Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 88 : Dia, Mencintai Wanita Lain


__ADS_3

“Ternyata dia mencintai wanita lain ... pantas saja dia begitu dingin bahkan mengabaikanku ....”


Bab 88 : Dia, Mencintai Wanita Lain


Sepulang kerja, Itzy sengaja mampir ke rumah Ben. Ia berniat mengantar beberapa masker berikut hand sanitizer untuk Ben dan Shena.


Sebenarnya, Itzy bisa langsung memberikannya kepada Ben karena mereka berada dalam satu perusahaan. Namun, selain karena Ben yang terlalu sibuk, Itzy juga ingin punya waktu santai lebih lama dengan pria itu, kendati kemungkinan Ben kembali mengabaikannya akan tetap ada. Ya, Ben memang masih sangat cuek bahkan terbilang abai. Itzy menyadarinya, tetapi hingga detik ini, Itzy masih bersabar dan memang masih dalam tahap belajar.


Kini, meski waktu sudah menunjukkan tepat pukul enam sore, tetapi mobil Ben belum terparkir di depan garasi mobil. Menandakan pria itu belum pulang, padahal saat Itzy akan pulang saja, Ben sudah tidak ada di ruangan kerja pria itu. Atau mungkin, ... Ben masih mengurus pekerjaan di luar kantor dan itu tidak Itzy ketahui?


Sambil beranjak meninggalkan mobilnya, berikut membawa kantong karton cukup besar berisi stok masker dan hand sanitizer, Itzy mengeluarkan ponsel dari tas di pundak kanannya. Ia segera menghubungi Ben tanpa langsung masuk kendati pekerja di rumah Ben telah membukakan pintu dan menunggunya di depan pintu.


“Nanti saya masuk sendiri saja, Mbak. Mau telepon Ben dulu. Makasih banyak, ya.” Itzy tersenyum ramah kepada wanita yang kiranya berusia sekitar dua puluh tujuh tahun tersebut. Dan tak kalah ramah, wanita tersebut juga membalas Itzy dengan senyum sambil mengangguk sebelum pamit undur.


Tak lama setelah wanita tersebut pergi, telepon Itzy kepada Ben mendapatkan jawaban. Itzy segera membuka total masker dari wajahnya untuk berbicara.


“Kak Ben, ... Kakak di mana? Kakak masih sibuk?” ucapnya tergolong santai bahkan sabar.


“Aku sedang di bengkel. Ban depan sebelah kanan mobilku bocor,” jawab Ben dari seberang dan terdengar serius.


Hingga detik ini, setelah lebih dari satu bulan hubungan mereka, Ben memang masih sama. Serius dan singkat tanpa hal lain apalagi basa-basi.


Itzy menelan ludah sebelum akhirnya berkata, “mau aku susul? Kalau memang antre, tinggal saja mobilnya. Kakak sudah capek-capek kerja. Aku susul saja, ya?” tawarnya. Sebab, Ben memang sudah sibuk dengan pekerjaan dan tak tega rasanya jika membiarkan pria itu semakin lelah bahkan jenuh kalau harus menunggu di bengkel.


“Enggak usah. Ini juga mulai dikerjakan. Ya sudah, ... aku mau balas beberapa WA sama email penting dulu.”


“Bahkan aku belum sempat kasih tahu Kakak, kalau aku ada di rumah ....” Terlepas dari Itzy yang memang belum memberikan persetujuan apalagi salam perpisahan, tetapi dari seberang, Ben sudah mengakhiri sambungan telepon mereka. Kenyataan tersebut pula yang membuat Itzy merengut lemas.


“Kak Ben ... aku agresif salah. Usaha, juga enggak pernah berguna buat Kakak ... apa mungkin, ... aku yang terlalu berharap?” pikir Itzy yang lagi-lagi diselimuti kesedihan jika harus memikirkan tanggapan berikut hubungannya dengan Ben. “Sepertinya, ... aku terlalu berekpitasi tinggi mengenai cinta termasuk hubunganku dengan Kak Ben. Aku terlalu mengharapkan cinta yang indah padahal Kak Ben sangat cuek ... abai kepadaku ....”


Karena sudah telanjur datang, Itzy sengaja melanjutkan tujuannya. Setidaknya, ia ingin menemui Shena sambil menunggu kepulangan Ben, jika memang Ben tidak pulang larut. Namun seharusnya Ben tidak pulang larut karena Itzy belum memberitahu pria itu perihal keberadaannya. Karena entah memang sengaja atau hanya karena kebetulan semata, Ben selalu pulang larut ketika Itzy sengaja mampir ke rumah dan mengatakannya.


