Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Episode 15 : Menentukan Pilihan


__ADS_3

“Kelak, ketika aku juga sedang sangat marah, jangan lelah untuk menenangkanku!”


Episode 15 : Menentukan Pilihan


Kimo menatap ragu Rara yang terlihat jelas tidak menyukai kehadiran Piera. Buktinya, istrinya itu langsung menahan sebelah tangannya ketika ia kan membuka pintu.


Rara menatap Kimo penuh peringatan sambil menggeleng tegas. “Biarkan dia dewasa dengan masalahnya. Biarkan dia menghargai proses belajar!”


“Tapi, Sayang,”


“Kimo, cukup. Aku nggak mau berhubungan lagi dengan dia meski dia memang ibuku. Bukankah ini yang dia inginkan bahkan kamu juga tahu?” Rara masih dengan pendiriannya.


“Tapi sebagai suamimu, aku nggak boleh membiarkan hal tersebut terjadi. Ini sama halnya seperti kamu selalu memintaku bersabar ketika aku mengjadapi Mama!” Kimo masih meyakinkan.


Rara mendengkus kesal. Setelah menatap Kimo penuh rasa kecewa, ia berlalu, melangkah tergesa dan masuk kamar berikut terdengar tanda terkuncinya pintu.


Hati Kimo berdesir. Pintu sampai dikunci, dengan kata lain, Rara sangat tidak mengharapkan Piera. Lantas, sebagai suami yang sangat mencintai istrinya, juga seorang menantu yang ingin berbakti kepada mertuanya, apa yang harus ia lakukan?


Kimo terpejam sambil menghela napas dalam. Ia terjebak dalam pilihan sulit. Meski pada akhirnya, ia memilih membuka pintu dan tak lama setelah itu, pintu kamarnya terbuka disertai bantal berikut guling yang dilempar keluar berikut pintu yang kembali ditutup bahkan dikunci.


“Rara menyuruhku tidur di luar?” pikir Kimo ketar-ketir.


Ketika Kimo menatap ke depan, Piera dengan keadaan menyedihkan, menatapnya penuh harap. Tubuh kuyup dan rias luntur di mana hitam pekat maskara yang lumer membuat noda mencolok di wajahnya.


“Tolong aku ... biarkan aku masuk,” pinta Piera dengan suara bergetar.


Piera begitu memelas. Membuat Kimo berada dalam pilihan yang jauh lebih sulit, sedangkan Rara sudah memberinya peringatan keras.


“Meski aku sangat membencimu, tetapi biar bagaimanapun, kamu adalah mertuaku.” Kimo menatap kecewa Piera. “Benar, kan, dugaanku? Kamu datang ke sini, ketika kamu sedang butuh.”


Piera tertunduk menyesal mendengar kata-kata Kimo.


“Bahkan aku yakin, kamu juga tahu kedatanganmu di sini, tidak diharapkan. Tapi masuklah.” Kimo terpaksa mengizinoan Piera masuk demi rasa berbaktinya kepada mertua.


Piera masuk dengan hati-hati, melangkah lirih dan sesekali mengamati sekitar. Kimo yang masih berdiri di depan pintu masih mengamati Piera sebelum akhirnya pria itu menutup pintunya.


Mendapati bantal dan guling terkapar di lantai depan pintu kamar, Piera menatap heran pada Kimo.


“Duduk dan istirahatlah, aku akan membuatkan teh hangat untukmu,” tegur Kimo.


Ia melirik bantal berikut guling yang terkapar. “Kamu tega banget sih, Ra,” batinnya mengeluh.


Tak lama kemudian, Kimo kembali membawa secangkir teh hangat beralas lambar. Ia dapati Piera yang seolah menunjukkan sisi lemahnya. Terdiam dengan kedua tangan tersimpan di pangkuan. Hanya saja, melihat Piera yang sampai gemetaran, Kimo segera meninggalkan wanita itu setelah meletakkan cangkir berikut lambar teh hangatnya.


Kimo memungut bantal berikut gulingnya, kemudian mengetuk pintu kamar. “Flora?” panggilnya dengan nada lemah. “Flora buka pintunya, ibumu butuh handuk,” bujuknya.


Tiba-tiba saja, pintu terbuka dari dalam dan itu karena Rara. Rara sudah berlinang air mata dengan di tengah emosi yang menguasai.


“Apakah kau kedinginan?” lantang Rara sambil menatap kesal Piera.


Piera tertegun membalas Rara penuh sesal.


