
Bab 40 : Andai
Sore menjelang malam, Yuan masih berusaha keras menyelesaikan pekerjaannya. Meski Yuan terus berusaha keras berkonsentrasi di setiap rapat yang dijalani, pikirannya tetap kacau dipenuhi kedua wanita yang memiliki wajah bak pinang dibelah dua.
Kedua wanita yang memenuhi benak Yuan dan hanya berbeda dalam gaya rambut saja. Yang satu lurus berwarna hitam dan lebih sering tersimpan rapi dalam ikatan tinggi, sedangkan yang satunya berwarna pirang dan selalu tergerai dalam gaya bergelombang. Selain itu, yang paling mencolok menjadi perbedaan keduanya adalah tatapan. Ketika si wanita berambut lurus menyimpan kesedihan dan lebih sering menghindari tatapan Yuan, si rambut bergelombang justru selalu menatapnya antusias di antara letupan cinta yang selalu terpancar.
Keinya dan Kainya adalah kedua wanita itu. Namun tentu, kendati wajah bahkan rupa bak pinang dibelah dua, keduanya berbeda apalagi mengenai sikap dan cara pikir. Juga meski keduanya sama-sama keras kepala dengan ego masing-masing. Bedanya, ketika Keinya akan mundur untuk kebahagiaan orang yang disayangi, Kainya justru sebaliknya. Kainya akan maju, berusaha menaklukkan semua yang diinginkan. Bahkan meski apa yang menjadi tujuan Kainya terbilang mustahil.
Yuan tahu betul tentang itu, apalagi ia juga pernah terjebak di dalamnya.
Setelah meminta sekretarisnya menggantikannya dalam rapat yang masih berlangsung, Yuan meninggalkan meja panjang berisi orang-orang penting yang kebanyakan pria berusia empat puluhan, dengan langkah tergesa. Langkah yang berubah menjadi semakin cepat bahkan berlari, tatkala ia keluar dari ruangan itu sambil menatap cemas layar ponselnya.
Yuan memejamkan mata hingga butiran bening mengalir dari kedua ujung matanya yang sedari awal mendengar suara penjawab panggilannya terhadap nomor ponsel Rara, menjadi terasa panas. Suara yang langsung membuatnya sakit, marah, sekaligus kecewa.
Yuan ingin marah semarah-marahnya meluapkan rasa kecewa yang menyertai sesaat setelah mendengar suara itu. Terlebih, hadirnya suara itu juga membuatnya yakin, perjuangannya mendapatkan Keinya akan sirna hanya karena kenyataan yang wanita itu ucapkan kepada Keinya.
Tiga tahun lalu, tepatnya setelah selamat dari kecelakaan maut yang nyaris merenggut nyawanya, Yuan sengaja mencari informasi mengenai donor darahnya. Awalnya ia berniat berterima kasih dan menjalin hubungan baik, karena tanpa darah orang tersebut, tentu ia tidak memiliki kesempatan untuk kembali hidup. Namun ternyata, ketika ia mengetahui Keinya selaku wanita yang menyumbangkan darah padanya, pemikirannya tak hanya untuk sebatas berterima kasih dan menjalin hubungan baik. Sebab, awal ia melihat sosok Keinya yang sibuk menghabiskan waktu bersama Rara di mana keduanya sering berjalan kaki dari indekos sebelum menggunakan transportasi umum, Yuan justru jatuh cinta pada si pemilik darah yang memberinya kehidupan tersebut.
Semakin lama, Yuan makin betah memandangi wajah Keinya walau dari kejauhan. Meski anehnya, setiap kali Yuan akan mendekati Keinya, selalu saja ada yang mengganggu khususnya untuk urusan pekerjaan. Panggilan masuk selalu menghiasi ponselnya di detik ia sudah sangat dekat dengan Keinya. Atau kalau tidak, ada saja kejadian yang menghalang-halangi Yuan mendekati Keinya. Entah karena Keinya yang telanjur pergi ketika pandangan Yuan terhalang, atau malah Yuan yang terjebak dan tak jarang harus mengutamakan keselamatan orang lain termasuk dirinya.
Hingga di suatu kesempatan tak terduga, lebih tepatnya dua bulan setelah ia mengenal Keinya, pria berusia tiga puluh tahun tersebut tak sengaja bertemu Kainya yang ia kira Keinya. Kejadian tersebut terjadi di bandara ketika Yuan akan menjalani penerbangan ke Singapura. Dari situlah awal mula kedekatan mereka. Tentu Yuan tidak curiga jika wanita yang ia kira Keinya dan bahkan ia panggil dengan nama yang sama, justru orang lain. Yuan sama sekali tidak curiga, apalagi Kainya mau-maunya saja dipanggil sekaligus dianggap sebagai Keinya.
