Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 58 : Maaf dan Kesempatan


__ADS_3

“Aku marah ke kamu. Marah banget. Kesel ... tapi aku juga kangen ... aku butuh kamu ...,”


Bab 58 : Maaf dan Kesempatan


Aura kemarahan dari seorang Keinya terasa begitu kuat. Kimo yang masih belum dipersilakan masuk, berdiri sambil mencengkeram jeruji gerbang kediaman Yuan yang begitu kokoh, bisa merasakannya. Bahkan meski Kimo sudah mendunduk, memohon melalui gestur tubuh bak pengemis, Keinya benar-benar tidak menunjukan kepedulian apalagi rasa iba.


Tak ada perubahan berarti, gerbang terbuat dari besi tua bercat hitam di hadapannya yang kiranya memiliki tinggi dua meter setengah juga sama sekali tidak bergeser sama sekali, Kimo berangsur mengangkat wajah berikut tatapannya. Di hadapannya kini, tanpa perubahan berarti, Keinya berangsur bersedekap, masih menatapnya penuh kebencian. Bahkan mungkin jika mereka hidup di dunia fantasi, dari mata wanita itu pasti sudah mengeluarkan kobaran api yang siap memanggang, menghabisi Kimo detik itu juga.


“Aku akui, aku salah!” lantang Kimo masih diliputi penyesalan. “Tapi aku enggak akan mengatakan alasan apalagi pembelaan karena hal itu hanya membuatku semakin salah bahkan cacat di mata kalian.” Kali ini, Kimo menitikkan air mata. Air mata yang tak terlihat lantaran hujan yang turun, mengguyur semakin deras.


Kendati hujan deras tengah berlangsung, tetapi Keinya masih bisa mendengar suara Kimo dengan jelas lantaran pria itu sampai berteriak sangat lantang, ketika berbicara.


Sesal dan semua rasa sakit dari Kimo mulai mengetuk naluri berikut hati Keinya. Namun, jika kembali mengingat ulah pria itu yang ia takuti sampai gila seperti Athan, sungguh, Keinya tidak kuat walau hanya baru membayangkan.


Di belakang Keinya, di balik pintu sebelah wanita itu, Yuan berdiri dengan banyak keresahan yang membuatnya tidak bisa tenang. Meski hanya beberapa langkah, tetapi pria itu kerap mondar-mandir di sana sambil sesekali mengela napas.


“Aku benar-benar memohon, Kei ... aku ingin bertemu Rara. ... biarkan aku menemuinya.”


Permintaan Kimo yang baru saja terlontar, membuat Keinya bergegas melangkah. Menyadari itu, Yuan juga jadi waswas. Yuan segera mengambil payung yang sudah tersedia di sudut pintu seberangnya. Ia menyusul Keinya sambil membentangkan payung.


“Sayang, hujan, Sayang. Nanti kamu sakit!” sergah Yuan sambil terus berlari.


Tubuh Keinya sudah telanjur terguyur hujan. Kedua satpam yang berjaga dan langsung menghadang sambil memayungi pun diabaikan begitu saja oleh Keinya yang terlihat sangat marah pada Kimo. Tatapan Keinya benar-benar hanya tertuju pada pria yang sudah kuyup di depan gerbang.


“Buka gerbangnya!” tegas Keinya tanpa mengalihkan tatapannya dari Kimo.


Salah seorang satpam langsung berlari, membuka kunci gembok gerbang, dan segera membuka pintu yang menyatu dengan gerbang. Di mana, sebelum dipersilahkan, Keinya sudah menerobos keluar.


Yuan memberi isyarat agar kedua satpamnya minggir dari Keinya, karena ia yang akan memayungi sekaligus menenangkan sang istri.


“Kamu yakin, kamu masih punya otak? Kamu punya hati?!” teriak Keinya.


Yuan sudah berhasil memayungi dan bediri di sebelah Keinya. Sedangkan yang menjadi terdakwa di sana hanya diam, menunduk di hadapan Keinya.


