hahaha!” 


Mofaro segera memacu motornya dengan kecepatan penuh, dan kenyataan tersebut langsung membuat Elia refleks mencekik Mofaro sekuat tenaga. Di mana, Mofaro langsung memelankan laju mobilnya, terlepas dari Mofaro yang menjadi tak hentinya tertawa.


Sesuai rencana Mofaro, mereka berhenti di market dekat pengkolan yang Mofaro maksud. Di market terbilang besar yang letaknya berseberangan dengan kantor polisi itu, suasananya terbilang ramai. Halaman market yang terbilang luas dan menjadi tempat parkir pengunjung market saja, sampai penuh oleh kendaraan dan beberapa di antaranya kendaraan beroda empat. Sedangkan barang yang Mofaro maksud untuk dicek penjualannya, tak lain mengenai produk roti yang menjadi usaha keluarga Mofaro. 


Elia yang berangsur turun, merasa tidak mengerti dengan maksud Mofaro. “Maksudnya apa, gaspol?” 


“Dia langsung ‘ngiket’ kamu, kan? Dia tuh takut, kamu sama aku! CEMBURU!” jelas Mofaro yang sampai menyentil kening Elia.


Elia refleks terpejam dan kemudian mendengkus. “Kamu kok jail banget sih, kalau sama aku?!” keluhnya sambil menatap sebal. Sial, bukannya membalas, Mofaro justru tertawa lepas.


Elia memilih bungkam sambil melepas helemnya. Pun dengan Mofaro yang berangsur turun sesaat menarik kunci motornya disusul menaruh helmnya. Hanya saja, yang membuat Mofaro bingung, kenapa Atala yang kata Elia kecelakaan, justru baru saja keluar dari market kunjungan mereka sembari menghiasi kedua tangannya dengan barang belanjaan?


“Lah, Li ... itu orangnya masih hidup!” ujar Mofaro yang kemudian menatap Elia penuh kepastian.


“Siapa yang masih hisup?” tanya Elia penasaran.


Mofaro langsung melakukan gerakan wajah dalam menunjuk keberadaan Atala. Dan yang terjadi pada Elia setelah mendapati Atala yang sudah semakin dekat dengan kebersamaannya dan Rafaro, justru sebuah rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang hatinya.


“Terus, apa maksud Elena katanya dijemput papa Atala?” gumam Elia bertanya-tanya, seiring dengan sebelah tangannya yang sampai mengelus-elus dadanya, dikarenakan Elia juga menjadi merasa sesak. 


Tak mau hanya dihantui rasa cemas, Elia bergegas menghampiri Atala. Atala sendiri tidak melihat keberadaan Elia. Jadi, Atala yang keningnya dihiasi plaster perban cukup besar, segera menekan tombol buka mobilnya dan bersiap memasukinya.


“Atala ....”


Panggilan suara seorang gadis yang tidak asing di telinga Atala, dan bahkan Atala kenali sebagai suara Elia, membuat Atala yang sudah berhasil membuka pintu sebelah kemudi, segera balik badan. Atala dapati, Elia yang menatapnya dengan kerut yang menghiasi dahi, dan menegaskan jika Elia menaruh keingintahuan terhadap dirinya.


“Kok kamu di sini?” ujar Atala yang kemudian menaruh kantong belanjaannya di tempat duduk penumpang sebelah setir.


“Yang seharusnya tanya begitu, itu, aku. Kok Kamu di sini? Katanya kamu kecelakaan, dan papamu sampai jemput Elena ke sekolah.” Elena bertanya dengan sesopan mungkin kendati nada suaranya dipenuhi penuntutan.

__ADS_1


Mendengar balasan Elia, detik itu juga Atala menjadi merinding, seiring jantung pria itu yang seolah melesak dari posisi semestinya.


“Papaku jemput Elena?” tegas Atala sambil menahan kedua bahu Elia.


“Heh! Jangan pegang-pegang!” seru Mo yang segera menghampiri kebersamaan Elia dan Atala, dengan langkah cepat.


Elia bingung. Kenapa tatapan Atala dipenuhi kekhawatiran bahkan ketakutan? Terlepas dari itu, Elia juga segera menghalang-halangi Mofaro agar tidak berhadapan langsung dengan Atala, terlebih hanya melihat Atala menyentuh Elia saja, Mofaro langsung marah.


“Apa yang terjadi?” tanya Elia dengan suara yang terdengar sengau.


Namun, bukannya menjawab, Atala justru bergegas menutup pintu dan terlihat sangat buru-buru. 


“Atala!” tahan Elena.


