
“Mereka tidak boleh bersatu apalagi memiliki anak!”
Bab 9 : Apa Maumu?
“Kalau kamu malu, kamu tidak usah menganggapku,” ucap Piera setelah membiarkan kebersamaan hening.
Rara masih bergeming. Manatap Piera dengan pandangan jarang berkedip. Pun meski ia tahu, Piera yang terus menunduk sudah berlinang air mata.
Piera menelah ludah, menghela napas dan berusaha menghilangkan sesak yang memenuhi dadanya.
Tanpa banyak kata, Piera mendekat sambil menyingsing lengan kemeja hitam yang dikenakan mrnjodohi dress selutut warna putihnya. Ia mengambil shower yang sempat digunakan Kainya untuk mengeramasi Rara.
“Sebenarnya apa maumu?” tanya Rara tanpa menatap atau sekadar melirik Piera.
Dengan terisak-isak, Piera menjawab, “aku ingin memandikanmu. Biarkan aku melakukan ini untuk terakhir kalinya.”
Piera melepas lilitan handuk dari kepala Rara. Sedangkan Rara hanya diam dalam ketegangan berikut rasa campur aduk yang ia rasakan. Sebab, tidak hanya marah, sedih bahkan bahagia, karena hadirnya Piera masih membuatnya tidak percaya.
“Aku menikah dengan ayahmu bukan karena kami saling mencintai. Ayahmulah yang membuatku terpaksa menikah dengannya padahal saat itu, aku sudah akan menikah dengan ayah Gio.” Piera mengguyur kepala Rara dengan hati-hati.
“Seberapa penting luka di masa lalu, sedangkan kamu tidak pernah berupaya menjadi lebih baik?” Rara mengatakan itu tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Masih datar tanpa semangat apalagi keantusiasan. “Jangankan menjadi contoh untukku, menjadi orang yang lebih menghargai diri sendiri saja, tidak ....” suara Rara menurun drastis.
“Memiliki semua kemewahan merupakan satu-satunya hal yang membuatku bahagia,” sambung Piera.
“Termasuk mengorbankan harga diri bahkan kehormatan, tanpa terkecuali kehormatanku yang harus ternoda hanya karena aku memiliki ibu seorang pelakor?” timpal Rara yang terdengar pedas.
Piera langsung terdiam. Namun tak lama kemudian, ia kembali mencuci kepala Rara. Membelai rambut panjang sang anak dengan hati-hati.
“Dokter memvonisku tidak bisa memiliki anak lagi, setelah aku sempat keguguran calon adikmu.”
“Jika kedatanganmu hanya untuk mengeluh, aku hanya bisa mengingatkan bila pintu keluar belum berubah. Pergilah. Tidak usah memaksakan diri. Lebih baik aku membiarkan ibuku benar-benar mati dan tinggal dalam lubuk yang paling dalam seperti yang selama ini ayah ajarkan.” Rara tertunduk dengan kesedihan yang meluap. Linangan air matanya begitu deras.
Piera bergeming. “Flora Violetta ...?” panggil Piera tidak percaya karena dengan kata lain, Rara mengusirnya.
“Jika kamu jadi aku, kamu pasti tahu betapa menderitanya aku. Kebahagiaanku hanya ada ketika aku mendapatkan semua kemewahan dan kepuasan dari pria-pria yang aku dapatkan ....”
Piera masih berusaha menjelaskan, membuat Rara mengerti, tetapi Rara langsung berteriak histeris, “jangan mengatakan itu kepadaku! Aku tak butuh penjelasanmu, aku mohon pergi!” Rara sampai menekap telinganya kuat-kuat.
“Pergi ....” Rara terus meraung.
Tak lama kemudian, Kainya menerobos masuk diikuti Khatrin. Keduanya menatap cemas Rara dan berakhir mengecam Piera melalui tatapannya.
Kainya menyambar handuk dari tempatnya kemudian memberikannya pada Khatrin. “Mi, tolong urus Rara.”
Kemudian fokus Kainya teralih pada Piera. Ia meraih sebelah pergelangan Piera yang menatap bingung Rara. Rara sendiri langsung diciduk oleh Khatrin penuh kasih sayang. Khatrin mengelus kepala Rara kemudian bersiap melilitkan handuk pada tubuh Rara agar keluar dari bak rendam.
“Aku mohon, pergi dan jangan ganggu Rara!” tegas Kainya lirih.
Dengan mata berkaca-kaca, Piera menepis kebersamaan Rara yang dan Khatrin. Di mana, Khatrin merangkul Rara yang masih terisak-isak, menuntunnya meninggalkan kamar mandi.
