
“Yang kubutuhkan itu bukan penjelasan apalagi alasan. Karena yang kubutuhkan saat ini hanya kamu, Ngie!”
Bab 6 : Lamaran Untuk Pelangi
Pelangi dan Dean belum sempat masuk rumah. Keduanya bahkan baru meninggalkan mobil tak kurang dari tiga langkah, ketika pintu kembali dibuka. Baik Dean terlebih Pelangi tahu, itu merupakan Kim Jinnan. Kim Jinnan nekat masuk.
“Baiklah ...,” ucap Pelangi seolah baru saja melakukan keputusan besar.
Dean mengangguk-angguk santai menatap Pelangi yang bahkan sama sekali tidak melirik kehadiran Kim Jinnan. “Biarkan dia masuk,” serunya.
Kim Jinnan tersenyum ramah kepada Dean. Senyum yang Dean yakini hanya bagian dari sandiwara seorang Kim Jinnan. Ya, pria tampan berwajah bengis itu pasti memiliki maksud terselubung.
Tanpa menunggu, Pelangi segera melangkah memasuki rumah meninggalkan Dean. Dean yang memilih menunggu Kim Jinnan. Dean sengaja melakukannya demi menjaga nama baik keluarga agar seorang Kim Jinnan tidak merasa dinistakan.
Kim Jinnan melangkah gagah diiringi kedua pengawalnya.
“Apa kabar?” tanya Dean kemudian ketika Kim Jinnan sudah ada di depan matanya. Jarak mereka tak kurang dari tiga meter.
Kim Jinnan mengangguk sambil tersenyum semringah. “Kabarku baik. Senang bisa kembali bertemu denganmu, De.”
Dean mengangguk canggung, masih menatap Kim Jinnan dengan banyak curiga. “Lebih baik kamu enggak usah pakai kawalan. Adiku yang umurnya masih enam tahun saja memilih kabur daripada mendapatkan pengawal.”
Penjelasan Dean membuat Kim Jinnan menjadi kikuk. Kedua mata sipitnya mengerling ke kanan dan ke kiri, memastikan kedua pengawalnya yang memang masih terjaga untuknya.
“Dan satu lagi, ... adikku yang ini sangat rese apalagi kalau menyangkut Pelangi. Dia sangat selektif!”
“Apakah seseram itu?” batin Kim Jinnan yang mulai merasa tidak nyaman.
Kim Jinnan berdeham sambil melirik ke samping kiri dan kanannya. “Kalian tunggu di sini saja,” ucapnya.
“Baik, Tuan ...!” jawab kedua pengawal Kim Jinnan.
Ketika Kim Jinnan menoleh pada Dean, pemuda itu mengangguk-angguk dan seolah mendukung keputusan Kim Jinnan.
Dean segera melangkah setelah sampai berseru mengajak Kim Jinnan untuk ikut serta.
“Kau tahu, Senin besok, aku dan Pelangi akan pindah ke London.”
Pernyataan Dean barusan sukses membuat jantung Kim Jinnan berhenti berdetak untuk beberapa saat.
“Kenapa begitu? Kenapa begitu mendadak?” sergah Kim Jinnan tanpa bisa menyembunyikan ketidaknyamanan yang seketika itu juga ia rasakan.
Dean mengerucutkan bibirnya. “M-mendadak ...? Enggak juga sih. Soalnya sebelum kami lahir pun, papa sama mama memang sudah mengatur perihal pendidikan setiap anak-anak mereka.”
“Bahkan aku baru bertemu Pelangi! Bagaimana ini? Bisa-bisa kakek menjodohkanku dengan perempuan jadi-jadian!” batin Kim Jinnan kesal. Sungguh, kabar perihal Pelangi yang akan pergi ke luar negeri sukses membuat perasaannya menjadi campur aduk.
Ketika Kim Jinnan memasuki ruang tamu kediaman Yuan, di sana sudah ada Pelangi yang duduk bersama bocah laki-laki yang kiranya berusia enam tahun dan Kim Jinnan kenali sebagai Zean.
“Hai, duduklah,” sapa Pelangi kepada Kim Jinnan.