Atala langsung balik badan dan menatap Mofaro penuh kepastian. “Kamu pakai motor, ya? Pinjam motormu! Kamu pakai mobilku dulu!” sergahnya yang kemudian memberikan kunci mobilnya kepada Mofaro.


“Kamu kenapa?” tanya Mofaro yang mencurigai maksud Atala. 


“Cepat!” tuntun Atala yang menjadi tidak sabar lantaran bukannya memberikan kuncinya, Mofaro justru terkesan mencurigainya.


“Mo, cepat berikan saja! Ini pasti penting!” rengek Elia yang mulai semakin khawatir lantaran gerak-gerik Atala begitu mencurigakan. Namun, kenapa Atala sampai tidak sejalan dengan papanya? Dan apa maksud papa Atala menjemput Elena, sedangkan Atala yang menjadi alasan justru tidak tahu-menahu?


“Percayalah ... hati dan perasaanku enggak bisa dibohongi kalau sesuatu yang buruk akan menimpa Elena,” gumam Elia sembari menyeka sekitar matanya.


Elena melepas kepergian Atala yang mengendarai motor Mofaro dengan kecepatan penuh. Ya, setelah Elia meyakinkan Mofaro, pemuda di sebelahnya bersedia melepas motor kesayangannya kepada Atala. Padahal sebelumnya, tak ada seorang pun yang Mofaro izinkan menyentuh motornya bahkan Rafaro dan Kimo sekalipun. Namun kini, untuk pertama kalinya, Mofaro justru melepas motofnya kepada pria yang menjadi rivalnya dalam mendapatkan Elena.


“Kamu ngomong apa, sih? Enggak usah nangis begitu ... enggak terjadi apa-apa. Elena baik-baik saja.” Mofaro berusaha meyakinkan Elia. Ya, Elia yang entah kenapa mendadak jauh lebih menarik dari siapa pun bahkan Elena atau Pelangi.


Elia yang merasa malu, sengaja memunggungi Mofaro sembari terus menyeka air matanya. Akan tetapi, Elia yang penasaran dengan apa yang sedang Elena lakukan pun segera mengeluarkan ponsel dari saku bagian dada kanannya.


Elia : Lena, kamu di mana?


Mofaro yang melihat apa yang Elia lakukan, menjadi gemas sendiri. “Jangan cuma kirim pesan. Langsung telepon saja. Sini!”


Setelah sampai mengambil alih ponsel Elia, Mofaro segera menelepon kontak Elena melalui ponsel yang sama. Di sambungan ke empat, akhirnya telepon yang ia lakukan mendapat balasan.


“Sttt ... Li ... kepalaku pusing banget!” keluh Elena dari seberang sana dan sukses membuat Mofaro mengerutkan dahi. “Tolong aku, dong ... jemput aku ....”


Elia yang tidak sabar dan ingin mengetahui apa yang Elena katakan secara langsung, segera mengambil alih ponselnya. “Lena, kamu di mana?!” serunya.


“Aku ... di ... Om!” 


Balasan Elena dari seberang sungguh menggantung lantaran setelah sampai berseru padahal awalnya seperti mengerang menahan sakit, sambungan telepon justru diakhiri dari seberang.


“Om!?” gumam Elia mengulang kata-kata terakhir Elena.


Setelah terdiam beberapa saat dan kemudian menelan ludah, Elia balik badan dengan cepat dan membuatnya menatap Mofaro. “Mo, ... menurutmu, papanya Atala ini beres, enggak, sih? Ngapain dia jemput-jemput Elena pakai acara bohong Atala kecelakaan, padahal yang bersangkutan masih beraktivitas dengan baik, bahkan Atala juga enggak sampai tahu-menahu!”


Elia kacau. Bahkan dalam berucap pun, gadis itu sampai meracau terlepas dari Elia yang sampai berlinang air mata. “Ya ampun ... aku lupa ... aku enggak boleh ngeluh sama orang lain, apalagi kamu! Rafa ... Rafa ... aku harus telepon Rafa. Tadi Elena bilang, kepalanya pusing. Itu si Om! Ah ... jangan-jangan ....” 


Bahkan Mofaro belum sempat menjawab pernyataan Elia, tetapi Elia yang kali ini sampai gemetaran, langsung memunggungi bahkan menjauhi Mofaro. Dan di depan sana, kini Elia sudah berkeluh kesah kepada Rafaro sambil terisak-isak.


“Kok aku merasa enggak berguna banget, ya?” batin Mofaro yang tiba-tiba saja merasa nelangsa.

__ADS_1


__ADS_2