Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 14 : Sebatas Teman?


__ADS_3

“Kalau besok bisa langsung jadi lima tahun, mungkin aku akan lebih mudah mengajakmu menikah.”


Bab 14 : Sebatas Teman?


“Semoga Pelangi menolak Jinnan,” bisik kakek Jungsu tiba-tiba. Ia melakukannya sambil memajukan tubuhnya hingga condong pada Yuan dan Keinya.


Mendapati itu, Keinya dan Yuan langsung mengerling bingung. Tatapan mereka bertemu, dan baik Yuan maupun Keinya sama-sama menyadari kebingungan satu sama lain perihal maksud kakek Jungsu.


“Biar Jinnan tambah mikir,” lanjut kakek Jungsu.


Yuan dan Keinya hanya mengangguk sambil tersenyum masam.


“Jika Jinnan ke sini, jangan sungkan untuk menyuruhnya melakukan pekerjaan. Suruh bantu-bantu cuci piring juga enggak apa-apa.” Kakek Jungsu menghela napas pelan.


Raut wajah kakek Jungsu menjadi diliputi banyak kesedihan. Tatapan pria itu kosong, di mana ingatannya seolah tengah menariknya ke sebuah kejadian di masa lalu. “Sejak berusia tiga tahun, Jinnan sudah ditinggal orang tuanya. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat. Bahkan karena itu juga, saya sebagai satu-satunya keluarganya sangat memanjakannya. Meski pada kenyataannya, apa yang saya lakukan justru salah kaprah.”


Yuan dan Keinya kembali saling berkode mata. Benar dugaan mereka, kesedihan memang sedang memenuhi ingatan kakek Jungsu.


“Jinnan kecil tumbuh dengan banyak rasa sepi dan kehilangan. Saya memang memberikan semua fasilitas untuknya, tetapi tidak dengan waktu saya, dikarenakan saya sibuk dengan pekerjaan. Jadi tolong maafkan, dan bila bisa, tegur saja dia jika dia tidak tahu sopan santun.” Kakek Jungsu benar-benar memohon.


Dan entah kenapa, mendapati itu hati Keinya dan Yuan menjadi terenyuh. Terlebih tak lama setelah itu, kakek Jungsu sampai menunduk kemudian menyeka sekitar mata sipit bergelambirnya yang bahkan sudah basah.


Keinya yang tak kuasa menghalau kesedihannya berangsur menunduk juga untuk menyeka air matanya. Dan tak lama setelah itu, sebelah tangan Yuan meraih sebelah tangan Keinya yang bebas dan berada di pangkuan wanita itu. Keinya paham, Yuan yang bahkan melakukan itu tanpa menatapnya, sedang berusaha menguatkannya. Dan ketika Keinya memastikan, tatapan Yuan teramat lurus menatap pada kakek Jungsu. Keinya yakin, Yuan sudah sangat menaruh simpati pada kakek Jungsu bahkan Kim Jinnan.


“Jangan membiarkan pernikahan terjadi dulu. Biar Jinnan belajar di sini. Biar dia bisa lebih belajar dari Pelangi. Tolak saja dia. Tolak terus. Sampai Jinnan lelah sendiri.” Kakek Jungsu menghela napas dalam dan seolah berusaha mengusir sesak yang memenuhi dadanya. “Biarkan Pelangi menggapai semua mimpi-mimpinya, sedangkan Jinnan juga sadar jika hidup harus memiliki tujuan.”


Keinya melirik Yuan, menuangkan keresahan yang tiba-tiba menguasai kehidupannya. Karena dengan kata lain, rencana mereka untuk menolak Kim Jinnan justru gagal?


Yuan menatap Keinya sekilas kemudian mengedipkan sendu kedua matanya.


“Kalaupun nyatanya mereka tidak jodoh ... tolong, perlakukanlah Jinnan layaknya anak kalian,” lanjut kakek Jungsu yang kali ini benar-benar memohon.


Kali ini, seolah ada angin segar setelah apa yang kakek Jungsu katakan. Karena dengan kata lain, pria tua itu tidak memaksa perjodohan untuk harus ada. Ini jauh lebih baik dari yang sudah Yuan sekeluarga bayangkan bahkan sampai membuat mereka cukup ketakutan.


“Biarkan Jinnan dan Pelangi saling mengenal dulu saja. Meski saya sangat mengharapkan mereka sampai menikah, tetapi jika kenyataan ini justru hanya akan membuat Pelangi tertekan, lebih baik mereka menjadi teman dulu saja. Selanjutnya, biar mereka yang menentukan,” tambah kakek Jungsu.