Ternyata, Shena juga menyambut kedatangan Itzy. Shene mengenakan celemek dan menandakan wanita itu sedang masak. Dan seperti biasa, Shena memperlakukan Itzy dengan hangat. Sampai-sampai, kenyataan tersebut membuat Itzy berharap Ben dan Shena bertukar posisi saja, agar Ben juga bersikap hangat kepadanya layaknya Shena.


“Wah ... thank you banget ini ... sekarang masker sama hand sanitizer sudah langka banget, lho,” ucap Shena sambil menilik isi kantong karton pemberian calon menantunya. Ada tiga bolol hand sanitizer berukuran besar selain lima kotak masker.


“Mom lagi masak. Kamu mau ikut? Tapi ... Ben, belum pulang, ya?” ucap Shena kemudian. Ia nyaris berlalu meninggalkan Itzy, tetapi karena ia tak kunjung mendapati Ben, ia pun menjadi curiga anaknya itu memang belum pulang dengan artian, Itzy datang sendiri.


Itzy segera mengangguk. “Iya, Mom. Kak Ben bilang, dia sedang di bengkel. Ban mobil depan sebelah kanannya bocor,” jelasnya.

__ADS_1


Shena yang menyimak sambil menatap Itzy berangsur mengangguk mengerti. “Oh ... gitu. Memang kalian, pulangnya enggak bareng?”


Itzy tersenyum garing membenarkan anggapan Shena. “Kak Ben ... sangat sibuk. Tadi, pas aku ke ruangannya, dia sudah enggak ada, Mom.”


Shena kembali mengangguk mengerti. “Ya sudah. Kamu istirahat dulu. Mau Mom buatkan minum?” tawarnya.


“Enggak usah, Mom. Nanti aku ambil sendiri saja,” balas Itzy sambil mengulas senyum santai.


“Oh, ... ya sudah. Mom lanjut masak dulu, ya. Nanggung!” balas Shena kemudian sambil menepuk pelan punggung Itzy tiga kali sebelum berlalu.


Itzy mengangguk menyetujui sekaligus melepas kepergian Shena yang langsung berjalan tergesa ke arah dapur. Awalnya, Itzy langsung duduk di sofa panjang yang ada di ruang keluarga keberadaannya. Namun karena ingat ia juga memiliki hadiah khusus untuk Ben berupa sekotak cokelat berbentuk hati warna merah muda yang ia simpan di dalam tasnya, Itzy memilih untuk menaruhnya langsung di kamar Ben. Karena selain takut lupa, Itzy juga jaga-jaga dari Ben yang takutnya kembali pulang larut dan membuatnya tidak bisa bertemu pria itu untuk memberikannya langsung.


Tak sampai lima menit, akhirnya Itzy sampai di depan pintu kamar Ben setelah membuatnya menaiki anak tangga menuju lantai keberadaan kamar tersebut, dengan cukup tidak bersemangat. Itzy langsung masuk dengan sebelumnya menekan sakelar lampu kamar yang keberadaannya tepat di sebelah pintu. Lantaran sudah beberapa kali ke kamar Ben, ia memang hafal fasilitas berikut letak beberapa benda di sana.


Kamar Ben masih rapi layaknya biasa. Baik dari meja kerja yang di pinggirnya sampai disertai rak buku berukuran cukup besar, juga meja rias di seberangnya yang bahkan sampai disertai tumpukan cokelat pemberian dari Itzy. Mendapati cokelat-cokelat tersebut, Itzy tersenyum tulus. Karena meski sebatas ditumpuk di meja rias, tetapi itu bertanda Ben menghargai hadiah pemberian darinya. Hanya saja, untuk kali ini, untuk cokelat terbarunya karena takut tidak bisa memberikannya langsung kepada Ben, Itzy sengaja meletakkan kotak berbentuk hati tersebut di tengah-tengah meja kerja Ben, agar pria itu tahu, ada hadiah baru darinya.


Itzy meletakkannya dengan hati-hati di tengah hatinya yang menjadi berdebar-debar sekaligus berbunga-bunga. Di antara binar kebahagiaan yang seketika itu membuncah, ia meletakkan kotak tersebut persis di tengah-tengah meja.


