
“Ibu akan pulang. Tapi Ibu harus minta maaf dulu ke Rara karena jalan pulang buat ibu masih dikunci.”
Bab 20 : Jalan Pulang
Menyadari keadaan Keinya membuat Pelangi tidak nyaman, Yuan pun mengambil alih Pelangi dan mengajaknya pergi melanjutkan membongkar koper.
Yuan sengaja menyibukkan Pelangi untuk mengacak-acak isi koper yang kebanyakan beriai keperluan Pelangi. Dari susu formula, camilan khusus bayi berusia 8-24 bulan, serta aneka pakaian dan mainan selain beberapa pakaian Yuan dan Pelangi, di mana semuanya memang baru dan seragam.
Namun, belum sempat melanjutkan membongkar koper, Yuan dikagetkan oleh suara benda jatuh dari belakangnya bersamaan dengan Keinya yang tak lagi meledak-ledak. Dan ketika Yuan menoleh ke belakang untuk memastikan, ternyata bunyi jatuh tadi sesuai dugaannya yaitu ponsel Keinya. Sedangkan pemilik ponsel sendiri justru terlihat sangat terpukul. Keinya bahkan sampai terpejam setelah sampai terlihat sesak napas.
“Kenapa, Ma?” tanya Yuan yang segera menghampiri Keinya.
Keinya tidak langsung menjawab. Namun kesedihan begitu kentara, membungkam wanita itu di antara keresahan. Keinya bahkan menjadi terisak-isak dan kemudian memijat-mijat kepalanya menggunakan sebelah tangan.
Yuan memilih diam. Ia segera mendekap tubuh berikut kepala Keinya, berusaha menenangkannya. Hanya saja, ia mulai menduga-duga. Apakah sesuatu yang buruk telah menimpa Kainya, atau bahkan keluarga istrinya, khususnya Khatrin dan Philips? Karena selain Keinya bilang, di setiap istrinya itu merindukan Kainya, biasanya Kainya sakit atau setidaknya sedang tidak baik-baik saja. Namun bila menyimpulkan dari perbincangan telepon keduanya, sepertinya yang membuat Kainya tidak baik-baik saja, bukan keadaan Kainya, melainkan orang lain dan itu orang terdekat Kainya maupun Keinya istrinya.
“Yu! Apa yang harus aku lakukan?” keluh Keinya dengan suara lirih namun penuh penekanan.
“Katakan padaku, biar aku yang mengurusnya,” balas Yuan sungguh-sungguh.
Keinya tak langsung menjawab. Ia masih terisak-isak dengan wajah menyandar ke dada Yuan. Yuan sendiri masih membelai kepala berikut punggung sang istri dengan sabar.
Yuan merasa tak habis pikir, belum genap tiga puluh menit mereka sampai rumah, sudah ada kabar yang membuat istrinya begitu sediih bahkan terisak-isak.
“Yu ...?” ucap Keinya kemudian yang buru-buru mengakhiri dekapannya. Ia juga mengelap tuntas air matanya. “Tante Piera meninggal. Kecelakaan tabrak lari, dan sekarang Kainya di rumah sakit mengurus semua masalah ini sendiri. Kainya juga ketakutan, karena masalah di balik kematian Tante Piera itu pelik.”
Keinya meninggalkan Yuan sambil membenarkan ikatan rambutnya dan menempatkannya lebih tinggi. Kemudian ia meraih emban di tepi kasur tak jauh dari tempatnya tadi duduk. Ia langsung mengenakan emban itu untuk mengemban Pelangi.
“Kita ke rumah sakit sekarang?” ujar Yuan yang juga terlihat tegang. Biar bagaimanapun, terlepas dari masalah di balik kematian Piera yang dikata Keinya pelik, kematian Piera pasti akan menjadi pukulan berat bagi Rara, sedangkan sebagai sahabat baik Rara, Keinya merasa memiliki andil sekaligus tanggung jawab melindungi Rara.