Piera tak hanya menepis kebersamaan Rara dengan Khatrin yang terlihat begitu dekat, bahkan orang-orang mungkin akan berpikir kebersamaan Rara dan Khatrin lebih mirip kebersamaan anak dengan ibu, ketimbang ketika Rara sedang bersamanya. Sebab, Piera juga sampai menepis tahanan tangan Kainya, kemudian melangkah angkuh meninggalkan kebersamaan termasuk Rara dan Khatrin yang awalnya melangkah di depannya.
__ADS_1
Kainya menghela napas sambil menyibak ke belakang, sebelah rambutnya. “Benar-benar wanita egois!” rutuknya pada tingkah Piera.
***
Kimo tengah serius menatap layar laptopnya di meja kerja. Duduknya juga fokus bahkan nyaris tak bergerak kecuali kedua matanya yang bergerak ke sana-kemari mengecek setiap kolom laporan keuangan, sedangkan keenam rekannya yang sempat berusaha menindasnya di hari pertamanya kerja, kemarin, tampak mencuri-curi kesempatan untuk mengamati.
“Mata kalian digunakan untuk bekerja. Bukan menguntit!” tegas Kimo tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Sontak, keenam rekan kerja Kimo yang memang anak buah Kimo, menjadi ketar-ketir sekaligus tidak habis pikir. Bagi mereka, selain kelewat tegas bahkan melebihi Yuan, Kimo juga memiliki banyak mata sekaligus nyawa. Karena meski sudah bekerja keras dan sampai tidak mengambil jam istirahat, Kimo seperti robot yang akan istirahat setelah semua pekerjaan benar-benar tuntas.
Setelah saling lirik kemudian kompak memulai bekerja keenam anak buah Kimo itu dikejutkan oleh getar ponsel Kimo. Kimo langsung menjawabnya ketika melihat layar ponsel dan sepertinya memastikan siapa yang telepon.
“Tidak, kamu tidak mengangguku. Iya, aku sedang istirahat. Ada apa?”
Setelah terdiam sejenak, tiba-tiba atasan mereka itu berkata, “kalau begitu, aku akan segera pulang!”
Tentu kalimat terakhir yang keluar dari bibir tebal Kimo membuat mereka bersorak-sorai dalam hati. Bahkan mereka bertukar senyum sambil saling lirik. Mereka pastikan, Kimo membereskan tumpukan dokumen dengan cekatan berikut mematikan daya laptopnya. Semua itu tak butuh waktu lama, tak kurang dari dua menit, sesaat sebelum beranjak meninggalkan tempat duduknya.
“Setengah jam kemudian, tolong kirim semua laporan ke email saya. Sebentar lagi saya akan membuat grup di WhatsApp, agar meski kita tidak bisa bertatap muka, kita masih bisa membahas pekerjaan dalam diskusi,” sergah Kimo sesaat sebelum meninggalkan tempat kerja.
Seperginya Kimo, keenam anak buahnya itu langsung merengut dan tertunduk lesu. Karena mereka pikir, perginya Kimo akan membuat pekerjaan mereka lebih santai karena tanpa pengawasan. Tetapi ternyata mereka salah, karena ada tidaknya Kimo bersama mereka, arwah atau malah sebagian nyawa Kimo tetap bersama dan bahkan memantau mereka.
“Benar-benar bos siluman!” gumam mereka sembari menggeleng dan memijat-mijat kepala satu sama lain.
***
Rara yang bingung dan membutuhkan sosok untuk berkeluh kesah, terpaksa menghubungi Kimo. Ia yang sudah duduk di tengah kasur yang sudah dirias bahkan di bagian tengahnya bertabur kelopak mawar merah membentuk hati, langsung mendapatkan balasan telepon keluarnya hanya dalam satu sambungan.
Meski ragu, Rara yang masih mengenakan piama panjang dan menyandar pada sandaran ranjang keberadaannya, akhirnya berkata, “Sayang, apakah aku mengganggumu?”
“Apakah kamu sedang istirahat?” lanjut Rara sungkan.
Kimo kembaki tak langsung menjawab. “Iya, aku sedang istirahat. Ada apa?”
“Kalau begitu istirahatlah. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu.”
Rara baru akan mrngakhiri sambungan telepon mereka, tetapi dari seberang, tiba-tiba Kimo berkata, “Kalau begitu, aku akan segera pulang!”