Yuan mengangguk setuju. “Saya setuju dengan pendapat Tuan Jungsu. Biarkan anak-anak yang menentukan karena nantinya, mereka juga yang akan menjalaninya.”


Kakek Jungsu tersenyum ramah sembari mengangguk-angguk pelan. Begitu banyak kelegaan sekaligus kebahagiaan, dari kenyataannya kali ini.


Tak lama setelah itu, Yuan yang mengeratkan genggaman tangannya pada sebelah tangan Keinya, berangsur mengangguk. Dan Keinya membalasnya juga bahkan sampai menitikkan air mata. 


“Akhirnya, Pelangi tidak harus pusing memikirkan perjodohan,” batin Keinya benar-benar lega. Keinya sampai menghela napas beberapa kali.


*** 


Di taman depan, Pelangi masih memilih berdiri di dekat kolam ikan sambil bersedekap. Dalam diamnya, Pelangi juga kerap memperhatikan punggung Kim Jinnan, diam-diam. Dan kini, pria itu berangsur balik badan kemudian mungkin menatap pelangi lantaran Pelangi buru-buru menepisnya dan menatap hamparan kolam yang disekitarnya dihiasi banyak lampu hias berbentuk bulat dan besar.


“Besok aku antar ke sekolah, ya?” ujar Kim Jinnan.


“Enggak usah, aku sudah sama Dean,” balas Pelangi cepat.


“Iya, enggak apa-apa, bareng Dean sekalian. Kan kita searah. Kantorku searah sama sekolah kalian.” Kim Jinnan berangsur melangkah mendekati Pelangi


“Searah bagaimana? Ke sininya saja, kamu harus putar balik?” balas Pelangi yang masih saja bersikap dingin kepada Kim Jinnan.


“Kim Jinnan!” 


Teriakan itu sukses membuat Kim Jinnan maupun Pelangi terkejut. Mereka segera mencari sumber suara dan mencoba menemukan penampakannya.


“Aku di atas! Aku Zean, ... penggemar garis kerasmu!”


Di atas, Zean yang begitu bersemangat, sampai meambaikan sebelah tangannya kepada Kim Jinnan. Baik Pelangi maupun Kim Jinnan sendiri yang sama-sama mendongak, mendapati itu.


“Hallo, Zean?” sapa Kim Jinnan yang sampai melambaikan sebelah tangannya.


“Asyik!” Zean semakin girang. “Lihat, Kim Jinnan, ... aku menggunakan pelumas rambut juga, dan gaya rambut kita sudah sama, kan?”


Zean mengelus-elus gaya rambutnya yang cukup dijabrikkan ke samping sebelah kanan dan benar-benar mirip dengan gaya Kim Jinnan. Mendapati itu, Kim Jinnan menjadi tersipu tetapi juga bersemangat. 


Kim Jinnan memebrikan kedua jempol tangannya kepada Zean. “Kau keren!”


Zean langsung mengangguk girang. “Ya, sepertimu!”


Senyum Kim Jinnan semakin lepas, menatap bahagia seorang Zean yang begitu mengaguminya. Berbeda dengan Pelangi yang menjadi menatap cemas interaksi keduanya. Terlebih selama ini, Zean tidak pernah sedekat itu dengan orang lain bahkan orang asing.


Pelangi gelisah. Takut jika Zean sampai meniru kebiasaan buruk Kim Jinnan. Play boy dan mesum, Pelangi benar-benar takut jika itu sampai terjadi kepada Zean.


“Kim Jinnan, ayo naik! Kita main PS! Ayolah!” ajak Zean kemudian.


Pelangi merunduk lemas. “Yang benar saja?” gumamnya.


“Ayolah, Kim Jinnan. Kita main PS. Kamu bisa main PS, kan?” rengek Zean lagi.


“Tentu, tunggu aku!” balas Kim Jinnan cepat.


“Oke!” Zean yang semakin girang, menyodorkan kedua jempol tangannya kepada Kim Jinnan.

__ADS_1


“Celaka ...,” gumam Pelangi.


“Ayo masuk. Kenapa masih di sini?” ujar Kim Jinnan yang sampai menunggu Pelangi.


Dengan tatapan yang masih sebal kepada Kim Jinnan, Pelangi berkata, “seharusnya aku yang berbicara seperti itu, karena ini rumah orang tuaku!” 


Pelangi melangkah cepat meninggalkan Kim Jinnan sambil bersedekap. Meninggalkan pria yang menjadi tersipu bahkan menganggumi gadis itu. 