“Kami bahkan sudah menjelaskan semuanya kepadamu! Tapi kenapa kamu masih saja keras kepala dan justru lebih memilih orang yang jelas-jelas berusaha membunuhmu?!” lanjut Keinya sambil berderai air mata, teriak-teriak di depan Kimo. Kedua tangannya yang mengepal nyaris menghantam wajah Kimo yang masih tertunduk.


“Asal kamu tahu, apa yang kamu lakukan nyaris berakhir fatal! Rara hampir gila gara-gara pendarahan dan itu karena kamu!”


Lanjutan Keinya membuat Kimo terperanjat, menatap tak percaya wanita di hadapannya. “Rara beneran pendarahan?” batin Kimo tak percaya. Kabar tersebut membuat dadanya seolah amblas bahkan kebas.


“Rara sudah terlalu banyak berkorban! Harus berapa banyak lagi?!”


Yuan yang tidak bisa berbuat banyak, berusaha menghalau kemarahan Keinya. Ia merangkul Keinya, tetapi hal tersebut tak lantas membuat istrinya baik-baik saja.


“Pergilah ... jangan pernah mengganggu Rara lagi!” ucap Keinya beberapa saat kemudian tanpa menatap Kimo. Ia menghela napas dalam kemudian berangsur memunggungi, meninggalkan kebersamaan tanpa terkecuali meninggalkan Yuan.


Keinya melangkah terisak-isak sambil sesekali menengadah.


Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Yuan tidak tega pada Kimo. Namun jika mengingat apa yang sudah Kimo lakukan, ia juga kecewa. “Maaf, kali ini aku beneran enggak bisa bantu, apalagi aku juga kecewa ke kamu,” ucapnya sesaat sebelum berlalu menyusul Keinya.


Apa yang terjadi, membuat Kimo merasa sangat bersalah. Bahkan pria itu merasa tak pantas bersanding dengan Rara lagi. Terlebih dari penuturan Keinya, Rara sudah terlalu banyak berkorban bahkan pastinya terluka karena Kimo.


Pintu gerbang kembali ditutup bahkan kunci oleh satpam yang masih sama. Kimo yang awalnya hanya diam pun balik badan. Ia berangsur melangkah meninggalkan gerbang rumah Yuan dengan hati yang menjadi sangat gamang.


Kimo benar-benar menyesal. Bahkan saking menyesalnya, ia sampai tidak bisa berkata-kata.


***


Sambil meringkuk ke sebelah kiri sesuai anjuran dokter untuk bedrest-nya, Rara masih menatap layar ponsel yang terkapar persis di hadapan wajahnya. Entah sudah berapa kali, ponselnya bergetar, menyala dan menampilkan Kimo sebagai peneleponnya, tetapi sengaja Rara abaikan.


Hanya saja, ketika Kimo tak lagi menghubungi, Rara justru merasa ada yang kurang bahkan semakin marah. Ya, Rara sangat marah pada Kimo, tetapi Rara juga merindukan bahkan mengharapkan kehadiran pria itu. Namun, rasa kecewa berikut rindunya kepada Kimo juga sama besarnya. Di mana kenyataan tersebut hanya semakin mengaduk-aduk perasaan berikut emosi Rara. Dan yang bisa Rara lakukan saat ini hanya menangis. Benar-benar hanya menangis.


Rara sangat sulit untuk tenang apalagi bahagia sesuai anjuran dokter bahkan orang-orang, jika Kimo saja tidak ada di hadapannya. Bakan sekalipun Rara sadar kalaupun Kimo di hadapannya, hanya akan membuat kekesalannya semakin bertambah.


“Aku marah ke kamu. Marah banget. Kesel ... tapi aku juga kangen ... aku butuh kamu ...,” batin Rara sambil terpejam pasrah. “Sampai sekarang aku juga belum tahu, kenapa Tuhan sampai membuatmu melupakanku? Kenapa Tuhan sampai membuatmu melupakan hubungan kita?”