Kim Jinnan segera duduk di sofa panjang yang posisinya persis di hadapan Pelangi. Mereka hanya tersekat meja kaca yang panjangnya sekitar satu meter setengah. Dan sepanjang itu, kedua mata Kim Jinnan terus saja tertuju pada wajah Pelangi.
Dean yang memilih duduk santai di tangan-tangan sofa keberadaan Zean dan Pelangi, persis di sebelah Zean, bisa memastikan seorang Kim Jinnan memang tertarik kepada Pelangi.
“Sebelumnya, ... aku benar-benar minta maaf untuk kekacauan yang telah terjadi perihal hubungan kita yang bahkan baru aku ketahui,” ucap Pelangi kemudian dengan gaya yang terbilang tenang.
“Zean, tolong jelaskan semuanya,” lanjut Pelangi sambil menatap Zean yang masih menunduk.
“Sebenarnya, ... sebenarnya Kak Ngi-ngie, tidak tahu menahu. Karena selama ini, akulah yang menjadi kekasih virtualmu. Jangan terkejut, karena IQ-ku memang di atas rata-rata,” jelas Zean.
Kim Jinnan mulai tidak bisa menahan amarahnya yang mulai bergejolak. “Ini, maksudnya bagaimana?” ucapnya di tengah kedua matanya yang menjadi sibuk mengerjap. Ia menatap ketiga orang di hadapannya dengan penuh kepastian.
Dean mengangkat kedua bahunya sambil memasang wajah tak tahu-menahu, Zean masih mempertahankan wajah juteknya, juga Pelangi yang mengangkat bah sambil menggeleng.
“Ponselku disadap oleh adik-adikku dengan alasan, kamu keren. Mereka mengagumimu,” jelas Pelangi.
“Yang kubutuhkan itu bukan penjelasan apalagi alasan. Karena yang kubutuhkan saat ini hanya kamu, Ngie!” tegas Kim Jinnan penuh penekanan.
Balasan dari Kim Jinnan yang dipenuhi keseriusan sukses membuat Pelangi kikuk. Lain halnya dengan Dean yang buru-buru menekap kedua telinga Zean erat-erat.
“Dean!” protes Zean sambil menatap sebal pelakunya.
Dean segera memelotot sambil menggeleng tegas kemudian menuntun sang adik untuk meninggalkan kebersamaan.
__ADS_1
“Kita terlalu dini untuk membahas cinta apalagi hal-hal serius yang menyangkut hubungan,” ucap Pelangi sesaat setelah Dean membawa pergi Zean, di mana Zean juga sampai menutup pintu. Pun meski Zean sampai terdengar melayangkan protes tidak mau meninggalkan kebersamaan.
Kim Jinnan mengernyit, menatap Pelangi dengan tidak mengerti. “Lalu, bagaimana menurutmu mengenai hubungan kita?”
“Sudah kujelaskan, yang selama ini berkomunikasi denganmu itu Zean, bukan aku,” balas Pelangi masih santai.
“Namun sekarang, setelah aku ada di hadapanmu. Apakah sama sekali tidak ada yang berubah?” balas Kim Jinnan masih serius.
Pelangi berangsur bersedekap dan menatap Kim Jinnan sambil mengerucutkan bibir seiring tatapannya yang menjadi sinis. “Kamu pikir aku tidak tahu siapa sebenarnya kamu? Kamu bahkan sudah mengencani banyak wanita bahkan mungkin lebih ...?”
Kim Jinnan menjadi mati gaya. Ia seolah dihakimi paksa detik itu juga. Dan demi meredam kenyataan yang sampai membuatnya gugup tersebut, ia sengaja berdeham beberapa kali. “Tapi semenak aku kenal kamu, semuanya berubah,” kilahnya.
“He.. hemm!” sindir Pelangi tak percaya dan masih menatap sinis pria di hadapannya.
“K-kau ... a-apa maksudmu membalasku seperti itu?” protes Kim Jinnan semakin tak karuan.
“Hei, Kim Jinnan. Ingat baik-baik. Jangan paksa aku untuk menerimamu, apalagi aku masih di bawah umur!” balas Pelangi yang kali ini sampai mengomel.
Kim Jinnan menghela napas dalam dan terlihat pasrah seiring kenyataannya yang juga menjadi loyo. Dan ketika ia mendapati Pelangi sampai tiba-tiba beranjank bangun seolah menatap seseorang yang ada di belakang Kim Jinnan, pria itu segera bangkit sekaligus menoleh ke belakang untuk memastikan.
