Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 74 : Di Kediaman Kimo


__ADS_3

Rara benar-benar takut, benturan di punggung kepala suaminya juga akan berefek fatal. Bagaimana jika karena hal tersebut, otak Kimo semakin rusak dan bahkan parahnya, Kimo kembali melupakannya?


Bab 74 : Di Kediaman Kimo


Hal pertama yang Kimi lakukan ketika Rara membukakan pintu untuknya adalah mengembuskan napas lega. Meski tak lama setelah itu, ia menjadi buru-buru melongok ke belakang, memastikan Kiara tidak ada di sana.


“Kamu kenapa?” tanya Rara heran. Ia mengamati Kimi, juga mengamati apa yang Kimi amati di belakangnya, sebelum tatapannya menyisir suasana di belakang Kimi.


Di hadapan Rara kini tidak ada mobil atau tanda-tanda Gio yang seharusnya mengantar Kimi. Apa iya, Kimi pulang sendiri? Atau, Gio buru-buru pulang karena suatu hal?


Dengan napas yang masih terdengar memburu, Rara berkata, “kata Kakak, mama enggak sudi ketemu Gio? Ya aku takut, mama ada terus tahu, aku baru menonton bioskop bareng Gio.” Kimi sadar, balasannya kepada Rara tak beda dengan keluhan. Namun sungguh, ia tak mau hubungannya dengan Kiara rusak, hanya karena hubungannya dengan Gio yang sebenarnya hanya sebatas teman. Teman? Bahkan Kimi belum yakin jika dirinya dan Gio masih bisa berteman.


“Terus, si Gio mana? Dia antar kamu, kan?” tanya Rara penasaran.


“Sudah aku usir, Kak!” balas Kimi dengan mantapnya.


“Heh?” Rara membeo, menatap tak percaya Kimi yang berangsur melaluinya.


“Iya, aku langsung usir dia, habis dia rese! Oh, iya ... mama sudah tidur, Kak?” tanya Kimi sambil berlalu.


Rara balik badan sambil menatap Kimi. “Tadi mama pamit ke kamar mandi.” Ia menyusul Kimi dan segera mengunci pintunya.


“Terus, Kakang Prabu ke mana?” lanjut Kimi sembari melepas sepatu flat yang dikenenakan kemudian meletakkannya di di sisi pintu, diselaraskan dengan kedua sepatu berikut sandal yang ia yakini milik Kiara dan Rara.


“Kakang Prabu siapa?” tanya Rara makin penasaran. Ia sampai kebingungan lantaran selama ini tidak ada orang yang dipanggil dengan panggilan tersebut. Kakang Prabu.


Sambil tersenyum geli, Kimi yang baru saja selesai menaruh sepatunya pun berkata, “ya suami Kak Rara. Memangnya siapa lagi?” Dan kali ini, ia sampai tergelak kemudian menggunakan sebelah tangannya untuk menekap mulut demi meredam tawanya.


Tak beda dengan Kimi, Rara juga menjadi tertawa. “Ya ampun, ... panggilannya jadi kolosal banget?”


“Lha ... cara pikir Kak Kimo kan memang kolosal!” balas Kimi di sela tawanya.


“Bukan kolosal. Tapi ajaib!” ucap Rara membenarkan. “Ya sudah, kamu sudah makan? Kebetulan, Kakang Prabu juga sedang makan.”


Tiba-tiba saja, Kimi memegangi perutnya yang terasa sakit. Bahkan saking sibuknya memikirkan bagaimana caranya memisahkan diri dari Steven dan Kainya, ia jadi lupa kalau sebenarnya ia sangat lapar.


Mendapati Kimi memegangi perut, Rara pun bertanya, “perutmu kenapa?”


“Lapar, Kak!” keluh Kimi cepat masih memegangi perutnya.


Dan kali ini, balasan Kimi sukses membuat Rara heran. Bagaimana mungkin, iparnya kelaparan sedangkan posisinya baru pulang menonton bahkan bisa digolongkan ke dalam kencan?