Sebenarnya, Rara masih sangat mencintai sekaligus mengharapkan Kimo, tetapi Rara gengsi untuk menuangkannya. Rara ingin Kimo meminta maaf, mengerti semua yang Rara mau tanpa harus mengatakannya.

__ADS_1


Derap tanda pesan WA masuk mengalihkan perhatian Rara. Ia dapati pesan itu dari Kimo. Meski ragu bahkan gengsi, Rara yang juga menantikan kabar sekaligus perminta maafan dari Kimo, berangsur membacanya.


Suamiku : Aku salah. Maaf.


Suamiku : Maaf


Suamiku : Maaf


Begitu banyak pesan yang Kimo kirimkan dan benar-benar sama.


Suamiku : Tolong beri aku kesempatan. Meski kamu enggak bisa memaafkan aku, tapi tolong, kasih aku kesempatan.


Suamiku : Kalaupun aku enggak bisa mengingatmu, mengingat kita, tetapi aku boleh memulai semuanya dari sekarang, kan?


Pesan-pesan dari Kimo semakin mengaduk-aduk perasaan Rara. Wanita itu tak hentinya menangis bahkan meraung. Sebelah tangannya yang tidak mengendalikan ponsel juga sampai menekap mulut demi meredam tangis.


“Rara ... Rara ... jangan goyah! Jangan semudah itu memaafkan Kimo! Dia sudah keterlaluan bahkan lebih memilih Steffy!” batin Rara memberontak, meyakinkan dirinya sendiri. Namun, sekejap kemudian, wanita itu tiba-tiba menyingkirkan selimut dari tubuhnya.


Di waktu yang sama, tepat ketika Rara bangun sambil mencengkeram kuat ponselnya, pintu kamar keberadaannya dibuka dari luar. Khatrin datang sambil membawa nampan berisi dua piring potongan buah pir dan pepaya.


“Kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?” sergah Khatrin bingung dan segera melangkah cepat menghampiri Rara. Lantaran Rara justru berjalan cepat ke arahnya, ia pun berkata, “Kamu enggak boleh banyak aktivitas dulu. Ayo, tiduran lagi. Miring ke kiri.”


“Aku ... aku kangen Kimo, Tan!” rengek Rara tanpa tahu malu. Benar-benar seperti bocah.


Khatrin tidak langsung berkomentar lantaran rengekan Rara cukup membuatnya terkejut, terlebih setahunya, wanita hamil di hadapannya sedang sangat marah bahkan kecewa pada Kimo. Namun kini, kenapa ia justru melihat cinta yang begitu besar dari Rara untuk Kimo?


“Aku mau pulang!” rajuk Rara kemudian sambil mengelap asal air matanya menggunakan tangan yang tidak mencengkeram ponsel.


Khatrin melongo. “Kamu di sini saja. Istirahat. Kamu harus istirahat total. Harus--”


Khatrin belum selesai berucap, tetapi Rara langsung menyela. “Aku enggak bisa tenang apalagi bahagia kalau pikiranku saja terus dipenuhi Kimo. Aku marah ke dia. Marah banget. Tapi aku juga kangen. Aku sayang banget ke dia, Tan. Aku yakin, Tante tahu, bahkan lebih tahu mengenai apa yang kurasakan!” rengek Rara sambil terisak-isak.


Khatrin mengangguk-angguk pelan sambil terus menatap Rara. Tidak ada kebohongan apalagi rasa tertekan yang terpancar dari Rara. Khatrin melihat ketulusan yang begitu besar dari pengakuan Rara. Wanita muda itu terlihat sangat berharap.


“Kamu boleh pulang, tapi habisin dulu buahnya, ya?” ucap Khatrin kemudian.


“Tante, aku sudah boleh pulang, kan?” sergah Rara ketika buah terakhir di mulutnya baru saja ia telan.


Khatrin yang masih kebingungan, berangsur mengangguk. “Tapi di luar masih hujan.”


Rara yang menjadi antusias dan kerap mengelap air matanya pun berkata, “enggak apa-apa.”