“Nah! Begini cantik. Pasti Kak Ben langsung bisa lihat!” ujarnya bersemangat. Ia sampai menepuk-nepukkan tangannya sebelum berlalu sambil menatap bangga hasil kinerjanya meski sebatas meletakkan kotak cokelat yang ia siapkan khusus untuk Ben. Hanya saja, ponsel di meja kerja tersebut yang keberadaannya tidak jauh dari tempat pencil berikut alat tulis di sana, sukses mengusik perhatian Itzy.


“Ponsel Kak Ben ada berapa sih? Coba lihat isinya ah!” Itzy meraih ponsel tersebut. Ia sengaja melihat ponsel yang nyatanya tidak sampai disertai sandi itu sambil duduk di tepi kasur Ben. Dan Itzy baru menekan tombol kunci layar sambil menatap ponsel tersebut, tetapi belum juga jadi menurunkan tas dari pundaknya, pemandangan foto Kainya sebagai sampul di ponsel, sukses membakar hatinya.


Tubuh Itzy langsung meremang tanpa terkecuali kedua matanya yang detik itu juga sampai terasa basah. Dan kendati kenyataan tersebut sudah sukses menyakitinya, tetapi Itzy yang penasaran sengaja melihat lebih jauh.


Belum cukup semua itu mencabik-cabik perasaannya, Itzy yang masih ingin tahu lebih jauh, juga turut membuka menu video di sana. Kebetulan, semua video di sana bersampul wajah Ben, kendati yang ada, semua video tersebut justru ungkapan cinta pria itu kepada Kainya.


Kini, Itzy tak hanya limbung, melainkan semakin gemetaran dengan dada yang terasa begitu sakit. “Ternyata dia mencintai wanita lain ... pantas saja dia begitu dingin bahkan mengabaikanku ....”


Setelah terpaku dengan begitu banyak luka untuk ke dua kalinya setelah cintanya juga sempat bertepuk sebelah tangan kepada Yuan, Itzy memilih menghapus air matanya kemudian meletakkan ponsel tersebut kembali ke tempatnya.


“Rasanya ... sesakit ini ... benar-benar sakit ....” Itzy menghela napas dalam demi menghalau sesak berikut sakit di dadanya. “Andai ... aku tidak mudah percaya ... andai ... aku tidak mudah mencintai. Dan andai ... aku juga tidak pernah berlebihan dalam mencintai ... munkin, sakit yang kurasa juga tidak sebanyak ini!” batin Itzy sambil berlalu meninggalkan meja kerja Ben berikut kamar yang sukses menghancurkan harapannya itu.


Itzy diam menyembunyikan semua kesedihan berikut kehancurannya. Ia menyeka air matanya kemudian mengenakan kembali maskernya. “Pantas saja Kak Ben menyukai wanita pendiam dan anggun seperti Kainya ... memang karena dia menyukai Kainya, kan?” batinnya sambil tersenyum getir menertawakan kebodohannya sendiri yang sempat ingin menirukan gaya Kainya termasuk cara berpenampilannya.


Itzy berniat mengakhiri kegilaan cintanya. Ia berniat menyudahi usahanya mendapatkan perhatian sekaligus cinta Ben, lantaran takut semakin terluka dan telanjur jatuh lebih dalam kepada pria itu. Namun, Itzy juga tidak langsung pergi. Ia menghampiri Shena ke dapur dan bersikap layaknya biasa kendati tentu, keceriaan sekaligus ketulusan yang biasanya menyertai tidak bisa benar-benar sama. Beruntung, dari awal ia sudah mengenakan masker yang menyita sebagian wajah termasuk matanya, jadi ia bisa menyamarkan keadaannya yang bahkan sebenarnya tidak bisa berhenti menangis.


“Kamu enggak nunggu Ben?” ujar Shene terheran-heran dan bahkan sampai mematikan kompornya.


Shena sedang memasak rendang, dan aroma yang begitu menggoda lambung tersebut tercium begitu kuat dan memang menguasai dapur.

__ADS_1


Itzy menggeleng. “Enggak, Mom. Ini ada urusan mendadak.”


Namun, Shena mendapati mata Itzy yang kali ini terlihat merah bahkan basah terlepas dari suara wanita muda itu yang terdengar sengau kontras dari awal kedatangannya.


“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Shena tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ia nyaris meraih sebelah wajah Itzy, tetapi tidak seperti biasanya, Itzy justru langsung menghindar.


Itzy sengaja menghindari Shena karena memang tidak mau membuat siapa pun termasuk Shena, mengetahui apa yang menimpanya.