“Apakah kau tahu, dulu, aku hampir mati kedinginan karena ibu tiruku menyiksaku dan memaksaku tidur di luar sedangkan saat itu sedang hujan deras!”


“Dan kau tahu apa yang aku katakan kepada Tuhan? Aku sangat marah kepada Tuhan, kenapa Tuhan memanggilmu begitu cepat, karena aku yakin, andai saja kamu masih hidup, pasti aku tidak akan memiliki ibu tiri yang sangat kejam!”


“Tapi nyatanya apa? ... kau bahkan lebih kejam dari ibu tiri! Bahkan kau hanya mendatangiku ketika kau terjepit masalah!”


Rara meledak-ledak dengan rasa sakit yang tak hanya memenuhi dadanya, melainkan sekujur tubuhnya. Kareba apa yang terjadi kini membuatnya teringat masa lalu. Sebuh perjalanan yang ia lalui dengan sangat tidak mudah. Ibaratnya, ia harus menyayat kulitnya dengan sadis, jika ia mengingat kenyataan menyedihkan itu.

__ADS_1


Kimo yang juga merasa sangat bersalah, mendekap Rara dan menuntunnya untuk masuk kamar.


Rara terpejam dengan napas tersengal-sengal. “Kenapa dunia ini sangat tidak adil! Sebisa mungkin aku selalu berusaha hidup dengan baik walau rasa sulit justru selalu kudapat. Tapi demi Tuhan, untuk ibuku, biar dia merasakan karmanya sendiri. Biar dia menyadari betapa berharganya apa itu tanggung jawab. Kalaupun dia tetap tidak bisa memahami tanggung jawab seorang ibu, setidaknya dia harus paham tanggung jawab seorang wanita agar dia juga tidak terus-menerus menjadi wanita penggoda yang melukai kaumnya sendiri!” batin Rara meledak-ledak di lubuk hatinya.


“Biarkan dia menghargai dirinya sendiri ...,” rintih Rara. “Aku mohon jangan menyiksaku seperti ini. Meski ini memang pilihan bahkan keputusan yang sulit, tetapi kamu suamiku!” tambahnya yang kembali terisak-isak.


Alasan Rara begitu tegas pada Piera tak lain karena alasan Piera memilih kehidupan menjadi wanita penggoda, lantaran wanita itu haus kebahagiaan. Kalau saja Piera melakukan hal tersebut karena terpaksa dan bahkan menyesal, tentu Rara akan memberikan toleransi. Tetapi jika kenyataannya Piera justru semakin menggila Rara benar-benar tidak bisa memberikan keringanan.


“Ra,” ucap Kimo berusaha memberi pengertian.


“Ini peringatan terakhir!” tegas Rara yang kemudian mendorong dada Kimo di tengah kenyataannya yang sempoyongan. Sebab, memikirkan Piera tidak hanya menguras emosinya, melainkan juga tenaganya.


“Baiklah. Tapi biarkan aku memberinya handuk dan selimut,” balas Kimo sembari menatap teduh Rara.


Rara berangsur melirik tajam Kimo. “Aku juga nggak mau kalau ibumu itu mati karena kedinginan seperti apa yang hampir kamu alami di masa lalu. Demi Tuhan, Ra ... mengenai itu, aku juga sangat marah. Besok juga, kita temui ibu tirimu itu!” Kimo tak kuasa menahan air mata kesedihannya yang berlinang dengan begitu gesit. Membayangkan masa lalu Rara yang selama ini selalu terlihat ceria bahkan menanamkan kehidupan yang baik kepada orang-orang, Kimo yakin, Rara sangat menderita. Dalam artian, ternyata semua perhatian Rara kepada semuanya, karena Rara pernah sangat menderita tanpa perhatian bahkan dari orang-orang terdekat Rara sekalipun.


Rara tak menjawab. Hanya saja, ia mengenyahkan kedua tangan Kimo, sesaat setelah sampai menepis tatapan pria itu. Namun, tak mau menyerah, Kimo menahan sebelah lengan istrinya, dan mendekap tubuh tersebut, dengan sangat erat.


“Kelak, ketika aku juga sedang sangat marah, jangan lelah untuk menenangkanku!” bisik Kimo yang sampai berjongkok demi mengunci sebelah pundak Rara.


Rara bergeming dengan ekspresi wajah yang begitu datar. “Suamiku .... kau begitu mencintaiku ...,” batin Rara dengan perasaan tak menentu. Rara menyesal telah membuat Kimo ikut bersedih, membuncah berbaur dengan kekesalannya terhadap Piera.