“Memangnya, Gio enggak kasih kamu makan? Pelit banget!” ucap Rara spontan.


“Gio? Gio kasih makan siapa? Dan kenapa juga, kalian bahas Gio?” saut Kiara yang kebetulan melongok lantaran penasaran ada suara dari ruangan depan.


Rara dan Kimi langsung kebingungan bahkan gelagepan. Kimi menyikut Rara dan berharap kakak iparnya itu mau memberinya solusi untuk keadaan sekarang.


“Aduh ... aduh, aku harus berpikir. Ayo, Ra, cepat! Kalau mama Kiara marah-marah lagi, suasana rumah jadi enggak tentram!” batin Rara memaksa sekaligus mengerahkan pikirannya untuk secepatnya mendapatkan solusi atas kejadian yang sedang berlangsung.


“I-tu, Ma! Anak sebelah kan namanya Gio ... nah, tadi si Kimi lihat si Gio katanya lagi kasih makan buaya!” ucap Rara asal.


Kimi menatap Rara tidak percaya. Dan di waktu yang sama, Rara juga balas menatap Kimi dengan tatapan serupa. Di mana, ketegangan benar-benar menyekap keduanya.


“Bisa-bisanya tetangga sebelah memelihara buaya? Kalau sampe lepas terus nerkam orang, bagaimana? Iya kalau nerkam yang punya? Kalau yang diterkam justru orang lain bahkan kita?” keluh Kiara tak habis pikir.


Rara dan Kimi hanya saling lirik dan ada kalanya saling sikut.


“Besok, deh, Mama bilang ke sebelah. Tapi, sebelah yang mana?” lanjut Kiara kemudian.


Di mata Kimi dan Rara, Kiara benar-benar percaya dengan cerita palsu Rara perihal tetangga sebelah yang bernama Gio, yang memelihara buaya. Jadi, demi menghalau kecemasan Kiara, keduanya kompak menuntun Kiara untuk masuk. Kimi dan Rara mengapit Kiara dari samping.


“Mama, Mama mau di sini berapa lama? Kayaknya aku juga betah, deh, kalau tinggal di sini,” ucap Kimi.


“Sering-sering menginap di sini saja! Kalau rame kan seru!” sambut Rara antusias.


Kiara mengangguk-angguk. Ketiganya baru saja sampai di area dapur. Di sana, di meja makan, Kimo sedang menikmati supnya dengan sangat menghayati.

__ADS_1


“Hallo, Kakang Prabu, apa kabar?” sapa Kimi dengan cerianya lengkap dengan senyum yang ia suguhkan.


Kimo refleks menelan sup yang baru ia sendokan. Kemudian ia menoleh dan mendapati Kimi yang ada di sebelahnya bersama Kiara berikut Rara.


Kiara segera memisahkan diri menuju kursinya. Pun dengan Rara yang segera duduk di sebelah Kimo. Sedangkan Kimi duduk di kursi antara Kimo dan Kiara.


“Keluarga Steven enggak terlibat sama kerajaan halu yang sempat viral, kan? Belum ada sebulan gabung sama mereka, kamu jadi halu begini? Jangan ikut-ikut, lho, Mi! Nanti kamu ditangkap polisi juga kayak yang sudah-sudah!” ucap Kimo serius.


Rara cekikikan dan tak kuasa menahan tawa, dengan kedua tangannya refleks menahan pangkal perutnya.


“Kerajaan halu, Kak Kimo rajanya!” Kimi mencebik kesal sambil menatap sebal Kimo. “Memangnya Kak Kimo enggak kangen sama aku? Kok, selama aku di keluarga kak Stev, Kak Kimo enggak pernah ngubungin aku? Jangankan pesan, miss call aja enggak?”


Kimo menghela napas pelan. “Tanyanya satu-satu. Pertama, mengenai kangen atau enggak, ... kamu kan kalau kangen juga bakalan dateng. Lagian, sejak kapan aku miss call orang? Kayak enggak ada kerjaan saja?” ucapnya santai.