“Itzy ...?”


“Maaf, Mom ... flu-ku tiba-tiba parah, jadi aku mau sekalian cek ke dokter. Aku pergi dulu, ya, Mom. Bye ....” Susah payah Itzy bersikap ceria layaknya biasa. Tersenyum lepas sambil melambaikan tangan meski setelah berlalu dari hadapan Shena, air matanya kembali berlinang dan bahkan semakin tidak terkendali.


“Sudahlah Itzy ... untuk apa menangis dan bertahan pada pria yang tidak pernah mencintaimu? Lihat apa yang terjadi sebelumnya ... meski kamu terus menangis bahkan hampir bunuh diri selain kamu yang sempat memohon pada Keinya dan Yuan, ... tetapi semua itu hanya sia-sia dan membuatmu kehilangan harga diri, kan?” batin Itzy menyemangati dirinya sendiri.


Ketika Itzy baru akan keluar meninggalkan gerbang rumah Ben, di saat itu Ben juga akan masuk. Ben memilih mundur memberi Itzy jalan, sedangkan Itzy semakin berhati-hati dalam mengemudi. Tanpa menyapa apalagi merengek manja layaknya biasa, Itzy yang hanya melirik--meratapi kisah cintanya pada Ben yang kembali berakhir tragis, langsung berlalu.


“Jika memang bukan sekarang, mungkin nanti, Tuhan akan mengirimkan pria yang benar-benar mencintaimu. Pria yang memang ditakdirkan tulus kepadamu, Itzy!” kembali, Itzy menyemangati dirinya sendiri.


Ben sampai mengeluarkan kepalanya dari pintu, memastikan Itzy benar-benar pergi tanpa menyapa apalagi merengek manja layaknya biasa. “Bocah itu kenapa? Aneh sekali?” gerutunya heran.


***


Ben langsung masuk kamar. Awalnya tidak ada yang aneh. Namun ketika ia melihat ke arah meja kerjanya, di sana ada yang sukses membuat dahinya berkerut. Kotak cokelat berwarna merah hati, dan Ben langsung meraihnya seiring ia yang tiba-tiba saja menjadi tersipu.


“Apakah dia berharap membuatku gendut dengan terus mengirimiku cokelat?” gumam Ben. Ia membuka kotak cokelatnya lantaran tidak mendapati amplop cinta yang biasanya turut Itzy selipkan di setiap hadiahnya. Benar saja, di sana ... ada amplop cinta yang sudah ia duga dan sukses membuat senyumnya semakin lebar saja. Bahkan selain amplop cinta, kali ini juga ada dua buah tiket menonton pertunjukan snow white yang sampai dilapisi plastik.


--Kak Ben ... meski Kakak cuek bahkan galak, aku enggak peduli. Jangan pernah bosan memarahiku sambil berteriak sangat kencang menyerukan namaku! Hehehe ... aku mencintaimu! Dan malam Minggu besok, kita ke pertunjukan snow withe! Ingat, jangan sampai enggak! Kupastikan Sabtu besok jadwal Kakak kosong agar Kakak juga bisa beristirahat sebelum menonton. Sekali lagi dan untuk selamanya, AKU MENCINTAIMU!--


Pesan cinta dari Itzy sukses membuat wajah Ben bersemu. Namun yang membuat Ben bingung, kenapa tadi Itzy sampai tidak menatapnya dan bahkan terkesan sengaja?


Ben menghela napas pelan. “Pasti mau kasih kejutan lagi!” pikirnya yang kemudian mengambil tiket dan meletakkannya di meja kerja, sedangkan untuk cokelatnya, ia letakkan di meja rias bersama cokelat-cokelat sebelumnya.


Namun ada yang kembali mengganggu Ben ketika ia nyaris berlalu memasuki kamar mandi yang keberadaannya ada di sebelahnya dan masih ada di dalam kamar. Ya, ponsel di meja kerjanya. Ponsel yang juga menjadi Itzy mendadak berubah arah.


Ben melangkah menghampiri meja kerjanya kemudian meraih ponsel tersebut. Dengan cepat ia membuka tombol kunci yang membuatnya mendapati foto Kainya sebagai sampul di menu utamanya. Ben langsung menuju menu galeri dan tanpa pikir panjang menghapus semua foto berikut video di sana.


Bersambung ....


Yang sudah baca, tolong tinggalkan like sama komen kalian, ya, biar cerita ini terkesan hidup enggak sepi kayak kuburan.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2