***


Rara terbangun dengan kedua mata yang terasa sangat panas karena menangis semalaman. Ia berangsur menengadah dan mendapati wajah suaminya yang tepat berada di atas wajahnya. Pria yang selalu bersikap dingin itu, masih saja menunjukkan kelembutannya, di mana, sebelah tangan mereka masih bergandengan walau mereka sama-sama tertidur.


Kemudian tatapan Rara mengerling ke sekitar. Di depan lemari, kopernya tergeletak dan sudah terisi sebagian, karena rencananya, lusa mereka akan pindah ke rumah baru mereka. Memikirkan hal tersebut, Rara merasa sangat bahagia, karena akhirnya, ia dan Kimo akan menjalani hidup baru yang berasal dari jeri payah mereka sendiri. Namun tiba-tiba saja, Rara juga merasa bersedih ketika teringat Piera ada di bawah atap yang sama dengannya, bahkan wanita itu tidur di sofa keluarga setelah Kimo memberikan selimut berikut pakaian ganti milik Rara kepada wanita itu.


Ketika Rara mencoba melepas genggaman tangannya, tangan Kimo justru semakin menggenggamnya erat.


“Aku mau siap-siap masak karena hari ini, aku ada jadwal khusus di restoran Keinya. Ada yang perlu dipersiapkan karena lusa merupakan peluncurannya, sedangkan besok, Keinya dan Yuan pulang.”


Rara mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang datar sarat kesedihan. “Masih. Tetapi tidak sebanyak semalam.”


Kimo yang masih terpejam, mengulas senyum dan ada letupan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.


***


Ketika Rara keluar dari kamar, hal pertama yang ia lakukan adalah memastikan keberadaan Piera. Sayangnya, wanita itu sudah tidak ada di sofa. meninggalkan selimut yang terlipat tidak begitu rapi berikut keadaan sofa yang terlihat sudah sempat dibereskan.


Merasa penasaran, Rara mencari-cari keberadaan Piera ke seluruh penjuru apartemen termasuk ke dapur bahkan kamar yang sempat Keinya tempati. Sayangnya, wanita itu pergi tanpa pamit pun sekadar melalui pesan tertulis. Benar-benar wanita yang hanya membuatnya semakin kesal. Bukannya berubah, Piera justru makin tidak tahu diri. Namun, apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin Piera segegabah itu, mendatanginya tanpa alasan sedangkan semalam, Piera terlihat sangat ketakutan.


***


Meski tidak yakin, Kainya memutuskan untuk kembali mengunjungi Ben di rumah sakit. Sayangnya, kondisi Ben masih belum membaik. Pria menyebalkan itu masih belum siuman, menempatkan Shena sebagai satu-satunya orang yang terjaga di sana.


“Siang, Tante?” sapa Kainya pada Shena yang awalnya terduduk melamun pada sofa kecil di sebelah ranjang rawat.


Shena yang awalnya tengah larut megamati wajah Ben, menjadi terkesiap. Sungguh, kehadiran Kainya yang sampai membawa parsel buah berikut tentengan plastik berwarna putih, membuat rasa sakit atas keadaan Ben, sedikit berkurang.


“Kamu datang?” tanya Shena refleks dan masih tidak percaya.


Kainya mengulas senyum sambil mengangguk. “Bagaimana keadaan Ben, Tan?”


Kainya segera meletakan parsel buah berikut tentengan keresek selaku makanan dari restoran ternama yang ia siapkan khusus untuk Shena. Kainya yakin, keadaan sulit layaknya sekarang membuat Shena semakin melupakan kesehatannya sendiri.


“Ini aku bawa makan siang buat Tante. Tante pasti belum makan, kan? Tante harus makan, ya, biar nanti pas Ben siuman, Ben bisa lihat Tante dalam keadaan segar dan sehat.”


“Tante nggak mau, kan, Ben menjadi bersedih bahkan merasa bersalah karena melihat Tante kelelahan bahkan sakit?”

__ADS_1


“Terima kasih banyak, ya, Kai ....”Shena menunduk sedih.


Mendapati itu, Kainya segera menghampiri Shena. Ia berangsur jongkok dan menggenggam kedua tangan Shena yang awalnya tersimpan di pangkuan.


Kainya mengulas senyum, senyum yang begitu hangat dan penuh perhatian. Hal tersebut membuat Shena tak kuasa menahan air matanya.