“Sudah-sudah ... kita makan dulu,” sergah Kiara yang kemudian mengambil piring yang ia isi dengan nasi kemudian ia berikan pada Kimi.


Kimi nyaris meraih sendok yang sudah ada di hadapannya, tetapi Kimo langsung berseru, “kamu belum cuci tangan! Jorok! Bahkan seharusnya, kamu mandi dulu!”


Kimi cemberut sambil menatap Rara dengan wajah memelas. Ia mengharapkan pembelaan dari wanita itu yang diyakininya akan selalu dibenarkan oleh Kimo.


Rara mengangguk, membenarkan anggapan Kimo. “Iya. Cuci tangan dulu!” ajaknya sabar.


“Sayang ... Sayang, cepat cuci tangan. Nanti kalau terkena vitus corona bagaimana?” sergah Kiara yang sampai beranjak dari duduknya kemudian menuntun Kimi untuk melakukan hal serupa. Ia menuntun Kimi untuk cuci tangan di wastafel yang ada di seberang kompor. Di mana, ia juga meminta Rara untuk melakukan hal serupa.


“Ayo, tadi kan kamu juga baru buka pintu, Ra!”


Sesuai titah Kiara, Rara pun beranjak dengan hati-hati.


“Kalau Ibu Suri sudah ngasih titah, harus segera dituruti!” bisik Kimo pada Rara sambil menahan tawa.


Demi menghalau tawanya, Rara refleks menekap mulut sedangkan sebelah tangannya kembali menahan perut. Dan, sebelum Rara benar-benar berlalu, sebelah tangan Kimo juga sampai mengelus-elus perut Rara.


Ketika semuanya sudah selesai cuci tangan dan mereka kembali duduk, Kimo yang tengah menuntaskan supnya menggunakan sendok pun berkata, “Kimi, kamu tahu, tarif menginap di sini, semalamnya berapa?” Ia menatap Kimi dengan serius.


Kimi tersenyum geli sambil berkata, “kalau Kak Kimo sampai minta bayaran, bakalan aku bawain ****, buat bongkar rumah ini!" candanya.


***


“Makasih, lho, sudah kasih aku keluarga yang begitu sempurna,” ucap Rara tulus sambil menatap Kimo. Ia mendekap sebelah bahu Kimo, sambil melangkah memasuki kamar mereka.


“Sama-sama, jangan sungkan,” balas Kimo dengan santainya disertai senyum jail.


“Astaga ....” Rara menggeleng tak habis pikir dan segera meninggalkan Kimo. Ia berlalu memasuki kamar mandi sambil berkata, “Sayang, aku sudah cerita, belum, kalau Keinya lagi isi?”


Kimo yang menutup berikut mengunci pintu kamar, menjadi mengernyitkan dahi. “Isi bagaimana? Setahuku, Yuan enggak bakalan membiarkan Keinya hidup susah? Masa iya, Kei jadi tukang isi?”


Di dalam kamar mandi, Rara sedang gosok gigi. Ia mengerutkan dahi sambil menatap tak habis pikir suaminya. “Maksudku, ... Keinya hamil!”


Kimo langsung tersenyum lepas dan tampak semringah. “Wah ... jodohnya anak kita, tuh!”


Rara tersenyum geli sambil menggeleng. Ia kembali fokus sikat gigi. “Tapi ... kamu tahu kenapa Kimi, tiba-tiba menginap di sini?” tanyanya kemudian. Ia memilih menyudahi sikat giginya dan segera berkumur.


Tanpa menatap Rara, Kimo yang baru saja menuang pasta giginya ke sikat, berkata, “pemikiran Kimi masih labil. Meski usia kalian hanya terpaut satu tahun, tetapi Kimi belum bisa untuk berpikir serius.”


Rara menjadi penyimak yang baik sambil sesekali mengangguk.