Mereka langsung akrab, dekat dan semakin tidak terpisahkan. Berawal dari menyapa, Yuan mengatakan semuanya dan itu ditujukan pada Keinya perihal kecelakaan yang ia alami berikut darah dari Keinya, dan dibalas baik oleh Kainya. Kemudian Kainya memberikan nomor ponselnya kepada Yuan sesuai permintaan pria itu—sekali lagi, Yuan meminta nomor Keinya, tapi Kainya memanipulasi segalanya.
Semakin lama, hubungan mereka terus berlanjut. Yuan mengajak Kainya menikah, masih sebagai Keinya. Hingga ketika di hari pernikahan mereka, setelah mereka mengikat janji suci, Yuan merasa sangat terpukul bahkan dibohongi. Orang kepercayaannya memberinya kabar yang begitu mengejutkan mengenai Keinya yang ternyata punya kembaran bernama Kainya. Parahnya, yang selama ini bersama Yuan dan sampai Yuan nikahi justru Kainya. Sedangkan mengenai Keinya, wanita yang memberikan kehidupan pada Yuan sekaligus wanita yang teramat Yuan dambakan, sama sekali tidak mengenal Yuan dan tidak ada sangkut pautnya dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Kainya yang memanipulasi keadaan. Jadilah, malam pertama yang seharusnya menjadi puncak cinta mereka, menyatukan mereka dalam hubungan yang teramat sakral, justru menjadi akhir hubungan mereka.
Yuan sangat marah kepada Kainya, bahkan hingga detik ini. Yuan juga masih ingat, saat itu, di malam yang seharusnya menjadi malam pertamanya dengan Keinya andai saja Kainya tidak berpura-pura menjadi Keinya, Yuan membatalkan pernikahan sesaat setelah menuntut Kainya atas kebohongannya. Dan kendati Kainya mengakui, meminta maaf, menyesali kebohongannya, serta meyakinkan Yuan bahwa alasannya berbohong karena Kainya langsung jatuh cinta pada Yuan di awal Yuan menyapa, meski yang Yuan maksud justru Keinya, Yuan tetap tidak bisa menerimanya apalagi jika harus melanjutkan hubungan mereka. Yuan hanya menginginkan Keinya yang justru ia dapati sudah melangsungkan pernikahan dengan pria lain di hari itu juga.
Kainya sempat kembali meyakinkan Yuan dengan dalih selain Keinya sudah menikah dengan pria lain, sebenarnya Yuan juga mencintai Kainya. Namun, dengan tegas Yuan menepis dan menyalahkan Kainya atas pernikahan Keinya. Karena bagi Yuan, andai Kainya tidak memanipulasi keadaan, tentu Keinya tidak akan menikah dengan pria lain. Tentu pernikahan pertama Keinya juga tidak berujung pada pengkhianatan yang membuat Keinya mengalami trauma.
Yuan berderai air mata memikirkan semua itu sambil terus mengemudikan mobil. Orang kepercayaannya memang telah menemukan keberadaan Keinya yang menginap di salah satu hotel di Bandung. Namun, apakah Keinya juga masih mau menerima Yuan setelah apa yang menimpa Yuan di masa lalu bahkan itu menyangkut Kainya yang Yuan yakini sangat berarti untuk Keinya?
Yuan yakin, Keinya akan lebih memilih berkorban dan lebih mementingkan kebahagiaan Kainya ketimbang hidup bersama Yuan, meski Keinya sudah mulai mencintai Yuan.
*****
Yuan terus memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh di tengah waktu yang sudah menginjak awal hari. Sudah pukul satu pagi ketika Yuan memastikannya melalui arloji di tangan kirinya. Yuan berniat mendatangi Keinya dan menjelaskan semuanya, meski nantinya penolakanlah yang Yuan terima.
Andai, Kainya tidak memanipulasi keadaan sejak awal. Andai, Yuan juga menjelaskan kepada Keinya sebelum Kainya kembali datang. Andai, benar-benar andai, selaku kata penawar yang begitu erat dengan penyesalan bahkan kehilangan. Kata penawar yang juga membuat Yuan terjaga ketika sebuah mobil dari seberang jalan dan akan ia lalui justru lebih dulu menerobos, menghantam mobil yang Yuan kendarai.
Kejadian mengerikan itu membuat mobil yang ditumpangi Yuan terguling beberapa kali, kemudian menghantam setiap yang dilalui. Di mana, bahu jalan yang terhantam sampai hancur berantakan. Dan andai saja di tepi jalan tidak disertai pohon besar, mungkin mobil yang Yuan kendarai bisa sampai menghantam SBPU di belakangnya.