Yuan pulang dengan seorang ajudan yang membawakan tas kerjanya. Yuan langsung tersenyum hangat kepada Pelangi, sedangkan ajudan yang menyertai berangsur masuk meninggalkan kebersamaan.
“Pa ...?” sapa Pelangi yang sempat merasa canggung lantaran pertemuannya dan Yuan kali ini, ia sedang bersama Kim Jinnan.
“Duduk saja, Sayang ...,” balas Yuan sebelum akhirnya menoleh dan menatap Kim Jinnan.
Kim Jinnan segera menunduk sambil membungkuk sopan. “Selamat sore, Om?”
Yuan mengangguk-angguk sambil menatap Kim Jinnan. Dan detik itu juga, sebenarnya Yuan juga langsung melakukan penilaian terhadap pria muda di hadapannya. “Demi Tuhan, ... apa yang Keinya katakan benar. Waktu begitu cepat berlalu, bahkan hari ini aku melihat ada seorang pria muda yang begitu menginginkan bayiku!” batin Yuan yang tiba-tiba saja menjadi merasa sangat terharu.
“Duduklah ...,”ucap Yuan kemudian sesaat setelah sampai berdeham demi menghalau suaranya yang Yuan yakini sampai menjadi sengau atas rasa nelangsa yang tiba-tiba menghampirinya.
“Terima kasih banyak, Om,” balas Kim Jinnan masih bersikap sopan.
Kim Jinnan segera duduk setelah memastikan Yuan juga duduk di sebelah Pelangi.
“Saya benar-benar merasa tersanjung karena kamu juga sampai berani ke sini secara langsung,” ujar Yuan kemudian.
Kim Jinnan mengangguk serius. “Iya, Om.”
Pelangi yang awalnya adem-ayem sambil menunduk santai, menjadi terusik atas lanjutan pembicaraan Yuan yang dirasanya menjadi sangat serius. “Kakek Kim Jinnan sampai menemui papa secara langsung dan bahkan membahas hubungan kami?” pikirnya tak percaya. “Duh ... aku bahkan baru lulus SMA ...?” Pelangi masih berbicara di dalam hati, membicarakan semua yang akan terjadi perihal pembicaraan serius yang menyangkut dirinya gara-gara pria bernama Kim Jinnan.
“Kakekmu sudah melamar Pelangi secara pribadi,” tambah Yuan dan sukses membuat Pelangi tersedak ludahnya sendiri.
Kendati Yuan masih menatap serius Kim Jinnan, tetapi sebelah tangannya langsung menepuk-nepuk pelan punggung Pelangi.
“Wah ... kakek ternyata gercep, ya ...,” batin Kim Jinnan.
“Tetapi saya sengaja tidak menerimanya dan menyerahkan semuanya kepada kalian, apalagi Pelangi baru akan serius memulai kuliahnya,” jelas Yuan lagi.
“Syukurlah ...,” gumam Pelangi yang merasa sedikit lega.
“Tidak apa-apa, Om ... saya siap menunggu Pelangi,” sergah Kim Jinnan.
“Eh ?” gumam Pelangi yang refleks menatap Kim Jinnan dengan pandangan tak percaya.
Seulas senyuman menghiasi wajah tampan Kim Jinnan yang sedari pertemuan kemarin selalu terlihat jutek.
“P-pah?” ujar Pelangi keberatan perihal apa yang terjadi.
Yuan tersenyum sambil menatap Pelangi. Ia mengangguk dan meyakinkan Pelangi melalui kedipan sendunya. “Baiklah. Jika memang kamu serius, tunggu Pelangi sampai dia puas belajar.”
Baik Pelangi bahkan Kim Jinnan sadar, apa yang Yuan katakan ibarat jebakan untuk membuat Kim Jinnan menyerah. Akan tetapi, Kim Jinnan tetap menyanggupi usulan Yuan. Pun dengan Pelangi yang tetap tidak baik-baik saja, lantaran gadis itu takut, Kim Jinnan akan tetap menunggunya.