Rara berjalan dengan langkah pelan tapi pasti. Sedangkan Khatrin yang turut bahagia atas semangat Rara, berangsur mengikuti.


Ketika memasuki ruang keluarga, Rara menjadi memelankan langkah lantaran ia mendengar obrolan Keinya dan Yuan, yang sedang membahas Kimo. Keinya dan Yuan sendiri tengah berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas.


“Kalau Kimo tetap menunggu di luar, kita kasih masuk saja. Biarkan dia bertemu dan menyelesaikan masalahnya langsung dengan Rara. Kita sama-sama tahu sifat mereka,” ucap Yuan lirih, masih merangkul Keinya, berusaha meredam kekesalan sekaligus emosi wanitanya.


Keinya dan Yuan melangkah pelan dan terlihat tidak bersemangat.


“Memangnya, Kimo ke sini?” seru Rara.


Yuan dan Keinya refleks terdiam dan bahkan berhenti melangkah. Keduanya saling lirik, kompak menoleh kemudian balik badan, membuat mereka menatap bahkan menghadap Rara.


“Serius, Kimo sudah ke sini?!” tuntut Rara yang kembali menangis diliputi banyak kesedihan.


“Ra,” tahan Keinya yang buru-buru menuruni anak tangga dan menghampiri Rara.


“Aku mau ketemu Kimo!” Rara langsung bergegas, melangkah cepat sambil menahan pangkal perutnya menggunakan kedua tangan dan membuatnya menyerupai penguin yang sedang mencoba berlari.


“Flora, jangan pergi!” seru Keinya yang sampai berlari sambil berpegangan pada pegangan tangga.


“I-iya ... iya, aku memang bodoh karena seharusnya aku marah pada Kimo, tapi ....” Rara tak hentinya mengoceh tanpa menyudahi langkah cepat sekaligus pendek yang dilakulan. Ia juga sama sekali tidak menoleh dan fokus menatap ke arah pintu, dengan harapan, Kimo masih menunggu di luar.


“Yu, Yu ... tahan Rara, Yu! Masih hujan dan licin, kalau dia sampai kepleset bagaimana?” racau Keinya masih belum bisa tenang, meski Yuan sudah menahan sebelah tangannya untuk membiarkan Rara.


“Biar aku yang urus. Kamu ganti baju dulu. Kamu sudah kuyup begitu,” ujar Yuan yang langsung berlari menyusul kepergian Rara, setelah Keinya mengangguk, menyanggupi permintaannya.

__ADS_1


Dari depan pintu kamar yang sempat ditempati Rara, Khatrin mengulas senyum melihat pemandangan di hadapannya. Mengenai antusias Rara, berikut kepedulian Yuan dan Keinya terhadap Rara. Khatrin merasa sangat bahagia atas semua itu yang tidak akan bisa didapatkan bahkan dengan materi berjumlah banyak sekalipun.


Menyadari Keinya masih kuyup, fokus Khatrin pun teralih. Ia menyisihkan nampan berisi piring kosong bekas buah Rara ke meja sebelahnya yang berisi bingkai foto kebersamaan Yuan, Keinya berikut Pelangi. Tak lama kemudian, ia membawa handuk dari kamar yang masih sama. Khatrin menggunakan kedua handuk itu untuk Keinya yang masih diam di depan anak tangga terakhir, melepas kepergian Yuan yang menyusul Rara.


***


Yuan menggandeng sekaligus memayungi Rara. Ia mencoba menyeimbangi dan sebisa mungkin menjaga wanita itu. Rara sendiri terlihat tidak sabar, selain tak hentinya menangis.


“Pelan-pelan, Ra ....”


“Kok Kimo enggak ada, Yu?”


“Mungkin dia sudah pulang.”


“Seharusnya dia enggak pulang. Seharusnya dia nunggu di sini.”


“Iya. Semua yang kamu katakan memang benar.”