****
Keinya terjaga sambil menimang Pelangi di tepi kasur dikarenakan Pelangi tiba-tiba saja demam, padahal sebelumnya Pelangi baik-baik saja. Pelangi memang tidak rewel atau menangis layaknya biasa ketika demam tinggi. Namun, kini suhu tubuh Pelangi sudah menyentuh 39,9 derajat celsius dan tak kunjung turun. Padahal, selain plester kompres telah menghiasi kening Pelangi, Keinya juga sudah sampai kembali meminumkan sirop penurun panas kepada Pelangi.
“Aku harus membawa Pelangi ke rumah sakit,” sergah Keinya kalang kabut. Tubuhnya sampai gemetaran bahkan berkeringat, meski AC di kamar hotel tempatnya menginap masih bekerja dengan baik.
Keinya merebahkan Pelangi di kasur. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas bersebelahan dengan dua botol air mineral berukuran 1,5 liter. Keinya tak bisa menggunakan ponselnya langsung lantaran seharian ini ia sengaja mematikannya. Dan belum lama ponselnya aktif, telepon masuk dari nomor Yuan langsung membuatnya terjaga.
__ADS_1
Bahkan sudah dini hari, tapi Yuan masih menghubunginya? Keinya ragu menjawabnya dan sengaja mengabaikannya, meski panggilan tersebut terus terulang.
Termasuk ketika nomor baru turut mencoba menghubunginya lewat telepon. Keinya tetap dengan pendiriannya, hidup bahagia bersama Pelangi tanpa orang-orang dari masa lalunya apalagi Yuan. Jadilah, Keinya kembali mematikan ponselnya dan membawa Pelangi tanpa lebih dulu mencari tahu mengenai rumah sakit terdekat dari hotel melalui ponsel. Keinya sengaja meninggalkan ponselnya agar tidak diganggu Yuan berikut orang-orang pria yang ternyata suami dari Kainya.
****
Di lokasi kecelakaan Yuan, polisi yang menangani masih terus berusaha menghubungi nomor Keinya selaku nomor ponsel terakhir yang Yuan hubungi sebelum kecelakaan. Namun sayang, nomor tersebut tak kunjung menjawab bahkan hingga Yuan berikut pengemudi mobil yang menabrak dibawa menggunakan ambulans. Keduanya dibawa menggunakan ambulans berbeda.
Tak lama setelah ambulans yang membawa Yuan pergi, taksi yang Keinya tumpangi juga menyusul. Keinya menatap ngeri lokasi kecelakaan yang masih diamankan polisi. Tampak dari mereka yang bekerja sama memasang garis polisi selain turut membantu mengalihkan lalu lintas di sekitar. Tapi Keinya tak sampai melihat mobil Yuan lantaran mobil tersebut tertutup oleh beberapa polisi yang mengerumuni dan tengah melakukan olah TKP.
Taksi yang Keinya tumpangi menepi tepat di belakang ambulans yang mengangkut Yuan. Ketika Keinya nyaris berlalu dengan tergesa sembari mendekap Pelangi lebih erat, tepat di saat itu juga tubuh Yuan dikeluarkan dari ambulans.
Sebelah tangan Yuan terulur menghalangi langkah Keinya. Membuat jantung Keinya berdegup kacau tatkala ia mendapati jemari berikut arloji yang begitu ia kenal, berselimut darah segar, menghalangi langkahnya.
Rasa takut seketika menguasai Keinya, hanya karena pemikirannya mengenai tangan itu tangan Yuan. Namun, atas dasar apa, Yuan ada di Bandung? Dan kalaupun iya, seharusnya pria itu baik-baik saja karena pengawalan ketat akan selalu menyertai.
Ketika Keinya memastikan wajah sosok berkemeja hitam di hadapannya, detik itu juga dunia Keinya seolah berhenti berputar. Suasana yang awalnya bising juga menjadi mendadak senyap, di mana jantung Keinya seolah melesak sesaat setelah ia mendapati wajah Yuan yang berlumur darah, menyambutnya sambil berlinang air mata.
“Maaf ....”
Suara Yuan terdengar sangat lirih sarat luka dan penyesalan. Kenyataan yang langsung mengempaskan Keinya pada jurang penyesalan dipenuhi luka berikut rasa takut tak berujung. Tubuh Keinya gemetaran hebat seiring air matanya yang terus berlinang.
“Yu ...!” Tangis Keinya pecah.
Keinya meraung-raung tak bisa mengendalikan diri terlebih tak lama setelah itu, Yuan yang berlumur darah segar dengan aroma anyir yang tercium sangat kuat justru tak sadarkan diri. “Yu, bangun, Yu! Yu, maaf. Maafkan aku, Yu! Bangun, Yu ...!”
__ADS_1
*****