“Kamu enggak usah memikirkan Kimi atau pun kehidupan orang lain, ... nanti kamu bisa setres. Lakukan semua yang bikin kamu merasa nyaman saja,”


“Omong-omong memikirkan hidup orang lain, ... hari ini, aku galau akut, lho,” keluh Rara kemudian.


“Baru ditinggal kerja sehari sudah galau?” balas Kimo tak percaya sambil terus menggosok giginya.


Rara yang tertunduk sedih berangsur mendekap pinggang Kimo. “Otak Rusak ... tadi siang, saat aku beli jajan soto Bogor di luar, aku enggak sengaja bertemu orang aneh. Pokoknya orang ini ... ya serem, ya kasihan. Dia ... dia kayak orang kurang, enggak waras, tapi aku takut salah. Kulitnya kayak bekas kebakar dan melepuh gitu ... sedangkan tubuhnya dilalatin! Pokoknya, meski aku sempat syok karena aku takut sama dia yang tiba-tiba ada di sebelahku, tapi ... aku juga jadi sedih banget. Aku bahkan sampai nangis di sana. Terus si orang ini ngelihatin soto terus, kan ... jadi aku beliin sekalian. Ah, pokoknya aku masa bodo, mau dikira menghina atau apa, tapi pas aku kasi, dia bilang makasi dengan suara yang enggak jelas. Dia senyum ke aku, tapi aku malah tabah nelangsa enggak bisa berhenti nangis.”


Melihat Rara yang sampai berlinang air mata sekaligus terisak-isak, Kimo sampai berhenti menggosok giginya kemudian berkumur.


“Yang seperti itu memang banyak, Flora. Tapi aku senang, tandanya hati kamu sudah terbuka. Kamu hebat mau berbagi dengan sesama,” ucap Kimo.

__ADS_1


“Tapi yang ini benar-benar beda ... aku merasa ditegur. Dia mirip ibu pas di mimpiku, sebelum ibu meninggal.”


Kimo mengernyit. “Mungkin, ibu kangen sama kamu. Kita sama-sama kirim doa, ya. Kita harus lebih sering kirim doa buat ibu.” Kali ini, ia sampai merangkul Rara kemudian menuntunnya meninggalkan kamar mandi.


Kimo membawa Rara ke kasur. Namun, belum sampai di kasur, fokus Rara sudah tercuri pada ponsel khusus urusan kerjanya, yang tak hentinya bergetar dengan layar menyala.


Menyadari fokus Rara tercuri pada ponsel tersebut, Kimo pun berkata, “jam kerja masih sama, kan? Setengah sembilan pagi sampai setengah lima sore? Bahkan ini malam minggu?”


Lantaran Rara hanya diam dan terlihat menahan sebal, Kimo pun melanjutkan, “ada yang ganggu kamu?”


Rara segera menggeleng, kemudian mengalihkan tatapannya dari ponsel yang keberadaannya di meja kerja dekat jendela. Ia menengadah menatap Kimo. “Aku enggak tahu, dari mana Mia mendapatkan nomor khusus kerjaku.”


“Mia, siapa?” saut Kimo cepat. Ia menanggapinya dengan serius.


“Anaknya ibu tiriku!” sergah Rara penuh penekanan.


Lantaran Kimo terlihat tidak mengerti, Rara pun melanjutkan, “setelah ibu Piera pergi dan bercerai dengan ayah, ayah nikah lagi. Dia nikah dengan wanita yang memiliki anak seumur denganku. Nah, anak ini namanya Mia. Tapi seharian ini, si Mia WA ke nomor kerjaku terus. Dia minta bantuan uang. Dan anehnya, dia tahu semua tentangku!”


Kimo mulai menampakkan rasa kesalnya. Ia menjadi tidak bisa bersikap baik-baik saja. “Dia mengganggumu?”


Rara tidak menjawab, tetapi dari caranya yang menjadi menunduk sedih, membuat Kimo yakin, Rara membenarkan anggapannya, Mia telah mengganggu Rara.