Kemudian, Yuan yang merangkul Pelangi pun berbisik. “enggak apa-apa. Kita lihat saja. Kalaupun dia enggak menyerah, setidaknya dia akan menjadi pria yang lebih baik dari sekarang. Kamu setir saja!”
Pelangi menjadi bergidik ngeri. “I-ini, maksudnya, Papa setuju?” balasnya lirih sambil menatap Yuan tak percaya.
Yuan nyaris mengangguk, tetapi mendadak menggeleng pelan. “Jalani saja!”
“Pa!” protes Pelangi jauh lebih keras dari sebelumnya.
Berbeda dengan Pelangi yang terlihat jelas tidak bisa menerima kenyataan, diam-diam Kim Jinnan justru tersenyum saking girangnya. “Yes!” batinnya.
__ADS_1
***
“Latar belakang, membuatku memberi Jinnan lampu hijau. Dia berasal dari keluarga baik-baik, sedangkan alasan di balik dia disegerakan untuk menikah, karena kakeknya ingin melihat Jinnan menjadi pria sukses,” ucap Yuan di malam harinya ketika Keinya meminta penjelasan.
“Menjadikan Jinnan pria sukses? Tidak dengan menjadikan Ngi-ngie tumbal, kan? Hei ... di sini nasib putriku menjadi taruhannya. Aku enggak setuju. Sampai kapan pun aku enggak sudi melihat Pelangi menjadi terbebani gara-gara masalah ini!” tolak Keinya mentah-mentah. Ia bahkan tidak segan berdebat dengan Yuan tanpa ada sedikit pun rasa sopan yang ia berikan.
“Pelangi sama sekali enggak rugi, Kei ... mereka bahkan tidak terikat hubungan apa pun. Mereka hanya akan sebatas saling mengenal, dan selanjutnya kita kembalikan lagi pada mereka yang menjalani.” Yuan berusaha meyakinkan sambil merangkul Keinya yang justru menepis bahkan memunggunginya.
“Daripada Pelangi menjadi rebutan Mofaro dan Rafaro? Ini cukup pelik dan bisa membuat hubungan si kembar menjadi tidak baik,” sambung Yuan dan kali ini sukup memaksa Keinya agar mau dirangkul.
Namun lagi-lagi Keinya menepis Yuan. Bahkan kali ini Keinya sampai merengkuh tubuh Mentari yang awalnya sedang duduk di tengah-tengah kasur mereka. Keinya menggendong Mentari kemudian membawanya pergi.
“Sayang, ... aku benar-benar enggak menerima lamaran dari kakek Jinnan ...,” sergah Yuan menjelaskan sembari mengikuti kepergian Keinya yang sepertinya akan meninggalkan kamar.
“Jangan ikuti aku, aku benar-benar marah kepadamu!” tegas Keinya tanpa melirik Yuan sedikit pun.
“Aku hanya memberikan mereka kesempatan untuk mengenal. Ayolah,” lanjut Yuan masih usaha.
“Jangan menyentuhku! Aku benar-benar marah kepadamu!” tegas Keinya yang sampai mendelik pada Yuan.
Yuan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dada. Ia menatap Keinya sambil mengangguk. “Baiklah. Cepat kembali!”
Keinya berlalu tanpa memberi Yuan kepastian atau setidaknya balasan. Ia terus melangkah tegas meninggalkan kamarnya. Kemudian ia menaiki anak tangga menuju lantai atas. Tentunya, ia ingin menemui sekaligus memastikan keadaan Pelangi secara langsung.
Ketika sudah sampai di depan kamar Pelangi, Keinya membukanya dengan hati-hati. “Ngi-ngie ...?” panggilnya Pelan.
Di dalam kamarnya, Pelangi sedang membongkar lemari pakaian. Gadis itu sedang beres-beres lemari. Tampak beberapa pakaian yang menumpuk di lantai berikut yang ditaruh di ranjang pakaian.
“Ini kenapa?” tanya Keinya bingung.
“Lagi pilih-pilih yang sudah enggak kepakai, Ma. Mau dikasihkan ke siapa nanti terserah,” balas Pelangi.
Keinya menatap prihatin Pelangi yang kali ini mencepol tinggi rambutnya. Dan buih keringat yang menyertai sang anak, membuat Keinya yakin, Pelangi pasti sudah kelelahan. “Istirahat dulu kalau sudah capek,” ujarnya.