Seorang satpam segera membukakan pintu. Yuan masih terjaga untuk Rara, meski tak lama kemudian, Yuan nyaris jantungan lantaran Rara tiba-tiba lari sambil berusaha mengakhiri gandengan mereka.


“Pelan-pelan, Ra,” tahan Yuan tidak mau melepaskan Rara. Bisa panjang urusannya kalau Rara sampai terpeleset bahkan terjatuh.


Ketika Yuan memastikan, ternyata di depan sana ada Kimo. Sahabatnya itu baru saja balik badan dan menatap mereka.


“Kenapa kamu hanya diam, kamu pikir aku ini patung? Ayo cepat ke sini! Licin! Kalau aku sampai kepleset bahkan jatuh bagaimana?!” omel Rara dengan suara lantang lantaran selain hujan deras masih berlangsung, Kimo juga hanya diam menatapinya.


Tak lama setelah itu, senyum semringah menghiasi wajah Kimo yang detik itu juga langsung berlari ke arah Rara dan Yuan.


Yuan yang melepas gandengannya dan masih memayungi Rara berangsur menunduk dan mengulas senyum. Bahkan pria gagah itu sampai menahan tawa lantaran Rara menoyor Kimo, ketika sahabatnya itu nyaris memeluk Rara.


“Aku masih marah, bahkan sangat marah ke kamu, jadi kamu enggak boleh menyentuh apalagi meluk aku!” ome Rara yang menjadi sangat berisik.


“Iya, maaf ...,” ucap Kimo sarat penyesalan.


“Ya sudah, ayo kita pulang, sudah malam. Pinjam payung ke satpam Yuan. Pegangin, dong, kalau aku jatuh bagaimana?”


“Tadi kamu bilang, aku enggak boleh menyentuh kamu?” Kimo bertutur sangat sabar setelah mendapatkan payung dari satpam Yuan, dan menggantikan Yuan memayungi Rara.


“Ya seharusnya kamu tahu, apa yang aku mau!” rengek Rara lagi masih berisik.


“Ya sudah, kamu maunya apa?” balas Kimo sambil mengusap wajahnya yang masih basah.


“Ya seharusnya kamu tahu! Peka dikit kenapa?!”


Kimo menelan ludah. “Aku kan bukan dukun, Ra ... mana mungkin aku bisa tahu pikiranmu. Dukun saja sering salah prediksi. Lagian, kamu sendiri, kan, yang bilang kalau otakku rusak?” Kimo mengerucutkan bibirnya dan terlihat sangat pasrah.


Rara cemberut dan terlihat sangat sebal.


“Sudah sana kalian pulang. Berantemnya dilanjut di rumah saja. Kalau kalian tetap nekat berisik di sini, aku denda!” omel Yuan yang akhirnya terbawa suasana. Ia menatap kedua sejoli yang kompak menoleh padanya, penuh peringatan.


Kimo dan Rara kompak diam dan kemudian saling lirik.


“Kita pulang,” ajak Kimo sambil mengangguk, menuntun Rara untuk menyetujui keputusannya.


Rara yang menjadi lebih tenang berangsur mengangguk. “Obat sama vitaminku ketinggalan!” rengeknya kemudian ketika Kimo nyaris menuntunnya.


Yuan berdeham dan mengutus satpam yang masih ada di sebelahnya untuk mengambilkan obat Rara.


“Aku enggak tahu apa yang kamu mau. Jadi kalau kamu mau apa, langsung bilang saja. Kamu sendiri juga enggak tahu, kan, apa yang aku mau?” lirih Kimo berusaha menasehati Rara.


Bersambung ....


Hari ini episodenya panjang, kan? dua ribu kata lebih, lho. Eh, omong-omong, ada yang kayak Rara juga, enggak? Selalu pengin dipeka-in, tapi gengsi buat mengakui? Wkwkwk ... Author sih yes ~~. Jangan ditiru kalau kalian enggak punya pasangan sabar, wkwkwk


Emmm, ditunggu like dan komentarnya, ya. Tolong dukung dan ramaikan cerita ini, ya ^^


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2