Keinya mengangguk tanpa bisa menyudahi kesedihan berikut air matanya. Sedangkan Yuan yang sudah mendapat tanggapan Keinya, segera mengambil jas hangat miliknya berikut Keinya dan Pelangi, yang sebenarnya baru saja mereka lepas. Seperti pakaian lainnya, jas mereka juga masih seragam. Jas panjang berwarna hitam.
Tak lupa, Yuan juga mengambil tiga buah popok dan ia masukkan ke dalam tas tenteng milik Keinya yang kebetulan masih tersimpan di nakas sebelah kasur. Ia menenteng tas itu dan kemudian menghampiri Keinya. Tak lupa, ia membantu istri beserta anaknya mengenakan jas yang ia sampirkan di sebelah tangannya.
__ADS_1
Melihat semua perhatian Yuan, lagi-lagi Keinya teringat hubungan Rara dan Kimo. Karena sekalipun Rara dan Kimo juga saling mencintai layaknya mereka, tetapi restu Kiara sangat melukai keduanya.
Ketika Yuan menggandeng sebelah tangan Keinya, Keinya tak lantas mengikuti langkah sekaligus tuntunan suaminya.
Yuan menatap bingung Keinya. “Apa kamu mau di rumah saja, biar aku yang uru?”
Sambil terua menatap Yuan, Keinya menggeleng. “Aku nggak mau kematian Tante Piera, membuat Rara semakin terpukul, dan,”
Saking bingungnya, Keinya sampai gelagapan. Namun Yuan paham maksud istrinya. “Mau nggak mau. Meski menyakitkan, tetapi kenyataan lebih baik dihadapi daripada dihindari.”
Keinya tertunduk sedih dengan tangis yang kian deras.
“Kita akan terus ada buat Rara. Sebisa mungkin, kita buat agar beban yang Rara hadapi nggak seberat yang kita pikirkan,” tambah Yuan.
Keinya mengangguk beberap kali kemudian menyandarkan wajahnya ke dada Yuan. “Ra, kenapa masalahmu lebih pelik dari masa laluku? ... andai ibumu nggak jadi wanita penggoda, pasti kamu nggak sesulit sekarang. Pasti kamu akan tetap jadi Rara yang ceria sekaligus bayi yang harus selalu aku awasi,” batin Keinya menyayangkan apa yang Piera lakukan. Kesalahan fatal yang tidak bisa terhapus sekaligus diterima oleh Kiara.
***
Kimo terpaksa meninggalkan Rara dengan handuk kompres yang baru saja ia ganti dan menempel di kening Rara, untuk memastikan siapa yang datang. Meski kejadian sekarang juga membuatnya teringat Piera. Karena kemarin malam, wanita itu juga datang malam-malam.
Ketika memastikan waktu pada jam dinding yang menghiasi ruang bersantai, ternyata tepat pukul dua belas malam. Dan ketika Kimo melihat CCTV di sebelah pintunya, ia menjadi terkejut lantaran yang datang memang kembali Piera. Meski hal tersebut sampai membuatnya merinding dan entah atas dasar apa, tetapi mengenai kedatangan Piera juga membuatnya teringat kecelakaan Ben yang menyeret Piera di balik kecelakaan tersebut terjadi.
“Sudah malam. Mending aku minta Ibu buat menginap lagi di sini. Kasihan juga, takutnya Ibu nggak ada tujuan,” pikir Kimo yang kemudian membukakan pintu untuk Piera.
Kimo memasang senyum yang tetap masam walau ia berupaya bersikap sehangat mungkin berikut senyum yang ia harapkan mengalami hal serupa. Anehnya, Piera yang masih mengenakan piama Rara, seolah tidak berekspresi kendati kedua manik mata wanita itu juga menatap lurus kedua manik mata Kimo.
“Bu, langsung masuk saja. Sudah malam. Nanti Ibu sakit,” ujar Kimo sopan terlebih wajah Piera terlihat sangat pucat. Bahkan tangan berikut kaki wanita itu juga tak kalah pucat.