“Enggak apa-apa, Ma ... tanggung begini,” balas Pelangi yang kemudian mencoba menggendong Mentari.
Pelangi yang menggendong Mentari kemudian duduk di tepi kasurnya dan turut diikuti juga oleh Keinya.
“Kamu ingin menyampaikan sesuatu?” ujar Keinya hati-hati dan memang sengaja memancing Pelangi untuk cerita.
Pelangi yang awalnya sedang menatap Mentari, berangsur menoleh dan menatap Keinya. Begitu banyak kecemasan yang terpancar di wajah apalagi kedua manik mata mamanya. Pelangi bisa merasakannya jika kini, sang mama sedang tidak baik-baik saja.
“Mama kenapa?” tanya Pelangi sambil menatap cemas Keinya.
“Mengenai Jinnan,” balas Keinya masih sangat cemas.
“Oh dia ...? Biarkan saja ... nanti kalau capek, juga pergi dia. Aku sih enggak yakin, orang seperti dia bisa setia apalagi kalau harus menunggu bertahun-tahun.”
Balasan Pelangi terdengar begitu enteng. Pun dengan ekspresi wajahnya yang tidak memancarkan masalah apalagi beban yang berarti. Keinya bisa memastikan anak gadisnya baik-baik saja.
“Awalnya aku memang sempat merasa keberatan. Tapi kalau dipikir-pikir, apa yang papa lakukan sebenarnya justru menolak Jinnan dengan sangat halus!” Pelangi tersenyum geli.
“Kamu yakin, enggak apa-apa? Jangan dijadikan beban, ya?” lanjut Keinya tetap mencemaskan Pelangi. Ia sampai mengelus punggung gadis itu. “Kamu fokus dengan tujuanmu saja. Lakukan semua yang kamu mau jangan sampai terpaksa apalagi tertekan.”
“Justru, ... aku jadi khawatir ke Mama. Mama enggak marah ke papa, kan, perihal masalah ini?” balas Pelangi tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Keinya menepis tatapan Pelangi. “Ah sudahlah ... toh, papamu juga bukan dewa apalagi malaikat. Ada saatnya papa juga bisa nyebelin bahkan bikin kesel, kok!” keluhnya.
Dan mendapati itu, Pelangi menjadi terkikik. “Kalian ini, sudah tua juga masih saja kayak abege. Pacaran terus!” godanya. “Nah, tuh, Ma! Pacarmu datang, kan!” tambah Pelangi ketika Yuan juga datang ke kamarnya.
“Pacar? Mama, ... punya pacar?” tanya Yuan kebingungan.
Pelangi semakin tertawa lepas. “Ya iya ... Papa! Siapa lagi! Kalian kan kayak abege, pacaran terus! Ngalahin abege malah!” balasnya sengaja menggoda.
Ketika Yuan tersenyum dengan cerianya, Keinya yang masih terlihat kesal, masih saja mengabaikan pria itu.
“Ya sudah sana kalian istirahat. Malam ini, biar Riri tidur sama aku!” sergah Pelangi bersemangat.
Yuan yang sampai duduk di sebelah Keinya dan merangkul sang istri, mengangguk sambil menatap bangga Pelangi. “Katakan pada Papa, sudah berapa kali Kim Jinnan menghubungimu, semenjak dia pulang dari sini?”
Tawa Pelangi menjadi terlihat menahan geli. “Mana bisa dia menghubungiku. Kan aku ganti nomor!”
Pelangi tertawa puas atas kenyataan sekarang. Terlebih, Pelangi juga sampai membayangkan apa yang terjadi pada seorang Kim Jinnan, ketika pria itu menghubunginya, sedangkan Pelangi sudah membuang nomor lamanya? Kim Jinnan tidak bisa menghubunginya, dan otomatis, Kim Jinnan pasti akan sibuk marah-marah. Pelangi merasa semakin bahagia jika kenyataan tersebut benar-benar terjadi. Kim Jinnan yang notabene seorang play boy, uring-uringan gara-gara tidak bisa menghubunginya!
__ADS_1
Bersambung .....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Like komen, sama votenya, Author tunggu. 🤗😂