Rara terdiam tak percaya, sedangkan setelah mengatakan itu, Kimo langsung mengakhiri sambungan telepon mereka. Tiba-tiba saja, kenyataan tersebut membuat Rara berpikir, Apakah aku telah melakukan hal yang salah dengan menghubunginya, dan mengatakan hanya ingin mendengar suaranya? Rara terdiam sejenak. Ajaib sekali. Padahal aku memang sedang tidak baik-baik saja dan hanya menginginkan kehadirannya agar semuanya terasa lebih baik. Di lain sisi, Rara menjadi bersyukur, memiliki Kimo yang begitu peka kepadanya.
***
Yang membuat Kimo tidak baik-baik saja, tak lain lantaran selain tiba-tiba meneleponnya dan bahkan memanggilnya dengan sebutan sayang, suara Rara juga terdengar sangat berat sarat kesedihan. Apalagi ketika jawaban wanitanya itu justru karena hanya ingin mendengar suaranya. Kimo pastikan Rara sedang tidak baik-baik saja. Dalam pikiran Kimo semua itu hanya karena 2 hal. Kalau bukan mamanya, ya justru Piera. Benar saja, setelah hampir satu jam mengarungi perjalanan menggunakan taksi online, kahadirannya justru disambut Kainya.
“Maaf Kimo, tadi Nyonya Piera ke sini,” ucap Kainya yang membukakan pintu, sarat penyesalan. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mereka sempat berbicara empat mata, dan setelah sekitar sepuluh menit berlalu, Rara tiba-tiba saja menangis bahkan menjerit, ... histeris ....”
Meski si masa lalu Kainya sempat jahat, tetapi Kainya yang sekarang diyakini Kimo benar-benar tulus. Bahkan mengenai rias ruangan apartemen kini. Di mana ada orang khusus pendekor ruangan yang Kainya awasi sedangkan Khatrin juga turut terjaga di sana, duduk pada salah satu sofa.
“Coba temui dulu. Tante harao, Rara benar-benar menenangkan diri. Kalaupun dia ketiduran, itu jauh lebih baik,” ujar Khatrin ketika Kimo menatapnya.
Dengan perasaan haru sekaligus bersyukur ada yang tetap peduli kepadanya dan Rara di tengah kenyataan orang tua mereka yang tidak peduli, Kimo berkata, “terima kasih banyak, Tan, buat semuanya!”
__ADS_1
Setelah Khatrin mengangguk sambil mengulas senyum, Kimo segera meninggalkan kebersamaan dan masuk kamar Rara yang kiranya masih ada sepuluh meter dari kebersamaan Kainya dan Khatrin. Ia membuka pintu dan memasuki kamar calon istrinya itu dengan hati-hati.
Di tengah kasur yang sudah dihias sedemikian lupa, di mana di atas selimutnya sampai dibubuhi kelopak bunga mawar merah, Rara meringkuk tanpa mengenakan silimut. Kenyataan itu begitu menandakan betapa wanitanya itu tersiksan. Kimo yakin, kehadiran Piera telah membuat Rara sangat tertekan. Dengan keyakinannya itu, ia melangkah hati-hati, mendekati Rara. Ia segera membungkuk di atas tubuh Rara dan membelai sebelah wajah wanitanya itu yang tertutup uraian rambut. Aroma yang begitu wangi sarat kesegaran bunga mawar, tercium begitu kuat dari wanitanya itu, selain tektur halus dari kulit berikut rambut Rara yang semakin bertambah berkali-lipat. Bahkan Kimo sampai berpikir, Rara kembaki menjadi bayi yang dipenuhi kelembutan.
Mungkin karena belaian yang terus Kimo lakukan, di antara rasa kagum yang tetap dipenuhi kecemasan, akhirnya Rara terbangun.
“Kamu benar-benar pulang?” ucap Rara dengan suara berat khas orang yang baru bangun lengkap dengan matanya yang belum sepenuhnya terbuka.
Kimo mengangguk gugup. Karena biar bagaimanapun, ia masih sangat normal. Pun kendati dirinya sempat diselimuti kekhawatiran, keadaan Rara sekarang sangat membuatnya tergoda. Bahkan meski kali ini Rara juga mengenakan piama panjang yang biasanya wanita itu kenakan. Hanya saja, semua kelembutan dalam diri Rara, berikut Rara yang entah kenapa tib-tiba terlihat sangat cantik walau belum mengenakan rias, apalagi ketika wanitanya itu menggeliat dengan kedua tangan rampingnya yang kemudian mendekao tengkuknya, Kimo benar-benar nyaris sekarat karena menahan tegang.
“Biarkan aku memeluknya sepuluh menit saja. Kepalaku benar-benar pusing!” pinta Rara.
Kimo yang sampai menahan napas, terpejam pasrah. Sabar, Kimo. Tahan. Sebentar lagi! Sebentar lagi, Rara juga akan menjadi istrimu!