Piera tetap bungkam. Hanya saja, kedua mata wanita di hadapannya menatapnya lebih rinci.
“Ibu, sakit?” tanya Kimo kemudian dan sampai membungkuk demi menyelaraskan tingginya dengan tinggi tubuh sang ibu mertua.
Sambil tetap menatap Kimo, Piera menggeleng pelan. “Ibu akan pulang. Tapi Ibu harus minta maaf dulu ke Rara karena jalan pulang buat ibu masih dikunci.”
__ADS_1
Suara Piera membuat Kimo bergidik ngeri lantaran sangat datar lanyaknya sesosok raga yang dihuni oleh arwah lain. Dan yang membuat Kimo makin tak habis pikir, apa maksud Piera dengan jalan pulang yang masih dikunci dan itu harus minta maaf lebih dulu kepada Rara?
Belum sempat mendapat jawaban dari pertanyaannya, tiba-tiba ada yang menampar sebelah pipi Kimo. Kimo yang sampai terlonjak saking terkejutnya, juga refleks memegangi bekas tamparannya menggunakan kedua tangan.
Yura. Wanita itu menatap tak habis pikir Kimo.
“Tadi kamu yang menampar aku?” tanyanya memastikan.
Yura mengangguk mantap. “Aku terpaksa melakukan itu karena kamu ngomong sendiri sedangkan kamu nggak sadar-sadar, meski aku sudah berulang kali manggul dan berusaha menyadarkan kamu!” balasnya cenderung mengomel.
“Ngomong sendiri bagaimana? Jelas-jelas, aku sedang berbicara dengan ibu mertuaku. Ini ...?” Kimo yang awalnya mengelak penuh keyakinan, menjadi bengong lantaran ia tidak mendapati Piera.
“Apa? Mana? Jelas-jelas nggak ada orang lain selain kita, apalagi ibu mertuamu!” balas Yura yang akhirnya benar-benar mengomel.
Kimo masih merasa sangat bingung tanpa bisa menyembunyikannya. “Jelas-jelas, tadi ibu ke sini. Bilang mau ketemu Rara karena kunci jalan pulangnya ada di Rara?” batinnya masih menerka-nerka.
“Kimo, woi ...? Jangan melamun lagi. Ini masalah serius.”
“S-siapa yang melamun? Ya sudah. Apa lagi yang penting? Cepat katakan karena ini sudah malam.” Jauh di lubuk hatinya, Kimo masih kepikiran Piera.
Setelah terdiam cukup lama dan membuat Kimo menunggu, dengan berat Yura berkata, “Tante Piera meninggal karena kecelakaan. Tabrak lari. Sedangkan sekarang, Kak Yuan dan Kak Kei sedang menemani Kak Kainya di rumah sakit, untuk mengurus Tante Piera.”
Tiba-tiba saja, lidah Kimo menjadi terasa kelu dan sangat sulit digerakkan. Seperti ada benda sangat berat yang menimpa kepalanya, kemudian ia tertindih benda berat itu. Apa maksud Yura berucap seperti tadi?
Melihat keterkejutan Kimo, Yura yakin pria itu sangat terkejut sekaligus tak percaya.
“Dari pukul delapan, Kainya sudah mencoba menghubingimu. Bakankah tadi, sebelum meneleponku, Kak Yuan sudah berulang kali menghubungimu, tetapi nomor ponselmu justru sampai tidak aktif,” jelas Yura.
Kimo menggeragap. Ia benar-benar bingun harus berbuat apa. Mengenai masalah sekarang pasti akan sangat berdampak buruk kepada Rara.
“Apakah maksud dari datangnya ibu beberapa menit lalu, juga untuk ini? Jalan pulang ibu masih dikunci, dan hanya maaf dari Rara yang bisa membukanya?” batin Kimo.
Bersambung ....
__ADS_1