Kim Jinnan benar-benar heran, ketika semua gadis bahkan wanita yang lebih dewasa begitu menggaguminya bahkan rela-rela saja menghabiskan waktu dengannya, kenapa Pelangi justru anti bahkan terkesan sangat membencinya?


*** 


Kehadiran Pelangi dan Kim Jinnan diambut dengan seulas senyuman oleh Keinya dan Yuan yang kebetulan menghadap pada kehadiran keduanya. Kemudian, kakek Jungsu juga melakukan hal serupa. Bahkan, melihat kebersamaan keduanya, kakek Jungsu jadi merasa begitu damai.


“Ayo!” seru Zean yang tiba-tiba datang ke ruang tamu kebersamaan.


Yuan dan Keinya sampai syok melihat keantusiasan Zean yang bahkan sampai menuntun paksa Kim Jinnan dari kebersamaan.


Kim Jinnan membungkuk sambil tersenyum sopan. Meski tampak begitu canggung pada Yuan dan Keinya, tetapi setelah keluar dari ruangan tersebut, Kim Jinnan kembali merasa biasa-biasa saja, dan dengan cepat langsung akrab dengan Zean yang sampai ia panggul di pundaknya.


“OMG ... Zean mendadak berkepribadian berbeda hanya karena Kim Jinnan?” gumam Pelangi yang merasa ngeri melihat kedekatan keduanya.


Pelangi mengangguk sekaligus membungkuk sopan meninggalkan kebersamaan dan menyusul kepergian Zean yang dipanggul Kim Jinnan.


Keinya menyikut Yuan. “Si Zean ...?” bisik Keinya.


“Aku juga bingung. Aku enggak bisa berkomentar, Sayang. Kita sama-sama tahu, disentuh pun Zean enggak mau. Tapi dengan Jinnan, anak itu begitu merasa diagungkan?” balas Yuan yang berbisik juga.


“Saya baru tahu kalau Jinnan menyukai anak kecil?” ucap kakek Jungsu.


Yuan dan Keinya mendapati seorang kakek Jungsu yang terlihat kebingungan melihat keabraban Kim Jinnan dan Zean. Kakek Jungsu sampai berdiri bahkan melongok kepergian keduanya yang diikuti Pelangi menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Ketika kakek Jungsu kembali, pria tua itu tersenyum sungkan. “Seumur-umur, saya belum pernah melihat Jinnan dengan anak kecil,” ucapnya.


Yuan dan Keinya hanya tersenyum menanggapinya tanpa mengungkap perihal Zean yang juga tidak pernah akrab dengan orang lain bahkan kakak-kakaknya sendiri kecuali Pelangi. Bahkan kepada Pelangi pun, hanya hal-hal tertentu yang mau dibantu. Selebihnya, Zean akan melakukan semuanya sendiri.


*** 


“Kamarmu sangat keren, Zean,” puji Kim Jinnan yang memang terpukau pada kenyataan kamar Zean. 


“Iya, aku mendesainnya sendiri dibantu papa,” balas Zean yang kemudian memilih turun dari pundak Kim Jinnan.


“Lalu, tidak ada tempat tidur, berarti kamu tidur di tenda itu?” lanjut Kim Jinnan sambil membantu Zean turun dari pundaknya.


“Iya. Seperti itu jauh lebih nyaman karena aku tidak bisa tidur di kasur.” Zean segera meraih salah satu stik PS dan memberikannya pada Jinnan.


“Ngi-ngie, ... Kim Jinnan suruh menginap di sini saja,” rengek Zean kemudian.


Pelangi yang terkejut refleks mendelik.


“Tenang saja, ... nantinya aku juga tinggal di sini,” balas Kim Jinnan yang mulai serius memulai gamenya.


“Wah, serius, Kim Jinnan!” sambut Zean semakin antusias.


“Memangnya kapan aku pernah bohong?” balas Kim Jinnan dengan santainya.


“Aku yakin, kata-kata ‘memangnya kapan aku pernah bohong?’ sudah jadi kata-kata andalannya untuk memperdaya semua wanita,” batin Pelangi yang kemudian memastikan ponsel di saku depan perutnya yang bergetar. Itu tanda pesan masuk dan Pelangi segera memastikannya.


Itu pesan dari Rafaro yang sukses membuat Pelangi senyum-senyum sendiri. 


Rafaro : Ngie, ... kamu lagi ngapain?


Pelangi : Lihatin Zean main PS. Kamu lagi ngapain?