“Padahal, dulu mereka jahat banget. Kenapa sekarang mereka justru ngemis-ngemis minta bantuan ke aku?” sesal Rara.


“Orang seperti mereka kan memang enggak tahu malu!” sergah Kimo dengan nada kesal. “Blok saja nomornya.”


Rara mengangguk sambil menatap Kimo. “Sudah, tapi, dia pakai nomor baru lagi!”


Kimo refleks menelan ludah sambil menghela napas tak habis pikir. “Aku susah-payah berusaha bikin Rara enggak stres, malah ada masalah baru lagi!” batinnya kesal.


Kimo menghela napas dalam demi meredam kekesalannya terhadap Mia. Ia berangsur mendekap Rara sambil berkata, “besok Minggu, aku ada pertemuan di jam makan siang dengan kilen. Jadi pagi dan sorenya, aku ada waktu luang. Bagaimana kalau kita ke makam ibumu?” ucapnya.


Rara langsung mengangguk setuju. “Kamu yang atur saja,” ucapnya.


“Pukul sembilan pagi saja, ya?” ucap Kimo kemudian.


“Iya ...,” balas Rara yang menjadi tidak bersemangat.


“Omong-omong, ibu kayak apa, sih?” tanya Kimo kemudian.


“Oh iya ... amnesiamu kan belum sembuh, makanya kamu juga lupa ibu. Bentar deh,” balas Rara yang kemudian melepaskan diri dari dekapan Kimo. Ia melangkah menuju meja kerja.


Ketika Rara mengambil ponsel pribadinya dari meja kerja dan memang bersebelahan dengan ponsel kerjanya yang masih dihiasi panggilan masuk dari Mia, Kimo memilih mengangkat bingkai berisi foto pernikahannya dengan Rara yang belum sempat ia tempatkan di posisi semestinya. Bingkai 24R itu masih di lantai tak jauh dari meja rias. Kimo mengangkatnya dengan hati-hati kemudian meletakkannya di atas lemari sepatu yang tingginya tak lebih dari dua meter.


Sementara itu, Rara yang sudah ada di sebelah kanan Kimo, tengah memilih foto Piera di galeri foto ponselnya. Dan tepat ketika Kimo baru meletakkan bingkainya, Rara mengangsurkan ponselnya dengan layar yang menampilkan fototo Piera.


“Sayang, ini ibu,” ucap Rara.


Kimo menjadi sangat terkejut sesat setelah ia melihat foto Piera. Sosok yang semenjak awal ia siuman dari kecelakaan dan sampai membuatnya amnesia, terus menghantuinya di mimpi. Saking penasarannya, Kimo melepaskan bingkai yang belum sepenuhnya dalam posisi benar, di mana ia justru mengambil alih ponsel Rara, untuk memastikannya. Dan tak lama setelah itu, bingkai tersebut merosot kemudian menghantam punggung berikut kepala bagian belakang Kimo.


“Kimo?!” teriak Rara sedangkan yang bersangkutan sudah tersungkur di lantai, tertindih bingkai.


Rara benar-benar kacau, terlebih ia tahu, bingkai yang menindih Kimo itu terbilang berat. Jadi, dengan kenyataannya yang sudah kalang-kabut, ia berlari sambil menahan pangkal perutnya. Ia berteriak meminta bantuan Kimi dan Kiara tanpa bisa menahan tangisnya.


“Ma ... Ma, tolong, Ma ... Kimi, Kimo, Kimi! Tolong Kimo!”


Rara benar-benar takut, benturan di punggung kepala suaminya juga akan berefek fatal. Bagaimana jika karena hal tersebut, otak Kimo semakin rusak dan bahkan parahnya, Kimo kembali melupakannya?


Bersambung ....


Wahhh, akhirnya bisa up. Tinggal nulis yang Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh).


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa 😍


Salam sayang,


Rositi

__ADS_1


__ADS_2