Menyadari degup jantung Kimo menjadi terdengar semakin cepat sekaligus keras sepanjang kepersamaan, Rara menjadi khawatir. Ia berangsur menyudahi dekapannya kemudian menatao cemas Kimo.
“Kamu nggak apa-apa, kan? Kenapa kamu begitu tegang? Kamu sakit?” Rara menyeka wajah berikut leher Kimo yang dipenuhi buih keringat.
“Boleh, aku melakukannya, sekarang?” pinta Kimo penuh harap.
Rara mengernyit bingung. “Memangnya kamu kenapa?” tanyanya makin cemas sambil berusaha bangkit.
“Tadi, aku sudah mengunci pintunya ...,” ucap Kimo yang akhirnya mendekap erat tubuh Rara, kemudian menyemayamkan wajahnya di leher jenjang Rara yang sedari awal kedatangannya mengganggunya.
Rara masih bertanya-tanya, sebenarnya Kimo kenapa? Kenapa gelagat Kimo sangat membingungkan sampai-sampai, ia yang awalnya masih merasa sangat ngantuk sekaligus terbebani dengan kehadiran Piera beberapa jam lalu, sampai terjaga dan tidak mengantuk lagi, gara-gara mencemaskan Kimo?
“Memangnya di luar ada siapa? Mamamu datang? Apa ibuku kembali datang?!” tebak Rara khawatir sembari balas mendekap Kimo dan berusaha menyeimbangi pria itu. Tetapi bukannya jawaban, ia justru mendapati Kimo menyesap kuat-kuat lehernya sampai-sampai, Rara berhenti pernapas.
“Kimo, jangan lakukan itu! Kamu hanya boleh melakukannya nanti, setelah kita menikah! Tunggu, sebentar lagi. Nggak lama lagi, kita juga menikah, kan?” Rara makin ketar-ketir ketika menyadari Kimo tak hanya melakukan satu atau dua kali. Tetapi pria itu juga sampai sibuk membuka kancing kemeja yang dikenakan.
***
Kiara menatap bingung suaminya yang sedari awal begitu sibuk di rumah.
“Papa seharian ini nggak kerja, tumben?” tanya Kiara yang baru berea fitnes di lantai atas. Dengan tubuhnya yang dipenuhi keringat itu, ia menatap heran sang suami yang terlihat begitu semringah.
“Kenapa masih memikirkan kerja, jelas-jelas hari ini anak kita menikah!” balas Fanki makin semringah.
Kiara langsung melirik kesal sang suami. “Mereka tidak boleh menikah apalagi memiliki anak!”
Penegasan Kiara langsung membuat Franki menghela napas tak habis pikir. “Mama ini, masih saja keras kepala! Justru, di usia kita yang sekarang, kebahagiaan yang paling istimewa ya memomong cucu-cucu kita, Ma!”
Kiara langsung menghindari suaminya. “Ih ... kenapa Papa malah mendukung mereka?!” keluhnya makin sensi.
Beberapa orang yang baru keluar dari kamar Kimo dan terdiri dari 3 orang wanita, juga dua pria yang sampai bahu-membahu membawa tangga lipat, mengusik fokus Kiara yang awalnya akan menuruni anak tangga yang menghubungkan ke lantai bawah. Selain ada apa dengan kamar Kimo, kelimanya juga orang asing dan benar-benar belum ia kenal.
Sambil mengelao buih keringat di wajah sekitar lehernya, Kiara yang sampai melepas kelimanya yang melintas sopan di hadapannya, berbisik pada Franki, apalagi sang suami sampai mengucapkan terima kasih pada kelimanya.
“Pa, mereka siapa, sih? Kenapa mereka keluar dari kamar Kimo?”
Franki kian antusias. “Papa sengaa panggil mereka untuk menyiapkan kamar istimewa Kimo dan Rara, Ma. Biar bagaimanapun, Papa ingin mereka langsung tinggal di sini, setelah mereka menikah. Tapi, ya, tentu, Papa sudah menyiapkan hadiah bula madu untuk mereka. Kan Papa pengin cepar punta cucu!”
__ADS_1
Dengan emosi yang langsung melesat ke ubun-ubun hanya menyimak penjelasan Franki, Kiara yang menjadi menatap tajam Franki, menarik handuk di lehernya kemudian melemparkannya ke wajah suaminya itu, sesaat sebelum berlalu.
“Ma! Bahkan Papa sudah menyiapkan kamar bayi untuk anak mereka! Ranjang bayinya juga sudah diantar,” jelas Franki sembari mengejar langkah cepat Kiara yang meninggalkannya.