Pelangi berangsur duduk di karpet lantai sebelah tempat tidur Zean yang berupa tenda. Ia sengaja terjaga lantaran takut, Kim Jinnan mengajari yang tidak-tidak kepada Zean. Jadi, demi memastikan semuanya aman, Pelangi rela duduk sila di karpet lantai sambil berkirim pesan dengan Rafaro.


“Kamu tahu, Kim Jinnan ... siang tadi, Kishi diserang anti fansmu,” ucap Pelangi yang masih asyik berkirim pesan dengan Rafaro.


Kim Jinnan yang tetap fokus pada gamenya melawan Zean pun mengernyit. “Kok bisa? Aku pikir, aku enggak punya mantan di sana?” ucapnya.


“Jadi, kamu sama cowok juga?” balas Pelangi terkejut dan sampai mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. 


“Pelangi, di sini ada Zean. Yang benar saja. Siapa namanya? Benarkah dia menyerang Kishi gara-gara aku, atau masalah lain?”


“Kishi diserang siapa? Kan ada Dean? Masa iya, Dean enggak melindungi Kishi?” Zean yang masih fokus bermain game, ikut berkomentar tak ubahnya orang dewasa.


Pelangi langsung diam begitu juga dengan Kim Jinnan.


“Nanti dibahas di chat saja. Kamu kirim kronologinya lewat chat WA,” ujar Kim Jinnan memberi solusi.


“Modus!” cibir Pelangi. 


“Usaha, Ngie ...,” balas Kim Jinnan dengan santainya. “Kalau besok bisa langsung jadi lima tahun, mungkin aku akan lebih mudah mengajakmu menikah.”


Rafaro : Aku ke situ, ya? Bareng Kishi, sih. Kishi nginep di sini. Soalnya aunty Kimi dibawa ke Singapur.


Balasan pesan dari Rafaro membuat Pelangi terjaga. “Rafaro mau ke sini, tapi Kim Jinnan juga di sini?” gumamnya. Sambil menatap sebal punggung Kim Jinnan, ia pun berkata, “Jinnan, kok kamu enggak pulang-pulang, sih?”

__ADS_1


“Belum juga ada lima menit main game-nya, Ngie,” ucap Zean yang lebih dulu membalas.


“Aku haus, Ngie. Minum dong,” pinta Kim Jinnan.


“Iya, setuju. Aku juga haus!” timpal Zean.


“Semprul kalian!” cibir Pelangi yang kembali cemberut. “Bagaimana ini? Rafaro mau ke sini, Kishi juga ... ah, Dean ... minta batuan dia saja. Tapi, kan ... Dean saja cemburu ke Rafaro?” 


Pelangi menjadi bingung sendiri. Namun ia sengaja bergegas meninggalkan kamar Zean untuk memastikan keadaan adiknya itu.


“Yang dingin, ya, Ngie ... yang seger!” seru Zean kendati fokusnya masih pada layar televisi di hadapannya.


“Siapa juga yang mau ambilin kalian minum? Ambil sendiri. Aku mau ada urusan penting!” cibir Pelangi.


Tiba-tiba Zean mendorong Kim Jinnan hingga tubuh pria muda itu sampai bergeser. “Kim Jinnan, tahan Pelangi. Dia pasti mau pacaran sama Rafaro!”


Pelangi bahkan baru akan meninggalkan kamar Zean, ketika bocah itu kembali berulah.


Sedangkan yang terjadi pada Kim Jinnan, kendati awalnya pria itu syok, tapi mendengar ucapan Zean yang tak beda dengan informasi aktual, Kim Jinnan langsung berjaga. 


“Rafaro itu siapa?” tanya Kim Jinnan yang kemudian menepikan stik PS-nya, sedangkan sebelah tangannya segera meraih sebelah pergelangan tangan Pelangi.


“Nah, iket saja si Ngi-ngie biar enggak kabur!” ucap Zean antusias.


“Apaan, sih?” sergah Pelangi berusaha menghindari Kim Jinnan.


Kim Jinnan sampai mengunci pinggang Pelangi, sedangkan sebelah tangannya lagi memastikan isi ponsel Pelangi. 


Kim Jinnan refleks mengembuskan napas melalui mulutnya sembari menatap syok layar ponsel Pelangi yang memang berisi ruang obrolan dengan kontak bernama Rafaro. 


“Kan aku enggak bohong? Kita ini sama, Kim Jinnan ... karena aku juga enggak pernah bohong kayak kamu!” timpal Zean.


“Zean ...!” Pelangi mendelik. “Lagi pula apa salahnya aku chating sama Rafaro, dan kamu juga enggak berhak—”


“Kamu salah!” tegas Kim Jinnan memotong penjelasan Pelangi. 