“B-ben!” Shena tergagap.


Kainya mengangguk mengerti, menatap prihatin wanita di hadapannya.


“Polisi bilang, ada yang sengaja merencanakan pembunuhan kepada Ben, Kai!” lanjut Shena dengan hati yang terasa dicabik-cabik. Siapa orang yang telah tega melakukan itu kepada anak semata wayangnya?


“Rem mobil Ben sengaja dirusak! Sedangkan kamera pengawas di restoran tempat terakhir Ben sebelum mengemudi juga rusak!”


Meski hati Kainya menjadi berdesir, tetapi ia berusaha jauh lebih tegar agar Shena juga merasa jauh lebih kuat tanpa terus larut dalam kesedihan.


“Sabar, Tante. Polisi pasti akan menemukan pelakunya!”


Shena menangis tersedu-sesu. Tangis yang begitu menyiksa, bahkan Kainya yang mendengarnya saja menjadi tidak tega dan bahkan sampai meniyikkan air mata.


“Jika kamu memang mencintaiku, kenapa kamu menempatkanku dalam posisi yang begitu sulit? Bangunlah. Cepat bangun karena aku tidak mungkin bisa menentukan pilihan dengan mudah, sedangkan kamu yang tahu saja, justru tak kunjung bangun ...,” batin Kainya sembari menatap Ben.


Tiba-tiba saja, Kainya teringat pesan Ben yang memintanya menemui Piera, jika suatu hal yang buruk menimpa Ben. Tetapi, Kainya tidak mungkin bisa menemui Piera tanpa mengetahui keberadaan wanita itu. Dan tak mungkin juga, Kainya mencari Peira kepada Rara, karena hal tersebut bisa sangat melukai Rara. Jadi, demi mendapat informasi lebih lanjut tentang Piera, Kainya berniat menghubungi Kimo.


“Tante, sekarang aku harus kembali bekerja. Tetapi nanti malam, aku usahakan pulang lebih cepat untuk menggantikan Tante menjaga Ben, agar Tante bisa istirahat,” ucap Kainya sesaat setelah memastikan Shena memakan makanan yang ia bawa, meski hanya sedikit, karena Shena terlibat jelas tidak selera makan.


***


Ketika Kainya mengunjungi Kimo ke kantor pria itu yang mengurus di kantor pusat perusahaan Yuan, hampir semua mata menatapnya tak percaya, tetapi mereka semua juga langsung menyapanya penuh hormat. Tentu, tidak ada satu pun yang menganggapnya sebagai Kainya kecuali Kimo yang langsung menemuinya di ruang gunggu resepsionis.


“Kenapa tiba-tiba minta bertemu? Kamu membuatku takut.” Kimo menatap cemas Kainya yang berangsur bangkit menyambutnya. Kainya terlihat sangat serius.


“Kimo, kamu harus membantuku,” sergah Kainya.


“Asal masih aman dan tidak sampai mengganggu hubunganku dan Rara, aku oke oke saja,” balas Kimo masih belum bisa tenang.


Gerak-gerik Kainya yang dipenuhi keseriusan membuat Kimo curiga bahkan takut dan tak hentinya menduga-duga.


Kainya mengeluarkan ponsel pemberian Ben yang dititipkan lewat Doni.


“Apa ini?” tanya Kimi sambil megernyitkan dahi.


“Ben kecelakaan. Dan sebelum kecelakaan, dia membuat pesan video kepadaku. Tontonlah!” sergah Kainya.


Kimo menghela napas dan menatap Kainya dengan curiga. “Isi videonya apa? Bukan tentang hal aneh yang menyangkut Rara, kan? Kalian nggak bermaksud jahat sama Rara, kan?”


Kainya segera menggeleng. Ada kelegaan yang Kimo dapatkan atas balasan Kainya. Karena andai saja Kainya dan Ben berniat buruk kepada Rara, ia akan langsung memberi pelajaran kepada mereka.


“Tetapi ini menyangkut Tante Piera! Tontonlah!” sergah Kainya tak sabar.


“Hah ...? Tante Piera? Ibunya Rara?” batin Kimo terdiam bingung. Dan tiba-tiba saja, ia teringat kemunculan Piera yang tiba-tiba datang dalam keadaan menyedihkan, sedangkan wanita itu juga pergi tanpa pamit.


***


Dukung terus cerita ini, yaaaa.


Terima kasih!


Rositi

__ADS_1


__ADS_2