Tak beda dengan suaranya yang terdengar tegas, tatapan Kim Jinnan juga menjadi begitu tajam. Begitu banyak kemarahan sekaligus kekecewaan yang menghuni kedua mata Kim Jinnan. 


Menyadari suasana menjadi cukup tegang, Zean memilih fokus dengan gamenya.


“Aku bahkan sudah membuang ponsel sekaligus nomor lamaku, karena aku berniat serius sama kamu!” tegas Kim Jinnan dengan suara lirih. “Orang tua kita sudah sama-sama tahu. Dan aku juga siap menunggu kamu!”


Pelangi mendengus dan menepis tatapan Kim Jinnan. “Kamu enggak berhak ngatur-ngatur aku, karena kita hanya sebatas teman!” tegasnya lirih juga.


“Aku mohon ... demi Tuhan, aku enggak pernah seserius ini!” pinta Kim Jinnan benar-benar memohon.


“Lagian kalau kamu tetap sama Rafaro, ya, Ngie ... Mofaro bagaimana? Bisa tinju-tinjuan mereka kalau kamu sampai memilih salah satu dari mereka. Nanti Rora juga bisa nangis lagi kalau Mofaro sama Rafaro berantem lagi.” Zean yang masih serius dengan Ps-nya kembali berkomentar.


Pelangi, merasa dihakimi. “Kalian ini apa-apaan, sih? Terkesannya aku ini wanita apaan! Kami hanya berteman!” keluhnya.


“Ya sudah. Suruh dia ke sini. Kita sama-sama temui dia!” timpal Kim Jinnan.


“Kim Jinnan, kamu apa-apaan, sih? Sok dekat banget. Lepas, enggak, kalau enggak, aku teriak!” omel Pelangi. “Lepas, Kim Jinnan. Ada masalah yang lebih serius dari kedatangan Rafaro sendiri! Mamanya Kishi dibawa ke Singapur! Minggir!”


Meski berat, tetapi Kim Jinnan berangsur mengakhiri dekapannya.


“Tante Kimi kenapa, Ngie?” sergah Zean yang sampai meletakkan stik PS-nya setelah sampai menghentikan jalannya game.


Pelangi menghela napas dalam. Dan tanpa membalas apalagi memberikan penjelasan, Pelangi berlalu dari kebersamaan. Kim Jinnan menyusul, tetapi ternyata Pelangi masuk ke kamar Dean.


“De ...?” panggil Pelangi. Dan seperti biasa, Dean sedang sibuk di depan laptop di meja belajarnya.


“Itu kamar Dean,” ucap Zean dari luar dan masih bisa Pelangi dengar dengan baik.


“Zean, katakan padaku. Adakah hal-hal penting lain tentang Ngi-ngie yang belum aku ketahui?” Kali ini Pelangi juga mendengar suara Kim Jinnan.


Entahlah, kedua orang itu memang terlihat sangat cocok. Hanya saja, sebanyak apa pun Zean berulah, tetapi Pelangi tidak bisa benar-benar marah.


“Kok diem, Ngie?” tanya Dean bingung.


“Oh ... itu. Coba kamu stop dulu jangan nyibukkin diri terus. Soalnya mama Kimi dibawa ke Singapura. Dan sekarang Kishi sampai menginap di rumah Rafaro,” ucap Pelangi sembari melangkah mendekati Dean.


“Woah ... serius?” Dean langsung meraih ponsel yang ada di sudut meja sebelah kanannya. Ia berniat menghubungi Kishi.


Rafaro : Eh, Ngie ... sori, Kishi enggak mau diajak ke situ. Kami enggak jadi ke situ. Maaf, ya. Ya sudah, selamat istirahat, ya.


Setelah membaca pesan itu, Pelangi juga menyodorkannya pada Dean. Dean segera membaca pesan-pesan di ruang obrolan antara Rafaro dan Pelangi.


“Kayaknya Kishi sudah kecewa deh sama kamu,” ucap Pelangi merasa prihatin.


Dean menjadi terdiam murung. Namun tak lama setelah itu, Dean langsung menelepon kontak Kishi.


“Dean mungkin masih bisa memperjuangkan hubungannya dengan Kishi. Tapi aku? Bisakah aku lari dari Kim Jinnan yang nyatanya meminta menjadi teman, tetapi justru bersikap lebih dari itu?” batin Pelangi.


Bersambung ....


Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya. Like, komen dan votenya Author tunggu 😊😍

__ADS_1


__ADS_2